Cadev Menurun Demi Jaga Stabilitas Tukar Rupiah
Emiten Prajogo Pangestu Kuasai Petrosea
MKMK Minta Saidi Isra Gelar Pemilihan Pengganti Anwar Usman
Belanja Pemerintah ke UMKM Jadi Katalis Pembangunan
Rendah Kepatuhan Aturan Parkir Devisa Ekspor
Hati-hati Swasta Berinvestasi di Nusantara
Kolaborasi Olahraga dan Kebudayaan Manggarai
Kolaborasi lima unsur atau pentahelix dalam acara wisata olahraga diharapkan dapat
mendorong kemajuan kebudayaan. Kolaborasi itu, antara lain, terlihat dalam
Indonesia Financial Group Labuan Bajo Marathon yang dirangkaikan dengan Seminar
Budaya Manggarai di Manggarai Barat, NTT, 3-6 November 2023. Indonesia
Financial Group (IFG) merupakan induk badan usaha milik negara (BUMN) asuransi,
penjaminan, dan investasi sejak tahun 2020. Meski baru tiga tahun, IFG telah
dua kali menyelenggarakan Labuan Bajo Marathon (LBM). Edisi pertama LBM pada
2022 diikuti oleh 1.200 peserta dengan melibatkan 250 warga setempat. Pada
perhelatan tahun ini, Sabtu (4/11/2023), LBM diikuti oleh 2.000 peserta dengan
melibatkan 500 warga. Sebanyak 300 peserta adalah pelajar SLTP-SLTA untuk
kategori 5.000 meter (5K) untuk pembinaan atletik nomor lari jalan raya. LBM
yang mencakup 5K, 10K, semi-maraton (21K), dan 42K diharapkan menjadi pilihan
bagi pelancong, baik dari dalam maupun luar negeri, dalam wisata olahraga.
Bukan sekadar lomba, acara ini adalah kolaborasi antara
olahraga dan hiburan, penjualan paket wisata, dan pentas seni budaya. Di LBM
2023, masyarakat juga memberi dukungan berupa tari-tarian, musik, dan lagu di
cheering point atau petak penyemangat dalam rute lari. Ada pula pentas tradisi
dalam Seminar Budaya Manggarai di Kantor Bupati Manggarai Barat, Labuan Bajo,
Senin (6/11). Robertus Billitea, mantan Direktur Utama IFG yang kini menjabat
Deputi Hukum dan Peraturan Perundang-undangan Kementerian BUMN, mengatakan, IFG
juga bekerja sama dengan Institut Manggarai dalam penerbitan Ensiklopedia Manggarai.
Ensiklopedia ini diharapkan menjadi sumber tiada habis untuk mendorong kemajuan
budaya Manggarai melalui pariwisata sebagai motor ekonomi. Bupati Manggarai
Barat Edistasius Endi mengatakan, kolaborasi pentahelix ini mencakup akademisi
(Institut Manggarai), bisnis (IFG/BUMN), komunitas (tokoh masyarakat Manggarai),
pemerintah, dan media massa. Upaya ini diyakini dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi, sosial, politik,tetapi tidak sampai menghilangkan kekayaan seni
budaya. (Yoga)
Krisis Iklim Ancam Pangan
Perubahan iklim yang terjadi secara global mengancam
ketahanan pangan dan ketahanan air, termasuk di Indonesia. Pemerintah mengambil
langkah untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu diungkapkan Menteri PPN/Kepala
Bappenas, Suharso Monoarfa saat membuka Konferensi Tahunan Sustainable Development
Goals (SDGs) 2023 di Yogyakarta, Senin (6/11). ”Ancaman perubahan iklim berdampak
pada kelangkaan air serta penurunan produktivitas pertanian,” ujarnya.
Indonesia mengalami penurunan curah hujan tahunan 1-4 % pada 2020-2034 dari kondisi
periode 1995-2010. Hal ini berimplikasi pada kejadian kekeringan, berkurangnya
ketersediaan air, bahkan bisa memicu konflik kebutuhan air.Produksi padi juga
berpotensi menurun.
Menurut Suharso, pergeseran musim dan puncak hujan menyebabkan
metode tanam berubah dan memengaruhi produksi. Berdasarkan data Bappenas, perubahan
iklim berpotensi menurunkan produksi padi Indonesia 1,13 juta-1,89 juta ton. Lahan
pertanian seluas 2.256 hektar sawah pun terancam kekeringan. Di sisi lain,
kondisi ketahanan pangan Indonesia, ditilik dari tingkat konsumsi pangan rumah
tangga, memburuk.Angka ketidakcukupan konsumsi pangan pada 2022 naik menjadi 10,21
% dari 8,49 % pada tahun 2021. Peningkatan ini terjadi pada kelompok penduduk
dengan tingkat pengeluaran 40 % terbawah, terutama kelompok rentan seperti warga
lanjut usia. Adapun prevalensi stunting atau tengkes menurun secara konstan
dalam 10 tahun. (Yoga)
Beban Menjaga Inflasi dan Daya Beli Tambah Berat
Beban pemerintah menjaga inflasi dan daya beli masyarakat bertambah berat hingga awal 2024. Harga empat komoditas pangan dan satu komoditas pakan yang naik hampir berbarengan beberapa bulan menjelang akhir tahun ini perlu segera dijinakkan. Jika tidak, daya beli masyarakat bisa semakin tergerus. Pada rapat pengendalian inflasi daerah yang digelar secara hibrida di Jakarta, Senin (6/11) disebutkan, empat komoditas pangan yang harganya masih tinggi adalah beras, cabai merah, cabai rawit, dan gula pasir. Adapun satu komoditas pakan yang harganya tinggi adalah jagung.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pada pekan pertama November 2023, harga beras cenderung melandai. Meski begitu, harganya masih tinggi. Untuk cabai merah dan rawit, harganya justru terus meroket. Begitu pula dengan gula pasir yang harganya belum menunjukkan penurunan sama sekali sejak September 2023. BPS mencatat, pada pekan pertama November 2023, harga rata-rata nasional beras medium Rp 13.872 per kg. Harga beras itu telah melandai sejak Oktober 2023, tetapi masih jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg. ”Percepatan impor beras, serta pengguliran pasar murah, operasi pasar, dan bantuan beras perlu terus dilakukan agar harga beras semakin turun,” kata Amalia.
Menkeu Sri Mulyani mengatakan, inflasi di Indonesa tidak hanya disebabkan faktor internal, tetapi juga eksternal. Volatilitas harga pangan dan minyak mentah dunia yang terjadi saat ini berpotensi memengaruhi harga pangan dan energi di dalam negeri. Menurut Sri Mulyani, inflasi itu sangat fundamental bagi perekonomian negara karena dapat menggerus daya beli masyarakat. Inflasi itu ibarat memajaki masyarakat tanpa perlu DJP. ”Daya beli masyarakat diambil langsung ke kantongnya tanpa berbagai prosedur apapun. Uang warga yang semula bisa untuk membeli 1 kg beras, karena inflasi, hanya bisa membeli 800 gram beras,” ujarnya. Untuk itu, lanjut Sri Mulyani, pemerintah tidak hanya mengeluarkan dana untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga menjaga daya beli. Dalam rangka pengendalian inflasi, pemerintah mengalokasikan insentif fiskal kepada pemda senilai total Rp 1 triliun dari total pagu insentif fiskal pada 2023 yang sebesar Rp 8 triliun. (Yoga)
Pemerintah Andalkan Stimulus Fiskal
Laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan terus melambat
sampai akhir tahun ini jika tidak ada kebijakan intervensi untuk menjaga daya
beli masyarakat dan menggerakkan konsumsi domestik. Pemerintah berharap paket
kebijakan stimulus fiskal yang baru dikeluarkan bisa mengerek ekonomi tetap
tumbuh sesuai target di atas 5 % di sisa tahun ini. Berdasarkan catatan BPS,
sepanjang triwulan III-2023, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,94 % secara
tahunan. Capaian itu menandakan berakhirnya tren pertumbuhan ekonomi RI di atas
5 % selama tujuh triwulan berturut-turut sebelumnya. Tak hanya meleset di luar konsensus
pasar, pertumbuhan itu juga di bawah ekspektasi pemerintah. Menurut Menkeu Sri
Mulyani, pemerintah tidak menyangka konsumsi rumah tangga ditriwulan III-2023
tumbuh 5,06 %, lebih rendah dari triwulan II-2023 yang 5,23 %. Sebab, selama
ini, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terhadap kondisi ekonomi masih menguat.
Per September 2023, IKK terjaga di zona optimistis (di atas 100), yaitu level
121,7.
Atas dasar itu, pemerintah awalnya masih optimistis ekonomi
Indonesia bisa melanjutkan tren pertumbuhan di kisaran 5 % untuk triwulan III-2023.
”Kita melihat keyakinan konsumen masih tinggi, tetapi ternyata transmisinya ke
pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak setinggi harapan. Ini yang perlu kita
lihat apa pengaruhnya, apakah faktor psikologis karena kondisi El Nino dan
harga beras yang naik, atau ada faktor lain,” katanya dalam konferensi pers di
Jakarta, Senin (6/11). Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan
stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan permintaan
domestik. Setidaknya, ada tiga paket kebijakan yang dikerahkan sebagai bantalan
ekonomi berupa penebalan bantuan social (bansos) dan insentif fiskal di sektor
properti. Sri Mulyani mengatakan, paket stimulus fiskal itu diharapkan bisa
menyumbangkan tambahan pertumbuhan ekonomi sebanyak 0,2 % sehingga ekonomi di
triwulan IV-2023 bisa tetap tumbuh di 5,01 % dan sepanjang tahun 2023 bisa
mencapai 5,04 %. (Yoga)









