Dadi Mulyadi, Perjuangan Manis dari Ciamis
Dadi Mulyadi (65) berjuang selama 20 tahun untuk hak tanah
bagi dia dan ratusan keluarga di Kampung Cijoho, Desa Muktisari, Kabupaten
Ciamis, Jabar. Kini, dia tengah mencoba mendampingi para petani untuk benar-benar
sejahtera dari tanah yang didapat dengan susah payah itu. Dadi akhirnya
menerima sertifikat tanah yang diserahkan Menteri ATR / Kepala BPN Hadi
Tjahjanto, Kamis (12/10) bersama puluhan warga, Cijoho menerima redistribusi
lahan dari pemerintah. Total 250 warga mendapatkan hak atas lahan seluas 106,5 hektar
eks perkebunan PT Maloya. Luas lahan yang didapatkan warga bervariasi. Dadi, mendapat
tanah seluas 90 bata atau 1.260 meter persegi. Ada warga lain yang mendapat
tanah dengan luasan berbeda. ”Sekarang sudah lega, kami sudah tidak ragu lagi
menanam. Tidak ada lagi tekanan,” ujarnya.
”Rekan perjuangan saya sudah banyak yang meninggal karena
usia. Semoga mereka tahu, usaha ini sekarang tidak sia-sia,” katanya. Pada
1975, lahan digarap PT Maloya dengan masa berlaku hak guna usaha (HGU) hingga
31 Desember 2010. Setelah mendapat izin dari perusahaan pemilik HGU, Dadi dan
warga lain mulai membersihkan lahan dari pohon karet. Namun, saat lahan sudah
dibersihkan dan mereka mulai menanam, tekanan dari luar muncul. Tujuannya,
ingin merebut kembali lahan itu. Akan tetapi, warga tetap bergeming. Dadi pun
bergabung dengan Serikat Petani Pasundan untuk memperjuangkan reforma agraria
di Cijoho. Bersama para sesepuh kampung, dia mengajak masyarakat tetap bertahan
dan menggarap lahan.
Sebagai Ketua Kelompok Tani Hortikultura Kampung Cijoho, dia mencari
komoditas yang mudah ditanam dan menguntungkan. Tahun 2017, pilihannya jatuh pada
durian., karena tak pernah sepi peminat. ”Apalagi, durian termasuk tanaman
keras yang baik untuk tanah dan mampu menyerap air,” ujarnya. Menurut dia, ada
120 pohon yang ditanam di lahan komunal hasil reforma agraria seluas 3 hektar.
Modalnya dari warga. ”Ilmu menanamnya kami dapatkan dari bahan bacaan seadanya
hingga bertanya kepada para petani buah,” katanya. Awal tahun ini, hasilnya
terasa. Dia dan warga berhasil panen perdana. Dari setiap pohon durian, bisa
dipanen 15 buah atau total sekitar 4 kuintal. ”Buah lainnya sengaja dibuang biar nutrisinya tidak terbagi. Kalau
kebanyakan, pohon bisa mati,” ujar Dadi.
Dadi dan warga bahkan belajar membuka jaringan pasar.
Hasilnya, warga berhasil menjual 100 butir durian ke Tasikmalaya hingga
Bandung. Harganya Rp 300.000 per kg. ”Lumayan tinggi karena rasa buahnya yang
manis,” katanya. Keuntungan dari penjualan ini, lanjut Dadi, masih dipergunakan
untuk meningkatkan kualitas kebun bersama. Dia juga tak melarang warga desa
untuk turut menikmati buah durian yang berkualitas dengan harga yang cukup
tinggi itu. ”Selain dijual, warga desa juga bebas menikmati buahnya. Tetapi,
masih belum bagi hasil karena keuntungan dari penjualan kami putar lagi untuk
mengembang-kan lahan sekaligus membina warga,” ujarnya. (Yoga)
SDM Kunci Penyelesaian Masalah Bangsa
Pedang Bermata Dua Tranformasi Digital
Langkah Tegap BSI Menjaga Bertumbuhan Berkelanjutan
Perbankan Perbesar Kredit Berbasis ESG
IHSG Berpotensi Menguat Terbatas
Gagal Bayar Pinjaman Online
Cawe-cawe Polisi Menandingi Gerakan Kampus
Turun Gunung Mengkritik Jokowi
Epidemi Kesepian dan Isolasi di Tengah Keramaian
Di dunia yang semakin terhubung oleh jejaring digital, epidemi
kesepian ternyata semakin meluas, termasuk dialami anak muda yang berada di
tengah keramaian. Sindrom kesepian itu telah berdampak pada kesejahteraan mental
dan fisik, bahkan meningkatkan risiko kematian dini hingga 26 %, setara dengan
risiko merokok 15 batang sehari. Mengacu pada definisi psikolog Letitia Anne
Peplau dan Daniel Perlman dalam bukunya, Loneliness: A Sourcebook of Current
Theory, Research and Therapy (1982), kesepian bisa digambarkan sebagai ”isolasi
sosial yang dirasakan”, ditandai dengan rasa tertekan ketika seseorang
mengalami kesenjangan antara hubungan yang diinginkan dan yang sebenarnya. Data
negara-negara menunjukkan, hampir satu dari empat manusia di dunia saat ini
kesepian dan terisolasi secara sosial.
Hasil survei Meta-Gallup terbaru, 24 % orang berusia 15 tahun
ke atas melaporkan, mereka merasa sangat atau cukup kesepian. Survei yang
dilakukan di 142 negara itu meminta peserta menjawab pertanyaan, ”Seberapa
kesepian yang Anda rasakan?”. Di Indonesia, Health Collaborative Center (HCC),
lembaga di bidang kesehatan masyarakat dan kesehatan komunitas, pada Desember
2023 juga mengungkap hasil survei tentang kesepian yang dialami warga Jabodetabek,
menunjukkan, separuh warga Jabodetabek mengalami kesepian dengan derajat sedang
dan tinggi. Survei yang digelar sejak Oktober 2023 dan melibatkan 1.299
responden di Jabodetabek ini menunjukkan, perantau paling banyak mengalami
kesepian, yaitu 56 % dengan derajat sedang.
Sementara dari sisi usia, 51 % warga Jabodetabek yang berusia
di bawah 40 tahun juga mengalami kesepian derajat sedang. Jika dilihat dari
status, 60 % warga Jabodetabek yang belum menikah mengalami kesepian derajat
sedang. Orang yang sudah menikah pun merasa sepi, ini dialami oleh 47,9 %
responden. Studi di jurnal International Psychogeriatrics (2020) menyebutkan,
perasaan terisolasi terjadi antargenerasi dengan mereka yang berusia 18-22
tahun memiliki rata-rata skor kesepian tertinggi, sedangkan mereka yang berusia
55-73 tahun memiliki skor kesepian terendah.
Tingginya kesepian di kalangan muda usia ini kemungkinan
besar disebabkan oleh dampak penggunaan media sosial yang lebih besar di
kalangan mereka. Laporan tersebut juga menemukan, kesepian lebih umum terjadi
pada orang-orang dengan tingkat keterlibatan media sosial yang tinggi
dibandingkan dengan mereka dengan keterlibatan yang rendah. Tingginya tingkat
kesepian di kalangan muda ini juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang
memburuk, misalnya depresi, keputusasaan, penggunaan narkoba, hingga gangguan
kognitif, bahkan kecenderungan bunuh diri. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) menunjukkan, secara global satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami
gangguan jiwa, terhitung 13 % dari beban global penyakit pada kelompok usia
ini. Bunuh diri kini menjadi penyebab utama kematian keempat di antara usia
15-29 tahun. (Yoga)









