Indosat Alihkan Aset Data center Rp 2,62 Triliun
PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchinson (IOH) resmi mengalihkan aset pusat data (data center) miliknya kepada PT Starone Mitra Telekomunikasi (SMT) dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,62 triliun. SMT lainnya dikuasai perusahaan data center asal Singapura, BDX Asia Data Center Holdings Pte (BDX). "Dengan memiliki tambahan bisnis pusat data baru di Indonesia, SMT diharapkan dapat manfaat dari memiliki jejak bisnis di seluruh Indonesia. Dengan memiliki 25% kepemilikan saham di SMT, perseroan diharapkan memperoleh nilai tambah dalam jangka panjang," tulis manajemen Indosat. Perseroan dan SMT menandai transaksi pengalihan aset data center tersebut dengan menandatangani asset transfer agreement (ATA) dan menekan impelemntasi perjanjian bersama BDX pada 18 Desember 2023. (Yetede)
Lampaui Target, Kredit Bank Mandiri Tumbuh Rp 2,62 Triliun
Pagu Belanja Negara Tersisa 11% Lagi
Kemenperin Turunkan Skandal Daihatsu
1,2 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek
PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat, sebanyak 1.272.434 kendaraan meninggalkan wilayah Jabodetabek pada H-7 sampai dengan H-1 Hari Raya Natal 2023 yang jatuh pada periode Senin-Minggu. "Angka tersebut merupakan angka kumulatif arus lalu lintas (lalin) dari empat gerbang tol (GT) barrier/utama, yaitu GT Cikupa (menuju arah Merak), GT Ciawi (menuju arah Puncak), dan GT Cikampek Utama (menuju arah Trans Jawa) dan GT Kalihurip Utama (menuju arah Bandung)," ujar Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Oktaviani dalam keterangannya di Jakarta. Lisey mengatakan, total volume lalin yang meninggalkan wilayah Jabodetabek ini meningkat 27,68% jika dibandingkan lalin normal (996.555 kendaraan) pada periode yang sama. Jika dibandingkan dengan periode Natal 2022, total volume lalin ini meningkat 10,23% (1.154.391 kendaraan). Untuk ditribusi lalulintas meninggalkan Jabodetabek menuju ketiga arah Timur (Tran Jawa dan Bandung), 359.766 kendaraan (22,87%) menuju arah Barat (Merak) dan 291.059 kendaraan (22,87%) menuju arah Selatan (Puncak). (Yetede)
2024, BTN Perkuat Sistem Digital Ekosistem Perumahan
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus memperkuat sistem digital ekosistem perumahan. Menurut Andi Nirwoto, Direktur IT&Digital Bank BTN, tahun 2024, pihaknya akan lebih agresif dalam mengembangkan fitur transaksi dan pemasaran produk bank lewat BTN Mobile. "Kedepan kami terus mengembangkan fitur--fitur baru, seperti penjualan produk investasi, fitur transaksi Remittance-Internasional, dan fitur-fitur lain guna memfasilitasi segala kebutuhan digital masyarakat Indonesia, khususnya untuk memperkuat digital eksistem perumahan BTN," ujar Andi. Andi menjelaskan, bahwa hingga Desember 2023, jumlah transaksi BTN mobile sudah melonjak diatas 142% secara year on year (yoy) sedangkan volume transaksi juga meningkat hingga 53% yoy. "Event yang kami selenggarakan, program akuisisi nasabah baru, serta program-program promo yang kami gelar, terbilang sukses mendongkrak nasabah dan user experince nasabah terhadap BTN Mobile," ujar Andi. (Yetede)
Lalai Keselamatan Berujung Kecelakaan
Dilema Ketentuan Kandungan Lokal
DERU EKONOMI NATARU
Libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 bisa menjadi oasis bagi dinamika perekonomian nasional yang tengah memasuki periode tahun politik. Geliat konsumsi yang terpantik oleh mobilitas masyarakat seiring dengan momentum liburan akhir tahun ini menunjukkan perkembangan signifikan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat mobilitas orang menggunakan transportasi umum selama awal periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024 rerata meningkat 20%-30%. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan peningkatan pergerakan orang selama periode awal Nataru 2023/2024 relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Pertumbuhannya dari 2022 semua kurang lebih 20%-30%. Jadi cukup baik,” katanya di Posko Pusat Angkutan Nataru 2023/2024, Senin (25/12). Besarnya volume kendaraan selama awal periode Nataru telah direkam PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Operator jalan tol itu mencatat sebanyak 1,27 juta unit kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek selama 18—24 Desember 2023. Volume kendaraan yang meninggalkan wilayah Jabotabek itu meningkat 10,23% dibandingkan lalu lintas periode Natal 2022 yang hanya 1,1 juta unit kendaraan.
Tingginya mobilitas selama Nataru yang turut mendorong geliat di sektor perjalanan wisata juga diafirmasi oleh Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita). Asosiasi ini memprediksi bisnis perjalanan wisata meningkat hingga 30% selama Nataru ini. Wakil Ketua Asita Budijanto Ardiansjah mengatakan peningkatan 30% tersebut merupakan permintaan perjalanan wisata domestik secara year-on-year (YoY). “Ini masih berjalan sampai akhir tahun,” kata Budijanto kepada Bisnis, Senin (25/12). Sementara itu, hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub menyebutkan pergerakan orang selama momen Nataru mencapai 107 juta orang atau melonjak 143,18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 44 juta orang. Hal itu menandakan aktivitas perekonomian nasional menuju ke titik normal saat prapandemi Covid-19. Bila mengacu pada perhitungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga S. Uno, potensi ekonomi Nataru 2023/2024 mencapai Rp214 triliun, dengan asumsi setiap wisatawan Nusantara (wisnus) membelanjakan dana hingga Rp2 juta. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyatakan sejumlah bidang usaha berpeluang mengeruk keuntungan saat momen Nataru 2023/2024, di antaranya pariwisata, perhotelan, restoran, kafe, pusat hiburan dan perbelanjaan. “Ritel, jasa transportasi, informasi dan komunikasi hingga layanan jasa pengiriman barang juga akan turut terdongkrak mendulang pendapatan,” ujar Shinta.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam meramalkan momen Nataru 2023/2024 mampu mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali berada di atas 5%, setelah kuartal III/2023 tumbuh 4,94% (YoY). Seperti halnya Idulfitri, mudik Natal yang dilakukan masyarakat bisa menaikkan aktivitas ekonomi dan belanja masyarakat. “Dengan adanya Nataru, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali naik ke atas 5%, atau di kisaran 5,05%-5,1%,” kata Piter kepada Bisnis. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat beberapa harga kebutuhan pangan strategis masih meningkat dan berpotensi menekan daya beli. Menurutnya, kelompok bawah cenderung masih punya pegangan dari bantuan sosial yang digulirkan pemerintah pada akhir tahun ini terutama bantuan sosial mitigasi El Nino.
Digitalisasi Asuransi dan Mitigasi Bencana Alam
Terletak di garis khatulistiwa membawa comparative advantage yang besar bagi Indonesia karena berbeda dengan negara-negara yang berada di iklim lainnya, negara yang berlokasi di iklim tropis, seperti Indonesia, memiliki suhu udara yang hangat dan ideal sebagai tempat bermukim bagi beragam flora dan fauna serta keanekaragaman hayati lainnya. Namun, posisi strategis ini juga memiliki risiko terutama di akhir dan awal tahun baru seperti saat ini. Angin muson barat yang berhembus dari arah Asia bergerak menuju Australia, melalui Samudra Hindia dalam periode Oktober – April menyebabkan musim penghujan. Karenanya, sudah menjadi siklus tahunan bahwa menjelang akhir tahun, kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana seperti banjir dan tanah longsor meningkat terutama karena bertambahnya curah hujan. Hingga akhir 2020, IFG Progress menemukan bahwa rasio jumlah polis asuransi jiwa terhadap populasi, hanya sekitar 1,4% di Indonesia jauh tertinggal dari Singapura (7,6%) dan Malaysia (4%). Demikian pula, densitas premi asuransi umum yang memungkinkan penutupan risiko seperti kecelakaan, kesehatan, kerusakan properti, dan risiko kesehatan juga sangat rendah.
Secara rata-rata, setiap penduduk Indonesia hanya memiliki coverage US$17 per orang untuk risiko yang ditanggung asuransi umum – jauh di bawah Singapura (US$1.110/orang) dan Malaysia (US$153/orang). Salah satu faktor dari rendahnya penetrasi ini adalah biaya akuisisi yang sangat tinggi di Indonesia. Secara rata-rata, studi IFG Progress menemukan bahwa untuk kasus unit-link sebagai contoh, struktur alokasi premi dalam lima tahun pertama terutama mencakup biaya akuisisi, biaya bulanan, asuransi, dan biaya administrasi. Dengan biaya akuisisi rata-rata sekitar 35% setiap tahun dalam lima tahun pertama, sisa bagian yang dialokasikan ke dana investasi hanya berada di bawah 15% dari total premi yang dibayarkan. Fenomena yang sama terjadi dalam asuransi umum di mana bagian biaya pialang masih cukup mahal. Di sinilah seharusnya peran dari digitalisasi dan teknologi menjadi krusial.
Di industri asuransi, adopsi teknologi yang digunakan dalam proses bisnis ini disebut dengan insurtech. Istilah "insurtech" muncul dari kebutuhan untuk implementasi inovasi digital oleh perusahaan asuransi, dengan tujuan mengejar perkembangan ekonomi global yang semakin dipengaruhi oleh teknologi digital. Pengembangan insurtech diarahkan untuk memiliki potensi mengurangi biaya yang terlalu mahal salah satunya dalam proses akuisisi. Dengan memanfaatkan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), insurtech dapat memperpendek proses rantai nilai, memungkinkan perusahaan asuransi untuk menganalisis dan mengelola secara efisien, memberikan panduan produk yang akurat, menyederhanakan pengadaan dan pengolahan data, serta mempercepat proses underwriting sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian diperlukan kerja sama lintas sektoral untuk mendorong peran digitalisasi di industri asuransi ini agar bisa meningkatkan coverage proteksi di masyarakat sehingga dapat berperan dalam mitigasi risiko. Prasyarat ini sangat penting terutama di negara yang dikelilingi oleh berbagai potensi bencana alam seperti Indonesia untuk menjaga keberlangsungan generasi ke depan.









