Skandal Dana Kampanye Landa AS-Jepang
Partai-partai berkuasa di AS dan Jepang diguncang dugaan
pelanggaran aturan pendanaan kampanye. Sebagian penyumbang berusaha membeli
pengaruh politik lewat sumbangan kampanye dalam jumlah besar. AS-Jepang sejak
lama punya aturan pendanaan kampanye. Secara resmi, partai dan politisi bisa
mengumpulkan sumbangan kampanye. Syaratnya, sumbangan dan pemberi kategori
tertentu dlaporkan ke otoritas. Kelompok penggalangan dana kampanye juga
sekaligus berfungsi sebagai kelompok lobi. Hal itu, antara lain, terbukti pada
American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan sejumlah kelompok aksi
politik (PAC) di AS. Secara terbuka, AIPAC dan sejumlah PAC mendanai politisi
yang mau mendukung agenda politik mereka. Semua itu diizinkan dalam aturan AS.
Sejumlah politisi, staf kampanye, dan penyumbang telah didakwa atau divonis
soal pelanggaran dana kampanye. Mantan anggota DPR AS, George Santos, dan
mantan bendaharanya, Nancy Marks, dijerat dakwaan pelanggaran aturan pendanaan
kampanye. Departemen Kehakiman AS juga tengah menuntut Sam Bankman-Fried.
Mantan pendiri dan pemimpin FTX, bursa perdagangan kripto, itu didakwa
melanggar aturan dana kampanye dengan mengucurkan 100 juta dollar AS kepada
politisi Demokrat dan Republikan.
Di Jepang, dugaan pelanggaran aturan pendanaan kampanye
melanda Partai Demokrat Liberal (LDP). Dilaporkan kantor berita Kyodo pada
Jumat (8/12) politisi LDP sekaligus jubir kabinet, Hirokazu Matsuno, dituding
menerima 10 juta yen. Matsuno menyebut faksinya di LDP sedang menyelidiki
tudingan itu. Ia menegaskan tak akan mengundurkan diri dari kabinet. Kasus itu
mulai diselidiki Kejaksaan Tokyo. Sebagian
anggota parlemen dari LDP secara sukarela memberi keterangan ke kejaksaan.
Pemeriksaan besar-besaran direncanakan pekan depan saat masa reses parlemen
dimulai. Dosen pidana pada Kobe Gakuin University, Hiroshi Kamiwaki, telah
memeriksa isu itu. Karena itu, ia melaporkannya kepada aparat. Sejumlah akuntan
yang mengaudit keuangan LDP telah dilaporkan. Para akuntan itu dituding
terlibat pelanggaran UU Pengendalian Pendanaan Politik. Pelanggaran diduga
terjadi pada 2018-2021. Faksi terbesar di LDP, Seiwaken, mengaku menerima 660
juta yen dalam lima tahun terakhir. Dana itu, dibagi kepada 100 anggota faksi
tersebut. Sebagian, termasuk Matsuno, dituding menerima sedikitnya 10 juta yen.
Dana untuk Matsuno dan politisi lain dipersoalkan karena tak dilaporkan. (Yoga)
Kelas Menengah Butuh Perhatian Sebelum Terlambat
Jumlah kelas menengah di Indonesia terus meningkat. Namun,
status ekonomi yang tanggung alias tidak miskin, tetapi tidak kaya membuat
mereka nyaris terabaikan dan rentan kembali jatuh miskin. Pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan
kelompok ini akan ekonomi yang lebih berkualitas sebelum keresahan sosial
memuncak. Menurut Laporan Bank Dunia ”Aspiring Indonesia:Expanding the Middle
Class”, kelas menengah di Indonesia tumbuh 10 % setiap tahun selama periode
2002-2016. Bank Dunia mengidentifikasi kelas menengah di Indonesia sebagai orang
yang pengeluarannya Rp 1,2 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Jumlah kelas
menengah RI per tahun 2020 diperkirakan ada 52 juta orang atau 19 % dari total
populasi. Sebagian besar adalah kelas menengah-bawah. Ada pula kelompok calon kelas
menengah (aspiring middle class) alias sudah lepas dari jerat kemiskinan,tetapi
belum seaman kelas menengah. Jumlahnya 115 juta orang atau 45 % dari total
populasi.
Mantan Menkeu Chatib Basri mengatakan, jumlah kelas menengah
RI akan terus naik seiring naiknya pendapatan per kapita nasional. ”Ada gejala
middle class semakin naik pesat. Apalagi, tahun 2045 nanti saat Indonesia
ditargetkan jadi negara maju,” katanya dalam Regional Chief Economist Forum di
Nusa Dua, Bali, Jumat (8/12). Kelas menengah adalah masyarakat yang sudah tidak
lagi hidup di bawah garis kemiskinan,tetapi masih rentan jatuh miskin jika
sewaktu-waktu terjadi guncangan. Pandemi Covid-19 adalah masa-masa di mana
banyak kelas menengah kembali miskin karena kehilangan mata pencarian, terkena pemutusan
hubungan kerja (PHK), dan penghasilannya dipotong. Chatib mengatakan, meski
rentan, kelompok ini tidak tersentuh program perlindungan sosial (perlinsos)
yang saat ini lebih difokuskan bagi mereka yang miskin dan masuk dalam data
terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). (Yoga)
WTO: Restriksi Dagang Makin Meningkat
Jumlah restriksi atau pembatasan ekspor dan impor di
negara-negara anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin meningkat.
Kondisi itu memperburuk perdagangan global tahun ini dan berpotensi menghambat
laju pertumbuhan sektor tersebut tahun depan. WTO, Kamis (7/12) waktu setempat,
melaporkan, dalam periode 16 Oktober 2022-15 Oktober 2023, terdapat 193
pembatasan perdagangan barang. Dari total tersebut, dua di antaranya berupa
restriksi ekspor sebanyak 99 pembatasan (51 %) dan impor 93 pembatasan (48 %).
Total nilai pembatasan barang ekspor dan impor itu 337,1 miliar USD, meningkat
dibandingkan medio Oktober 2021-medio Oktober 2022 yang mencapai 278 miliar USD.
Pembatasan ekspor dilakukan untuk mengamankan stok dan kebutuhan dalam negeri,
sedangkan pembatasan impor terutama guna melindungi produk dan industri
domestik. Restriksi ekspor pangan, pakan, dan pupuk juga masih banyak, yakni 75
pembatasan dari 122 tindakan serupa yang muncul sejak perang Rusia-Ukraina pada
Februari 2022.
Negara-negara yang membatasi ekspor komoditas-komoditas itu,
antara lain, Rusia dan Ukraina (pupuk dan gandum); India, Mesir, dan Kirgistan
(beras); serta Maroko (bawang, tomat, dan kentang). Sementara itu, dalam periode
yang sama, langkah-langkah fasilitasi perdagangan justru turun dari 406 upaya
menjadi 303 upaya. Total nilai barang yang diurai hambatan perdagangannya juga
turun dari 1.160,5 miliar USD menjadi 977,2 miliar USD. Dirjen WTO Ngozi
Okonjo-Iweala mengatakan, di tengah upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
perdagangan global pascapandemi Covid-19, fasilitasi perdagangan sangat penting
dilakukan. Melalui fasilitasi dagang itu, semua negara dapat mengakses berbagai
jenis komoditas global, terutama pangan, pakan, dan pupuk. Fasilitasi
perdagangan juga dapat menekan biaya ekspor dan impor serta menjadi alat
berharga melawan tekanan inflasi. Oleh karena itu, restriksi ekspor
komoditas-komoditas penting, termasuk pangan, perlu dihapus. (Yoga)
Optimisme Konsumen Tetap Kuat
Pergerakan Pasar Pusat Data Mengarah ke Negara Berkembang
Indonesia menjadi negara berkembang yang bersaing untuk
menjadi lokasi pembangunan fasilitas pusat data baru di kawasan Asia Pasifik.
Selain Jabodetabek, Batam dan Bintan di Kepri belakangan menjadi opsi lokasi
pembangunan. Ketua Bidang Aplikasi Nasional Masyarakat Telematika Indonesia
(Mastel) Djarot Subiantoro, Kamis (7/12) di Jakarta, mengatakan, pembangunan
fasilitas di luar Singapura atau di wilayah negara terdekat, seperti Batam dan Bintan,
menjanjikan biaya yang lebih efisien. Selain itu, lahan di wilayah tersebut
juga masih cukup luas untuk dipakai membangun fasilitas pusat data dengan
penerapan energi terbarukan. ”Singapura selama ini menjadi tujuan populer pembangunan
fasilitas pusat data bagi operator pusat data ataupun perusahaan teknologi
global. Akan tetapi, lahan mereka terbatas dan peruntukan lahan di sana semakin
ditingkatkan untuk nilai tambah yang lebih besar.
Maka, pilihan operator pusat data membangun fasilitas pusat
data di luar dan di sekitar Singapura menjadi masuk akal,” ucapnya. Indonesia
diproyeksikan berkontribusi 40 % dari ekonomi digital di kawasan ASEAN.
Penetrasi pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari setengah
populasi penduduk. Regulasi terkait lokalisasi dan proteksi data juga mendukung
pengembangan bisnis ekonomi digital Indonesia. Menurut Djarot, pembangunan
fasilitas pusat data baru di daerah lain di Indonesia amat memungkinkan. Hanya,
hal yang perlu dicek kembali adalah kualitas kondisi konektivitas jaringan telekomunikasi,
listrik, dan sumber daya manusia. PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
atau Telkom sudah melakukan peletakan batu pertama Neutra DC Hyperscale Data
Center Batam pada Desember 2023. Direktur Wholesale and International Service
Telkom Bogi Witjaksono mengatakan, NeutraDC Hyperscale Data Center Batam
menjadi bagian dari ekosistem fasilitas pusat data Grup Telkom. Artinya,
fasilitas itu akan terhubung dengan fasilitas pusat data Telkom yang berada di
Cikarang (Bekasi, Jabar) dan luar negeri, seperti Hong Kong. (Yoga)
Kodok dari Sumsel Diminati Pasar Eropa
”Kalau dalam bentuk hidup, banyak aspek yang harus dipenuhi, seperti kesehatan atau penyakitnya,” kata Sahat. Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda, Balai Karantina Ikan Palembang, Mardian menuturkan, kodok yang diekspor itu berasal dari genus Fejervarya yang banyak hidup di sawah dan lahan rawa, antara lain di kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, di seputaran Ogan Komering Ilir, dan Palembang. Ekspor produk olahan kodok itu sudah dilakukan Sumsel sejak 1980-an dan hampir setiap bulan. Negara tujuan ekspor sebagian besar di Eropa, seperti Perancis, Belgia, dan Denmark. Karena kodok berasal dari tangkapan alam, volume ekspor produk olahan kodok bergantung pada musim. Musim kemarau panjang tahun ini, volume ekspor pun turun. Pada 2022, ada 26 pengiriman ke Perancis, Belgia, dan Denmark sebesar 446,412 kg senilai Rp 55,66 miliar. Per 8 Desember 2023, turun menjadi 245,646 kg senilai Rp 53,235 miliar dari 25 pengiriman ke Perancis dan Belgia. (Yoga)
Perempuan Suku Laut, Nelayan Ulung yang Tersisih Jadi Pemulung
Perahu fiber berisi enam perempuan pemulung lintas pulau, Kamis (16/11) sore itu pulang ke Kampung Air Mas, Pulau Tanjung Sauh, Batam, Kepri. Di tempat tujuan pendaratan, anak-anak berlarian menyambut perahu. Normah, yang tertua, turun paling belakangan. Ia mengomel kepada anak-anak yang cerewet memanggil-manggil. ”Enggak ada buah. Enggak ada makanan. Enggak ada mainan. Cuma kain-kain sobek saja,” ucapnya ketus. Anak-anak bubar dengan kecewa. Kampung mereka yang dihuni 40 keluarga suku Laut terletak di Pulau Tanjung Sauh, terpisah 3 km dari Pulau Batam. Suku Laut adalah penduduk asli Kepri yang dulu mengembara di laut dengan sampan dayung beratap daun nipah Orang-orang nomaden itu terkenal sebagai pelaut yang ahli membaca cuaca dan arus laut. Mereka juga arif dalam menjaga kelestarian laut. Warga di Kampung Air Mas mulai hidup menetap sejak 2010 dan mendapat bantuan rumah panggung kayu dari pemerintah. Waktu musim angin selatan, saat ombak tenang pada Juni-Oktober, mereka mengembara ke Pulau Bintan.
Normah yang hidup sebatang kara sepeninggal suaminya, dikenal sebagai perempuan pemberani dan pelaut ulung. Sewaktu muda, ia mampu mendayung sampai ke laut perbatasan Malaysia dan Singapura. Ia juga terkenal karena pandai menemukan lokasi karang yang banyak ikannya. ”Sekarang nenek bisanya cuma memancing ikan dan cari gamat (teripang) saja. Nenek sudah tua, jadi enggak sanggup kerja laut yang lain,” katanya. Pada musim angin utara, Normah dulu bisa mencari ikan di sekitar Pulau Tanjung Sauh. Namun, reklamasi yang masif di Batam membuat perairan itu tercemar dan tak lagi bisa menghidupi seperti dulu. Ikan selar yang jadi incaran nelayan pancing kini makin sulit didapat karena dikeruk habis oleh kapal-kapal yang menggunakan pukat teri. Sejak beberapa tahun lalu, saat musim angin utara, mayoritas perempuan suku Laut di kampung itu harus bertahan hidup dengan mengais sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur, Batam. Tiga kali dalam sepekan mereka menyeberang ke Batam. ”Buah dan makanan dari TPA buat nenek makan sendiri. Kalau pakaian bisa dijual Rp 2.000 per lembar,” kata Normah. Perempuan suku Laut lain di Kampung Air Mas, Saikim, mengatakan sudah lebih dari lima tahun memulung di TPA Punggur, ia juga mengumpulkan sabun dan sampo kedaluwarsa. ”Kalau sabun yang masih bagus bisa dijual Rp 15.000 satu tumpuk. Harganya enggak pasti, tergantung yang beli saja,” kata perempuan berusia sekitar 40 tahun itu. (Yoga)
Mengatur Keuangan Saat Liburan Akhir Tahun
Berbagai rencana tentunya sudah disusun untuk mengisi
liburan Natal dan Tahun Baru, mulai rencana mudik, beli kado natal dan tahun
baru untuk orang terkasih, hingga wisata bersama keluarga. Agar tidak boncos
setelah liburan Natal dan Tahun Baru, perlu dilakukan perencanaan keuangan yang
baik. Alokasi anggaran selama liburan pun memiliki sedikit perbedaan apabila dibandingkan
dengan alokasi anggaran bulanan. Ada tujuh tips perencanaan keuangan selama
masa liburan Natal dan Tahun Baru yang dapat diterapkan, yaitu : 1. Sebelum
melakukan penganggaran biaya liburan, pastikan pembayaran kewajiban bulanan
telah diselesaikan, misalnya utang cicilan, biaya sekolah anak,tagihan listrik
dan sebagainya. 2. Tetap melakukan investasi dengan pertimbangan matang. 3.
Jangan gunakan dana darurat untuk memenuhi keinginan dan kepuasan hati sesaat
ini. Dana darurat hanya boleh digunakan ketika kondisi darurat, seperti sakit
dan PHK.
4. Rencanakan pengeluaran selama liburan untuk meminimalkan
pengeluaran overbudgeting dan overspending pada saat liburan, merencanakan
aktivitas dan besaran anggaran yang akan digunakan. 5. Catat pengeluaran selama
liburan, untuk membantu melihat jumlah uang yang telah digunakan sehingga akan
meminimalkan pengeluaran di luar anggaran yang sudah disusun. 6. Manfaatkan
promo dan diskon dengan bijak, baik saat pembelian tiket transportasi, akomodasi,
maupun wahana permainan. 7. Jangan berutang untuk liburan. Berutang untuk berlibur
artinya berutang untuk kebutuhan konsumtif dan akan membebani keuangan di masa
depan. Jangan terjebak prinsip You Only Live Once (YOLO) dan Fear of Missing
Out (FOMO) saat berlibur. Kedua prinsip ini cenderung mendorong untuk
konsumtif. Berliburlah sesuai dengan kemampuan keuangan yang Anda miliki
sehingga tidak akan menghasilkan masalah baru setelah liburan selesai. (Yoga)
QRIS LINTAS NEGARA, MENDUKUNG AKSELERASI WISATA INTERNASIONAL
Salah satu sektor yang telah memanfaatkan teknologi digital berkaitan
dengan perbedaan kurs mata uang adalah bidang jasa pariwisata. Para wisatawan
tidak perlu lagi antre panjang untuk mengurus pemesanan tiket transportasi hingga
akomodasi. Beragam platform digital telah menyediakan layanan pemesanan tersebut
secara inklusif. Bisa diakses dari mana pun, kapan pun, serta dapat diakses
dengan satuan mata uang yang berbeda. Bahkan, untuk tujuan wisata luar negeri
destinasi tertentu, wisatawan tak perlu lagi antre menukarkan mata uang local negara
tujuan. Pasalnya, Bank Indonesia bersama bank sentral dan otoritas moneter di
sejumlah negara ASEAN telah menyepakati kerja sama pembayaran lintas negara
berbasis QR code. Program kerja sama ini dikenal dengan sebutan QRIS
cross-border. QRIS sendiri merupakan standar QR code untuk pembayaran digital
melalui aplikasi uang elektronik.
Kolaborasi tersebut bermula dari kesepakatan Bank Indonesia
dan Bank of Thailand (BoT) yang meluncurkan QRIS cross-border pada Agustus
2022. Selanjutnya, penggunaan QRIS cross-border juga turut diadopsi bersama
Bank Negara Malaysia (BNM). Program ini terus meluas dan menjalin kerja sama dengan
Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP).
Tak hanya di ASEAN, penjajakan kerja sama dengan Jepang tampaknya juga
membuahkan hasil dan akan diperluas hingga China dan Korsel. Dengan QRIS
cross-border, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke sejumlah negara tersebut
tetap dapat membayar menggunakan rupiah. Caranya dengan memindai barcode
menggunakan platform pembayaran digital, seperti DANA, LinkAja, dan mobile
banking. Begitu pula sebaliknya dengan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke
Indonesia. Mereka tetap dapat bertransaksi
menggunakan mata uang negara asalnya.
Teknis transaksi dalam QRIS cross-border itu relatif
sederhana. Cukup menggunakan aplikasi yang direkomendasikan dalam program
tersebut sehingga konsumen tinggal melakukan pemindaian atau scanning. Setelah
proses pemindaian, secara otomatis platform pembayaran digital tersebut akan
mengonversikan nilai transaksi ke mata uang yang digunakan wisatawan. Dengan
demikian, wisatawan tidak perlu repot-repot membawa uang dalam bentuk fisik ke
mana pun mereka pergi. Penggunaan QRIS cross-border diharapkan juga mampu meningkatkan
geliat dunia wisata. Pasalnya, kemudahan yang ditawarkan berpotensi membuat wisatawan
semakin banyak berbelanja baik berupa barang maupun jasa sehingga secara tidak langsung
meningkatkan daya tarik suatu daerah. Obyek wisata, akomodasi, serta oleh-oleh khas
daerah tujuan turis itu semakin banyak dikenal dan dikabarkan secara luas.
Alhasil, kunjungan para turis semakin meningkat dan nilai ekonomi wisatanya
juga melonjak signifikan. (Yoga)
Perjalanan Mewah yang Jadi Tujuan Berwisata
Layanan bus sleeper seat dan kompartemen kereta mewah
membuat perjalanan dengan fasilitas premium kerap menjadi tujuan wisata itu
sendiri. Kurang sebulan menjelang liburan Natal dan Tahun Baru 2024, masyarakat
mulai mencari destinasi liburan dan akomodasi yang hendak dituju bersama teman
ataupun keluarga. Tidak hanya menentukan tujuan, memilih moda transportasi
untuk perjalanan wisata juga tak kalah penting. Pasangan suami-istri Ilham (28)
dan Ariesta (29) asal Bekasi, Jabar, selain akan menghabiskan malam tahun baru
di Bukittinggi, Sumbar, juga sudah membeli dua tiket bus antar kota antar provinsi
(AKAP) eksekutif PO Sembodo dengan fasilitas sleeper seat. Justru, prioritas
mereka dalam perjalanan wisata kali ini adalah menikmati sensasi menggunakan
sleeper seat bersama orang terkasih. ”Kami sudah merencanakan (perjalanan)
sejak pertengahan tahun ini. Saya dan istri pernah nonton konten review bus luxury
di Youtube. Terus kayaknya bakal seru dan romantis kalau kami berdua rebahan di
sleeper seat selama puluhan jam perjalanan,” ujar Ilham kepada Kompas, Rabu
(6/12).
Ini pertama kali mereka melakukan perjalanan darat dari
Jakarta menuju Bukittinggi, selama sedikitnya 33 jam dari Terminal Kampung Rambutan,
Jaktim, menuju Terminal Aur Kuning, Bukittinggi, dengan harga satu tiket
sleeper seat Rp 880.000. Sleeper bus di Indonesia mulai popular pada 2016. Saat
pertama kali muncul, bus ini mengoperasikan rute Jakarta-Purwokerto-Purbalingga
dengan harga tiket Rp 400.000-Rp 600.000. Semenjak itu, banyak PO yang
meluncurkan bus suite class dengan berbagai fasilitas dengan harga tiket yang ditawarkan
mencapai dua hingga tiga kali lipat dari tiket bus kelas biasa. Menjamurnya PO
yang menyediakan bus suite class dengan beragam rute perjalanan didorong oleh
bertumbuhnya permintaan masyarakat Indonesia terhadap layanan bus ini, sejalan dengan
data Bank Dunia pada 2020 yang mencatat dalam 15 tahun terakhir, persentase
masyarakat kelas menengah di Indonesia tumbuh dari 7 % menjadi 20 %, dengan
pengeluaran Rp 1,2 juta-Rp 6 juta per orang sebulan. Pada 2020, Bank Dunia mencatat
52 juta dari total 273 juta penduduk Indonesia merupakan masyarakat kelas menengah.
(Yoga)









