KERETA API SEMAKIN NYAMAN, JANGAN LUPAKAN KESELAMATAN
Sabtu (30/12/2023) pagi, Kereta Api Argo Dwipangga New Generation
dengan bodi stainless steel terparkir di Stasiun Jakarta Kota. Tidak hanya eksterior,
interior kereta juga menarik perhatian, terutama di kelas luxury yang kapasitas
tempat duduknya hanya 26 unit. Kursinya empuk, berbalut kulit sintetis.
Tersedia pula bantalan kepala dan sandaran kaki. Penumpang bisa menidurkan kursinya
dengan memencet tombol di bawah sandaran tangan. Mereka juga dapat menonton
film dari layar di depan atau mengakses internet nirkabel sepuasnya.
”Dengan aplikasi Access by KAI, kita bisa men-track (melacak)
perjalanan kereta ini sampai ke tujuan. Fasilitasnya tidak kalah dengan pesawat,”
ucap Dirut PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo saat mengajak
sejumlah awak media mencoba kereta itu. Di restorasi, misalnya, Didiek
menunjukkan ruang makan mirip restoran cepat saji. Di belakang meja kasir
terpampang gambar digital berbagai menu pada bagian atas. Menu mi godok, sei
sapi, serta nasi goreng Parahyangan yang melegenda ada di sana. Aneka minuman
juga tersedia. Beginilah potret kereta generasi baru KAArgo Dwipangga yang
diluncurkan sejak 13 Desember.
KA ini melayani rute Stasiun Gambir ke Solo Balapan dalam
tujuh jam. Harga kelas luxury bisa mencapai Rp 1,5 juta per orang, sedangkan
eksekutif sekitar Rp 500.000 per penumpang. Meski lebih mahal dari tiket
pesawat, kereta ”mewah” ini tetap laris. Harga pesawat dari Jakarta ke
Surakarta mulai dari Rp 850.000 per orang. ”Dulunya hanya satu kereta (luxury),
para pelanggan itu selalu mengeluh tidak mendapatkan tempat. Sekarang tiga (kereta)
ini selama angkutan Natal dan Tahun Baru itu full (penuh),” ucap Didiek. Selain
KA Argo Dwipangga, kelas luxury juga dirasakan di KA Argo Lawu dan KA Taksaka. Selama
masa Natal dan Tahun Baru pada 21 Desember 2023 hingga 7 Januari 2024, kereta luxury
ini telah melayani 8.739 penumpang atau rata-rata 485 orang per hari. Tingkat
okupansi hampir 100 %. (Yoga)
Sinyal Ekonomi Melambat di Riuh Tahun Politik
Lampu kuning menyala bagi perekonomian Indonesia. Di tahun politik, yang digadang-gadang bisa mengerek permintaan, justru memperlihatkan sejumlah indikator konsumsi dan bisnis bergerak dalam tren melemah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap perekonomian enam bulan ke depan melorot. Hasil Survei Konsumen oleh Bank Indonesia (BI) di Desember 2023, IEK di level 133,9, turun 0,3 poin dari bulan sebelumnya. Dari komponennya, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja turun 1,5 poin ke level 129,9. Selain itu, Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha juga menurun 1 poin menjadi 132,2. Demikian pula pandangan pebisnis maupun pelaku usaha. Hasil Survei Penjualan Eceran oleh BI menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) kuartal IV-2023 hanya tumbuh 1,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini naik tipis dibandingkan pertumbuhan pada kuartal III-2023 yang sebesar 1,4% yoy. Dari survei KONTAN, kalangan dunia usaha tetap akan melanjutkan ekspansi bisnis i sepanjang tahun ini, hanya ekspansi dilakukan dengan sangat terbatas dan hati-hati. Para pebisnis menimbang stabilitas politik dalam negeri, seraya menunggu kepastian pemimpin dari hasil pemilihan umum serta mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan. Sikap wait and see pelaku usaha juga terlihat dari data kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, fasilitas pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik alias undisbursed loan pada Oktober 2023 sebesar Rp 2.092,13 triliun. Angka ini naik dari posisi Januari 2023 yang sebesar Rp 1.924,27 triliun. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, pola tersebut telah terjadi sejak pertengahan tahun 2023. David pernah mengungkapkan, pertumbuhan belanja modal (capital expenditure) perusahaan-perusahaan di dalam negeri mengalami perlambatan.
Misalnya, data belanja modal perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal II-2023 tercatat tumbuh 22,12% yoy, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 28,16% yoy. Bahkan pada kuartal IV-2022, pertumbuhannya tercatat sebesar 55,27% yoy. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkap, merosotnya sejumlah indikator dini perekonomian lantaran pada awal tahun 2024 ada pemilu yang biasanya memberi sentimen wait and see bagi para penanam modal. Hal tersebut akan menahan laju pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. "Dari sisi investasi, bukan hanya investor asing yang wait and see. Tapi juga penanam modal dalam negeri. Setidaknya, sampai hasil pemilu keluar," terang Josua kepada KONTAN, Rabu (10/1). Sementara masyarakat kelompok berpenghasilan rendah telah disokong pemerintah lewat bantuan sosial (bansos), dan juga terdampak aktivitas kampanye pemilu. Hitungan Josua, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 akan berada di kisaran 5,05% hingga 5,1%, sedikit lebih tinggi dari ramalan ekonomi tahun 2023 yang tumbuh sekitar 5% hingga 5,05%.
Tarif Pajak Mandi Uap Bisa Bikin Megap-Megap
Pemilu Tak Berefek Besar ke Perekonomian
Transaksi Bursa Karbon Masih Sepi
Kini, TPIA Tak Cuma Garap Petrokimia
Emiten milik Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) resmi bersalin nama menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk. Pergantian nama ini sejalan dengan transformasi TPIA yang saat ini tak cuma berbisnis petrokimia. Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat TPIA, Suryandi mengatakan, diversifikasi bisnis ini mulai digalakkan pada 2023 lalu, diantaranya dengan mengakuisisi anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), yakni 70% saham Krakatau Daya Listrik, yang saat ini menjadi Krakatau Chandra Energi, dan akuisisi 49% saham Krakatau Tirta Industri. TPIA juga membenamkan investasi signifikan di sektor infrastruktur energi, melalui Krakatau Chandra Energi. Investasi tersebut dibagi menjadi dua tahap dengan nilai hingga US$ 200 juta. Dengan nilai investasi tersebut kepemilikan saham Krakatau Chandra Energi di PT Krakatau Posco Energy (KPE) kini menjadi 45%. Segmen infrastruktur digarap melalui anak usahanya, PT Chandra Daya Investasi (CDI) yang menggarap bisnis pembangkit dan distribusi listrik, bisnis pengolahan air dan pelayanan tangki serta dermaga. Bisnis infrastruktur ini diharapkan bisa mengimbangi volatilitas bisnis inti TPIA, yakni petrokimia, sehingga bisa mendorong bottom line.
Menurut Suryandi, ada dua faktor utama yang mempengaruhi industri petrokimia saat ini. Pertama, harga bahan baku, yakni minyak mentah memang turun. Tapi, spread margin dari produk petrokimia dipengaruhi oleh konflik geopolitik yang masih berlangsung, sehingga berdampak pada kondisi pasokan dan permintaan. Kedua, pertumbuhan ekonomi China, yang memegang peranan penting di industri petrokimia. Pabrik CA-EDC nantinya dioperasikan oleh anak usaha Chandra Asri Perkasa (CAP) 2, yakni PT Chandra Asri Alkali, yang akan memproduksi 500.000 metrik ton ethylene dichloride per tahun serta lebih dari 400.000 metrik ton caustic soda per tahun. Kehadiran pabrik CA-EDC dapat membantu kekurangan bahan baku di Asia Tenggara. Direktur Chandra Asri Edi Rivai menimpali, caustic soda merupakan material penting untuk hilirisasi nikel. Caustic soda menjadi salah satu bahan baku pemurnian nikel. Selain pemurnian nikel, caustic soda juga digunakan untuk industri sabun dan deterjen. Pada Rabu (10/1), saham TPIA ditutup melemah 5,21% ke Rp 4.000 per saham. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, saat ini TPIA sedang bergerak di fase downtrend.
ADHI Meraih Kontrak Baru Rp 37,4 Triliun Sepanjang 2023
Sumber Bisnis Baru di Fiber Optik
RISIKO 'KOROSI' MESIN EKONOMI
Pemerintah terus memutar otak untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang dewasa ini menghadapi berbagai permasalahan, baik dari internal maupun eksternal. Tiga pemantik utama laju produk domestik bruto (PDB) juga penuh dengan tantangan sehingga menjadi penyumbat deru mesin ekonomi, yakni konsumsi, investasi, dan perdagangan. Dari sisi konsumsi, ekspektasi masyarakat soal kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan menurun. Dalam konteks perdagangan, ekspor nasional terkendala perlambatan ekonomi global. Adapun, aspek penanaman modal dihadapkan pada belum tuntasnya perbaikan ekosistem investasi termasuk soal perizinan hingga lahan. Apalagi, World Bank dalam Global Economic Prospects January 2024 yang dirilis kemarin, Rabu (10/1), memproyeksikan adanya penurunan laju ekonomi sejumlah negara strategis seperti Amerika Serikat (AS) dan China. Demikian pula dengan Indonesia, yang pada tahun ini diestimasi hanya mampu tumbuh sebesar 4,9%. Besarnya ketergantungan Indonesia terhadap sumber daya alam (SDA) menjadi bumerang tatkala terjadi pelemahan harga komoditas. Di sisi lain, target pertumbuhan ekonomi dalam asumsi dasar itu berada di bawah angka sasaran dalam Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2024 yakni 5,3%—5,7%. Pemerintah pun menyadari betul banyaknya sumbatan dalam motor penggerak mesin ekonomi. Beberapa langkah taktis pun ditempuh sejak awal tahun ini.
Tujuannya adalah menetapkan lokasi kawasan strategis serta menyediakan acuan bagi daerah dalam menyusun Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), syarat utama perizinan investasi. Sebab, mengacu pada data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dari 2.000 target RDTR baru terselesaikan 399 RDTR. Pekan ini, Presiden Joko Widodo, berkunjung ke Filipina, Vietnam, dan Brunei Darussalam untuk menjajaki perluasan kemitraan dagang dan investasi. Dalam pertemuan dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Presiden mengatakan kedua negara sepakat untuk membuka akses pasar sebagai upaya untuk meningkatkan perdagangan. Secara khusus, Presiden meminta dukungan Filipina terkait tindakan pengamanan terhadap produk kopi Indonesia. "Kami sepakat terus membuka akses pasar," kata Kepala Negara.Guna memperlicin aliran investasi, Menteri ATR/Kepala BPN Hadi Tjahjanto, mengatakan akan terus mendorong percepatan penyelesaian RDTR, sehingga akses untuk mendapatkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) lebih mudah.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan pemerintah telah mengurai persoalan terhadap komponen yang berisiko mengalami reduksi kontribusi ke PDB. Berpijak pada situasi tersebut, ada tiga komponen yang akan dioptimalkan yakni konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, memandang secara historis pertumbuhan ekonomi ketika pemilihan umum (pemilu) menurun. Apabila Pilpres berlangsung dua putaran, Indonesia dihadapkan pada kelesuan karena adanya stagnasi perluasan ekspor dan investasi.
Ekspansi Kredit Tanpa Relaksasi
Selain ketidakpastian ekonomi global hingga tren suku bunga tinggi, industri perbankan di Tanah Air masih menghadapi tantangan dalam upaya memacu fungsi intermediasi. Bank tak akan lagi menerima relaksasi restrukturisasi kredit bagi debitur yang terdampak oleh pandemi Covid-19. Sebelumnya, melalui relaksasi ini, bank-bank dizinkan untuk memperhitungkan kredit debitur yang direstrukturisasi akibat Covid-19 sebagai kredit dalam kategori lancar. Dampaknya memang baik bagi industri perbankan. Bank jadi lebih leluasa untuk memberikan fasilitas restrukturisasi karena bebas dari persyaratan administratif kredit berisiko. Karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah beberapa kali memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit selama masa pandemi Covid-19. Terakhir, kebijakan stimulus ini kembali diperpanjang dari yang semestinya berakhir pada 31 Maret 2023, menjadi 31 Maret 2024. Bagi OJK, industri perbankan sudah siap untuk beroperasi tanpa insentif ini, meskipun risiko kredit bakal membesar. Selama ini, bank-bank memang sudah teruji dengan berbagai krisis ekonomi. Risiko kredit bermasalah hingga kredit macet memang berhasil dimitigasi melalui kebijakan otoritas maupun instrumen seperti pencadangan/CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai).
Berdasarkan data OJK, rata-rata rasio CKPN perbankan ber ada di atas 56%. Bahkan, banyak bank yang mencatatkan CKPN di atas 60%.
Data kredit restrukturisasi yang terus turun ini menunjukkan kemampuan membayar debitur yang membaik seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi dan perbaikan mobilitas masyarakat. Tentu kita mendukung kebijakan OJK ini sebagai upaya untuk memperkuat confidence para bankir untuk tetap mengedepankan aspek kehatihatian dan tak hanya sekadar mengandalkan insentif untuk mengoptimalkan fungsi intermediasinya. Secara umum, bisnis bank pun tumbuh subur, terlihat dari nilai penyaluran kredit yang terus meningkat. Per November 2023, laju penyaluran kredit tumbuh 9,74% YoY, terus membaik sejak Juni 2023 yang tumbuh 7,76% Yo Y.
Bank-bank yang belum memiliki permodalan yang kuat tentu harus segera menerapkan langkah antisipasi ketika tak akan menerima lagi stimulus dari otoritas. Bank dengan modal kecil itu dikhawatirkan terdampak berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit Covid-19 dari OJK, karena memiliki pencadangan minim dalam mengantisipasi peningkatan kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL). Apalagi pencadangan puluhan bank dalam Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) I yang bermodal inti antara Rp3 triliun—Rp6 triliun, belumlah kuat-kuat benar.









