Pergerakan Pasar Pusat Data Mengarah ke Negara Berkembang
Indonesia menjadi negara berkembang yang bersaing untuk
menjadi lokasi pembangunan fasilitas pusat data baru di kawasan Asia Pasifik.
Selain Jabodetabek, Batam dan Bintan di Kepri belakangan menjadi opsi lokasi
pembangunan. Ketua Bidang Aplikasi Nasional Masyarakat Telematika Indonesia
(Mastel) Djarot Subiantoro, Kamis (7/12) di Jakarta, mengatakan, pembangunan
fasilitas di luar Singapura atau di wilayah negara terdekat, seperti Batam dan Bintan,
menjanjikan biaya yang lebih efisien. Selain itu, lahan di wilayah tersebut
juga masih cukup luas untuk dipakai membangun fasilitas pusat data dengan
penerapan energi terbarukan. ”Singapura selama ini menjadi tujuan populer pembangunan
fasilitas pusat data bagi operator pusat data ataupun perusahaan teknologi
global. Akan tetapi, lahan mereka terbatas dan peruntukan lahan di sana semakin
ditingkatkan untuk nilai tambah yang lebih besar.
Maka, pilihan operator pusat data membangun fasilitas pusat
data di luar dan di sekitar Singapura menjadi masuk akal,” ucapnya. Indonesia
diproyeksikan berkontribusi 40 % dari ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari setengah
populasi penduduk. Regulasi terkait lokalisasi dan proteksi data juga mendukung
pengembangan bisnis ekonomi digital Indonesia. Menurut Djarot, pembangunan
fasilitas pusat data baru di daerah lain di Indonesia amat memungkinkan. Hanya,
hal yang perlu dicek kembali adalah kualitas kondisi konektivitas jaringan telekomunikasi,
listrik, dan sumber daya manusia. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
atau Telkom sudah melakukan peletakan batu pertama Neutra DC Hyperscale Data
Center Batam pada Desember 2023. Direktur Wholesale and International Service
Telkom Bogi Witjaksono mengatakan, NeutraDC Hyperscale Data Center Batam
menjadi bagian dari ekosistem fasilitas pusat data Grup Telkom. Artinya,
fasilitas itu akan terhubung dengan fasilitas pusat data Telkom yang berada di
Cikarang (Bekasi, Jabar) dan luar negeri, seperti Hong Kong. (Yoga)
Kodok dari Sumsel Diminati Pasar Eropa
”Kalau dalam bentuk hidup, banyak aspek yang harus dipenuhi, seperti kesehatan atau penyakitnya,” kata Sahat. Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda, Balai Karantina Ikan Palembang, Mardian menuturkan, kodok yang diekspor itu berasal dari genus Fejervarya yang banyak hidup di sawah dan lahan rawa, antara lain di kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, di seputaran Ogan Komering Ilir, dan Palembang. Ekspor produk olahan kodok itu sudah dilakukan Sumsel sejak 1980-an dan hampir setiap bulan. Negara tujuan ekspor sebagian besar di Eropa, seperti Perancis, Belgia, dan Denmark. Karena kodok berasal dari tangkapan alam, volume ekspor produk olahan kodok bergantung pada musim. Musim kemarau panjang tahun ini, volume ekspor pun turun. Pada 2022, ada 26 pengiriman ke Perancis, Belgia, dan Denmark sebesar 446,412 kg senilai Rp 55,66 miliar. Per 8 Desember 2023, turun menjadi 245,646 kg senilai Rp 53,235 miliar dari 25 pengiriman ke Perancis dan Belgia. (Yoga)
Perempuan Suku Laut, Nelayan Ulung yang Tersisih Jadi Pemulung
Perahu fiber berisi enam perempuan pemulung lintas pulau, Kamis (16/11) sore itu pulang ke Kampung Air Mas, Pulau Tanjung Sauh, Batam, Kepri. Di tempat tujuan pendaratan, anak-anak berlarian menyambut perahu. Normah, yang tertua, turun paling belakangan. Ia mengomel kepada anak-anak yang cerewet memanggil-manggil. ”Enggak ada buah. Enggak ada makanan. Enggak ada mainan. Cuma kain-kain sobek saja,” ucapnya ketus. Anak-anak bubar dengan kecewa. Kampung mereka yang dihuni 40 keluarga suku Laut terletak di Pulau Tanjung Sauh, terpisah 3 km dari Pulau Batam. Suku Laut adalah penduduk asli Kepri yang dulu mengembara di laut dengan sampan dayung beratap daun nipah Orang-orang nomaden itu terkenal sebagai pelaut yang ahli membaca cuaca dan arus laut. Mereka juga arif dalam menjaga kelestarian laut. Warga di Kampung Air Mas mulai hidup menetap sejak 2010 dan mendapat bantuan rumah panggung kayu dari pemerintah. Waktu musim angin selatan, saat ombak tenang pada Juni-Oktober, mereka mengembara ke Pulau Bintan.
Normah yang hidup sebatang kara sepeninggal suaminya, dikenal sebagai perempuan pemberani dan pelaut ulung. Sewaktu muda, ia mampu mendayung sampai ke laut perbatasan Malaysia dan Singapura. Ia juga terkenal karena pandai menemukan lokasi karang yang banyak ikannya. ”Sekarang nenek bisanya cuma memancing ikan dan cari gamat (teripang) saja. Nenek sudah tua, jadi enggak sanggup kerja laut yang lain,” katanya. Pada musim angin utara, Normah dulu bisa mencari ikan di sekitar Pulau Tanjung Sauh. Namun, reklamasi yang masif di Batam membuat perairan itu tercemar dan tak lagi bisa menghidupi seperti dulu. Ikan selar yang jadi incaran nelayan pancing kini makin sulit didapat karena dikeruk habis oleh kapal-kapal yang menggunakan pukat teri. Sejak beberapa tahun lalu, saat musim angin utara, mayoritas perempuan suku Laut di kampung itu harus bertahan hidup dengan mengais sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur, Batam. Tiga kali dalam sepekan mereka menyeberang ke Batam. ”Buah dan makanan dari TPA buat nenek makan sendiri. Kalau pakaian bisa dijual Rp 2.000 per lembar,” kata Normah. Perempuan suku Laut lain di Kampung Air Mas, Saikim, mengatakan sudah lebih dari lima tahun memulung di TPA Punggur, ia juga mengumpulkan sabun dan sampo kedaluwarsa. ”Kalau sabun yang masih bagus bisa dijual Rp 15.000 satu tumpuk. Harganya enggak pasti, tergantung yang beli saja,” kata perempuan berusia sekitar 40 tahun itu. (Yoga)
Mengatur Keuangan Saat Liburan Akhir Tahun
Berbagai rencana tentunya sudah disusun untuk mengisi
liburan Natal dan Tahun Baru, mulai rencana mudik, beli kado natal dan tahun
baru untuk orang terkasih, hingga wisata bersama keluarga. Agar tidak boncos
setelah liburan Natal dan Tahun Baru, perlu dilakukan perencanaan keuangan yang
baik. Alokasi anggaran selama liburan pun memiliki sedikit perbedaan apabila dibandingkan
dengan alokasi anggaran bulanan. Ada tujuh tips perencanaan keuangan selama
masa liburan Natal dan Tahun Baru yang dapat diterapkan, yaitu : 1. Sebelum
melakukan penganggaran biaya liburan, pastikan pembayaran kewajiban bulanan
telah diselesaikan, misalnya utang cicilan, biaya sekolah anak,tagihan listrik
dan sebagainya. 2. Tetap melakukan investasi dengan pertimbangan matang. 3.
Jangan gunakan dana darurat untuk memenuhi keinginan dan kepuasan hati sesaat
ini. Dana darurat hanya boleh digunakan ketika kondisi darurat, seperti sakit
dan PHK.
4. Rencanakan pengeluaran selama liburan untuk meminimalkan
pengeluaran overbudgeting dan overspending pada saat liburan, merencanakan
aktivitas dan besaran anggaran yang akan digunakan. 5. Catat pengeluaran selama
liburan, untuk membantu melihat jumlah uang yang telah digunakan sehingga akan
meminimalkan pengeluaran di luar anggaran yang sudah disusun. 6. Manfaatkan
promo dan diskon dengan bijak, baik saat pembelian tiket transportasi, akomodasi,
maupun wahana permainan. 7. Jangan berutang untuk liburan. Berutang untuk berlibur
artinya berutang untuk kebutuhan konsumtif dan akan membebani keuangan di masa
depan. Jangan terjebak prinsip You Only Live Once (YOLO) dan Fear of Missing
Out (FOMO) saat berlibur. Kedua prinsip ini cenderung mendorong untuk
konsumtif. Berliburlah sesuai dengan kemampuan keuangan yang Anda miliki
sehingga tidak akan menghasilkan masalah baru setelah liburan selesai. (Yoga)
QRIS LINTAS NEGARA, MENDUKUNG AKSELERASI WISATA INTERNASIONAL
Salah satu sektor yang telah memanfaatkan teknologi digital berkaitan
dengan perbedaan kurs mata uang adalah bidang jasa pariwisata. Para wisatawan
tidak perlu lagi antre panjang untuk mengurus pemesanan tiket transportasi hingga
akomodasi. Beragam platform digital telah menyediakan layanan pemesanan tersebut
secara inklusif. Bisa diakses dari mana pun, kapan pun, serta dapat diakses
dengan satuan mata uang yang berbeda. Bahkan, untuk tujuan wisata luar negeri
destinasi tertentu, wisatawan tak perlu lagi antre menukarkan mata uang local negara
tujuan. Pasalnya, Bank Indonesia bersama bank sentral dan otoritas moneter di
sejumlah negara ASEAN telah menyepakati kerja sama pembayaran lintas negara
berbasis QR code. Program kerja sama ini dikenal dengan sebutan QRIS
cross-border. QRIS sendiri merupakan standar QR code untuk pembayaran digital
melalui aplikasi uang elektronik.
Kolaborasi tersebut bermula dari kesepakatan Bank Indonesia
dan Bank of Thailand (BoT) yang meluncurkan QRIS cross-border pada Agustus
2022. Selanjutnya, penggunaan QRIS cross-border juga turut diadopsi bersama
Bank Negara Malaysia (BNM). Program ini terus meluas dan menjalin kerja sama dengan
Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP).
Tak hanya di ASEAN, penjajakan kerja sama dengan Jepang tampaknya juga
membuahkan hasil dan akan diperluas hingga China dan Korsel. Dengan QRIS
cross-border, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke sejumlah negara tersebut
tetap dapat membayar menggunakan rupiah. Caranya dengan memindai barcode
menggunakan platform pembayaran digital, seperti DANA, LinkAja, dan mobile
banking. Begitu pula sebaliknya dengan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke
Indonesia. Mereka tetap dapat bertransaksi
menggunakan mata uang negara asalnya.
Teknis transaksi dalam QRIS cross-border itu relatif
sederhana. Cukup menggunakan aplikasi yang direkomendasikan dalam program
tersebut sehingga konsumen tinggal melakukan pemindaian atau scanning. Setelah
proses pemindaian, secara otomatis platform pembayaran digital tersebut akan
mengonversikan nilai transaksi ke mata uang yang digunakan wisatawan. Dengan
demikian, wisatawan tidak perlu repot-repot membawa uang dalam bentuk fisik ke
mana pun mereka pergi. Penggunaan QRIS cross-border diharapkan juga mampu meningkatkan
geliat dunia wisata. Pasalnya, kemudahan yang ditawarkan berpotensi membuat wisatawan
semakin banyak berbelanja baik berupa barang maupun jasa sehingga secara tidak langsung
meningkatkan daya tarik suatu daerah. Obyek wisata, akomodasi, serta oleh-oleh khas
daerah tujuan turis itu semakin banyak dikenal dan dikabarkan secara luas.
Alhasil, kunjungan para turis semakin meningkat dan nilai ekonomi wisatanya
juga melonjak signifikan. (Yoga)
Perjalanan Mewah yang Jadi Tujuan Berwisata
Layanan bus sleeper seat dan kompartemen kereta mewah
membuat perjalanan dengan fasilitas premium kerap menjadi tujuan wisata itu
sendiri. Kurang sebulan menjelang liburan Natal dan Tahun Baru 2024, masyarakat
mulai mencari destinasi liburan dan akomodasi yang hendak dituju bersama teman
ataupun keluarga. Tidak hanya menentukan tujuan, memilih moda transportasi
untuk perjalanan wisata juga tak kalah penting. Pasangan suami-istri Ilham (28)
dan Ariesta (29) asal Bekasi, Jabar, selain akan menghabiskan malam tahun baru
di Bukittinggi, Sumbar, juga sudah membeli dua tiket bus antar kota antar provinsi
(AKAP) eksekutif PO Sembodo dengan fasilitas sleeper seat. Justru, prioritas
mereka dalam perjalanan wisata kali ini adalah menikmati sensasi menggunakan
sleeper seat bersama orang terkasih. ”Kami sudah merencanakan (perjalanan)
sejak pertengahan tahun ini. Saya dan istri pernah nonton konten review bus luxury
di Youtube. Terus kayaknya bakal seru dan romantis kalau kami berdua rebahan di
sleeper seat selama puluhan jam perjalanan,” ujar Ilham kepada Kompas, Rabu
(6/12).
Ini pertama kali mereka melakukan perjalanan darat dari
Jakarta menuju Bukittinggi, selama sedikitnya 33 jam dari Terminal Kampung Rambutan,
Jaktim, menuju Terminal Aur Kuning, Bukittinggi, dengan harga satu tiket
sleeper seat Rp 880.000. Sleeper bus di Indonesia mulai popular pada 2016. Saat
pertama kali muncul, bus ini mengoperasikan rute Jakarta-Purwokerto-Purbalingga
dengan harga tiket Rp 400.000-Rp 600.000. Semenjak itu, banyak PO yang
meluncurkan bus suite class dengan berbagai fasilitas dengan harga tiket yang ditawarkan
mencapai dua hingga tiga kali lipat dari tiket bus kelas biasa. Menjamurnya PO
yang menyediakan bus suite class dengan beragam rute perjalanan didorong oleh
bertumbuhnya permintaan masyarakat Indonesia terhadap layanan bus ini, sejalan dengan
data Bank Dunia pada 2020 yang mencatat dalam 15 tahun terakhir, persentase
masyarakat kelas menengah di Indonesia tumbuh dari 7 % menjadi 20 %, dengan
pengeluaran Rp 1,2 juta-Rp 6 juta per orang sebulan. Pada 2020, Bank Dunia mencatat
52 juta dari total 273 juta penduduk Indonesia merupakan masyarakat kelas menengah.
(Yoga)
KILAU SAHAM ENERGI HIJAU
Tingginya gairah investor terhadap emiten-emiten sektor energi baru terbarukan atau EBT di pasar modal menjadi sinyal positif yang patut disyukuri. Sebab, dukungan investor menjadi prasyarat penting bagi terwujudnya visi pemerintah untuk beralih ke energi bersih. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo turut semringah ketika harga saham emiten EBT di pasar modal melesat akhir-akhir ini, yakni PT PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Bahkan, kemarin saham BREN sempat melesat ke level Rp8.175 sehingga menjadikan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp1.094 triliun. Lonjakan tersebut menjadikan BREN sempat menyentuh tahta emiten dengan nilai market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalahkan penghuni lama yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun ke Rp1.078,66 triliun. Namun, di akhir perdagangan, saham BREN kembali turun ke posisi Rp8.050 sehingga nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp1.076,98 triliun. Dengan posisi tersebut, saham BREN tercatat sudah melesat 932% dibanding harga perdananya saat tercatat pada 9 Oktober 2023 lalu yang senilai Rp780. Sementara itu, saham PGEO naik 7,34% ke level Rp1.170 dalam sehari. Meski tidak setinggi BREN, dengan posisi tersebut, saham PGEO kini juga sudah naik cukup tinggi, yakni 34% dari harga IPO pada 24 Februari 2023 lalu yang sebesar Rp875. Lonjakan saham emiten EBT ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Changkun Shin mengatakan target tersebut menjadikan bisnis EBT prospektif baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan faktor lain yang menopang sektor EBT adalah tren pembiayaan hijau yang terus meningkat di kalangan perbankan. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus belum merekomendasikan saham-saham EBT untuk jangka panjang. Dia mengimbau investor untuk tetap memperhatikan momentum dan rasionalitas. Sementara itu, baik BREN maupun PGEO pun telihat agresif dalam mengembangkan investasi mereka di sektor EBT. Kemarin, BREN mengumumkan anak perusahaannya yakni PT Barito Wind Energy telah mencapai kesepakatan secara prinsip dengan UPC Renewables Asia Pacific Holdings Pte. Ltd. dan ACEN Renewables untuk akuisisi 100% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap). CEO Barito Renewables Hendra Tan mengatakan hal ini menandai awal dari jejak langkah BREN di bidang energi terbarukan selain panas bumi. Sementara itu, PGEO baru saja membentuk perusahaan patungan dengan Chevron New Energies Holdings Indonesia Ltd. (Chevron) untuk pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Way Ratai, Lampung, yang akan dilaksanakan hingga 2028. Direktur Utama PGEO Julfi Hadi mengatakan perusahaan patungan tersebut adalah PT Cahaya Anagata Energy, dengan porsi kepemilikan PGEO sebesar 40%, sedangkan Chevron menggenggam 60%. “Semua ini berfokus dan sejalan dengan agenda pemerintah untuk mencapai net zero emission 2060,” ujar Julfi.
Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik
Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cadangan energi, khususnya batu bara yang luar biasa. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 3,2% cadangan batu bara dunia dimiliki oleh Indonesia. Tingginya cadangan batu bara tersebut tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik maupun luar negeri. Berdasarkan tren, produksi ‘emas hitam’ Indonesia terus meningkat. Masih berdasarkan sumber data yang sama, produksi batu bara pada 2022 mencapai 687 juta ton.
Upaya menjaga stabilitas produksi batu bara menjadi penting seperti halnya menjaga koordinasi antara sektor pertambangan dan perindustrian. Pertambangan merupakan proses hulu, yaitu pengambilan sumber daya alam berupa mineral dan batu bara (Minerba) di dalam perut bumi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan industri sebagai proses penghiliran yang diwujudkan dalam bentuk pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut.
Peningkatkan kebutuhan batu bara di dalam negeri ini seakan menjadi angin segar bagi sektor energi, termasuk subsektor industri pertambangan batu bara. Di tengah fluktuasi harga batu bara, manajemen perusahaan tambang mesti bersiasat untuk memperkuat daya saing perusahaan agar mampu untuk terus bertahan.
Pascapandemi Covid-19, sektor hulu tambang batu bara terus mengawal sekaligus mengandalkan pasar di dalam negeri. Menyeimbangkan serapan batu antara pasokan ke mancanegara dan nasional menjadi resep mujarab sektor pertambangan nasional untuk terus bertahan di tengah situasi yang sedemikian menantang.
Memperkuat Ekosistem Usaha Koperasi & UMKM
Tantangan ekonomi global datang silih berganti dan makin berat pada masa mendatang. Di antaranya terjadi disrupsi teknologi, residu pandemi Covid-19, perubahan iklim, perang Rusia-Ukraina, dan yang paling menyedihkan perang Israel dan Palestina. Patut kita syukuri, perekonomian Indonesia sudah kembali pulih dan stabil. Kendati pada kuartal III/2023 terjadi perlambatan, ekonomi masih tumbuh 4,9% YoY (BPS, 2023). Ini tidak lepas dari peran UMKM dan koperasi. Namun, kita patut waspada dengan terus menjaga inflasi jangan sampai melambung tinggi yang akan mengancam daya beli masyarakat. Menurut Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, jalan utama agar ekonomi Indonesia tetap kokoh adalah dengan pengembangan UMKM dan koperasi yang terintegrasi dan terencana, serta harus keluar dari jebakan pendekatan survival ke pendekatan kewirausahaan. Adanya PP No. 7/2021 makin berpihak kepada UMKM dan Koperasi, yakni perizinan sederhana, regulasi tidak tumpang-tindih, akses pembiayaan mudah dan murah, on boarding ke digital, perlindungan hukum, dan berbagai insentif lainnya. Pemerintah juga serius dalam pengembangan kewirausahaan nasional dengan menerbitkan Perpres No. 2/2022 tentang Kewirausahaan dengan target meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95% pada 2024 atau 8% pada 2045. Ini menjadi tantangan besar, karena rasio kewirausahaan kita masih di bawah 3%. Pada koperasi, ekosistem terus dibangun melalui pendampingan digitalisasi, berbasis komoditas, dan adanya pembiayaan murah. Pendampingan dilakukan melalui lembaga inkubator; kemudahan administrasi dan digitalisasi perizinan Koperasi; serta pengembangan sistem digitalisasi bagi Koperasi. Kemitraan diperkuat melalui pengembangan rantai nilai industri melalui kemitraan usaha kecil dengan usaha besar sesuai amanat UU Cipta Kerja. Kemitraan diperluas awalnya hanya enam BUMN menjadi 17 BUMN, begitupun dengan Swasta. Idealnya, produk UMKM haruslah menyuplai industri pada core bisnis utamanya. Misalnya di Jepang industri otomotifnya butuh baut, hal itu dikerjakan oleh UMKM-nya. Jangan usaha kesehatan, tapi yang dibina UMKM kerajinan, sehingga terkesan ini hanya pelepas tanggung jawab perusahaan. Tantangan besar kita bagaimana menggelorakan bangga dengan produk buatan sendiri. Jangan sampai anak-anak negeri bangga memakai baju buangan atau bekas dari luar negeri. Dari sisi pembiayaan dan investasi dilakukan melalui perluasan akses investasi UKM melalui securities crowd funding, saham dan sukuk, pendampingan KUR klaster dan kecil, serta pembiayaan ekspor UKM oleh BNI Xpora dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.
PENGUATAN MODAL FINTECH : OJK RESTUI PINJOL MELANTAI DI BURSA
Otoritas Jasa Keuangan merestui platform financial technology peer-to-peer lending atau pinjaman online melakukan initial public offering di Bursa Efek Indonesia untuk memperkuat permodalannya. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penguatan permodalan di industri financial technology atau fintech peer-to-peer lending dapat dilakukan oleh pemegang saham. “Tidak ditutup kemungkinan melalui IPO di Bursa Efek Indonesia, dan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya, dikutip Jumat (8/12). Berdasarkan data OJK per 30 November 2023, masih terdapat 23 penyelenggara pinjaman online atau pinjol yang belum memenuhi ketentuan pemenuhan ekuitas minimum sebesar Rp2,5 miliar. Di sisi lain, Agusman menyebut bahwa sejauh ini belum ada pemain peer-to-peer lending yang mengajukan diri untuk melantai di Bursa. “Sampai dengan saat ini belum ada peer-to-peer lending yang melakukan IPO melalui bursa efek,” ujarnya. Dalam kesempatan terpisah, Edi Setijawan, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengatakan bahwa sejauh ini sebagian besar sumber pendanaan perusahaan fintech masih berasal dari investor korporasi, sehingga regulator mendorong pemain untuk meraih pendanaan dari investor ritel. “ we’ll see. Ada , we’ll see. Tergantung market-nya, karena kami maunya evaluasinya kami apa adanya,” kata Direktur Utama AdaKami Bernardino M. Vega beberapa waktu lalu. Meski demikian, Dino —panggilan akrabnya— enggan membeberkan kapan AdaKami akan melantai di pasar modal. Sebab, kata dia, untuk melantai di pasar modal memerlukan banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Berdasarkan catatan Bisnis, usai OJK mengumumkan induk usaha fintech PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Akselerasi Usaha Indonesia Tbk. (AKSL) telah mengantongi pernyataan pra-efektif per 27 Juni 2023, manajemen AKSL memutuskan untuk menunda IPO hingga Juni 2024. Saat itu, perusahaan menyatakan tengah menjalani proses penawaran umum perdana saham dan berencana untuk menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 9 Agustus 2023. Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengungkapkan bahwa penundaan IPO tersebut dikarenakan perusahaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan strategic investor yang tepat untuk dapat mendukung rencana perusahaan di masa mendatang. Adapun, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut industri fintech lending membutuhkan momentum agar dapat melantai di pasar modal. Momentum itu pun dapat terlihat dari sisi kualitas pinjaman fintech yang harus menunjukkan perbaikan.









