PROSPEK PENYALURAN KPR : TAKTIK LUGAS PERAS LIKUIDITAS
Industri bank di Tanah Air masih berlimpah likuiditas di tengah tanda-tanda permintaan kredit yang naik. Satu sisi, dinamika politik dalam negeri dan global, memberi sentimen terhadap rencana ekspansi dan investasi yang berujung pelambatan ekonomi. Dian Ediana Rae, Kepala Ekskeutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memotret kondisi likuiditas di industri perbankan yang masih longgar saat memberikan keterangan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada akhir Oktober 2023. Jika merujuk data OJK, loan to deposit ratio (LDR) yang mencerminkan rasio pendanaan terhadap kredit sebesar 83,92% pada posisi September 2023. Meski masih longgar, besaran LDR itu mulai naik dibandingkan dengan posisi Desember 2022 yang berada di level 78,78%. Longgarnya likuiditas sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19. Jauh sebelum pandemi, rata-rata LDR perbankan di kisaran 90%—92%. Bahkan, secara spesifik Dian menyebut perbankan Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) I dan KBMI II, sangat berlimpah likuiditas. Bagi perbankan, ekses likuiditas yang besar praktis kurang menguntungkan. Bank perlu menggenjot fungsi intermediasi guna memperoleh marjin keuntungan dari dana masyarakat yang disalurkan. Satu-satunya taktik yang bisa diandalkan mengerek permintaan pembiayaan yakni menggenjot sektor konsumsi. Adanya insentif pemerintah berupa pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk hunian dengan harga Rp2 miliar sampai dengan Rp5 miliar, menjadi angin segar bagi bank. Menurut Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan, adanya insentif PPN DTP akan mendorong animo masyarakat, terutama pembeli rumah perdana. “Kami sambut baik insentif untuk KPR. Harapannya bisa menaikkan animo masyarakat untuk segera mengambil KPR. Terutama, untuk first time buyer,” kata Lani kepada Bisnis. Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu menyatakan insentif PPN DTP dan insentif untuk hunian bagi masyarakat berpenghaislan rendah (MBR), akan berpengaruh secara psikologis terhadap calon pembeli rumah untuk segera merealisasikan rencananya.
Serupa, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rudi As Aturridha menekankan bahwa pihaknya merespons baik inisiatif pemerintah mendorong pertumbuhan sektor perumahan dengan berbagai insentif. Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Okki Rushartomo menjelaskan belajar dari pengalaman insentif PPN sebelumnya pada Maret—Desember 2021, kemudian diperpanjang hingga Desember 2022, terjadi peningkatan permintaan KPR sekitar 5%—15% dibandingkan tahun sebelumnya. “Adapun saat ini, properti residensial dengan harga Rp500 juta hingga Rp 2 miliar menjadi segmen yang paling diminati. PPN DTP akan memengaruhi komponen pembiayaan yang disalurkan oleh bank,” kata Okki kepada Bisnis, Jumat (10/11). Ketua Umum Real Estate Indonesia atau REI Joko Suranto menyatakan agar industri properti optimal dan berkelanjutan, insentif PPN DTP oleh pemerintah harus dibarengi dengan konsep propertynomics. Propertynomics merupakan cara pandang untuk menumbuhkan kontribusi properti terhadap ekonomi. REI memproyeksikan dengan ditetapkannya kebijakan insentif PPN DTP, pasar properti bakal kebanjiran dana mencapai Rp10 triliun dengan output pada ekonomi nasional mencapai Rp1,8 triliun. Wakil Ketua Umum REI Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin meyakini kebijakan insentif ini dibuat untuk mendorong kemampuan beli konsumen terutama untuk kaum milenial dan yang belum memiliki rumah. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Djunaidi Abdillah berharap agar kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah tidak bersifat fluktuatif agar menciptakan kondisi yang lebih tenang bagi pengusaha. ?“Kami support apa pun bentuk kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Itu yang kami tunggu,” katanya. Saat ini Apersi masih memiliki kuota 20.000 hunian komersial yang siap jual. Emiten properti Sinar mas Group, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menilai kebijakan itu dapat mendorong kinerja penjualan segmen residensial. Direktur BSDE Hermawan Wijaya menyatakan sampai kuartal III/2023, pihaknya telah mengamankan prapenjualan Rp6,75 triliun, atau 77% dari target periode 2023 sebesar Rp8,8 triliun. Terkhusus segmen residensial, porsinya Rp4,47 triliun. Sementara itu, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Harun Hajadi menekankan insentif PPN DTP akan berpengaruh besar untuk mendorong minat masyarakat untuk membeli rumah stok.
Lindungi Warga dan Hentikan Perang di Gaza
Indonesia bersama puluhan negara kembali mendesak
penghentian perang di Gaza. Warga sipil harus dilindungi dari serangan ataupun penyanderaan.
Desakan disampaikan dalam KTT Darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar
di Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (11/11). Sebagai pemimpin negara berpenduduk
Muslim terbesar, Presiden Jokowi hadir di KTT itu. Lawatan ke Riyadh ini bagian
dari muhibah Presiden di Arab Saudi dan AS. Dalam pernyataan beberapa hari
lalu, Jokowi mengatakan akan membawa hasil KTT OKI ke Presiden AS Joe Biden. Jokowi-Biden
akan bertemu di Washington DC dan California.
KTT Riyadh menunjukkan negara-negara Timur Tengah bisa
bersatu karena kegentingan di Palestina. Buktinya, sejumlah pemimpin negara
yang selama ini bermusuhan di Timur Tengah kini berkumpul di Riyadh. Presiden
Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Suriah Bashar al-Assad datang ke KTT. Sekjen
OKI Hissein Brahim Taha menyebut, KTT itu menegaskan solidaritas dan dukungan
teguh OKI pada Palestina. Ia menyerukan, serangan Israel ke Gaza harus segera
dihentikan. Koridor kemanusiaan untuk pengungsian warga sipil dan pengiriman
bantuan kemanusiaan harus disediakan secara memadai dan berkelanjutan. Ia
menolak setiap upaya pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza ataupun Tepi
Barat.
Apa pun alasannya, warga Gaza dan Tepi Barat tidak boleh
digusur atau dipindah paksa. Kemerdekaan penuh Palestina, menurut Putra Mahkota
Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), adalah solusi untuk mengakhiri
konflik berkepanjangan ini. ”Kami yakin satu-satunya jalan perdamaian adalah
berakhirnya pendudukan Israel dan permukiman illegal serta pemulihan hak-hak
rakyat Palestina dan pembentukan negara sesuai perbatasan 1967, dengan
Jerusalem timur sebagai ibu kotanya,” ujarnya. Ia pun mengecam standar ganda
komunitas internasional. Hukum kemanusiaan internasional jelas sedang diabaikan
di Gaza dan tidak ada tindakan apa pun dari komunitas internasional pada Israel.
(Yoga)
Warga Berhemat, Hari Belanja Sepi
Kondisi perekonomian yang kurang baik membuat konsumen di
China berhemat. Akibatnya, semangat belanja pada Hari Jomblo yang juga dikenal
dengan ”Double 11” mengendur. Dari hanya sehari, kini ”11.11” berkembang
menjadi tawaran diskon dalam hitungan pekan. Setiap ”11.11” atau tanggal 11 bulan
11, berbagai lokapasar menawarkan potongan harga besar-besaran. Hal itu juga
terjadi pada Sabtu (11/11). Tmall milik Alibaba berpromosi ”Harga Terendah di
Internet”. Sementara JD.com menyebarkan slogan ”Benar-benar Murah”. Adapun
Pinduoduo mencoba menarik konsumen dengan iming-iming ”Harga Murah Setiap
Hari”. Harian The Japan Times, Jumat (10/11) melaporkan, Alibaba dan JD.com
menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan gambar produk dengan
cepat. Lokapasar juga membagi- kan aneka kupon diskon. Alibaba dan JD.com juga gencar
mengunggah siaran langsung, rekaman video, atau foto promosi di media sosial. Douyin,
Tiktok versi China, menjadi pelantar utama bagi orang-orang dan pengecer yang menjual
kepada konsumen melalui siaran video secara langsung.
Ternyata, tahun ini, semua tawaran diskon itu tak menarik konsumen.
Survei Bain&Co, lembaga konsultasi asal AS, terhadap 3.000 konsumen China
menyimpulkan, 77 % responden tidak akan belanja sebanyak tahun lalu. Bahkan,
separuh responden mengaku cenderung memilih produk lebih murah. ”Mungkin orang
tidak mau mengeluarkan uang sebanyak dulu atau mungkin mereka tidak punya
banyak uang untuk dibelanjakan. Saya juga tidak mengeluarkan uang apa pun kecuali
untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Hu Min, karyawan toko serba ada di kota
Shijiazhuang, Hebei. Pada 2019, konsumen bisa menghabiskan 38 miliar USD atau Rp
596 triliun di Alibaba saja selama Hari Jomblo. Kini, konsumen di China lebih
berhati-hati mengeluarkan dana belanja tambahan. Sebab, pendapatan menurun,
sementara harga aneka hal serta pengangguran naik. (Yoga)
Dari Cirata, Energi Hijau untuk Bumi Lebih Baik
Senyum lebar menghias wajah Presiden Jokowi saat meresmikan Pembangkit
Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata, Kamis (9/11) pagi. Bagi Presiden,
pembangunan infrastruktur penghasil energi hijau ini semakin membuka langkah maju
untuk pengembangan energi baru dan terbarukan di Tanah Air. PLTS ini berkapasitas
192 megawatt-peak dan mampu memasok listrik hingga 50.000 rumah. Dengan
kapasitas yang dimiliki, PLTS Terapung Cirata menjadi pembangkit listrik terapung
terbesar di Asia Tenggara dan nomor tiga terbesar di dunia. ”Ini merupakan hari
bersejarah karena mimpi besar kita untuk membangun pembangkit energi baru dan
terbarukan (EBT) dalam skala besar akhirnya bisa terlaksana,” ujarnya dalam
peresmian yang disambut terik matahari pagi itu.
Setiap panel terapung seperti pulau persegi dengan luas 10 hektar
atau 14 kali lapangan sepak bola. Panel terapung ini menutupi 4 % total permukaan
Waduk Cirata yang mencapai 6.200 hektar. Posisi panel surya ini berada di sebelah
utara waduk dan berjarak sekitar 400 meter dari pintu pengambilan air (water intake)
Pembangkit Listrik Tenaga Air Cirata. Waduk Cirata membentang di antara
Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta. Panel Surya yang terbentang
itu membuat Jokowi semakin optimistis dalam kontribusi energi hijau di masa depan.
Dia berujar sudah saatnya Indonesia memaksimalkan potensi EBT yang terbentang
di Tanah Air. ”Kami harapkan makin banyak EBT yang dibangun di Indonesia, baik
itu tenaga surya, tenaga air, panas bumi, maupun tenaga angin. Memang
permintaan untuk energi hijau untuk industri ini paling banyak karena semua ingin
mendapatkan produk premium dari green energy,” ujarnya. (Yoga)
UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI
Uang telah menjadi alat tukar yang dianggap menandai
peradaban modern. Namun, di Pasar Wulandoni, Pulau Lembata, Nusa Tenggara
Timur, uang bukanlah segalanya. Nelayan dan petani masih saling tukar kebutuhan
hidup sehari-hari tanpa menggunakan uang. Sabtu (12/8) pagi pukul 08.00, para
pedagang, hampir semuanya perempuan, telah menggelar hasil bumi seperti pisang,
singkong, keladi dan umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, jagung, sirih dan
pinang, serta sayur-mayur. Mereka duduk di lapak-lapak batu yang disemen berbentuk
lingkaran, di bawah pohon asam yang tumbuh meraksasa. Lokasi tiap lapak itu diwariskan
turun-temurun. Pasar Wulandoni hanya buka seminggu sekali setiap Sabtu, dari
Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, butuh tiga jam dengan mobil.
Pukul 09.00, nelayan dari Pantai Harapan dan Lebala, desa
pesisir sekitar Wulandoni, membawa ikan segar yang ditaruh dalam ember dan ikan
terbang kering. Ketika hampir semua lapak terisi, Kosmas Dua (64), Mandor Pasar
Wulandoni, memungut retribusi dengan membawa karung dan ember. Para pedagang menyerahkan
sebagian dagangan, sesisir pisang, beberapa ikat sayur atau ubi. Kosmos memasukkannya
ke dalam karung dan membawanya ke Kantor Desa Wulandoni, di depan pasar. Hasil
retribusi ini akan dilelang menjelang penutupan pasar. Menandai dimulainya
barter, Kosmas meniup buri (peluit) tepat pukul 10.00 pagi. Para nelayan segera
menyerbu petani yang membawa hasil kebun, seperti singkong, pisang, ubi, dan
sayur-mayur. Pada umumnya, nelayan yang berjalan-jalan sedangkan orang-orang
gunung duduk menunggu, karena ikan lebih ringan dibandingkan hasil pertanian.
Tawar-menawar barang berlangsung dalam diam. Kebanyakan
menggunakan Bahasa isyarat. Safira (45), misalnya, nelayan dari Pantai Harapan menyodorkan
dua ekor ikan kembung segar sambari menunjuk dua sisir pisang susu milik Lena
(56), petani dari Kampung Puor, Lena mengangkat tiga jari tangan pertanda ia meminta
tambahan satu ekor ikan lagi. Safira
berlalu, transaksi barter gagal. Tak lama berselang, Lidya (34) menyodorkan
satu renteng ikan asin sejumlah 10 ekor dan meminta tiga sisir pisang susu kepada
Lena, ia mengangguk. Barter berjalan mulus, masing-masing tersenyum puas. ”Kami
butuh ikan mereka dan mereka butuh makanan dari kebun kami,” kata lena. Di
Wulandoni, kita bisa melihat Pasar barter terbesar yang terakhir di Pulau
Lembata ini mempertemukan warga pesisir dan orang-orang pegunungan yang saling
membutuhkan. Hampir semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan
untuk dijual lagi. Para petani dan nelayan di Pasar Wulandoni tak terpengaruh lonjakan
harga beras atau bahan-bahan pangan lain di level nasional, apalagi perdagangan
global. Mereka menentukan nilai barang secara merdeka, berdasarkan kesepakatan
dua pihak. (Yoga)









