;

Efek Elektoral Bantuan Langsung Tunai

Yuniati Turjandini 31 Jan 2024 Tempo
Sejumlah pegiat demokrasi dan transparansi anggaran menilai bantuan sosial (bansos) berpotensi digunakan untuk mendongkrak suara dalam pemilihan umum. Indikasi tersebut terlihat ketika pemerintah memutuskan pemberian bantuan pangan ataupun bantuan langsung tunai (BLT) selama masa Pemilu 2024. Peneliti dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Gurnadi Ridwan mengatakan pemerintah sangat mungkin menyalahgunakan pemberian BLT saat pemilu. “Cara ini bisa dipakai penguasa sebagai alat untuk dipertukarkan dengan loyalitas elektoral,” katanya saat dihubungi pada Selasa, 30 Januari 2024.  

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memutuskan memperpanjang bantuan pangan berupa pemberian beras sebanyak 10 kilogram per keluarga per bulan hingga Juni 2024. Di samping bantuan pangan, pemerintah akan mengguyurkan BLT Mitigasi Risiko Pangan sebesar Rp 600 ribu per bulan kepada 18,8 juta keluarga penerima manfaat. BLT tersebut akan dicairkan pada Februari 2024.  Program BLT baru itu dipaparkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers hasil pertemuan Tim Pengendalian Inflasi Pusat, Senin, 29 Januari lalu. 

Menurut Airlangga, bantuan tersebut akan dievaluasi setelah tiga bulan. “Program ini menggantikan BLT El Nino yang diberikan pada akhir 2023 selama dua bulan senilai total Rp 400 ribu," ujarnya.  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan mencairkan BLT Mitigasi Risiko Pangan pada Februari 2024 melalui PT Pos Indonesia dan Badan Pangan Nasional. (Yetede)

Bertumpu pada Impor Kedelai

Yuniati Turjandini 31 Jan 2024 Tempo
Stok kedelai nasional menjadi perhatian karena sebagian besar pasokannya masih bergantung dari impor. Pemerintah memastikan gelombang kedelai impor segera masuk untuk mengantisipasi kelangkaan di pasar. "Keterlambatan kedatangan kedelai ini kan dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang terjadi, sehingga mengganggu kelancaran logistik internasional. Namun ini terus kami dorong untuk segera masuk sehingga ketersediaannya stabil," kata Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi kemarin, 30 Januari 2024.

Berdasarkan neraca pangan nasional, produksi kedelai nasional baru 301 ribu ton, sedangkan kebutuhannya mencapai 2,8 juta ton. Defisit kedelai sekitar 2,5 juta ton tersebut diisi dengan kebijakan importasi. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menuturkan penyebab masalah transportasi kedelai impor, yakni pendangkalan Terusan Suez serta konflik di Israel dan Palestina. Keduanya menjadi kendala bagi kapal kontainer dan hambatan impor kedelai dari negara produsen, Amerika Serikat dan negara di Amerika Latin. Gangguan tersebut membuat kapal pengangkut memutar hingga ke Tanjung Harapan, selatan Afrika, dan menyebabkan keterlambatan hingga tiga pekan.

Bayu mengatakan terbatasnya pasokan kedelai juga disebabkan Bulog pada tahun lalu tidak melakukan importasi. Alhasil impor kedelai sudah dilakukan oleh swasta, dan sudah masuk ke Indonesia. “Sepengetahuan saya, yang sudah masuk kedelai yang diimpor swasta,” kata Bayu. Saat ini kedelai impor sudah tiba di sejumlah daerah, seperti di Jawa Timur dan Banten. Bayu berharap kehadiran kedelai impor dapat menstabilkan harga menjelang Ramadan. Menyitir Data Panel Harga Pangan Bapanas, rata-rata harga kedelai impor secara nasional hari ini berada di level Rp13.180 per kilogram atau turun 1,05 persen dari harga sebelumnya. (Yetede)

Industri Pinjol Benjol-Benjol Dihantam Aneka Persoalan

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Kontan (H)
Persoalan gagal bayar peer to peer (P2P) lending Investree ke pemberi pinjaman (lender) makin ruwet. Muncul dugaan Adrian Asharyanto Gunadi, Direktur Utama PT Investree Radhika Jaya, melakukan fraud alias penggelapan dana perusahaan. Dugaan ini berawal dari surat pengunduran diri Adrian sebagai petinggi Investree, yang efektif berlaku efektif pada 31 Januari 2024. DealStreetAsia, seperti dikutip Fintech News, Selasa (30/1), menyatakan melihat salinan surat pengunduran Adrian. Dalam suratnya, Adrian menyatakan pengunduran dirinya tidak dapat dibatalkan dan pihaknya tidak menuntut apapun. Selain itu, terdapat dokumen lain yang berisi pengakuan Adrian tentang dugaan pengalihan dana. Sumber KONTAN yang mengetahui soal kisruh Investree ini membenarkan Adrian telah mengundurkan diri dari jabatan sebagai CEO sebelum Tahun Baru. Menurut si sumber, posisi Adrian saat ini diisi Salman Baharuddin, Chief of Sales Investree. Keputusan ini diambil pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di 17 Januari. Sumber KONTAN juga menyebut, Investree sudah tidak lagi menerima borrower baru. Dana lender yang mengajukan pencairan juga ditahan. "Seperti tarik rem tangan, bisa dibilang ini untuk memfokuskan pengembalian kepada para lender," ungkap sumber tersebut, kemarin. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK mengakui sedang memeriksa Investree. Namun Agusman belum bersedia membeberkan materi pemeriksaan. Ia hanya menyebut, materi pemeriksaan terkait kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku. Hingga 30 Januari 2024, posisi TWP90 Investree di 16,44%, naik dari 12,58% di 12 Januari. KONTAN telah mencoba menghubungi manajemen Investree dan Adrian. Tapi hingga berita ini diturunkan, permintaan wawancara KONTAN tidak berbalas.

Dana Asing Bersiap di Depan Pintu BEI

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Kontan
Potensi penurunan suku bunga global diproyeksi berlangsung tahun ini. Jika hal tersebut terjadi, diprediksi bakal mendorong migrasi dana investasi milik pemodal asing. Dus, Indonesia sebagai salah satu emerging market diyakini bakal  menjadi pasar potensial bagi asing. Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menjelaskan secara historis satu sampai tiga bulan setelah The Fed mengerek suku bunga, pasar keuangan Amerika Serikat (AS) baik surat utang dan saham akan diuntungkan. Namun 12 bulan sejak terakhir kali The Fed menaikkan suku bunga, pasar ekuitas di kawasan emerging market bakal merekah jika dibandingkan dengan pasar ekuitas di negara-negara maju. Adapun Mandiri Sekuritas memproyeksikan The Fed bisa tiga sampai empat kali memangkas bunga acuan, dimulai pada Mei 2024. Secara keseluruhan, The Fed berpotensi menurunkan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps). Nah, dari sisi valuasi price to earning (P/E), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tergolong murah. Kemudian dari sisi pertumbuhan laba bersih para emiten juga masih berpotensi tumbuh. Joezer menilai valuasi IHSG masih masuk akal. Dalam hitungan Mandiri Sekuritas, P/E IHSG di 2024 berada di level 13,8 kali. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memasang target IHSG berada di level 8.100 akhir tahun ini. Level tersebut bakal tercapai jika Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga dan kepastian hasil pemilu sudah terlihat. Head of Research Team Mirae Asset Sekuritas Robertus Hardy pun sepakat jika valuasi IHSG masih tergolong lebih rendah, jika dibandingkan dengan emerging market lainnya seperti India. "Meskipun punya risk-free rate yang sama dan profitabilitas yang hampir sama tetapi valuasinya masih lebih rendah," kata dia.

Kinerja Operasional Sejumlah Emiten Sawit Tumbuh Positif

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Kontan
Sejumlah emiten kelapa sawit mencatat kinerja operasional yang positif sepanjang tahun 2023. Tren tersebut ditargetkan bakal berlanjut pada tahun ini. Salah satunya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang mencatatkan produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) sebesar 48.663 ton di tahun 2023. Realisasinya melonjak 36,31% dari produksi CPO CSRA tahun lalu yang tercatat 35.701 ton. Sekretaris Perusahaan CSRA Iqbal Prastowo mengakui, produksi tandan buah sawit (TBS) CSRA turun 1,86%, dari 342.001 ton pada 2022 menjadi 335.654 ton di tahun 2023. Penurunan produksi TBS tersebut diakibatkan pembukuan dari produksi pabrik kelapa sawit CSRA yang kedua hanya tercatat beberapa bulan saja. Tak mau kalah, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga mencatatkan kenaikan produktivitas CPO sebesar 3,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Presiden Direktur DSNG Andrianto Oetomo menjelaskan kenaikan itu didorong oleh membaiknya produktivitas kebun dan pabrik mereka sepanjang 2023. Sayang, Andrianto tidak merinci lebih lanjut besarannya. “Perbandingan produksi TBS pada semester pertama dan kedua 2023 adalah sebesar 46% banding 54%,” ungkapnya dalam rilis, Selasa (30/1). Sementara CSRA tahun ini menargetkan produksi TBS sebesar 400.000 ton dan  CPO ditargetkan sebesar 60.000 ton. Untuk produksi palm kernel ditargetkan sekitar 15.000 ton di tahun 2024.

Pemilik Lakukan Fraud, Prospek BPR Kian Suram

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Kontan
Sejumlah bank perekonomian rakyat (BPR) menutup usahanya sepanjang tahun 2023. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, selama tahun 2023 ada empat BPR gulung tikar. Dari catatan LPS, dalam 18 tahun terakhir, setiap tahun rata-rata BPR yang tutup jumlahnya sebanyak 6-7 bank. Pada 2024, fenomena BPR bangkrut diproyeksi akan berlanjut. "Tahun ini masih ada BPR tutup. Kami terus berkoordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar tidak ada kegaduhan di masyarakat," tegas Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS, Selasa (30/1). Catatan LPS, per Januari 2024, sudah ada dua BPR yang bangkrut, yakni PT BPR Syariah Mojo Artho Kota Mojokerto (Perseroda) dan BPR Wijaya Kusuma di Madiun, Jawa Timur. Dari data OJK, lima tahun terakhir jumlah BPR terus menyusut. Per November 2023, jumlah BPR hanya 1.405 bank. Padahal, di akhir 2022, jumlahnya masih 1.441 bank. Jadi, kurang dari setahun, jumlah BPR berkurang 36 bank. Seiring tutupnya BPR, pada 2023 LPS telah membayar klaim Rp 329,2 miliar atau 92,6% dari total simpanan nasabah sebesar Rp 355,4 miliar. Untuk tahun ini, LPS telah menyiapkan dana cadangan penjaminan yang memadai, untuk memitigasi risiko BPR yang berpotensi bangkrut. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, proses merger BPR dan BPRS hingga saat ini masih terus berlangsung. Terutama, untuk BPR dan BPRS dengan kepemilikan yang sama.

PRDA Memacu Pertumbuhan Kinerja

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Kontan
Emiten laboratorium, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) menyiapkan berbagai strategi untuk mencapai pertumbuhan yang lebih baik di tahun 2024. Strategi tersebut dijalankan dengan tetap berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan demi kepuasan pelanggan. Direktur Bisnis & Pemasaran Prodia Indriyanti Rafi Sukmawati menyatakan, Prodia tetap konsisten meluncurkan minimal 10 tes kesehatan baru setiap tahunnya. Saat ini, PRDA sudah menawarkan lebih dari 3.000 jenis tes kesehatan bagi masyarakat, baik untuk preventif maupun tes yang bersifat rutin. Prodia juga berkomitmen untuk terus melakukan pembaharuan dan memperbanyak layanan konsultasi dokter di klinik Perseroan dan melalui aplikasi digital ProdiaLink. Indriyanti mengatakan, sebagai bentuk sinergis layanan kesehatan, Prodia tetap membuka peluang kerja sama  dalam menghadirkan akses layanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi bersama mitra strategis, baik lokal maupun internasional. Selain itu, berbagai upaya efisiensi pun dilakukan Prodia guna menjaga perolehan laba tetap positif di tahun 2024 ini. Pihaknya optimistis dengan berbagai strategi dan program di sepanjang tahun 2024 ini dapat mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2023. Pada tahun ini, Prodia menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 250 miliar-Rp 300 miliar. Indriyanti memerinci, 30%-35% capex akan digunakan untuk pengembangan teknologi informasi dan digital. Kemudian 40%-45% sisanya dipakai untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas alat laboratorium. Hingga akhir bulan Januari 2024 ini Prodia belum merilis secara resmi laporan keuangan tahun buku 2023, sehingga belum bisa menggambarkan kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun lalu. Adapun, per kuartal III-2023,  pendapatan PRDA mencapai Rp 1,61 triliun. Angka ini naik tipis 2,08% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,57 triliun. Hingga akhir September 2023, PRDA mencetak laba bersih sebesar Rp 235,67 miliar. Laba bersih PRDA itu menurun 14,36% yoy dari periode sama tahun 2022 yang sebesar Rp 275,20 miliar pada.

PERTARUHAN STABILITAS RUPIAH

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pemangku kebijakan dan pelaku ekonomi kembali waspada. Menguatnya ekspektasi soal pelonggaran moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang baru dieksekusi pada paruh kedua tahun ini membawa kabar tak menyenangkan. Stabilitas pasar keuangan dan rupiah pun terguncang, lantaran hingga medio tahun ini kans pemangku kebijakan untuk menampung modal asing terbatas. Hari ini, Rabu (31/1) waktu AS, The Fed menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) perdana 2024. Sayangnya, ekspektasi pelaku pasar beralih dari sebelumnya memprediksi pelonggaran menjadi bertahan di zona ketat. Tentu situasi ini akan mendesak investor untuk memarkir modalnya di Negeri Paman Sam lebih lama, sehingga negara berkembang termasuk Indonesia belum mendapatkan limpahan modal. Alhasil, penguatan rupiah masih penuh tanda tanya.Selain dari AS, tekanan rupiah juga bersumber dari China yang menyerukan kebijakan penghentian pinjaman saham tertentu dalam rangka menghindari short selling. Tujuannya, membatasi penurunan saham di Negeri Panda. Bank sentral pun memahami adanya guncangan yang diprediksi langgeng hingga pergantian semester tahun ini. Sejumlah siasat pun disiapkan untuk mengamankan gerak Garuda. Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan intervensi valas akan terus dilakukan serta menyerap SBN yang dijual oleh investor asing sehingga meminimalkan tekanan rupiah. Sejatinya, BI telah memiliki banyak instrumen operasi moneter untuk mengamankan rupiah. Misalnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Serapan investor terhadap produk tersebut pun tak bisa dibilang mengecewakan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, hanya mengatakan bahwa pergerakan rupiah lebih dipengaruhi faktor global, terutama arah The Fed. Efek pelemahan rupiah tak bisa dianggap remeh. Gejolak kurs bisa berdampak negatif bagi aktivitas pelaku usaha, terutama yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor dan utang valas. Kalangan pebisnis pun menyarankan pemerintah untuk melakukan improvisasi agar upaya menciptakan stabilitas rupiah tak bergantung pada strategi klasik serta lebih kebal dari tekanan eksternal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan instrumen kebijakan pendukung stabilitas moneter lain seperti SBN perlu dimaksimalkan guna memberikan dukungan yang positif terhadap stabilitas moneter nasional. Sementara itu, kalangan ekonom memandang pemerintah dan BI patut menciptakan stimulus yang bisa merangsang gairah ekonomi terutama di sektor riil, salah satunya relaksasi BI 7-Day Reverse Repo Rate. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan penyesuaian suku bunga perlu disegerakan apabila instrumen moneter lainnya kurang efektif mengamankan rupiah. Direktur Eksekutif Segara Institut Piter Abdullah, menambahkan yang diperlukan adalah memfungsikan sistem keuangan sebagai penggerak ekonomi.

Instrumen Operasi Moneter Penjaga Rupiah

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Menjaga nilai tukar rupiah tidak gonjang-ganjing memerlukan berbagai inovasi, terutama di tengah berbagai ketidakpastian yang tinggi dan gejolak tiada henti di pasar keuangan global. Inovasi yang tidak hanya menyasar sisi kebijakan dan operasional, tetapi juga instrumen. Bank Indonesia yang diamanahi UU No. 4/2023 untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melakoni dengan berinovasi pada sisi kebijakan dan instrumen. Pada inovasi kebijakan, Bank Indonesia mengambil strategi dengan lebih melibatkan pasar (pro market) dengan mengoptimalkan peran primary dealers di operasi moneter Bank Indonesia dan pasar uang. Sementara pada sisi instrumen, Bank Indonesia meluncurkan tiga instrumen baru pada triwulan akhir 2023. Ketiga instrumen tersebut adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Kedua bentuk inovasi tersebut sejalan dengan upaya otoritas moneter untuk lebih independen terhadap dampak kebijakan moneter negara maju, terutama Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Ketiga instrumen yang merupakan alat operasi moneter kontraksi pro market memiliki durasi pendek hingga 12 bulan. Tujuannya untuk mengelola likuiditas sekaligus dapat mengembangkan pasar uang dan stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini karena instrumen tersebut dapat diperdagangkan dan dimiliki nonbank baik itu eksportir maupun investor asing di pasar sekunder. Keberadaan SRBI, SVBI dan SUVBI juga tidak akan mematikan dan menyaingi instrumen yang lain. Hal ini karena karakteristik dan jangka waktu penempatannya telah diatur sedemikian rupa. Pasar uang akan banyak memiliki variasi instrumen yang menjadi pilihan investor sesuai dengan kepentingan investor masing-masing. Respons perbankan nasional dan investor asing cukup positif atas inovasi Bank Indonesia tersebut. Mengutip laporan Bank Indonesia yang disampaikan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17—18 Januari 2024, lelang SRBI dan SVBI hingga 16 Januari 2024 masing-masing telah mencapai Rp296,03 triliun dan US$896,50 juta. Kemudian, lelang SUVBI yang diterbitkan telah mencapai US$244 juta. Instrumen SRBI juga telah secara aktif diperdagangkan di pasar sekunder. Ini terlihat dari kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp75,44 triliun. Dampak terhadap stabilitas nilai tukar rupiah juga relatif terjaga sejalan dengan berbagai kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah masih relatif stabil hingga 16 Januari 2024, meski merosot 1,24 % dari akhir Desember 2023.

PROYEK KELISTRIKAN : ‘POSISI SULIT’ BUMN LISTRIK

Hairul Rizal 31 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Agresifnya upaya pemerintah meningkatkan porsi energi baru terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional menempatkan PT PLN (Persero) dalam posisi yang ‘tidak nyaman’. Badan Pemeriksa Keuangan pun menyoroti kekurangan pendanaan yang dialami perusahaan pelat merah itu dalam mengejar target RUPTL. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) membeberkan terdapat kekurangan pendanaan atau gap funding senilai Rp108,67 triliun yang dicatat oleh PLN untuk membangun pembangkit dan infrastruktur ketenagalistrikan lainnya yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021—2030. Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PLN pada 2021 dan 2022, kebutuhan investasi untuk proyek yang tertuang di dalam RUPTL saat itu masing-masing sebesar Rp78,90 triliun dan Rp73,10 triliun. Sayangnya, PLN hanya bisa mengumpulkan pendanaan sebesar Rp19,93 triliun pada 2021, dan Rp23,4 triliun pada 2022. Pendanaan itu dihimpun dari subsidiary loan agreement (SLA), project loan, penyertaan modal negara (PMN), dana internal, hingga result based loan & pay for result loan (RBL). Berdasarkan praktik umum keuangan, kedua rasio tersebut merupakan syarat wajib yang akan dinilai oleh lembaga pembiayaan. BPK pun menilai kedua rasio itu akan membuat PLN kesulitan untuk memenuhi covenant yang dipersyaratkan. Audit senjang investasi kelistrikan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kinerja Pengelolaan Batu Bara, Gas Bumi, dan Energi Terbarukan dalam Pengembangan Sektor Ketenagalistrikan untuk Menjamin Ketersediaan, Keterjangkauan dan Keberlanjutan Energi Tahun Anggaran 2020 sampai dengan Semester I 2022 pada Kementerian ESDM dan instansti terkait lainya. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan bahwa inisiatif itu diharapkan bisa menjadi alternatif investasi lain yang saat ini dimiliki PLN. Adapun, Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan bahwa perseroan tetap berkomitmen untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang telah direncanakan dalam RUPTL 2021—2030. Sementara itu, Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) mengatakan bahwa gap funding yang dicatat oleh PLN saat ini membuat eksekusi proyek dalam RUPTL 2021—2030 berpotensi molor.  “Adanya gap funding tentunya berdampak kepada realisasi pencapaian yang rendah,” kata Ketua Umum APLSI Arthur Simatupang.

Pilihan Editor