Trafik Data Saat Nataru Naik hingga 19%
2027, Interkoneksi Pipa Transmisi Jawa-Sumatera
Berharap pada Pasar Domestik
Transisi Sebelum Elektrifikasi Total
Yang Bersahabat Dengan Pasar Menjadi Pilihan Investor Saham
Konsumsi Masyarakat Terus Menggelinding
E-Commerce GOTO Menatap Profit
DEBAT CAPRES, Persaingan Pertajam Diskursus soal Pertahanan
Debat ketiga antar calon presiden berjalan cukup dinamis.
Meningkatnya tensi dalam diskusi ini berefek positif sehingga tema hubungan
internasional, pertahanan, keamanan, dan geopolitik dibahas dengan makin tajam.
Keseruan debat kali ini pun dibarengi dengan tingkat antusiasme publik yang
masih cukup tinggi. Satu hal yang tampak menonjol dalam ajang debat ketiga yang
dilaksanakan di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1/2024) ialah diskusi yang berlangsung
sengit. Menariknya, ketegangan antar capres yang terkulminasi dalam debat kali
ini justru bersifat produktif. Semangat para capres untuk baku gagasan pun
dibarengi dengan tingkat antusiasme masyarakat dalam menyaksikan debat ketiga.
Hasil jajak pendapat Litbang Kompas saat debat berlangsung menunjukkan bahwa
63,3 % responden survei menonton acara debat, baik sendiri, bersama keluarga,
maupun dalam acara menonton bersama dengan kawan atau komunitas.
Dibandingkan dengan debat capres dan cawapres sebelumnya,
tingkat antusiasme kali ini sedikit menurun. Pada debat cawapres lalu, 66,5 %
responden yang menyatakan menonton. Dibandingkan dengan debat perdana, tingkat
antusiasme ini mengalami kenaikan. Antusiasme publik pada debat perdana di
bawah 60 %. Dari setiap segmen yang dijalani setiap capres, analisis diksi
menunjukkan adanya benang merah pendekatan dari setiap calon dalam mendekati
tema debat. Dari 2.959 kata yang diucapkan capres Anies Baswedan dalam 25 menit
9 detik, kata yang tampak paling dominan diucapkan adalah ”Indonesia”,
”Pertahanan”, dan ”Negara”. Kata ”Rakyat”, ”Pertahanan”, dan ”Negara” muncul
sebagai kata tertinggi yang diucapkan capres Prabowo Subianto dari total 2.441
kata yang diucapkan dalam durasi 25 menit 23 detik.
Kata ”Pertahanan” pun menjadi yang paling sering diucapkan
capres Ganjar Pranowo di samping kata ”Data” dan ”Negeri”. Ketiga kata ini
menjadi bagian paling dominan dari 3.174 kata selama 25 menit 48 detik durasi
berbicara. Meskipun memiliki pendekatan yang beragam, ketiga capres sama-sama
menyatakan komitmennya dalam beberapa hal. Pertama, segala upaya diplomasi dan
kebijakan luar negeri Indonesia akan dilaksanakan dengan mengedepankan kepentingan
nasional. Kedua, selaras dengan salah satu tujuan negara Indonesia, ketiga
capres juga menyatakan komitmennya untuk mendorong kebebasan bangsa Palestina
dari penjajahan. Terakhir, ketiganya sepakat akan pentingnya agenda untuk
memperkuat pertahanan negara. (Yoga)
Menggenggam Pasir, Menaklukkan Dunia
Hidup manusia modern kian bergantung pada cip. Berkat cip,
ponsel di tangan kita dapat memperlihatkan rute mencapai alamat tujuan dengan
presisi tinggi melalui aplikasi penunjuk arah. Berkat cip pula, ilmuwan dapat
memetakan gen secara cepat, tak perlu memakan waktu bertahun-tahun seperti
beberapa dekade lalu. The Economist (23 Januari 2021) menyebutkan, tiap tahun
dunia menghasilkan 1 triliun cip. Setiap orang kini dikelilingi oleh banyak
cip. Ponsel memiliki cip, televise cerdas (smart television) memiliki cip,
laptop mengandung cip, mobil memiliki cip, dan sebagainya. Mobil listrik mengandung
3.000 cip.
Materi utama cip ialah silikon (Si), unsur yang ditemukan di
pasir. Wujud pasir silikon di alam selalu terpadu dengan oksigen, berupa
silikon dioksida (SiO2). Cip merupakan bagian dari perkembangan teknologi transistor,
komponen elektronik yang berperan seperti sakelar: bersifat mengantarkan
listrik atau tidak berdasarkan sinyal listrik yang diberikan padanya. Cip
memungkinkan teknologi kecerdasan buatan berkembang luas. Industri komputasi
awan (cloud computing) global yang bernilai ratusan miliar USD per tahun
bergantung pada cip. Berkat komputasi awan, berbagai perusahaan tak perlu
membangun server pengolah data dan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan sendiri,
tetapi cukup menyewa dari penyedia komputasi awan.
Hadirnya kecerdasan buatan generatif (AI generative) membuat kebutuhan cip meningkat karena pemakaian teknologi AI meluas. Dalam riset penggunaan kecerdasan buatan generatif di puluhan fungsi pekerjaan di berbagai bidang (perbankan hingga farmasi), AI generatif memberikan tambahan nilai ekonomi 2,6 triliun USD-4,4 triliun USD per tahun. Berkat kecerdasan buatan generatif, dampak teknologi kecerdasan meningkat 15-40 % (McKinsey & Company, Juni 2023). Cip yang unsur utamanya adalah pasir silika telah mejadi senjata penting dalam persaingan geopolitik. Kuasailah pasir, dan dunia pun akan takluk. (Yoga)
Ketahanan Energi Kita
Lifting minyak kita belum mampu mencapai target. Indonesia masih
harus mengimpor minyak. Ketahanan energi Indonesia menjadi taruhannya. Data
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK
Migas) menunjukkan, lifting minyak bumi hingga 31 Desember 2023 adalah 612.000
barel per hari, kurang dari target APBN 2023 di 660.000 barel per hari. Angka
ini juga jauh dari target pada tahun 2030 sebesar 1 juta barel per hari
(Kompas.id, 5/1/2024). Pemerintah mengakui tak mudah untuk memenuhi target lifting.
Menteri ESDM Arifin Tasrif, Jumat lalu, menyebutnya sangat menantang. Meski
demikian, pemerintah melihat ada harapan baru setelah ditemukan dua sumber gas
skala besar, di laut lepas Kaltim (Geng North) yang memiliki potensi 5 triliun
kaki kubik (TCF) dan di sumur eksplorasi Layaran-1, South Andaman, lepas pantai
Sumatera bagian utara, berpotensi 6 TCF.
Energi penting dalam mendukung pembangunan guna
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Isu ketahanan energi (energy
security) selalu mendapat perhatian serius dari negara mana pun. Penemuan dua
sumber gas skala besar menggembirakan karena jika dikelola dengan baik, akan
menambah ketahanan energi Indonesia. Ketahanan energi bertumpu pada empat
dimensi: ketersediaan (availability), keterjangkauan (affordability), kemampuan
mengakses (accesibility), dan ramah lingkungan (acceptability). Pertanyaan
berikutnya, apakah harganya terjangkau oleh konsumen atau biayanya realistis bagi
investor? Belum lagi isu terkait akses infrastruktur jaringan energi. Aspek
terakhir,acceptability, yakni apakah sumber energi anyar ini selaras dengan
upaya global mengurangi emisi karbon?
Alangkah baiknya jika Indonesia dapat memberdayakan penggunaan
energi terbarukan. Kita kaya akan jenis energi ini. Sinar matahari melimpah,
selain panas bumi, angin, dan air. Sayangnya, energi baru dan terbarukan masih berkontribusi
12,3 persen, jauh dari target 23 % yang rencananya dicapai pada 2025. Meski
memerlukan investasi tak sedikit, peningkatan energi terbarukan dapat
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan pada impor minyak. Energi
terbarukan juga selaras dengan upaya menekan misi gas rumah kaca. Kerja keras
yang telah dilakukan untuk menambah pemanfaatan energi terbarukan harus dapat
ditingkatkan lagi. (Yoga)









