2024, SIG Pasok 1 Juta Ton Semen ke IKN
Honorer Ditata, Tak Ada PHK Massal
Kerek Ekonomi Digital Lewat E-Commerce
JAKARTA,ID-Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) membuka peluang seluas-luasnya kepada platform e-Commerce global untuk turut berpatisipasi dalam mendongkrak nilai ekonomi digital di Indonesia. Platfrom yang dimaksud, seperti You Tube, Meta, maupun TikTok. Asalkan platform e-Commerce tersebut harus mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku di Indonesia. "Iklim usaha harus dibuka dong untuk semua pihak yang ingin menjalankan bisnis di Indonesia. Kita harus membuka diri, You Tube, Meta, TikTok, yang penting emitennya dipisahkan," kata Budi Aries Setiadi, menteri Komunikasi dan Informatika, di Jakarta akhir pekan lalu. Mengutip laporan e-Commerce SEA 2023, yang dikeluarkan oleh Google, Temasek, serta Bain & Company, peran regulator disebut sangat menentukan arah ekonomi digital. Regulator berpengaruh terhadap arah pertumbuhan sektor utama ekonomi digital. (Yetede)
Pengenaan Sanksi DHE Tidak Akan Ganggu Kinerja Eksportir
Apa Itu Reksa Dana? Berikut Pengertian, Jenis, dan Untung-Ruginya
Mimpi APBN untuk Rakyat
Gultik, dari Konsumen Kelas Bawah sampai ”Blink-blink”
Gulai tikungan atau gultik tak Cuma terkonsentrasi di Blok
M, Jakarta. Sudut-sudut lain turut dirambahi, hingga kota yang jauh dari
asal-usulnya. Murah meriah. Gultik bergeming dari gerusan zaman. Konsumennya
kelas jelata sampai perlente alias blink-blink. Mudah saja berkunjung ke Blok
M, Jakarta. Bisa dengan MRT, Transjakarta, atau ojek dan taksi daring. Pensiunan
ASN, Tuti Meindarwati (60), bersama lima temannya memilih naik Transjakarta
dari SCBD, Rabu (1/11), lalu berjalan kaki sebentar, tibalah di persimpangan Jalan
Mahakam dan Jalan Bulungan. Pusat gultik itu tak ubahnya jejeran pedagang kaki
lima yang mengokupasi trotoar. Puluhan pedagang mulai menggelar lapaknya pada
pukul 15.00 dan 16.00, tapi ada pula yang baru berjualan sekitar pukul 21.00.
Gultik mulai dijual pada tahun 1990-an. Suatu masa, pedagang di Blok M mengajak
pedagang lain ikut berjualan. Ramailah pedagang gultik di sana hingga sekarang.
Sepiring gultik biasanya berisi sedikit nasi, yang disiram
kuah gulai dengan beberapa potong daging. Beberapa pedagang juga menyertakan
gajih sapi. Setelahnya, nasi gultik dilengkapi segenggam kerupuk dan taburan
bawang goreng. Kuah santan yang dimasak bersama bumbu-bumbu halus, seperti
bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, dan daun jeruk, itu terasa gurih.
Dagingnya pun empuk. Dengan beberapa suapan saja, sepiring gultik porsi
minimalis tandas.”Rasanya enak dan yang penting, harganya pas untuk kantong
pensiunan,” kata Tuti. Selain nikmat, makan gultik di pinggir jalan juga punya
sensasi tersendiri. Pelanggan bisa makan sambil mengamati dinamika kota:
kendaraan yang tak henti berlalu lalang, deru mesin, bising tukang tahu bulat, pengemis
dan pemulung yang hilir mudik, hingga suara bel sepeda penjual kopi keliling
alias starling.
Gultik pun jadi makanan favorit muda-mudi yang habis jalan-jalan
di akhir pekan atau setelah menjejakkan kaki tempat hiburan malam. Maklum,
gultik biasanya buka hingga dini hari atau pukul 03.00-04.00. Pada hari biasa, gultik
mulai ramai pukul 20.00-21.00. Konsumen gultik datang dari beragam lapisan masyarakat.
Ada mahasiswa, pekerja kantoran, anak tongkrongan, artis, pejabat, hingga
atlet. Ada yang dating dengan pakaian kasual, ada pula yang makan gultik sambil
menenteng tas Dior dan Louis Vuitton. Walakin, semuanya melebur ketika duduk di
kursi plastik pedagang gultik. ”Food vlogger, artis, sampai atlet
timnas (sepak bola) yang lagi libur pernah makan di sini,” kata Bebek (27),
salah satu pedagang gultik di Blok M. Muhammad Gunawan alias Gugun, gitaris
Gugun Blues Shelter (GBS), misalnya, sudah memfavoritkan sentra gultik itu
untuk nongkrong. Sejak masih kuliah, awal 1990-an, sampai saat Gugun berpacaran
dengan Rohmah Dianingkarti alias Ansi, istrinya sekarang. Kebiasaan jajan
gultik berlanjut sampai Gugun Blues Shelter terkenal. (Yoga)
RI Kirim Bantuan ke Gaza, Solidaritas atas Palestina
Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan tahap pertama ke
Gaza. Ini bagian dari wujud solidaritas Indonesia atas perjuangan Palestina
menghadapi serangan Israel. Melalui bantuan itu, rakyat Indonesia menegaskan
tekad akan selalu bersama warga Palestina. Pengiriman bantuan tahap pertama ke
Gaza diberangkatkan dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu
(4/11), dengan dua pesawat Hercules.
Sedangkan satu pesawat kargo diberangkatkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Total keseluruhan bantuan mencapai 51,5 ton, terdiri dari bahan makanan, alat
medis, selimut, tenda, dan barang-barang logistik lainnya. Jenis bantuan telah
disesuaikan dengan kebutuhan di Gaza.
”Bantuan ini bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari
masyarakat, dari dunia usaha, yang disalurkan melalui berbagai lembaga
kemanusiaan,” kata Presiden Jokowi ketika melepas pengiriman bantuan tersebut. Seperti dilansir
Kemenlu, bantuan dikumpulkan dari beberapa lembaga, seperti Badan Amil Zakat Nasional
(Baznas), Indonesian Humanitarian Alliance (IHA), Palang Merah Indonesia (PMI),
dan Kitabisa, beserta pemerintah, TNI, dan Polri. Presiden Jokowi mengatakan, penyaluran
bantuan kemanusiaan ini merupakan wujud solidaritas dan kepedulian bangsa
Indonesia terhadap kemanusiaan. ”Tragedi kemanusiaan yang ada di Gaza tidak dapat
diterima dan harus sesegera mungkin dihentikan. Saya ingin menekankan kembali, Indonesia
akan terus bersama perjuangan bangsa Palestina,” kata Presiden. (Yoga)
Jakarta dalam Sepiring Gultik
Sepiring gulai tikungan alias gultik di kawasan Blok M,
Jakarta Selatan, telah merekam rupa-rupa wajah Jakarta dalam tiga dekade
terakhir. Ia melalui krisis ekonomi, pandemi Covid-19, dan meniti pemulihan pasca-krisis
sambil jadi ”media darling”. Dapur Budi Nugroho (34) mulai menunjukkan tanda
kehidupan pukul 10.00 pagi, Jumat (3/11). Ada yang memasak nasi, menggoreng
kerupuk, menyiapkan 400 tusuk sate telur puyuh, kulit ayam, bakso, dan ampela.
Ada yang merebus daging sapi sampai empuk selama sekitar 1 jam, lalu dipotong
tipis-tipis dan ditumis dengan bumbu halus yang terdiri dari bawang merah,
bawang putih, cabai merah, lengkuas, kemiri, ketumbar, dan kunyit. Setelah
bumbu meresap di daging, santan dimasukkan dan dimasak hingga mendidih. Itulah
pembuatan gulai khas Sukoharjo, Jateng. Walakin, Budi yang berasal dari
Sukoharjo ini nyaris tak menemukan warung nasi gulai di sana.
Pegiat sekaligus penulis produktif buku-buku kuliner Nusantara,
Kevindra Soemantri, menyebut gultik sebagai contoh sempurna kuliner urban sebuah
kota besar seperti Jakarta. Kuliner urban biasanya hadir sejalan dengan proses
migrasi. ”Mereka mengakui awalnya gultik dari seorang pedagang nasi gulai asal
Sukoharjo yang berjualan di sekitar Jalan Lumandau, tak jauh daritempat gultik
yang terkenal sampai sekarang,” ujar Kevindra. Budi sendiri pedagang gultik generasi
ketiga di keluarganya. Ia mewarisi usaha ini dari bapak mertuanya sejak 2016. Gultiknya
dijual di atas trotoar di persimpangan Jalan Mahakam-Bulungan, Blok M. Ia mulai
berjualan mulai jam pukul 16.00 sore hingga sekitar pukul 03.00-04.00 pagi.
Dalam sehari, mereka tidur hanya lima jam demi melayani para
warga Jakarta yang tak kunjung tidur. Jumlah porsi yang terjual pada hari biasa
dan akhir pekan pun bisa selisih hingga ratusan porsi. ”Contoh dari sate saja. Di hari biasa saya bawa 400
tusuk. Kalau malam Sabtu bisa 500-600 tusuk, dan kalau malam Minggu 750-800
tusuk,” ucap Budi. Walau jumlah konsumen gultik ratusan hingga ribuan orang, kondisi
penjualan gultik di Blok M dinilai belum kembali normal. Menurut para pedagang,
masa penjualan sebelum pandemi Covid-19 jauh lebih baik ketimbang sekarang.
Sebelum pandemi, tidak akan ada kursi kosong selama jualan. Setelah tengah
malam pun dagangan tetap diserbu konsumen. Adapun seporsi gultik dijual seharga
Rp 10.000. (Yoga)
Nelayan Bagan di Laut Arafura
Sore yang sedikit mendung dan laut mulai bergelombang, Heri
Patyanan memacu perahunya agar lekas tiba di bagan dengan harapan mendapat
hasil tangkapan ikan teri melimpah. Sebuah doa yang selalu didaraskan para
nelayan Kei ketika mengarungi Laut Banda agar laut tenang tidak mengombang-ambingkan
perahu di tengah gelombang. Ini juga sebagai harapan setelah semalam sebelumnya
mereka tidak beruntung saat mengangkat jaring dengan ikan teri tak sebanyak
biasanya. Tepat saat matahari terbenam, tujuh buruh nelayan tiba di atas bagan
untuk menurunkan jaring ke dasar laut yang berada di perairan Kepulauan Kei. ”Jaring
sudah diturunkan dan menunggu arus bersamaan dengan datangnya gerombolan ikan
puri (teri maluku) yang akan ditangkap,” ujar Heri.
Setelah beberapa jam menunggu di atas pondokan terapung digoyang
gelombang, mereka sesekali mengamati arus dan gelembung yang muncul ke atas
permukaan air. Bagi nelayan Kampung Selayar, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten
Maluku Tenggara, Maluku, berburu ikan teri di atas bagan merupakan bagian dari
hidup mereka, Minggu (17/9/2023). Jika mereka beruntung, dalam satu malam
nelayan bagan dapat mengangkat jaring sebanyak lima kali. Sementara saat tidak
musim ikan, hanya dua kali angkat jaring dengan hasil maksimal lima ember. Laut
Indonesia timur di sekitar perairan Kepulauan Kei masih menjadi berkah
tersendiri bagi mereka yang dapat menjual ikan puri atau teri dengan harga Rp
350.000 hingga Rp 450.000 per ember. ”Hari
ini lebih banyak dari kemarin, kita dapat sepuluh ember,” kata Heri. Bersamaan
matahari terbit, mereka sudah mengangkut hasil tangkapannya pulang. (Yoga)









