DIALOG CAPRES BERSAMA KADIN : MEMPERKUAT INDUSTRI & IKLIM USAHA
Calon Presiden Ganar Pranowo dan Anies Baswedan berkomitmen memperkuat industri dalam negeri serta iklim usaha tetap kondusif. Hal itu disampaikan keduanya saat mengikuti dialog capres bersama Kadin Indonesia. Sementara itu, capres Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri dialog bertema ‘Menuju Indonesia Emas 2045’ tersebut pada hari ini, Jumat (11/1). “Insyaallah Pak Prabowo besok jadinya jam 9.30 pagi di tempat yang sama,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Anindya Bakrie di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (11/1). Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo mendapatkan kesempatan pertama dialog, kemarin. Dia berkomitmen menjaga iklim usaha tetap kondusif yang tecermin saat menjawab pertanyaan Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Tony Wenas terkait strategi mengerek rasio pajak Indonesia dan persaingan usaha tidak sehat lantaran ada pengusaha membayar pajak penuh dan ada yang tidak. Ganjar menyampakan bahwa intensifikasi dan ekstensifikasi pajak pajak menjadi jurus utama dalam mengerek rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) RI. “Intensifikasi itu optimalisasi bukan memeras, beda lho ini. Bahas ini enggak enak banget di pengusaha,” katanya. Sementara itu, intensifikasi melalui optimalisasi pajak bagi wajib pajak yang tidak bayar pajak agar dapat menciptakan persaingan usaha yang sehat.
Pasalnya, tercatat tingkat kepatuhan pajak per 2023 masih belum mencapai 100%. Pada kesempatan itu, Ganjar juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku/penolong akan dibatasi tanpa mengganggu keberlangsungan usaha pelaku industri. Meskipun demikian, dia tidak menepis peran penting mitra strategis untuk perdagangan komoditas, sekaligus memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Di sisi lain, persoalan minimnya bahan baku industri farmasi dan alat kesehatan di Indonesia yang 90% masih impor juga menjadi perhatian. Ganjar menyinggung pentingnya peningkatan research and development (R&D). Sementara itu pada dialog kedua, capres nomor urut 1 Anies Baswedan menyatakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih berkualitas diiringi dengan pemerataan dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menginginkan pengusaha dalam negeri dapat menjadi tuan rumah yang gemilang tidak hanya di negeri sendiri, tetapi juga menjadi tamu yang mengesankan dan mempesona di negeri orang. Sementara itu, terkait upaya untuk memajukan industri farmasi, Anies menilai perlunya studi banding kebijakan atau benchmarking dari negara-negara lain guna memajukan industri farmasi dan alat kesehatan nasional.
PEREMAJAAN KERETA : KCI Butuh Dana Rp8,65 Triliun
PT Kereta Commuter Indonesia membutuhkan dana sebesar Rp8,65 triliun untuk memenuhi upaya peremajaan dan penambahan armada kereta rel listrik hingga 2027. Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter Asdo Artriviyanto mengatakan peremajaan armada kereta rel listrik (KRL) dilakukan melalui sejumlah cara yakni impor, retrofit, dan juga pengadaan sarana trainset baru. Dari kebutuhan Rp8,65 triliun, dia menyatakan sekitar Rp3,65 triliun diperoleh melalui pinjaman bank, sementara sebanyak Rp5 triliun akan diperoleh melalui penyertaan modal negara (PMN). “Kebutuhan capex [capital expenditure] pengadaan KRL baik impor dan retrofit ini diajukan Rp 8,65 triliun, dari pemerintah itu PMN Rp5 triliun ke KAI yang akan dialirkan ke KCI,” jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (11/1).
Saat ini, KCI Commuter mengupayakan impor sebanyak tiga rangkaian kereta. Dia menuturkan trainset yang akan diimpor itu masing-masing akan terdiri atas 12 kereta.
Asdo mengatakan KAI Commuter menargetkan tiga rangkaian kereta impor tersebut sudah diterima pada tahun ini sehingga dapat dioperasikan untuk melayani pelanggan.
Saat ini, KAI Commuter menandatangani kontrak dengan Inka untuk pengadaan 16 trainset baru dalam rangka penambahan kapasitas yang akan dikirimkan secara bertahap pada periode 2025—2026. Direktur Utama Inka Eko Purwanto menuturkan mulai membuat 16 unit KRL pesanan KAI Commuter pada tahun ini.
Menata Pupuk, Mencapai Ketahanan Pangan
Pemerintah Kaji Revisi Kenaikan Pajak Hiburan
Premi Asuransi Jiwa Diprediksi Rebound
Gabung TKN, Khofifah Tambah "Daya Gedor" Prabowo-Gibran di Jatim
OJK Beri Peringatan kepada Waskita dan Wijaya Karya
UMKM Elemen Kunci Pengembangan Potensi Desa
Dihantui Defisit Beras
Dalam kondisi normal, penanaman padi secara masif biasanya berlangsung pada Oktober, dengan perkiraan panen raya empat bulan setelahnya. Masa panen besar pada Februari hingga Mei umumnya sudah mewakili 60-65 persen produksi beras tahunan. Petani masih memanen dari musim gadu—periode tanam kedua tanpa pengairan—pada Juni-September untuk memasok sekitar 25 persen kuota produksi tahunan. Sedangkan sisa Oktober-Januari adalah paceklik atau minim produksi untuk persiapan tahun berikutnya.









