Disparitas Harga Memberi Ruang Penyelewengan
Inflasi Turun di Awal Tahun
Inflasi menurun menjadi 2,75% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2024, dibandingkan Desember 2023 sebesar 2,67%. Laju inflasi secara bulanan (month to month/mtm) juga turun menjadi 0,04% pada Januari lalu dari level tertinggi pada Desember sebesar 0,41%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Januari 2024 juga jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2023 sebesar 5,28%. Patut dicatat, inflasi pada awal 2023 tinggi, lantaran masih terimbas penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022. Tingkat inflasi year to date (ytd) Januari 2024 mencapai 0,04%. Adapun tingkat inflasi komponen inti mencapai 0,2% secara bulanan dan 0,2% secara ytd. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, indeks harga konsumen (IHK) mencapai 105,19 Januari 2024, naik dari bulan sama tahun lalu 102,55. Inflasi tahunan disebabkan kenaikan harga sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Menurut Amalia, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Provinsi Papua Tengah sebesar 4,76% dengan IHK sebesar 107,6 dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 1,21% dengan IHK sebesar 103,6. Dia menambahkan, Inflasi tahunan kabupaten/kota tertinggi terjadi di Toli Toli sebesar 6,76% dengan IHK sebesar 110,31 dan terendah di Mamuju sebesar 0,86% dengan IHK sebesar 103,26. Di sisi lain, bantuan sosial (bansos) dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) bertujuan memitigasi risiko pangan pada kuartal I-2024 sebagai upaya untuk meredam inflasi, terutama gejolak harga pangan. "Inflasi volatile food merupakan domain pemerintah," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Namun, pemberian BLT menjadi sorotan sebab berlangsung ditengah kontestasi pemilu. Sementara itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti alasan pemerintah memberikan bansos sebagai upaya menyelamatkan daya beli dari fluktuasi harga pangan.
Semakin Melaju! Bank Mandiri Bukukan Laba Bersih Rp55,1 Triliun di Tahun 2023
Tahun Politik, Bank Agresif Salurkan Kredit
Kenaikan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Ditunda
Kausa Proyek Shrimp Estate
Jumlah Emiten Tak Layak di Bursa Makin Banyak
Lepas Dahaga Manufaktur Menjelang Bulan Puasa
Beras Bisa Mendorong Angka Inflasi
DAYA BELI KURANG BERTAJI
Sesuai prediksi, tingkat inflasi pada awal tahun ini terus melandai. Sepintas penurunan inflasi ini memberikan kabar baik setelah hampir 2 tahun terakhir pemerintah kelabakan mengendalikan indeks harga konsumen (IHK). Akan tetapi, moderasi inflasi sulit dibilang sehat, lantaran tingkat inflasi inti yang merupakan cerminan daya beli masyarakat secara riil berada pada level terendah baru. Artinya, turunnya inflasi lebih disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat, yang tentu saja perlu direspons sigap oleh pemangku kebijakan. Hal itu terbukti dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi umum Januari 2024 hanya 2,57% (year-on-year/YoY), sedangkan inflasi inti hanya 1,68 (YoY). Pada saat bersamaan, PMI Manufaktur Indonesia berada pada zona ekspansif yakni 52,9, tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan strategi yang akan ditempuh untuk menyeimbangkan inflasi yakni mengoptimalkan instrumen moneter dengan instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Khusus inflasi inti, penanganan akan dilakukan dengan stabilisasi rupiah serta suku bunga acuan. "Inflasi Insyaallah tetap terkendali, sasaran kita 2,5% plus minus 1% tahun ini," kata Perry, Kamis (1/2).
Sementara itu, secara historis PMI Manufaktur selalu menanjak menjelang Ramadan. Hal ini dipicu oleh adanya pembatasan aktivitas produksi sehingga diperlukan stok barang yang cukup. Kalangan pelaku usaha pun berharap pemerintah dan BI memiliki strategi cermat untuk memacu konsumsi. Jika tidak, maka opsi yang dimiliki pebisnis hanyalah melakukan efi siensi produksi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan penurunan daya beli terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. bansos yang dikucurkan awal tahun ini dinilai hanya mendongkrak daya beli masyarakat bawah, belum menyentuh kelas menengah.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Diana Dewi, menilai penurunan inflasi inti seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah mengingat dampaknya cukup besar. "Ini dampaknya juga kurang baik," katanya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, mengatakan inflasi inti yang rendah dipengaruhi oleh faktor daya beli yang juga terbatas.









