INDUSTRI PROPERTI : Pesona Jakarta Tetap Menggoda
Sektor properti Jakarta diproyeksi tidak akan terpengaruh dengan pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara di Kalimantan Timur. Jakarta tetap akan menjadi wilayah yang menarik untuk sektor real estat dengan statusnya sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, Yunus Karim menjelaskan, prospek pasar properti di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bakal tetap stabil. Alasannya, Jakarta tetap akan menjadi pusat ekonomi Indonesia.
Di samping itu, Yunus menambahkan optimisme terhadap pasar properti di Jakarta disandarkan kepada asumsi besarnya segi bisnis yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sejumlah daerah penyokongnya.Dia menyebut, 304 hari menjelang upaya pemindahan Ibu Kota ke Nusantara, prospek pasar properti di Jakarta tetap menunjukkan geliat positif. Adapun, tingkat hunian sektor perkantoran, khususnya di wilayah Jakarta tercatat duduk stabil di level 70% sepanjang kuartal III/2023.
Sektor lain yang juga terus mendominasi permintaan di kuartal ini, yaitu fast fashion, beauty, dan juga fasilitas hiburan. Selain itu, peritel mancanegara baru juga terlihat membuka gerai pertama mereka di beberapa pusat perbelanjaan.Kemudian dari sisi industri dan logistik, tingkat hunian pergudangan modern di Jabodetabek terpantau stabil di tingkat 88%, sama seperti kuartal sebelumnya.
TRANSPORTASI MASSAL : ASA BUS LISTRIK SARBAGITA
Ambisi Pemerintah Provinsi Bali untuk memanfaatkan bus listrik sebagai moda transportasi massal dipandang bakal memberikan dampak positif untuk mengurai kemacetan, terutama di wilayah selatan provinsi ini. Apalagi, strategi ini telah mampu mengundang minat investor untuk mendukung aksi tersebut.
Apalagi, minat masyarakat Bali baik penduduk setempat maupun wisatawan dalam memanfaatkan kendaraan jenis bus beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan yang cukup baik.Hal ini ditandai dengan jumlah bus yang ada di Bali meningkat hingga dua digit sepanjang tahun lalu. Lompatannya bahkan jauh melebihi jenis kendaraan lainnya yang hanya berkisar 5%. Tak ayal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama sejumlah pihak kini telah memulai proses studi kelayakan (feasibility study/FS) untuk pembangunan bus listrik terpadu atau electric bus rapid trans (EBRT) dan electric vehicle charging point (EVCP) yang bakal dihadadirkan di kawasan Denpasar, Badung, Giayar, dan Tabanan (Sarbagita).Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ervan Maksum menjelaskan bahwa pembangunan transportasi massal berbasis listrik di Bali dinilai sudah mendesak.
“Bayangkan 4,4 juta unit sepeda motor, jika satu sepeda motor disubsidi Rp6.000, maka setahun pemerintah mengeluarkan Rp10 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak di Bali saja,” jelasnya, Rabu (18/10).
Kepala Dinas Perhubungan Bali IGW Samsi menjelaskan bahwa LRT dan EBRT akan terintegrasi di sentral parkir Kuta dan sejumlah titik di kawasan pariwisata di Seminyak dan Canggu.
“Dengan konsep transportasi terintegrasi antara LRT dan EBRT, kami yakin masyarakat akan mau beralih ke transportasi massal, karena memang sudah sangat mendesak. Bali tidak selamanya bisa membangun jalan raya,” jelasnya. Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menilai bahwa proyek EBRT dan LRT itu menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan di Pulau Bali.
Direktur Eksekutif MCA Indonesia Maurin Sitorus menjelaskan bahwa pelaksana studi kelayakan di lapangan adalah Pricewaterhousecoopers (PWC) dan KIAT.
Di sisi lain, Bisnis mencatat bahwa Millenium Challenge Corporation (MCC) Amerika Serikat melalui MCA Indonesia telah mendanai empat proyek transportasi, dan satu proyek pasar di Indonesia.MCC merupakan sebuah program hibah dari Pemerintah Amerika Serikat ke berbagai negara yang bertujuan mengentaskan kemiskinan dengan memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Solusi dari Kepulauan bagi Kemandirian Pangan
Pulau-pulau kecil di Indonesia yang kini bergantung pada
beras dan terigu rata-rata memiliki beragam sumber pangan lokal yang adaptif
terhadap kondisi lingkungan. Mendorong kembali produksi dan konsumsi pangan
lokal akan mengembalikan kemandirian warga. Langkah ini membutuhkan
keberpihakan dari pemerintah pusat dan daerah. ”Sistem pangan di NTT telah
beradaptasi terhadap iklim kering. Ada banyak sumber makanan tumbuh di tanah ini,
tetapi memang tidak bisa kalau dipaksa semua harus menanam padi sawah. Jadi,
kalau ukurannya kecukupan beras, NTT akan selalu kurang, tetapi kalau pangan
lokal cukup banyak,” kata Maria Loretha, petani sorgum dan penggerak pangan
lokal dari Pulau Adonara, Flores Timur, NTT, Selasa (17/10).
Maria mengatakan, lonjakan harga beras yang sekarang memukul
penduduk di pulau-pulau kecil, termasuk NTT, harus menjadi titik balik untuk
lebih serius mengembangkan pangan lokal yang terbukti lebih berdaya tahan.
”Masyarakat memang kesulitan dengan lonjakan harga beras. Saat ini harganya
sudah di atas Rp 17.000 per kg,” katanya. Namun, lonjakan harga beras ini
jangan jadi alasan memberikan bantuan beras lagi. ”Kalaupun ada bantuan atau
operasi pasar, cobalah menggunakan pangan lokal di daerah masing-masing. Kalau
di Flores Timur, misalnya, stok sorgum di petani masih banyak,” katanya. (Yoga)
Beras, Oh, Beras
Beras merupakan komoditas pangan strategis yang keberadaan dan
harganya bisa jadi hal sensitif. Persoalan terkait beras mesti diantisipasi
jauh-jauh hari. Pada tahun 2022, beras yang dikonsumsi masyarakat Indonesia 81,044
kg per kapita per tahun. Dibagi 365 hari dalam setahun, maka rata-rata orang Indonesia
mengonsumsi 0,222 kg beras sehari. Angka itu tercantum dalam Statistik Konsumsi
Pangan 2022 yang diterbitkan Kementan. Tim buku itu mengolah data hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS dan Neraca Bahan Makanan Bapanas. Buku
yang sama memuat data ketersediaan beras, pada 2022 sebanyak 115,09 kg per kapita
per tahun. Jumlah itu melebihi angka konsumsi.
Berasnya bersumber dari produksi dan impor. Hasil Susenas
September 2022 menunjukkan, tingkat partisipasi konsumsi beras 98,35 %.
Artinya, 98,35 % rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras. Angka ini naik dibandingkan
September 2021 yang sebesar 98 %. Hal ini membuat beras menjadi komoditas
pangan yang menimbulkan sensitivitas tinggi. Harga beras yang naik, dan
produksi beras yang turun juga bisa menimbulkan persoalan. Kenaikan harganya
akan menyumbang inflasi. Selain itu, harga beras yang naik akan menambah pengeluaran
konsumsi masyarakat. Pemerintah bertindak cepat untuk mengantisipasinya. Jangan
sampai masyarakat tercekik harga beras. Jangan sampai juga masyarakat mesti
berburu beras.. (Yoga)
Libatkan Warga dalam Transisi Energi
Instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap bisa
dilakukan warga dengan biaya terjangkau. Penggunaannya juga mudah dengan biaya
bulanan murah. Namun, realisasinya terkendala peraturan pemerintah yang dinilai
belum berpihak pada energy terbarukan yang ramah lingkungan. Salah satu
pengguna PLTS atap, Binbin Mariana, menuturkan, dirinya sudah memakai panel
surya sejak tahun 2020 untuk mengurangi beban biaya dari tagihan listrik PT Perusahaan
Listrik Negara (PLN). Dia memasang panel surya berdaya 1,7 kilowatt-peak (kWp)
di atap rumahnya tanpa media penyimpanan energi. Total biaya pemasangan Rp 30
juta dengan DP, Rp 15 juta dan sisanya dibayar dengan tenor 12 kali sebanyak Rp
1,25 juta per bulan. Menurut dia, angka ini terjangkau sebagai modal awal
menuju energi terbarukan yang lebih bersih dan hemat mengingat paparan matahari
di Indonesia berlimpah.
”Saya pasang sejak 2020. Hampir empat tahun tidak ada
kendala. Pernah sekali bermasalah mati, saya telepon vendor-nya, bahkan tanpa
teknisi datang bisa langsung benar karena ada aplikasinya, bisa diatasi dengan
jarak jauh,” kata Binbin dalam diskusi bertajuk ”Revisi Aturan Surya Atap: Untung
atau Buntung?” di Jakarta, Selasa (17/10). Meski tanpa media penyimpanan
listrik, kini 80 % kebutuhan listrik di rumah Binbin berasal dari PLTS atap dan
20 % dari aliran PLN. Jadi, PLTS atap oleh publik berkontribusi menurunkan
emisi sesuai janji Presiden Jokowi dalam KTT Perubahan Iklim (COP) 23 di Paris,
Perancis, pada 2015. Ketua Bidang Advokasi dan Edukasi Asosiasi Energi Surya Indonesia
Yohanes Bambang Sumaryo menegaskan, Indonesia, dengan matahari yang sangat
melimpah, potensi energy suryanya mencapai 3.295 GW dengan potensi yang dimanfaatkan
untuk PLTS masih sangat kecil, yaitu 260 MW. Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace
Indonesia Hadi Priyanto mengatakan, potensi ini terhambat kebijakan pemerintah.
Salah satunya revisi Permen ESDM No 26 Tahun 2021 yang mengatur kapasitas PLTS
atap hanya 10-15 % dari kapasitas
terpasang. (Yoga)
Pajak Daerah Minim
Kemampuan pemda dalam memungut pajak dan retribusi masih
rendah. Pemda kerap mengandalkan transfer dana dari pemerintah pusat untuk
alokasi belanja daerah kendati potensi penerimaan pajak daerah dan retribusi
daerah sangat tinggi. Berdasarkan UU No 28 Tahun 2009, pemda memiliki wewenang
memungut pajak. Namun, kinerja pungutan pajak daerah sejauh ini masih lemah, tercermin
pada rendahnya rasio pajak pemde. Berdasarkan data Kemenkeu, rasio pajak daerah
pada 2022 baru mencapai 1,3 %. Ini dihitung dari data agregasi pajak daerah dan
retribusi daerah (PDRD) dari provinsi, kabupaten, dan kota dibagi produk
domestik regional bruto (PDRB).
Direktur Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ditjen Perimbangan
Keuangan Kemenkeu, Sandy Firdaus menyampaikan, rasio pajak daerah tahun ini tidak
jauh berbeda dengan kondisi selama lima tahun terakhir. ”Masih banyak ruang
untuk menaikkan rasio pungutan pajak dan retribusi daerah itu, salah satunya
dengan memperbaiki administrasi perpajakannya tanpa harus menaikkan tarifnya,”
kata Sandy di Jakarta, Selasa (17/10). Menurut Sandy, banyak pemda masih mengandalkan
transfer dana dari pemerintah pusat untuk program pembangunan di daerah dan
belanja konsumtif, seperti belanja pegawai dan barang. Padahal, PDRD merupakan
sumber penerimaan potensial yang dapat dimanfaatkan untuk percepatan
pembangunan di daerah. (Yoga)
Depresiasi Rupiah Senggol Manufaktur
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD mengakibatkan
sejumlah sektor industri manufaktur, seperti industri makanan-minuman serta
industri tekstil dan produksi tekstil dalam negeri, terdampak. Pelemahan kurs juga
berpotensi memangkas daya beli dan permintaan masyarakat. Nilai tukar rupiah
saat ini tengah melemah atau terdepresiasi akibat ketidakpastian pasar keuangan
global. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (17/10)
malam, kurs rupiah berada di level Rp 15.718 atau melemah 1,49 % dibandingkan akhir
September 2023. Secara kalender berjalan, nilai tukar rupiah juga tercatat
melemah 0,80 % dibandingkan akhir Desember 2022.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh
Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, Selasa (17/10) mengatakan, dampak
depresiasi rupiah dirasakan oleh para pelaku industri makanan-minuman di Tanah
Air. Sebab, sebagian besar kebutuhan produksi industri makanan-minuman, seperti
bahan baku dan barang modal, masih impor. ”Di samping bahan baku dan barang
modal, ada juga biaya lain, seperti logistik dan kapal. Semua itu, kan, dalam
bentuk USD sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan, baik di sisi produksi, harga
pokok produksi, maupun dalam biaya logistik dan distribusinya,” kata Adhi. (Yoga)
Adhi Karya Bangun Pabrik Pupuk
Obligasi Sosial Pertama Segera Terbit
Perbankan Optimistis Kredit Terus Tumbuh
Industri perbankan optimistis dapat membukukan pertumbuhan penyaluran
kredit yang positif sampai akhir 2023. Penyaluran kredit selama dua bulan terakhir
diharapkan menjadi tren positif bagi industri perbankan sehingga target
pertumbuhan kredit hingga dua digit pada tahun ini akan tercapai. Menjawab
pertanyaan harian Kompas, Sekretaris Perusahaan PT BNI (Persero) Tbk, Okki
Rushartomo, secara tertulis, Selasa (17/10) mengatakan,BNI optimistis penyaluran
kredit pada 2023 tumbuh. Strategi untuk mengoptimalkannya dengan menyasar korporasi
yang memiliki kapitalisasi pasar besar (blue chip) dan unggulan domestik (regional
champion). Strategi lainnya adalah mengoptimalkan produk melalui rantai pasok
dan rantai nilai serta mengekspansi sektor yang prospektif.
Hal ini mengingat adanya tren positif pada semester II-2023,
seperti peningkatan belanja masyarakat dan pemerintah. Kedua tren positif tersebut
akan memberi efek berganda positif bagi perekonomian nasional, termasuk segmen
korporasi dan komersial. ”Per Agustus 2023, kami mencatatkan pertumbuhan kredit
8,8 % secara tahunan. Kami juga optimistis kredit dapat bertumbuh sesuai dengan
target pertumbuhan kredit perseroan sebesar 7 % hingga 9 % pada akhir 2023,”
katanya. Okki menambahkan, pihaknya tetap disiplin menumbuhkan current account
saving account (CASA) sebagai basis likuiditas utama sehingga total biaya bunga
yang dikeluarkan oleh bank dapat terjaga efisien. (Yoga)









