Lima bendungan PSN Siap Diresmikan Awal 2024
Minim Minat Swasta di Skema KPBU
Belum Surut Impor Produk Murah
INVESTASI, Masalah Perizinan Perlu Pembenahan
Presiden Jokowi menilai, hal yang perlu diurus saat ini
bukanlah pemasaran potensi investasi Indonesia ke luar negeri. Hal yang perlu
diurus adalah persoalan investasi di dalam negeri, misalnya soal pembebasan lahan
dan perizinan. ”Jadi, urusan investasi di kita bukan urusan memasarkannya,
ndak. Tapi, urusan di dalam negeri, (seperti) urusan pembebasan lahan, urusan
perizinan yang harus diikuti, dan harus selesai. Di situ kuncinya,” kata
Presiden seusai peresmian Pembukaan UMKM Expo (rt) Brilianpreneur 2023 di Jakarta
Convention Center, Jakarta, Kamis (7/12). Presiden pun menyebutkan, merupakan
kesia-siaan ketika memasarkan ke sejumlah negara, tetapi persoalan terkait investasi
di dalam negeritidak terselesaikan. ”Enggak usah kita ngomong me-marketing-i di
negara-negara, muter ke negara-negara lain, tetapi di dalam negerinya kita
enggak bisa menyelesaikan. Percuma,” ujarnya.
Saat memberikan sambutan pada peresmian Pembukaan Rapat
Koordinasi Nasional Investasi 2023 di Rafflesia Grand Ballroom, Balai Kartini,
Jakarta, Presiden Jokowi menuturkan, merujuk IMD World Competitiveness Ranking
di 2023, Indonesia melompat dari peringkat ke-44 ke peringkat ke-34. ”Saya kira
kita harus mengejar lagi agar peringkat kita semakin baik. Kalau dibandingkan,
misalnya, dengan Filipina itu di angka 52, kita masih menang. Tetapi, kalau
dibandingkan dengan Thailand, kita kalah karena Thailand di angka 30. Ini yang
harus dikejar. Kalau dibandingkan dengan Singapura,jauh lagi, Singapura di
ranking ke-4,” ucap Presiden. Kepala Negara meminta semua pihak bekerja keras
untuk memperbaiki peringkat daya saing investasi. (Yoga)
Biaya Politik Membengkak
Sejumlah calon anggota legislatif memprediksi anggaran yang
harus dikeluarkan untuk bertarung pada pemilu
2024 lebih besar dibandingkan pemilu sebelumnya. Ketatnya persaingan dan antisipasi
kecurangan menjadi sejumlah faktor yang berpengaruh. Meski biaya tinggi tidak bisa
dihindari di tengah sistem pemilu proporsional terbuka, hal tersebut perlu
ditekan dengan menggerus watak transaksional dalam kontestasi. Besarnya
anggaran yang dibutuhkan saat mengikuti pemilihan anggota legislatif salah satunya
diakui Habiburokhman, anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra. Wakil Ketua Umum
Gerindra itu mengeluarkan dana kampanye hingga Rp 2 miliar saat berkontestasi
di Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta I pada Pemilu 2019. Dari total dana
tersebut, sebagian untuk membeli alat peraga. Di luar kebutuhan kampanye, caleg
harus menyiapkan anggaran untuk perekrutan saksi yang akan ditugaskan mengawal
suara di hari-H pemungutan suara.
”Biaya paling besar yang keluar itu untuk mengawal suara,
membiayai operasional saksi di kecamatan. Itu bisa mencapai Rp 1 miliar totalnya
karena pengeluarannya sampai Rp 30 juta per hari,” kata Habiburokhman, saat
dihubungi, Kamis (7/12). Biaya besar untuk saksi ini tak bisa ditangguhkan.
Peran para saksi krusial di tengah potensi kecurangan pemilu. Tidak hanya pada
Pemilu 2019, tetapi juga pada Pemilu 2024.”Menurut saya, lebih tinggi biaya
pemilu 2024. Harga nasi pada 2019 dengan 2024, kan, beda. Harga kaus juga,”
tambahnya. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, sejumlah caleg lain umumnya
mengeluarkan dana dalam rentang Rp 20 miliar-Rp 25 miliar. ”Tetapi, kan, biaya
setiap orang itu berbeda-beda ya. Sangat mungkin juga ada yang jauh lebih kecil
dari saya,” ungkap Habiburokhman. Ia menilai tingginya anggaran yang dibutuhkan
tak bisa dihindari di tengah sistem pemilu proporsional terbuka. Selain para
caleg perlu berkontestasi secara individual, tidak ada larangan berkampanye
secara mandiri dengan pembiayaan sendiri. (Yoga)
RI dan Dunia Hadapi Tiga Isu Prioritas Pangan
Indonesia dan dunia tengah dihadapkan pada tiga isu
prioritas pangan. Hal itu akan membuat pemba ngunan ketahanan pangan nasional
pada 2024 semakin menantang. Ketiga isu prioritas itu juga perlu ditangani
secara berkesinambungan, termasuk nanti pada periodisasi kepemimpinan baru.
Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Kamis (7/12) mengatakan, isu-isu
prioritas pangan itu mencakup Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), krisis pangan,
dan keaneka ragaman pangan lokal. Saat ini dunia dan Indonesia tinggal memiliki
waktu tujuh tahun untuk mencapai SDGs. Urgensi pangan dan pertanian dalam SDGs
itu sangat penting karena menyangkut ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Oleh
karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, mencari bentuk-bentuk percepatan
dan transformasi konkret agar SDGs itu tercapai pada 2030. ”Apalagi, Organisasi
Pangan dan Pertanian (FAO) menyerukan pentingnya mengatasi hidden cost (biaya
tersembunyi) yang berpotensi membebani pengeluaran masyarakat dan negara,”
katanya dalam Rakornas Ketahanan Pangan 2023 yang digelar Bapanas secara
hibrida.
Tiga komponen terbesar yang menyumbang biaya tersembunyi
adalah bidang lingkungan, yaitu emisi nitrogen senilai 79,986 juta USD dan gas
rumah kaca 42,123 juta USD. Disusul bidang sosial, terkait kemiskinan, terutama
pada kelompok pekerja sektor pertanian, yang biaya tersembunyinya mencapai
11,670 juta USD. Isu prioritas kedua, adalah krisis pangan yang menyebabkan
bencana kelaparan, tidak hanya akibat dampak perubahan iklim, juga lantaran
guncangan stabilitas politik dan ekonomi. Isu prioritas ketiga terkait
keanekaragaman pangan lokal. Hasil Sensus Pertanian 2023 Tahap I menunjukkan,
komoditas-komoditas pangan yang dijadikan usaha pertanian belum mencerminkan
komoditas khas daerah atau pangan lokal. Padahal, Indonesia kaya sumber pangan
lokal, seperti sagu, sorgum, ubi jalar, talas, garut, ganyong, sukun, hanjeli,
dan porang. (Yoga)
Segmen Perkantoran dan Apartemen Siap Bangkit di 2024
Adaro Masuk Daftar Forbes World’s Best Employers 2023
Pemerintah Kaji Dampak Penyaluran KUR
Kementerian Koperasi dan UKM akan mengkaji dampak penyaluran
kredit usaha rakyat atau KUR terhadap perekonomian nasional. Hal ini menjadi
tindak lanjut dari hasil evaluasi terhadap penyaluran KUR yang belum sepenuhnya
terealisasi sesuai dengan ketentuan dan mencapai target. Sebagaimana diketahui,
pemerintah menargetkan penyaluran KUR Rp 297 triliun. Hingga 6 Desember 2023,
KUR yang telah tersalur mencapai 78,17 % dari target yang ditetapkan kepada
4,15 juta debitor. Pada 2024, Kemenkop dan UKM memperkirakan target penyaluran
KUR mencapai Rp 300 triliun. Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop dan UKM Yulius menjelaskan,
berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, penyaluran KUR pada 2023 terindikasi
belum sesuai aturan dan ketentuan pedoman penyaluran. Salah satunya ditemukan adanya
agunan tambahan yang seharusnya tidak dikenai kepada debitor dengan plafon di bawah
Rp 100 juta.
”Sebagai tindak lanjut, kami akan melakukan kajian terhadap
dampak penyaluran KUR pada tahun depan. Evaluasi ini terutama untuk mengukur
dampak terhadap pembangunan ekonomi nasional dan terhadap UMKM. Salah satunya dapat
diukur melalui kontribusi terhadap PDB, tingkat kemiskinan, dan kesejahteraan,”
ujarnya di Jakarta, Kamis (7/12). Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan
mengambil sampel 1.047 debitor KUR yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia.
Dari hasil survei ditemukan 16,1 % debitor KUR dengan skema mikro dan
supermikro dimintai agunan tambahan untuk pinjaman di bawah Rp 100 juta. Beberapa
pelanggaran lain yang ditemukan, antara lain, penyalahgunaan KUR oleh debitor,
penerima KUR adalah guru dan ASN, pinjaman KUR melebihi jangka waktu, serta
debitor KUR tidak memiliki NPWP. (Yoga)
RANTAI PASOK GLOBAL, Tren Proteksionisme Bakal Kian Intens
Mantan Mendag Mari Elka Pangestu dalam Annual International
Forum of Economic Development and Public Policy atau AIFED ke-12 mengatakan,
tren proteksionisme hijau oleh negara maju akan semakin intens. Tidak hanya
dilakukan oleh Uni Eropa dan AS, tetapi juga negara maju lainnya. ”Jangan harap
tensi perdagangan global akan mereda dalam waktu dekat. Selain fragmentasi
geoekonomi, kita juga menghadapi
restriksi karena komoditas kita dianggap menghasilkan karbon tinggi. Ke depan
akan lebih kompleks. Kita harus belajar hidup dengan situasi ini dan mencari
strategi baru untuk bertahan di rantai pasok,” katanya, Kamis (7/12), di Nusa
Dua, Bali.
Menurut dia, tren tersebut tidak bisa dihindari. Agar bisa kompetitif,
suatu negara harus jadi bagian dari rantai pasok yang berkelanjutan. Untuk itu,
Indonesia mesti konsisten dengan komitmennya melakukan dekarbonisasi. Saat ini
25 % ekonomi Indonesia masih menghasilkan karbon yang cukup tinggi, seperti
pertambangan (14,07 %), agrikultur (9,22 %), perikanan (2,58 %), dan kehutanan
(0,6 %). Namun, bukan berarti Indonesia hanya diam. Menurut Mari, lobi-lobi
perlu lebih digencarkan agar standar ”kehijauan” yang diterapkan negara maju
itu bisa diturunkan sesuai kapasitas negara berkembang. (Yoga)









