PENGHILIRAN PERTANIAN : BERHARAP KEPADA KOMODITAS SAWIT
Penghiliran sawit dipandang memiliki peran yang cukup apik tak hanya untuk meningkatkan investasi dalam negeri, melainkan juga mampu menumbuhkan industri turunan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun mancanegara.
Bukan tanpa sebab. Komoditas ini mampu menghasilkan produk turunan yang cukup beragam, seperti minyak goreng, sabun, hingga biodiesel.Namun demikian, melonjaknya kebutuhan domestik untuk memenuhi program B30 lewat pencampuran fatty acid methyl esters (FAME) ke bahan bakar Solar telah menyebabkan melonjaknya serapan minyak sawit untuk biodiesel dalam beberapa tahun terakhir.Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonsesia (Gapki) menunjukkan bahwa produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sepanjang periode Januari—Agustus 2023 telah mencapai 33,11 juta ton, sedangkan produk minyak inti sawit (crude palm kernel oil/CPKO) mencapai 3,17 juta ton pada periode yang sama.Sementara itu, konsumsi pasar domestik untuk kebutuhan pangan mencapai 6,98 juta ton pada periode yang sama. Capaian ini meningkat 13,49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 6,15 juta ton.
Adapun, minyak sawit untuk tujuan ekspor —baik berupa CPO, olahan CPO, CPKO, olahan CPKO, biodiesel, dan oleokimia— juga tercatat meningkat 12,25% secara keseluruhan menjadi 21,9 juta ton pada periode Januari—Agustus 2023. Oleh karena itu, pemangku kepentingan terkait dipandang perlu memastikan neraca pasokan domestik lantaran penghiliran sawit di dalam negeri dinilai dapat mendongkrak performa investasi maupun perekonomian di daerah.
Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kaltim Azmal Ridwan mengungkapkan bahwa salah satu faktor penghambatnya adalah belum beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang seharusnya menjadi pusat penghiliran sawit di Benua Etam.
Di sisi lain, Provinsi Kalimantan Timur dipandang memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor perkebunan, baik melalui perusahaan besar maupun perkebunan rakyat. Namun, perkebunan rakyat yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat perdesaan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari rendahnya produktivitas, lemahnya kelembagaan, hingga kurangnya daya saing produk.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur Ahmad Muzakkir mengatakan bahwa kelembagaan petani merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan bersama dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Di sisi lain, Kepala Divisi Teknologi Proses Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB University Erliza Hambali menjelaskan bahwa penghiliran industri kelapa sawit adalah proses pengolahan CPO dan PKO menjadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi, baik untuk tujuan ekspor maupun untuk substitusi produk impor. “Ada tiga kelompok besar produk hilir kelapa sawit, yaitu oleopangan, oleokimia, dan biofuel,” ujarnya di Balikpapan, Selasa (7/11).
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023