Booming Investasi Startup Berakhir
Januari 2024, Suku Bunga Pinjol Turun
Laba Turun, Mandiri Coal Bagikan Dividen Interim Jumbo
Poltracking: Ada Tiga Skenario Berpotensi Bergulir di Pilpres
Pemerintah Jajaki Cabut Status KEK yang Sulit Capai Target
The Fed Tidak Yakin Sudah Mengatasi Inflasi
Asuransi Kredit Bakal Diterpa Gagal Bayar
Melandai Permodalan Industri Domestik
Suka Duka Usaha Desa
Setelah tamat SMA, Nina Safitri bekerja di pabrik tapioka. Dua
tahun kemudian ia pindah ke pabrik pupuk organik, lalu berhenti karena menikah.
Terbiasa bekerja, Nina akhirnya memutuskan aktif dalam kelompok perempuan, melalui
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Program ini
bertujuan mengatasi kemiskinan di desa-desa dan memperluas lapangan kerja di
bawah naungan Kemendagri. Pada 2014 PNPM dibubarkan. Pemerintah Indonesia
membentuk Kemendes, PDTT untuk menangani masalah di perdesaan. ”Kami seperti
anak ayam kehilangan induk,” kata Nina, mengenang masa transisi itu. Ia lega
ketika Permendes PDTTi No 15/2021 menetapkan transformasi eks PNPM menjadi
badan usaha milik desa bersama atau disingkat bumdesma.
Nina kini Direktur Bumdesma Barokah Jaya di Kecamatan Baron,
Nganjuk, Jatim. Pada 2021, Bumdesma Barokah Jaya memperoleh bantuan modal dari
Kemendes PDTT untuk program peternakan terpadu.Ada hewan ternak, ada kebun.
Kotoran ternak diproduksi menjadi biogas dan kompos. Lingkungan akan terbebas
dari limbah. Lokasi peternakan diputuskan melalui musyawarah dengan 11 kepala
desa di Kecamatan Baron: di Agrowisata Onokabe, Dusun Kuniran, Desa Jekek. Luas
Onokabe empat hektar berada di tanah milik desa, yang disebut tanah bengkok.
Sebelas desa di Kecamatan Baron diminta pihak kementerian menyertakan modal
masing-masing Rp 100 juta dari dana desa untuk bumdesma. Program peternakan
diharapkan berjalan lancar dan desa-desa memperoleh manfaat. Tujuan
strategisnya adalah ketahanan pangan.
Usaha Bumdesma Barokah Jaya ada tiga, yaitu simpan pinjam,
yang praktiknya hanya meminjamkan, peternakan terpadu, dan kredit barang. Pengembalian
dana pinjaman tak memberatkan peminjam. Pemerintah memberi masyarakat modal tanpa
jaminan agar selamat dari jeratan bank kecil ataupun tengkulak. Ini tujuan
utama bantuan. Hal itu memengaruhi cara menagih, menurut Nina. ”Kalau menagih
pinjaman, tidak boleh kasar.” Bunga pinjaman dipatok 1,5 %. Bumdesma mengambil
1,2 %, sedangkan 0,3 % dikelola dan dikembalikan manfaatnya kepada kelompok
penerima pinjaman. Tantangan Bumdesma Barokah Jaya saat ini adalah membuka
lapangan kerja untuk warga. Meski UMKM cukup populer, penjualan terbanyak
didapat saat pameran produk saja. Sementara warga desa membutuhkan pekerjaan
yang hasilnya bisa didapat setiap hari. (Yoga)
”Laga” Seru Pelaku UMKM di Luar Stadion Piala Dunia U-17
Tidak hanya pemain muda dari beberapa negara yang berlaga di Piala Dunia U-17, pelaku UMKM dari berbagai daerah tak kalah semangat ikut unjuk gigi. Pasangan suami-istri, Pratama Anggi Wibowo (30) dan Intan Ratnawati, percaya diri memasuki toko Bandung Kunafe di Soreang, Bandung, Jabar, Jumat (10/11) siang. Mereka membawa ratusan bungkus camilan stik keju dengan tiga varian rasa untuk dititipkan di toko oleh-oleh di samping Gedung Budaya Sabilulungan (GBS) itu. GBS vital selama Piala Dunia U-17 di Bandung pada 11-21 November. Keberadaannya menjadi pusat bus pengumpan atau shuttle penonton menuju Stadion Si Jalak Harupat, tempat laga digelar. ”Rencananya kami akan memasok hingga 5.000 bungkus aneka produk camilan selama Piala Dunia U-17,” kata Pratama, produsen berbagai produk camilan dan beragam kerajinan tangan itu.
Agus Asmara (52), produsen kopi luwak di Kabupaten Bandung, juga tak mau kehilangan peluang mencetak cuan. Ayah tiga anak ini berencana berjualan di tenda yang disiapkan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung di GBS. Selama dua hari, Agus dan lima karyawannya menyiapkan 100 kemasan produk kopi luwak dan arabika buatannya. Ia menempelkan merek Kopi Lembah Cimanong, merujuk perkebunan kopi milik sendiri seluas satu hektar di Ciwidey. Agus menjual kopi dalam bentuk biji sangrai dan bubuk siap seduh. Ia juga turut menjual minuman kop ”Kami menargetkan keuntungan hingga Rp 10 juta se- lama perhelatan Piala Dunia U-17. Jumlah itu tiga kali lipat dari penjualan daring dan ikut bazar,” tuturnya.
Di Surabaya, Jatim, penjualan jersei sepak bola tim Indonesia untuk Piala Dunia U-17 tak kalah menggeliat. Penjualan jersei tiruan tersebut berjarak 6-7 kilometer dari Stadion Gelora Bung Tomo. Stadion ini satu dari empat venue Piala Dunia U-17. ”Aduh, berat kalau lokasi jualan jauh begini. Semoga saja bisa banyak laku,” harap Deden Firmansah, penjual jersey Indonesia dari Bandung, Jumat petang, di Surabaya. Jersei tiruan tersebut dijual Rp 100.000-Rp 200.000. Kepala UPTD PLUT Kabupaten Bandung Dewi Windiani memaparkan, selama Piala Dunia U-17, UMKM akan difokuskan di area GBS. Pihaknya menyediakan 8 tenda yang bisa menampung 16 pelaku usaha. Bupati Bandung Dadang Supriatna menambahkan, penonton di Piala Dunia U-17 di Jalak Harupat diperkirakaan 10.000 orang tiap laga. Ia yakin ajang ini akan memberi manfaat bagi ekonomi warga. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menambahkan, di penjualan pernak-pernik Piala Dunia U-17, ada keterlibatan UMKM Surabaya. (Yoga)









