Pengaman Ekonomi Ala G20
Tuntas sudah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tahun ini. Kabar baiknya, salah satu forum ekonomi terpenting di dunia itu akhirnya menghasilkan deklarasi bersama, kendati sebelumnya sejumlah pihak pesimistis hal tersebut dapat diwujudkan di tengah aneka persoalan yang mendera dunia. Deklarasi bersama itu pun digadang-gadang memperkokoh soliditas negara-negara G20 dalam merespons berbagai tantangan ekonomi global, agar tak berjalan sendiri-sendiri yang justru kontraproduktif. Setidaknya ada lima poin penting yang disepakati para anggota G20. Pertama, G20 akan gesit dan fleksibel dalam menjalankan kebijakan makroekonomi dengan memacu investasi, serta memperkuat rantai pasok global. Kedua, G20 berkomitmen melindungi stabilitas makroekonomi dan keuangan. Ketiga, mempromosikan ketahanan pangan dan energi serta mendukung stabilitas pasar. Keempat, terus berinvestasi ke negara berpenghasilan rendah, menengah, dan berkembang melalui instrumen pembiayaan inovatif. Kelima, mempercepat pencapaian SDGs, sehingga tercapai kesejahteraan melalui pembangunan berkelanjutan. Presiden Joko Widodo, mengatakan pemulihan ekonomi memang menjadi isu prioritas dalam agenda ini, terutama setelah dunia dilanda krisis akibat perang Rusia-Ukraina.
Kepala Negara menjelaskan, para pemimpin G20 menyimpulkan perang mengakibatkan penderitaan masyarakat dan memperberat ekonomi global yang masih rapuh akibat pandemi sehingga menimbulkan krisis pangan, krisis energi, dan krisis finansial. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan sempat khawatir deklarasi tersebut terganggu akibat ledakan misil di Polandia. Namun, hal itu tak terjadi karena sudah direspons dengan baik oleh negara anggota G7. Kemudian, The IMF’s Resilience and Sustainability Trust (RST) yang membantu negara berpenghasilan rendah, menengah, dan rentan membangun ketahanan terhadap guncangan eksternal. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dalam program tersebut IMF menawarkan sebuah mekanisme kepada anggota untuk bisa meminjamkan Special Drawing Right (SDR).
Menyoal Penyediaan Bioetanol dari Tetesan Tebu
Ketika harga BBM fosil melambung tinggi dan rupiah terhadap dolar tertekan, sebagai negara nett importer, Indonesia terkena pukulan ganda. Pertama, subsidi BBM naik berlipat-lipat dan menggerus anggaran negara (APBN). Kedua, dengan impor BBM 18,9 juta kiloliter pada 2021, devisa yang melayang mencapai US$14,39 miliar atau Rp205,7 triliun (asumsi kurs Rp14.300 per dolar Amerika Serikat). Karena harga BBM fosil pada 2022 lebih tinggi dari tahun lalu, devisa yang melayang tahun ini dipastikan lebih besar. Tidak ingin tergantung sepenuhnya pada impor, pemerintah kini memperluas program bahan bakar nabati (biofuel) dengan menengok etanol sebagai campuran (blending) bensin. Rencana ini mengikuti program BBN dengan blending biodiesel dan solar yang kini dalam tahap uji coba B40 (40% biodiesel dan 60% solar). Mengacu pada surat Menko Perekonomian ke Menteri Sekretaris Negara, 19 September 2022, pada 2023 kebutuhan bensin non-PSO (public service obligation) 6.824.911 kiloliter dan produksi etanol 423.282 kiloliter, ada potensi bioetanol 6,2% (etanol 6,2% dan bensin 93,8%). Diproyeksikan, dengan produksi tebu nasional pada 2030 sebesar 110,1 juta ton akan dihasilkan tetes 4,95 juta ton. Jika semua by product tetes atau molases itu diolah menjadi etanol akan dihasilkan 1.239.283 kiloliter. Dengan kebutuhan bensin non-PSO pada 2030 sebesar 9 juta kiloliter, potensi bioetanol jadi 13,8%. Meskipun belum sebesar biodiesel 30%, bioetanol 13,8% tentu akan menekan kebutuhan impor bensin. Devisa untuk impor BBM bisa ditekan, yang diharapkan memperbaiki neraca perdagangan.
Masalahnya, justru integrasi kebijakan dan konsistensi eksekusi di lapangan secara rigid selama ini jadi tantangan terbesar integritas kebijakan pemerintah. Banyak kebijakan baik tetapi eksekusi karut marut. Target meleset. Pertama, produksi tebu 110,1 juta ton pada 2030 didasarkan pada proyeksi luas panen tebu PT Perkebunan Nusantara III—yang telah membentuk holding pabrik gula BUMN bernama PT Sinergi Gula Nusantara atau Sugar Co—mencapai 670.561 ha. Saat ini, total luas panen tebu PTPN III hanya 180.560 ha. Pertanyaannya, dari mana tambahan luas panen sebesar 490.001 hektare itu? Bukankah luas panen tebu pabrik gula (PG) BUMN terus turun? Rentang 2016—2021, luas panen tebu PG BUMN turun 53.247 ha, 48.763 ha di antaranya di Jawa. Kedua, produksi tebu 110,1 juta ton pada 2030 didasarkan pada asumsi rendemen PTPN III sebesar 9,2% dan produktivitas tebu 92,6 ton/ha. Ketiga, produksi etanol sebesar 1,24 kiloliter pada 2030 didasarkan asumsi semua tetes yang dihasilkan PTPN III (2,16 juta ton) dan swasta (2,79 juta ton) diproduksi jadi etanol padahal, tetes produksi swasta (juga PTPN III) selama ini sudah digunakan untuk bahan baku bumbu masak, alkohol, dan kosmetik. Keempat, program bioetanol kompetitif karena harga BBM fosil saat ini mahal. Mengacu pada harga indeks pasar BBN bioetanol dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Juni 2022, harga bioetanol Rp13.602/liter, lebih rendah dari Pertamax (Rp14.500/liter) dan Pertamax Turbo (Rp15.900/liter).
Dampak Gejolak Geopolitik: G20 Jamin Arus Distribusi Barang
Para pemimpin G20 bersatu mengamankan arus lalu lintas perdagangan barang sebagai salah satu siasat untuk menangani inflasi pangan dan mencegah ekonomi terjebak ke jurang resesi pada tahun depan. Sejumlah kepala negara menegaskan komitmennya untuk memberangus hambatan dagang dan menjaga jalur distribusi seluruh barang untuk menopang perdagangan, terutama komoditas pangan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa komitmen untuk menjalankan sistem perdagangan lebih terbuka menjadi salah satu solusi penawar inflasi yang terus melesat akibat dampak gejolak geopolitik beberapa bulan ini. Akibatnya, risiko resesi pun meningkat lantaran kenaikan indeks harga konsumen (IHK) direspons oleh bank sentral dengan menaikkan suku bunga acuan sehingga menghambat laju ekonomi. Sekadar informasi, Turki memainkan peran penting dalam lalu lintas barang, karena dilintasi oleh rute perdagangan baik dari Rusia maupun Ukraina. Negara tersebut juga telah membangun satu koridor untuk ekspor gandum di Laut Hitam untuk membantu menyelesaikan krisis pangan dunia. Senada, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan bahwa negara-negara G20 memang terus merumuskan langkah bersama dalam memerangi inflasi. Menurutnya, seluruh negara harus bekerja sama di sektor perdagangan, terutama memastikan kelancaran pasokan makanan, serta pupuk yang menjadi kunci dari keamanan pangan.
Kerja Sama RI-China : KA Cepat Beroperasi Juni 2023
Pemerintah Indonesia mendukung penuh proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer yang didanai pinjaman dari China. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) itu ditargetkan rampung pada Juni 2023. Secara khusus, lanjutnya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadi landmark kerja sama strategis Indonesia dan China. “Oleh karena itu, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh pada penyelesaian proyek ini, baik pada sisi kebijakan, finansial, sesuai dengan peraturan di Indonesia,” ujarnya seperti dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (16/11). Menurutnya, proyek KCJB telah menjadi batu loncatan bagi sejumlah proyek strategis kerja sama kedua negara seperti Kawasan Industri Weda Bay, Morowali, Kawasan Industri Hijau Kalimantan Utara, dan lain-lain. Sejauh ini, progres proyek KCJB yang ditargetkan beroperasi Juni 2023, telah berjalan 80,4%. Dia meminta Presiden Xi Jinping hadir dalam peresmian kereta cepat pada Juni 2023. “Kami berharap Presiden Xi Jinping bisa menghadiri peresmian operasional Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung pada pertengahan tahun depan bersama Presiden Joko Widodo,” ucap Luhut yang juga Ketua Komite Kereta Cepat.
Jokowi: Perdamaian, Syarat, Dunia Terhindar dari Resesi
NUSA DUA, ID — Dunia kini melihat Nusa Dua, Bali, Indonesia, tempat 19 pemimpin negara dengan PDB terbesar dan wakil Uni Eropa —yang tergabung dalam Group of Twenty (G20)— berunding untuk merespons tantangan yang tengah dihadapi. Krisis pangan dan energi, hiperinflasi, suku bunga tinggi, resesi ekonomi, dan perang adalah tantangan di depan mata. Anggota G20 diharapkan menjadi katalis pemulihan ekonomi inklusif dan berkolaborasi untuk menyelamatkan dunia, antara lain, dengan mengakhiri perang. “Bertanggung jawab berarti menghormati hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam PBB secara konsisten. Bertanggung jawab berarti menciptakan situasi win-win, bukan zero-sum game. Bertanggung jawab juga berart kita harus mengakhiri perang,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato pembukaan KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11/2022). Jika perang tidak berakhir, ujar Presiden Jokowi, sulit bagi dunia untuk bergerak maju. Kita juga akan sulit untuk bertanggung jawab atas masa depan generasi sekarang dan mendatang. (Yetede)
RI Surplus Dagang terhadap G20
Total nilai neraca perdagangan barang Indonesia terhadap negara-negara anggota G20 surplus dalam dua tahun terakhir dengan Komoditas ekspor unggulan utama berupa BBM; besi dan baja; lemak dan minyak hewani/nabati; bijih logam, terak, dan abu; serta mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya. Namun, kinerja ekspor Indonesia cenderung melambat, bahkan turun, yang mengindikasikan imbas perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi di sejumlah negara mitra dagang Indonesia makin terasa. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Selasa (15/11) mengatakan,total nilai surplus neraca perdagangan RI terhadap G20 pada Januari-Oktober 2022 mencapai 27,6 miliar USD atau Rp 429,57 triliun (kurs Jisdor BI Rp 15.564). Pada 2021, Indonesia juga membukukan surplus neraca perdagangan 16,4 miliar dollar AS.
”Namun, jika dijabarkan per negara anggota G20, RI hanya mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan delapan negara dan satu kawasan. Sementara dengan 10 negara anggota lain, neraca perdagangan RI masih defisit,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. Berdasarkan data BPS, dalam dua tahun terakhir, RI mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan AS, India, Uni Eropa, Jepang, Italia,Turki, Meksiko, Korsel, dan Inggris. Sementara RI membukukan defisit neraca perdagangan dengan Australia, Arab Saudi, China, Brasil, Argentina, Kanada, Afsel, Rusia, Jerman, dan Perancis. BPS juga menyebutkan, neraca perdagangan Indonesia pada Okober 2022 dan Januari-Oktober 2022 masing-masing surplus 5,67 miliar USD dan 45,52 miliar USD. (Yoga)
Kunjungan Pusat Perbelanjaan Akan Capai 90% Tahun Ini
JAKARTA, ID – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) optimistis tingkat kunjungan pusat perbelanjaan nasional bisa mencapai rata-rata 90% pada tahun ini, menyusul kinerja ekonomi Indonesia kuartal III-2022 yang mampu tumbuh hingga 5,72%. Libur Natal dan tahun baru (Nataru) juga diyakini bakal menjadi faktor pengungkit tingkat kunjungan dan penjualan di pusat perbelanjaan beberapa bulan mendatang. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaya menerangkan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan dan daya beli masyarakat telah berangsur membaik dan terus tumbuh sejak Ramadan yang lalu, meski sempat terganggu akibat ketidakpastian global. Faktor eksternal ini telah mengakibatkan kenaikan biaya energi yang berdampak pada daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Namun demikian, APPBI berpendapat, dampak tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama karena pemerintah telah banyak mengambil langkah antisipatif, salah satunya dengan mendistribusikan berbagai bantuan sosial (bansos) seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan subsidi upah (BSu), dan bantuan sosial lainnya untuk menopang daya beli masyarakat agar tidak terpuruk terlalu dalam. (Yetede)
Anggaran Latihan Marinir Naik Tiga Kali Lipat
Menyikapi perkembangan teknologi dan lingkungan strategis, Korps Marinir meningkatkan anggaran latihannya. Sebelumnya Korps Marinir di Korea dan AS menjadi rujukan studi banding pengerahan Korps Marinir dalam perang modern. Hal ini disampaikan Wakil KSAL Laksamana Madya Ahmadi Heri Purwono seusai upacara HUT ke-77 Korps Marinir TNI Angkatan Laut di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta, Selasa (15/11). Heri mengatakan, peningkatan anggaran latihan 2023 dilakukan dengan latar belakang perkembangan lingkungan strategis. (Yoga)
Oktober, Neraca Perdagangan Surplus US$ 5,67 Miliar
JAKARTA, ID – Neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,67 miliar pada Oktober 2022, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 4,99 miliar, melanjutkan tren positif selama 30 bulan beruntun. Kenaikan surplus perdagangan Oktober 2022 disebabkan pertumbuhan ekspor dan penurunan impor secara bulanan (month to month/mtm). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nasional tumbuh 0,13% secara bulanan menjadi US$ 24,81 miliar pada Oktober 2022 dan tumbuh 12,3% secara tahunan (year on year/yoy) dari US$ 22,09 miliar. Pertumbuhan ekspor secara tahunan melambat dibandingkan peptember 2022 yang mencapai 20,3%. Ini dipicu penurunan harga komoditas andalan ekspor, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebesar 2,24% secara bulanan, bijih besi 7,26%, nikel 3,25%, dan gas alam 27,61%. (Yetede)
Pertamina Gandeng Perusahaan UEA Untuk Garap Proyek EBT
JAKARTA, ID – Pertamina menggandeng dua perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengembangkan potensi energi dan produksi kilang di Indonesia, yakni Masdar yang merupakan perusahaan energi terbarukan terkemuka dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC). Komitmen ini diumumkan di hadapan Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan, di sela puncak kegiatan Business 20 (B20) di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11). Adapun penandatanganan komitmen kerja sama tersebut sudah dilakukan sebelumnya beberapa waktu lalu di UEA. Kerja sama antara Pertamina lewat Pertamina Power and New Renewable Energy (PNRE) dengan Masdar yakni pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Blok Rokan dengan periode perjanjian kerja sama selama 2 tahun yakni mulai 12 November 2022 hingga 2024 mendatang. PNRE dan Masdar akan bekerja sama untuk memberikan solus yang reliable dan kompetitif dalam pengembang an PLTS Rokan Phase 2 dan Phase 3 di WK Rokan. (Yetede)









