Lonjakan Harga Beras Memukul Petani
Kendati berstatus sebagai produsen, sebagian petani padi
kesulitan menjangkau beras yang harganya melonjak tinggi belakangan ini.
Sebagian di antara mereka mesti berebut beras murah dalam operasi pasar serta
menjadi sasaran program bantuan pangan dari pemerintah. BPS mencatat, harga
rata-rata beras nasional di tingkat pedagang grosir mencapai Rp 14.397 per kg
pada Februari 2024, tertinggi sejak periode pencatatan Januari 2013. Sementara
pada Jumat (1/3) harga rata-rata nasional beras medium menurut Pusat Informasi
Harga Pangan Strategis mencapai Rp 15.950 per kg, jauh di atas harga eceran
tertinggi beras medium yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 10.900 per kg
hingga Rp 11.800 per kg sesuai zonasi. Situasi itu amat tidak menguntungkan
masyarakat kelas menengah bawah. Mereka menanggung dampak lebih besar
dibandingkan kelompok menengah atas akibat kenaikan harga beras tersebut.
Di antara mereka yang menanggung dampak terbesar itu adalah
petani, buruh tani padi dan pekerja sektor pertanian. Ini karena mayoritas dari
mereka adalah konsumen bersih (nett consumer) beras. Dengan pengeluaran yang
sebagian besar untuk pangan, kenaikan harga beras makin menyulitkan mereka. Untuk
mendapatkan beras dengan harga lebih terjangkau, mereka turut mengincar operasi
pasar beras bersama warga lainnya. Ini membuat beras yang disediakan pemerintah
lewat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) habis dalam hitungan jam,
seperti terlihat di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jatim, Minggu (3/3). Di pasar itu
ada dua agen yang ditunjuk menjual beras SPHP. ”Sekitar pukul 09.30, stok untuk
masyarakat umum sudah terjual habis di dua agen,” kata Koordinator Pasar
Tradisional Wilayah Sidoarjo Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Askud
Hari. Di Pasar Larangan setiap agen dijatah menjual 2.000 kg beras setiap hari
dengan harga Rp 10.900 per kg untuk beras kualitas medium.
Sebagian petani bertahan dengan stok beras sisa panen. Namun,
Ma’ani (40), petani di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon,
Jabar, mulai khawatir tak mampu membeli beras saat stok beras sisa panennya
habis. Pada akhir tahun lalu ia menjual hampir seluruh hasil panennya yang
mencapai 7 ton gabah kering giling (GKG). Ma’ani dan petani di desanya biasanya
sudah bisa menanam padi pada Januari. Namun, hingga akhir Februari 2024, ia
belum bisa menanam disebabkan faktor pengairan karena hujan masih jarang turun.
Nasib serupa dialami sebagian petani di Kabupaten Malang, Jatim. Mundurnya masa
tanam akibat fenomena El Nino tahun lalu berpengaruh terhadap masa panen padi.
Hingga akhir Februari 2024 baru sebagian kecil petani yang panen. Mayoritas
sawah masih menghijau, bahkan ada yang baru ditanami, diolah, atau bera, seperti
di wilayah Kecamatan Singosari, Pakis, Pakisaji, Kepanjen, dan Pagelaran. (Yoga)
Ironi Negeri Agraris, Petani Padi Mengantre Beras Murah
Di bawah terik mentari, puluhan warga termasuk mereka yang
sehari-harinya bertani menanti giliran membeli beras medium dalam operasi pasar
murah di Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jabar, Senin (26/2).
Beras medium seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg yang dijual jauh lebih murah
ketimbang harga beras di pasaran dengan jumlah dan kualitas sama dengan harga Rp
75.000. ”Harga beras (di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Di sini
murah, Rp 10.400 per kg,” kata Rumsi yang datang bersama suaminya. Ia berniat
membeli dua karung beras, sesuai batas maksimal pembelian dalam operasi pasar
murah. Sayangnya, keinginannya belum terwujud. Beras di truk terus menipis,
sedangkan antrean masih panjang. Petugas membatasi pembelian hanya satu karung
per orang. Setidaknya ibu satu anak ini masih berharap membawa pulang satu
karung berisi 5 kg. Namun, ketika mendekati meja pembayaran, Rumsi yang berkeringat
karena kepanasan lagi-lagi kecewa. ”Berasnya habis, Ibu-ibu. Ada juga satu
karung, tapi kemasannya sobek,” kata seorang petugas yang meminta warga membubarkan
barisan.
Sebenarnya ia tidak perlu antre demi membeli beras murah jika
masih menanam padi. ”Pari (padinya) enggak ada. Cuma (tanam) singkong karo
(dengan) kacang panjang dan kangkung. Sudah lama enggak ada padi,” kata Rumsi yang
bertahun-tahun tak lagi memproduksi padi. Lahan keluarganya yang seluas 140
meter persegi itu tidak ditanami padi karena beragam masalah. ”Angel banyue (susah
airnya). Kudu didiesel (harus pakai pompa). Pupuk juga belinya Rp 10.000 per
kg. Kalau (beli) kuintalan, susah,” tutur istri dari penjual papeda keliling
ini. Kuwu (Kepala Desa) Lurah Urip mengakui, daerahnya bukan lagi sentra padi.
Sejak tahun 1990-an, pabrik rotan dan perumahan menjamur di desanya. Sawah
bengkok milik desa yang luasnya 8,5 bahu (5,9 hektar) saja berada di Kaliwedi,
kecamatan tetangga. Itu sebabnya, saat harga beras naik, warganya terdampak.
”Ada juga petani antre (beras),” ujarnya. (Yoga)
BOSP untuk Makan Siang Gratis Ditolak
Wacana penggunaan dana bantuan operasional satuan pendidikan atau
BOSP untuk merealisasikan program makan siang gratis gagasan pasangan calon
presiden dan cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menuai penolakan
dari guru. Mereka khawatir dana BOSP yang difokuskan untuk program makan siang
gratis akan memengaruhi gaji guru dan tenaga kependidikan. Wacana penggunaan
dana BOSP untuk membiayai program makansiang gratis tersebut pertama kali
dilontarkan Menko Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Pengarah Tim
Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Airlangga Hartarto, saat simulasi
program makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Banten, beberapa
hari lalu. Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)
Iman Zanatul Haeri menjelaskan, 50 % lebih dana BOSP dari pemerintah pusat
selama ini digunakan untuk membayar guru dan tenaga kependidikan.
Jika program makan siang gratis mengambil dana itu, sengkarut
masalah kesejahteraan guru makin sulit terselesaikan. ”Ini sama saja dengan memberi
makan gratis siswa dengan cara mengambil jatah makan para gurunya,” kata Iman, Minggu
(3/3). P2G mendesak pemerintah selanjutnya untuk mematangkan program makan
siang gratis tanpa mengutak-atik anggaran pendidikan, termasuk dana BOSP.
Terlebih lagi, sebelum ada wacana program makan siang gratis saja, dana BOSP tahun
lalu sudah pernah dipotong. Iman mencontohkan, setiap siswa SD berhak atas dana
BOSP sebesar Rp 900.000 per tahun atau hanya Rp 2.830 per siswa per hari. Nilai
ini dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan siswa yang semakin besar. ”Artinya,
untuk sepiring nasi anak sekolah seharga Rp 15.000 saja pemerintah belum bisa
memenuhinya. Jadi, tidak bisa diambil dari anggaran BOSP yang sudah jelas-jelas
kurang,” tutur Iman. (Yoga)
Beras yang Tak Beres
Pascareformasi, perhatian terhadap pertanian padi sangat
lemah. Banyak infrastruktur rusak dan rantai pasok tak jelas. Membereskan beras
makin tak mudah. Laporan terbaru menyebut, total potensi produksi beras nasional
pada Maret dan April 2024 mencapai 8,46 juta ton, lebih rendah dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Kendati begitu, Bapanas optimistis jumlah produksi itu
akan menurunkan harga beras. BPS, Jumat (1/3) merilis, potensi produksi beras
Maret dan April 2024 masing-masing 3,54 juta ton dan 4,92 juta ton. Perkiraan
produksi ini dilakukan berdasarkan penghitungan kerangka sampel area pada panenan
Desember 2023 dan Januari 2024 (Kompas, 2/3/2024).
Jika hanya melihat angkanya, laporan tersebut tidak banyak
bermakna selain memberi tahu publik bahwa ada produksi beras sebanyak
angka-angka yang tertera. Harapannya, harga turun ketika pasokan sebanyak itu masuk
ke pasar. Tapi, sesungguhnya angka-angka itu membuat kita perlu bertanya lebih
lanjut soal apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan pertanian padi di Tanah
Air. Angka produksi Maret-April tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu
memberikan peringatan bahwa pasokan 2024 bermasalah. Gangguan cuaca membuat
produksi turun, tapi pertanian padi sesungguhnya dalam masalah pelik. Kita bisa
melihat di berbagai tempat sedang terjadi peralihan fungsi lahan. Pemda mudah memberikan
izin penggunaan lahan untuk kegiatan nonpertanian.
Kota-kota di Jabar tengah berubah. Bekasi telah menjadi kota
metropolitan padahal sekian tahun lalu masih menjadi penghasil beras. Karawang yang
disebut sebagai lumbung beras kini mulai menjadi metropolitan. Di Subang, buruh
tani makin sulit didapat karena mereka telah meninggalkan pertanian. Masalah
lebih kompleks muncul pada sarana dan prasarana produksi pertanian, irigasi, penyuluh,
penanganan pascapanen, perdagangan padi, hingga perdagangan beras di hilir.
Semua memperlihatkan, kita makin kurang memperhatikan pertanian padi.
Pendidikan bidang pertanian kurang diminati anak-anak muda. Kita perlu kembali
berpaling ke pertanian padi. Petani perlu mandiri dengan membangun organisasi
tani yang kuat. Tanpa organisasi tani yang kuat, pertanian padi lemah sehingga
sendi negeri ini keropos karena tak mandiri pangan. (Yoga)
Target Investasi 2025 Hanya Naik Tipis
Pemerintah menetapkan target realisasi investasi yang moderat
untuk tahun 2025, yaitu Rp 1.750 triliun. Laju kenaikannya hanya 6,06 %, jauh
di bawah kenaikan target investasi tahun-tahun sebelumnya yang bisa tumbuh sampai
16-30 % per tahun. Di tengah ketidakpastian domestik dan perlambatan ekonomi
global, pemerintah memilih tidak ambisius. Sebagai perbandingan, pada 2024,
pemerintah memasang target realisasi investasi Rp 1.650 triliun, naik 17,8 % dari
target tahun 2023 senilai Rp 1.400 triliun. Sebelumnya, pada 2023, target
investasi naik 16,6 % dari tahun 2022 yang senilai Rp 1.200 triliun. Pada
2022,target yang dipasang lebih ambisius lagi, yakni naik 33,3 % dari Rp 900
triliun pada 2021.
Investasi memainkan peran penting sebagai salah satu motor
utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Investasi yang biasanya ditunjukkan lewat
kinerja pembentukan modal tetap bruto (PMTB) merupakan kontributor terbesar
kedua terhadap PDB dari sisi pengeluaran setelah konsumsi rumah tangga. Porsi
investasi bisa menyentuh 29-32 % pertumbuhan PDB. Ketika investasi meningkat,
ada penambahan kapasitas produksi dan lapangan kerja pun terbuka lebih banyak.
Hal itu akan berdampak pada menurunnya tingkat pengangguran, menguatnya konsumsi
rumah tangga sebagai motor utama ekonomi Indonesia, dan otomatis mengerek laju
pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, ketika ekspektasi target investasi pada
2025 diturunkan secara signify kan, pertumbuhan ekonomi thun depan pun
diperkirakan bisa ikut melesu.
Kepala Center of Industry, Trade, and Investment di Institute
for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, Minggu
(3/3) mengatakan, target realisasi investasi yang moderat dengan kenaikan hanya
6,06 % sejalan dengan realitas kondisi perekonomian dalam negeri yang masih
tidak pasti akibat transisi pemerintahan. Ia memperkirakan, periode wait and
see investor masih akan berlanjut sampai arah kebijakan pemerintahan berikutnya
terpapar dengan lebih jelas. Ketidakpastian investor itu tergambar dalam
target-target ekonomi yang dipasang pemerintah di masa awal transisi. ”Ini
tantangan yang cukup serius yang akan kita hadapi dari tahun 2024 sampai 2025 selagi
terjadi transisi pemerintahan lama ke baru. Meski arah pemerintahan ke depan adalah
keberlanjutan, sosok pemimpin yang akan memimpin kementerian teknis investasi
bisa saja berdampak pada arah kebijakan investasi yang berbeda,” kata Andry. (Yoga)
Keterampilan Sosial Dorong Pertumbuhan Karier
Keterampilan sosial atau softskill yang dimiliki pekerja
semakin menjadi kebutuhan sentral di tempat kerja. Perusahaan menyadari tugas
yang memerlukan keterampilan sosial manusia tidak dapat digeser dengan teknologi
kecerdasan buatan. Berdasarkan survei oleh LinkedIn dan perusahaan konsultan
riset pasar Censuswide pada 4.323 manajer perekrutan di 18 negara, antara lain,
di Eropa, AS, China, India, dan Indonesia, diidentifikasi sepuluh keterampilan sosial
yang paling dibutuhkan pada 2024. Keterampilan komunikasi menempati urutan
pertama, diikuti oleh keterampilan melayani pelanggan, kepemimpinan, manajemen
proyek, manajemen, analisis, bekerja dalam tim, penjualan (sales), keterampilan
memecahkan masalah, dan keterampilan riset. Survei LinkedIn dan Cencuswide itu
dilakukan 15 Desember 2023 sampai 4 Januari 2024.
Survei juga menemukan bahwa keterampilan sosial akan semakin
menjadi sumber pertumbuhan karier individu. Vice President LinkedIn Aneesh
Raman, dalam blog perusahaan, Minggu (3/3) mengatakan, kolaborasi antarpekerja
juga semakin menjadi pusat pertumbuhan perusahaan, karena itu, sudah saatnya
para pemimpin perusahaan mulai berkomunikasi secara jelas dan penuh empati
kepada anggota tim. Setahun terakhir muncul banyak prediksi yang mengatakan, kecerdasan
buatan akan mengubah pekerjaan. LinkedIn menyoroti, sejalan dengan fenomena
itu, keterampilan sosial berupa kemampuan beradaptasi termasuk keterampilan sosial
permintaannya melonjak.
”Pasar tenaga kerja diisi oleh narasi-narasi kemajuan teknologi
kecerdasan buatan untuk bisnis. Kami menyaksikan, keterampilan sosial yang
dipadukan dengan kemampuan belajar keterampilan teknik (hard-skills) menjadi
semakin penting,” ujar Country Lead LinkedIn Indonesia Rohit Kalsy. Menurut
Rohit, dalam riset LinkedIn dan Cencuswide yang terpisah, keduanya menemukan
bahwa 97 % dari 254 manajer perekrutan di Indonesia yang disurvei pada 15 Desember
2023-4 Januari 2024 memprioritaskan keterampilan sosial itu pada calon
karyawan. Karyawan yang sudah lama bekerja dalam perusahaan juga diharapkan
memiliki keterampilan sosial dan keinginan mempelajari keterampilan teknis
baru, terutama keterampilan teknis yang berhubungan dengan kecerdasan buatan. (Yoga)
Pembatasan Wisman ala Thailand Dinilai Positif
Pemerintah Thailand memperketat kebijakan bagi warga negara
asing yang akan masuk ke negara itu. Upaya ini dinilai sebagai langkah positif
untuk menyeleksi wisatawan sekaligus mencegah perdagangan manusia (human trafficking).
Indonesia bisa meniru langkah ini untuk mendorong pariwisata berkualitas. KBRI
Bangkok, Thailand, menerbitkan imbauan bagi WNI yang melakukan kunjungan bebas
visa ke Thailand. WNI perlu menunjukkan bukti kemampuan finansial untuk menjamin
biaya selama berada di ”Negeri Gajah Putih”. Mengutip laman media sosial KBRI
Bangkok, sejumlah ketentuan harus dipenuhi. Pertama, WNI harus memiliki paspor
yang masa berlakunya paling sedikit enam bulan. Kedua, memiliki bukti tiket
kepulangan, serta bukti pemesanan akomodasi dan bukti finansial selama di
Thailand.
Besarannya tak ditentukan, tetapi diimbau membawa minimal 15.000
baht atau Rp 6,6 juta dengan kurs Rp 438,5 per baht. Ketum Ikatan Cendekiawan
Pariwisata Indonesia Azril Azhari berpendapat, langkah ini merupakan cara Thailand
untuk menyeleksi wisatawan yang berkunjung dan bisa diikuti Indonesia. ”Bukan
pembatasan, tetapi mereka menyeleksi orang-orang yang betul-betul bawa uang,
(wisatawan) berkualitas untuk datang ke Thailand. (Dengan demikian) ini tak menimbulkan
masalah sosial, mengakibatkan masalah hukum, atau kriminalitas,” ujarnya saat
dihubungi dari Jakarta, Sabtu (2/3). Hal serupa disampaikan Ketum Asosiasi Travel
Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno.
”Jadi, lebih terseleksi, terkurasi karena membawa uang cash
(sekitar) Rp 6,5 juta sebenarnya upaya imigrasi Thailand untuk profiling,”
katanya. Sebelum penerapan kebijakan ini, banyak WNI menjadi tenaga kerja Ilegal,
terutama di Kamboja dan negara-negara lain, dengan berkedok wisatawan. Selama
ini mereka mencari celah melewati negara-negara tetangga perbatasan, di
antaranya Thailand, untuk masuk ke Kamboja dan Myanmar.Data KBRI Bangkok menunjukkan,
pergerakan WNI ke Thailand meningkat. Sekitar 762.000 kunjungan tercatat dari
Indonesia ke Thailand pada 2023, meningkat dua kali lipat dibandingkan
kunjungan pada 2022 yang sebesar 355.000 kunjungan. (Yoga)
Berhemat ala Kelas Menengah
Di tengah situasi ekonomi yang masih diselimuti
ketidakpastian dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, kelas
menengah bersiasat untuk bertahan dengan berhemat. Ada sejumlah tips dan trik yang
mereka lakukan untuk berhemat. Novia (33) di Lombok, NTB, berkata “Situasi
ekonomi belakangan ini membuat saya harus memiliki sedikitnya dua pekerjaan.
Pertama sebagai penjual kerajinan rotan, kedua sebagai tutor bahasa Inggris.
Saya bahkan pernah memiliki tiga pekerjaan. Memang tidak mudah, tetapi saya harus
mampu beradaptasi dan mau melakukan hal-hal yang bahkan ada di luar zona nyaman”.
A Wisnu Triyogo (31) Karyawan swasta, di Jakarta, mengatakan “Untuk menghemat,
saya sebisa mungkin makan di rumah dan membawa bekal. Jika lapar lagi, saya lebih
memilih makan di warteg, bukan di mal. Saat harus memesan makanan daring, saya
jadi hitung-hitungan lebih detail saat mau memakai promo yang tersedia. Untuk
keperluan gaya hidup lain pun, seringnya memantau dulu ada promo atau diskon
atau tidak. Yang penting, prinsipnya, lihat dan hitung dulu”.
Saya berhemat dimulai dari hal-hal sederhana. Dalam konteks
bekerja ke kantor, saya selalu membawa bekal sendiri. Ini sekaligus bisa menjaga
asupan makanan sehat dan higienis. Selain berhemat, ya, lebih sehat, juga
makanannya suka sesuai selera saya. Bawa minum sendiri pakai tumbler. Dengan
membawa bekal sendiri, saya bisa menghemat Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per
bulan,” ujar Monavia Ayu Rizaty (28) Jurnalis data di salah satu media Jakarta.
Ivany Atina (30) di Jakarta mengatakan ”Inflasi harga bahan kebutuhan pokok
yang semakin awur-awuran, ditambah adanya pos pengeluaran rutin baru, seperti
biaya sekolah dan biaya les anak, memaksa saya untuk mengencangkan ikat
pinggang dengan mengurangi pengeluaran. Beberapa tahun lalu, dalam sepekan
sekali, saya dan keluarga rutin melakukan leisure activity, dengan makan di
restoran atau staycation di hotel yang bagus. Sekarang, aktivitas leisure belum
tentu sebulan sekali. Saya juga selalu mencatat pengeluaran harian dan
membaginya ke dalam beberapa pos anggaran agar semakin mawas dengan kondisi
keuangan pribadi. (Yoga)
Mimpi Pulau Pasaran Mengekspor Teri
Pulau Pasaran yang terletak di pesisir Bandar Lampung,
Lampung, tepatnya di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur,
selama ini dikenal sebagai sentra produksi ikan teri. Saat ini, pulau seluas 12
hektar itu bertransformasi menjadi kampung nelayan modern dengan berbagai
fasilitas. Mimpi ekspor ikan teri dari Lampung dimulai dari sana. Di bawah
terik matahari, puluhan ibu sibuk memilah ikan teri yang dijemur di atas papan
anyaman bambu, Rabu (7/2). Mereka dengan cekatan mengumpulkan ikan teri
berdasarkan ukurannya. Teri-teri berukuran besar dikumpulkan dalam keranjang
khusus sebelum dikemas dalam plastik. Kesibukan para buruh harian lepas dan
aktivitas pengolahan ikan teri yang dilakukan para nelayan membuat perekonomian
di Pulau Pasaran terus bergerak. Setiap hari, berton-ton ikan teri yang diolah
di pulau tersebut dikirim ke Jakarta untuk selanjutnya dikirim ke daerah lain
di Jawa. Sisanya dipasarkan ke beberapa daerah di Lampung.
Dalam sehari, Pulau Pasaran bisa menghasilkan 6 ton hingga 8 ton
ikan teri. Denyut perekonomian di sentra pengolahan ikan teri terbesar di
Lampung itu semakin terasa dengan berdirinya Sentra Pengolahan Ikan Pulau Pasaran
dengan fasilitas unit pengolahan ikan untuk mendukung peningkatan kualitas dan
hilirisasi produk ikan teri. Di dalamnya terdapat ruang pendingin, rumah pengeringan
ikan, dan alat uji mutu ikan. Semua sistem pengolahan ikan menggunakan standar
ekspor. Selain itu, terdapat juga sentra kuliner yang menjual berbagai produk
ikan teri kemasan dan berbagai produk olahannya, seperti keripik teri, peyek
teri, sambal teri, atau teri goreng. Saat meresmikan Sentra Pengolahan Ikan
Pulau Pasaran sebagai kampung nelayan modern pada 7 Februari 2024,
Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP
Budi Sulistyo mengatakan, pembangunan fasilitas unit pengolahan ikan diharapkan
dapat mendorong kegiatan ekspor ikan teri dari Pulau Pasaran. Selain membangun
infrastruktur, pemerintah juga telah memberikan pendampingan untuk meningkatkan
kompetensi masyarakat. Pemerintah juga telah membantu untuk melakukan pengujian
sampel ikan teri hingga sesuai dengan standar untuk bisa diekspor. Ketua
Koperasi Produsen Nelayan Kalaju Pulau Pasaran Said menuturkan, saat ini pihaknya
dibantu pemerintah sedang menjajaki kerja sama untuk bisa mengekspor ikan teri
langsung dari Lampung. Selama ini, sebagian besar ikan teri dari Pulau Pasaran
hanya dikirim ke Jakarta. Ke depan, ia berharap Pulau Pasaran tidak hanya
dikenal sebagai sentra ikan teri di Lampung, tetapi juga dikenal sebagai daerah
pengekspor ikan teri dengan kualitas terbaik. ”Kami sedang mencari pembeli dari
beberapa negara tetangga, seperti Malaysia,” kata Said. (Yoga)
Mereka yang Tetap Tertinggal
Lonjakan harga beras belum sepenuhnya menguntungkan petani. Alih-alih
menikmati cuan, mereka malah terancam kehabisan beras. Cadangan gabah petani
mulai menipis, sedangkan masa panen masih berbulan- bulan lagi. Bahkan, sebagian
petani harus mengantre beras murah. Rumsi (47) melangkahkan kakinya pelan saat
antrean panjang mulai bergerak di halaman Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Cirebon,
Jabar, Senin (26/2). Di bawah terik mentari, puluhan warga menanti giliran
membeli beras medium dalam operasi pasar murah. Kegiatan yang digelar Pemkab
Cirebon dan Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon itu menjajakan beras medium
seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg, jauh lebih murah ketimbang harga beras di
pasaran dengan jumlah dan kualitas sama yang lebih dari Rp 75.000. ”Harga beras
(di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Kalau di sini murah, Rp
10.400 per kg,” kata Rumsi.
Merujuk data BPS, harga beras di tingkat perdagangan besar
pada Februari 2024 rata-rata Rp 14.397 per kilogram, naik 5,95 % dari bulan sebelumnya.
Pada kurun yang sama, NTP tanaman pangan juga meningkat, tetapi lebih kecil, yakni
3,56 %. Saat harga beras naik, tak lantas diikuti naiknya NTP. NTP tanaman
pangan pun relatif lebih rendah dari subsektor pertanian lain, sebut saja
hortikultura dan perkebunan. Kondisi ini makin menambah sesak hidup para petani
yang selama ini tidak berdaya. Di antara semua lapangan pekerjaan, mereka yang
mengabdi di dunia pertanian selalu pada posisi tertinggal. BPS mencatat,
rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki usaha pertanian adalah Rp 1,59
juta per bulan pada Agustus 2023. Sementara itu, penghasilan sektor industri dan
jasa sebesar Rp 1,79 juta dan Rp 2,25 juta per bulan. Upah para pekerja pertanian
pada periode yang sama tercatat Rp 2,37 juta per bulan. Terendah kedua setelah sektor
jasa lainnya, dan di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per
bulan.
Secara harian, nominal upah buruh tani tercatat terus meningkat.
Sayangnya, upah riil yang diterima, yang sudah disesuaikan tingkat konsumsi
petani, justru kian turun dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi ironi lantaran
para petani sejatinya bagian dari penyumbang terbesar perekonomian nasional.
Dari Rp 11.763 triliun PDB pada 2023, sekitar 12,4 % dari sektor pertanian.
Seperlima bagian disumbang subsektor tanaman pangan yang memproduksi padi.
Tampak para petani berperan besar terhadap perekonomian makro. Naasnya, posisi
mereka justru tidak diuntungkan. Malah sebaliknya, terjebak dalam kemiskinan.
Data BPS menunjukkan, 48,86 % penduduk miskin pada Maret 2023 merupakan rumah
tangga yang bekerja di sektor pertanian. (Yoga)









