;

Mendorong IPO, Membangun Kembali Kepercayaan Pasar

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Bisnis Indonesia (H)

Investor di pasar saham Indonesia merasa kecewa dengan kinerja emiten baru yang melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) dalam beberapa tahun terakhir. Banyak harga saham IPO yang justru turun tajam setelah tercatat di bursa, dengan 20 dari 41 emiten baru pada 2024 mengalami penurunan harga saham, lebih banyak dibandingkan dengan 2023. Minimnya transparansi dan dugaan praktik imbalan atau gratifikasi dalam proses IPO semakin mengikis kepercayaan investor, terutama investor ritel yang menjadi pihak yang paling dirugikan.

Situasi ini berisiko merusak kredibilitas pasar saham Indonesia, apalagi di awal 2025, bursa saham sempat mengalami penurunan signifikan ke bawah level 6.300, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2021. Oleh karena itu, investor mengharapkan perlindungan lebih baik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan memperketat seleksi IPO untuk memastikan hanya perusahaan dengan fundamental yang kuat yang dapat melantai di bursa.


Kehadiran AI

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Bisnis Indonesia

58 negara telah menandatangani komitmen untuk mengembangkan kecerdasan artifisial (AI) secara terbuka, inklusif, dan etis dalam AI Action Summit yang dihelat pada Februari 2025, ada perbedaan pendapat antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang memilih kebijakan regulasi AI yang lebih fleksibel untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, negara-negara seperti Indonesia, China, Prancis, India, dan Uni Eropa menyerukan penguatan tata kelola global AI dengan regulasi ketat untuk menjamin aksesibilitas dan keamanan teknologi.

Di tengah kompleksitas geopolitik AI ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat kebijakan sovereign AI yang tidak hanya melindungi keamanan dan kedaulatan data, tetapi juga mendukung daya saing ekonomi negara melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI yang relevan dengan konteks lokal. Inisiatif seperti kolaborasi Indosat dengan NVIDIA untuk mengembangkan platform model bahasa Indonesia dan bahasa lokal lainnya menunjukkan langkah nyata dalam mengembangkan AI lokal yang berpotensi untuk diekspor ke pasar internasional.

Keberhasilan inisiatif ini akan bergantung pada pengelolaan data yang tepat, dengan dukungan kebijakan yang memastikan infrastruktur AI beroperasi di dalam negeri, guna mendukung penguatan ekonomi dan daya saing Indonesia dalam percaturan global AI.


Dinamika Maskapai: Patah Tumbuh, Hilang Berganti

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Industri aviasi nasional Indonesia masih menghadapi tantangan pemulihan pasca-pandemi Covid-19. Meskipun arus penumpang internasional telah sepenuhnya pulih pada 2024, arus penumpang domestik belum kembali ke tingkat sebelum pandemi. Pada 2024, jumlah penumpang domestik hanya tercatat 63,7 juta orang, jauh di bawah 76 juta pada 2019. Hal ini berujung pada penutupan rute penerbangan oleh BBN Airlines Indonesia, termasuk rute Jakarta-Surabaya, yang disebabkan oleh rendahnya minat pasar. BBN Airlines kini berfokus pada layanan penyewaan pesawat, kru, pemeliharaan, dan asuransi (ACMI) kepada maskapai lain seperti Sriwijaya Air.

Di sisi lain, meskipun situasi domestik belum pulih sepenuhnya, penerbangan internasional Indonesia mengalami pemulihan penuh, dengan peningkatan signifikan dalam jumlah penumpang pada 2024. Hal ini menarik perhatian investor asing, salah satunya Calypte Holding Pte. Ltd. yang mendirikan PT Indonesia Airlines Group. Indonesia Airlines, anak perusahaan Calypte, akan berfokus pada penerbangan internasional dengan layanan premium, menggunakan 20 armada pesawat, dan berencana untuk melayani 30 negara dalam lima tahun pertama operasionalnya. Dengan visi untuk menjadi simbol global kemakmuran Indonesia, Indonesia Airlines diharapkan dapat meraih sukses di pasar penerbangan internasional.


Kejagung Dalami Kasus, 2 Eks Dirjen Migas Diperiksa

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Bisnis Indonesia

Kejaksaan Agung melanjutkan penyidikan kasus dugaan korupsi terkait tata kelola minyak dan produk kilang Pertamina-KKKS untuk periode 2018—2023 dengan memeriksa empat saksi, dua di antaranya adalah mantan Dirjen Migas Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji dan Ego Syahrial. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melengkapi berkas perkara terhadap tersangka Yoki Firnandi Cs. Selain kedua mantan pejabat tersebut, dua saksi lainnya adalah CJ, Analyst Light Distillato Trading di PT Pertamina, dan AYM, Koordinator Pengawasan BBM BPH Migas. Kasus ini melibatkan kerjasama antara penyelenggara negara dan broker dalam pengaturan proses pengadaan impor minyak mentah dan produk kilang, yang mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp193,7 triliun.

Menghilangkan Pesimisme, Dunia Usaha Diajak Dongkrak Ekonomi

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Kontan (H)
Presiden Prabowo Subianto berupaya meredam pesimisme publik terhadap ekonomi Indonesia dengan mengajak investor kawakan asal AS, Ray Dalio, berdialog dengan sejumlah konglomerat Tanah Air. Pertemuan ini dihadiri tokoh bisnis besar seperti Anthony Salim, Prajogo Pangestu, Chairul Tanjung, Boy Thohir, James Riady, dan lainnya. Dari pemerintah, turut hadir Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta pimpinan BPI Danantara, lembaga investasi baru yang akan mengelola aset negara.

Dalam diskusi, Ray Dalio menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi global, seperti utang nasional yang berlebihan, konflik geopolitik, dan bencana alam. Salah satu kesimpulan penting adalah perlunya menciptakan kawasan ekonomi baru seperti Shenzhen atau Guangdong, guna mempercepat industrialisasi dan menarik investasi.

Menurut ekonom Wijayanto Samirin, pertemuan ini bertujuan meyakinkan dunia usaha bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi stabil dan pemerintah memiliki strategi yang jelas. Prabowo juga meminta dukungan para konglomerat untuk berinvestasi dalam program strategis nasional, mengingat keterbatasan APBN dalam mendanai pembangunan dan penciptaan lapangan kerja.

Langkah ini mencerminkan upaya pemerintah dalam membangun kepercayaan investor dan memperkuat perekonomian melalui kolaborasi antara sektor publik dan swasta.

Utang Negara Bertambah, Rasio Utang Jadi Sorotan

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Kontan
Rasio utang pemerintah diprediksi meningkat lebih dari 40% terhadap PDB pada 2025, melampaui target dalam RPJMN 2025-2029. Peneliti FITRA, Badiul Hadi, mencatat bahwa dengan PDB Indonesia 2024 sebesar Rp 22.139 triliun, maka rasio utang telah mencapai 40,2% terhadap PDB.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, memperingatkan bahwa rasio utang bisa melonjak hingga 49,5% dari PDB pada 2029, terutama karena utang jatuh tempo tahun ini mencapai Rp 800,33 triliun. Bhima juga mengkhawatirkan crowding out effect, di mana penerbitan utang oleh pemerintah, BUMN, dan BPI Danantara dapat menyedot likuiditas domestik, menghambat pertumbuhan ekonomi dan kredit perbankan.

Selain itu, Bhima menyoroti bahwa sebagian besar utang digunakan untuk belanja barang, pegawai, dan pembayaran bunga utang, bukan untuk belanja modal yang dapat mendorong pertumbuhan industri dan UMKM. Jika pengelolaan utang tidak lebih produktif, maka utang justru menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi.

Badiul Hadi menambahkan bahwa beban pokok dan bunga utang semakin meningkat, terutama dengan tambahan utang baru dan pelemahan rupiah. Ini dapat mempersempit ruang fiskal dan menurunkan kualitas layanan publik. 

Dengan strategi yang tepat, target ekonomi pemerintah tetap bisa tercapai tanpa menimbulkan risiko fiskal yang lebih besar.

Emiten Unggas Tetap Optimis di Tengah Ketidakpastian

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Kontan
Prospek sektor unggas di 2025 dipandang masih positif, didukung oleh momentum Ramadan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan permintaan. Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai harga ayam yang meningkat saat Ramadan serta pelaksanaan MBG akan berdampak positif bagi kinerja emiten unggas.

Equity Research Mirae Asset, Andreas Saragih, juga melihat harga day-old chick (DOC) dan broiler di pasar tumbuh positif dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun pada awal 2025 harga DOC dan broiler masih di bawah referensi harga baru yang ditetapkan pada Juli 2024, perbandingan tahunan menunjukkan kenaikan harga DOC sebesar 83,1% dan ayam broiler naik 12,6% dibanding Januari 2024.

Salah satu faktor pendukung adalah biaya bahan baku yang tetap terkendali. Harga jagung dalam negeri meningkat 4% dibanding bulan sebelumnya menjadi Rp 6.354 per kg, tetapi masih turun 8,6% dibanding tahun lalu. Harga soybean meal (SBM) juga naik 4% dibanding bulan sebelumnya, tetapi masih turun 17,1% dari tahun lalu.

Baik Aziz maupun Andreas tetap mempertahankan peringkat overweight untuk sektor unggas, dengan peningkatan anggaran MBG sebagai katalis utama. Andreas merekomendasikan Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.400 per saham, sementara Aziz menargetkan Rp 2.350 per saham.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa, Victor Stefano, merekomendasikan buy untuk beberapa emiten unggas, diantaranya Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga Rp 1.900, Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.800, Charoen Pokphand Tbk (CPIN) dengan target harga Rp 6.700

Victor juga mengingatkan bahwa risiko utama sektor ini adalah potensi melambatnya permintaan, lonjakan biaya pakan, serta ketidakpastian dalam program pangan pemerintah. Namun, secara keseluruhan, sektor unggas masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid di 2025.

Beban Bank BUMN Meningkat Akibat Penugasan Pemerintah

Hairul Rizal 10 Mar 2025 Kontan
Pemerintah terus menugaskan bank-bank BUMN untuk mendukung berbagai program nasional seperti koperasi desa, pembangunan tiga juta rumah, dan hilirisasi industri. Namun, penugasan ini berpotensi menjadi sentimen negatif bagi saham perbankan BUMN karena dapat membebani kinerja keuangan mereka.

Sejak awal tahun, saham Bank Mandiri (BMRI) turun 17,26%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) anjlok 9,5%, Bank Negara Indonesia (BBNI) kontraksi 1,09%, Bank Tabungan Negara (BBTN) turun 28,15%, dan Bank Syariah Indonesia (BRIS) melemah 7,19%.

Analis Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menilai bahwa penugasan ini dapat membebani bank BUMN, terutama dalam kondisi likuiditas yang ketat dan perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Sementara itu, Analis Infovesta Kapital, Ekky Topan, menyoroti risiko kualitas kredit, terutama pada proyek tiga juta rumah yang bisa berisiko jika tidak diiringi mitigasi yang kuat.

Meski demikian, ada dampak positif dari keterlibatan bank BUMN, seperti meningkatnya volume kredit dan peran bank dalam ekonomi nasional. Analis Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus, menilai tekanan ini hanya bersifat jangka pendek, dengan strategi manajemen risiko yang baik akan menentukan dampak jangka panjangnya.

Indy melihat tekanan saham bank BUMN sebagai sentimen sementara dan menilai saham BMRI, BBNI, dan BBRI masih menarik karena valuasinya murah dan potensi dividen yang besar. Ekky merekomendasikan BRIS untuk investasi jangka panjang dengan target harga Rp 3.350.

Secara keseluruhan, meski terdapat tekanan akibat penugasan pemerintah, saham bank BUMN tetap memiliki prospek positif dalam jangka panjang dengan strategi mitigasi risiko yang baik.

Dosen Tidak Dapat Membeli Buku karena Terhimpit Kebutuhan Ekonomi

Yoga 10 Mar 2025 Kompas (H)

Gaji rendah membuat para pendidik dicekik kebutuhan ekonomi. Dosen tak bisa beli buku demi popok dan susu anak. Sudah sebulan, motor bebek tua milik Anggun Gunawan (40) lampunya mati, tapi tetap dipakai siang dan malam, karena itu satu-satunya kendaraan yang dipunya dosen Politeknik Negeri Media Kreatif di Jakarta tersebut. ”Itu motor keluaran tahun 1997, saya beli waktu masih kuliah di UGM tahun 2006. Masih saya pakai karena belum mampu beli yang lain,” kata Anggun, Senin (17/2). Anggun menjadi dosen politeknik sejak Januari 2021. Juni 2024, ia diangkat menjadi dosen dengan status pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

Ia memperoleh gaji pokok Rp 4,4 juta dan uang makan Rp 500.000 hingga Rp 700.000 per bulan. Jumlah penghasilan itu amat mepet untuk memenuhi kebutuhannya sebagai ayah dua anak. Di awal bulan, ia harus membayar Rp 1,7 juta untuk sewa kontrakan di Jagakarsa, Jaksel. Sisanya untuk kebutuhan pokok. Tak ada anggaran sama sekali untuk membeli buku yang amat penting bagi seorang dosen. ”Kalau kita beli buku yang dibutuhkan untuk meng-update materi pembelajaran mahasiswa maka tak ada lagi uang untuk beli susu dan pampers anak,” ujarnya.

Kondisi ini berbanding terbalik saat Anggun memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk kuliah S-2 di Oxford Brookes University, Inggris, pada 2019. Saat itu, ia mendapat anggaran Rp 10 juta per tahun khusus untuk membeli buku. ”Sekarang, setiap tanggal 15, gaji sudah habis. Saya harus ngutang ke teman, lalu dibayar waktu gajian bulan depan,” ucapnya. Untuk mencari penghasilan tambahan, Anggun mengajar di sekolah vokasi UI dan Universitas Terbuka (UT). Dari situ ia mendapat tambahan penghasilan Rp 1 juta per bulan. Namun, tak rutin karena tergantung masa kuliah mahasiswa (Yoga)


Pelemahan Rupiah Dikhawatirkan oleh Dunia Usaha

Yoga 08 Mar 2025 Kompas (H)

Fluktuasi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah menimbulkan ketidakpastian bagi dunia usaha dan berpotensi memicu kenaikan harga barang-barang domestik. Para pelaku usaha membutuhkan insentif untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas industri dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, para pelaku usaha sangat menyayangkan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan mengingat rupiah sempat menyentuh level terendahnya saat pandemi Covid-19. ”Akibatnya, confidence berusaha atau berinvestasi di Indonesia turut melemah meski Indonesia masih memiliki pasar domestik yang relatif stabil. Pelemahan nilai tukar ini sangat tidak kondusif bagi pelaku usaha karena kecenderungannya dalam menciptakan cost-push inflation terhadap beban produksi,” katanya, Jumat (7/3).

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, nilai tukar rupiah menembus Rp 16.575 per USD pada 28 Februari 2025. Sebelumnya, rupiah mendekati Rp 15.000 per USD pada September 2024 tapi melemah selama 2025 dan bertahan di atas Rp 16.000 per USD. Fluktuasi rupiah yang cenderung melemah menekan para pelaku usaha di sektor dengan ketergantungan tinggi terhadap impor, khususnya manufaktur. Alhasil, produktivitas dan daya saing melemah hingga ekspansi usaha di sektor formal makin terbatas mengingat beban usaha yang tidak kompetitif serta menghambat agenda hilirisasi. Pelaku usaha di sektor ekstraktif dan berorientasi ekspor, seperti pertambangan, relatif diuntungkan. Namun, keuntungan tersebut secara keseluruhan akan tetap rendah atau bahkan tidak ada karena pelemahan nilai tukar juga akan memicu kenaikan harga pasar di dalam negeri terhadap berbagai barang dan jasa. (Yoga)


Pilihan Editor