Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Targetnya Muluk-Muluk, Programnya Mirip-Mirip
Menyiasati Krisis Minyak Mentah Global
Pertikaian antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza memicu risiko geopolitik di pasar keuangan berikut proyeksi bakal meroketnya harga minyak mentah global sejak invasi Rusia ke Ukraina. Eskalasi konflik yang terus memanas dikhawatirkan banyak negara bakal memengaruhi rantai pasok dan pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Indonesia, misalnya, menjadi salah satu negara yang mewaspadai risiko konflik karena banyak mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2022, Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 4,19 juta ton dari Arab Saudi, senilai US$3,12 miliar. Selain dari Arab Saudi, Indonesia juga mendatangkan minyak mentah dari Nigeria, Angola, Gabon, Aljazair, dan Azerbaijan.
Pemerintah langsung menjajaki peluang impor minyak mentah dan BBM di luar negara-negara penjual tradisional. Manuver pemerintah untuk menjajaki peluang impor dari sejumlah negara baru menjadi krusial untuk mengantisipasi dampak kurangnya pasokan dan melambungnya harga minyak sepanjang akhir tahun ini.
Secara menyeluruh, pemerintah turut menyiasati ketidakpastian global tersebut melalui pengelolaan migas dari sektor hulu hingga hilir. Beberapa strategi tersebut a.l. Pemerintah berupaya keras meningkatkan cadangan dan produksi migas melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Dalam hal ini, pemerintah memberikan fleksibilitas pemilihan jenis kontrak kerja sama baik berupa PSC Cost Recovery atau Gross Split kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Pemerintah juga terbuka untuk memberikan perbaikan syarat dan kondisi kontrak kerja sama. Strategi selanjutnya adalah mengakselerasi sejumlah proyek di wilayah kerja migas Indonesia, semberi mengoptimalisasikan pemanfaatan gas domestik.
Cadangan energi hijau yang sedemikian tumpah ruah di Tanah Air menjadi bekal untuk menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga kelancaran distribusi energi pada industri dan masyarakat.
Terumbu Karang Bontang Datangkan Ketenangan hingga Cuan
Yusta (36), warga Kelurahan
Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim, memperlihatkan daftar berisi 17 orang di
telepon genggamnya, semuanya warga Bontang Kuala yang pernah dan masih aktif
melakukan pengeboman terumbu karang. ”Sebanyak 12 orang di antaranya sudah
bergabung dengan kami. Masih ada lima lagi yang tengah dibujuk untuk meninggalkan
bom dan racun ikan,” kata Yusta, kini sebagai Ketua Kelompok Konservasi Terumbu
Karang Bontang Kuala (Karaka), Sabtu (21/10). Anggota Karaka, semua warga
Bontang Kuala yang aktif merawat terumbu karang di Tobok Batang. Letaknya di Selat
Makassar, berjarak 2 kilometer dari rumah mereka. Sebelum membentuk Karaka, semua
anggota mencari ikan dengan bom. Aktivitas yang dilakukan secara turun-temurun
itu belakangan membuat mereka berhadapan dengan hukum karena merusak ekosistem
laut. Setelah paham bom menghancurkan masa depan, mereka berubah.
Mereka merasakan sendiri
kerusakan terumbu karang akibat bom, sejalan dengan semakin sulitnya nelayan
mencari ikan. Tak jarang nelayan Bontang harus melaut hingga Kutai Timur,
sekitar 1 jam dari Bontang, atau setara 20 liter solar. Untuk menghemat ongkos,
mereka menginap dan meninggalkan keluarga ketimbang pergi-pulang. ”Jauh-jauh
melaut hanya dapat Rp 2 juta per minggu. Sampai di rumah, setelah dipotong ongkos
solar dan makan, tinggal Rp 200.000,” katanya. ”Konservasi terumbu karang
menjadi jembatan mengerjakan berbagai hal baru. Kami ingin terus belajar agar
semakin banyak membuka peluang baru berkelanjutan,” katanya. Salah satu anggota
Karaka, Said Ahmad Rafi (33), merasakan kegiatan pelestarian terumbu karang
sebagai terapi lepas dari trauma. Saat masih mengebom ikan, hidupnya tidak
tenang karena khawatir ditangkap aparat. Kini, ia aktif mengonservasi terumbu
karang dan menjadi pencari lobster. ”Semoga (terumbu karang yang dikonservasi)
bisa menjadi rumah bagi ikan. Bila makin banyak ikan, yang untung nelayan
juga,” katanya. (Yoga)
Gotong Royong Percepat Penanganan Tengkes
Wapres Ma’ruf Amin menyatakan pemerintah memprogramkan percepatan penurunan tengkes (stunting) lima tahun terakhir sejak 2018. Berbagai upaya ditempuh, mulai dari penajaman, perbaikan cakupan dan mutu intervensi spesifik, hingga perbaikan sistem pendataan dan pelaporan. Pemerintah memastikan keterlibatan lembaga nonpemerintah seperti dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi profesi. Selain itu, perlu keterlibatan lembaga filantropi, mitra pembangunan, dan lembaga swadaya masyarakat. ”Saya mengapresiasi Kadin dan kelompok Kompas Gramedia atas komitmennya terlibat mempercepat penurunan stunting (tengkes),” ujar Wapres, saat pencanangan gerakan Bersama Entaskan Stunting (Beres) kerja sama Kadin Indonesia dengan Kompas Gramedia di Studio Kompas TV, Jakarta, Kamis (26/10).
Menurut Wapres, program yang dilakukan mesti melengkapi program pemerintah. Koordinasi intensif dengan kementerian, lembaga teknis, dan pemerintah daerah diperlukan untuk menghindari tumpang tindih antarprogram. Selain itu, program harus dilaksanakan di lokasi prioritas tinggi prevalensi tengkes atau gagal tumbuh kembang karena kurang gizi agar dapat membantu menurunkan prevalensi secara signifikan dan tepat sasaran. Program berupa aksi nyata menyasar kelompok prioritas sehingga manfaatnya dirasakan langsung kelompok tersebut. Selain itu, ”Tempatkan penerima manfaat dan pelaku sebagai pelaku utama pelaksanaan program agar muncul rasa memiliki dan kebanggaan dari masyarakat,” kata Wapres. Wapres menegaskan, mulai tampak penurunan prevalensi tengkes melalui program yang dijalankan selama ini. ”Prevalensi stunting bisa diturunkan sebesar 9,2 % dalam empat tahun, setara 2,6 juta anak yang dientaskan dari stunting,” katanya. (Yoga)
Subsidi Energi Bisa Membengkak
Berdasarkan kalkulasi Kemenkeu, kenaikan harga minyak mentah dunia masih berada dalam koridor skenario APBN. Namun, pemerintah tetap mengantisipasi agar kombinasi antara tren kenaikan harga minyak dunia dan depresiasi nilai tukar rupiah tidak membebani keuangan negara. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak global mulai pertengahan tahun ini kembali merangkak naik. Pada awal September, harga minyak mentah jenis Brent meningkat hingga lebih dari 90 USD per barel. Per 25 Oktober 2023, harganya 89 dollar AS per barel.
Dirjen Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia, dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, masih berada dalam estimasi skenario harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). ”Sampai saat ini pergerakan harga minyak masih berada dalam koridor asumsi ekonomi makro. Mudah-mudahan nilai minyak dunia tidak melonjak terlalu tinggi,” ujar Isa di Jakarta, Kamis (26/10). Harga minyak mentah Indonesia hingga September 2023 yang digunakan pemerintah secara rata-rata masih 77,7 USD per barel, jauh lebih rendah dari asumsi APBN 2023 yang mencapai 90 USD per barel. Karena itu, dari sisi ini, Kemenkeu, menurut dia, belum melihat akan terjadi lonjakan subsidi dan kompensasi BBM. ”Tapi, kalau kita tidak kendalikan, lebih kemungkinan akan ada di atas (alokasi). Jadi, kemungkinan kenaikan subsidi dan kompensasi terutama karena depresiasi rupiah. Itu yang perlu kita waspadai,” ucap Isa. (Yoga)
Reklamasi Jadi Bagian Perencanaan Tambang
Parkir untuk Pendapatan Daerah
Perparkiran di Jakarta yang
dikelola oleh Unit Pengelola Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta bekerja
sama dengan swasta memiliki potensi besar untuk pendapatan daerah jika terkelola
optimal. Namun, di lapangan, banyak lahan diakuisisi sepihak menjadi ladang
parkir oleh sekelompok warga atau organisasi masyarakat. Akuisisi lahan menjadi
tempat parkir tak resmi ini sering kali membuat warga kesal. ”Ini bukan perkara
Rp 2.000, tetapi kesal karena ujug-ujug
menghampiri kita. Padahal, kita parkir sendiri, keluarin sepeda motor sendiri. Lalu,
itu enggak ada kartu karcis resmi. Saya menolak. Dia (juru parkir) enggak terima,
memaksa harus bayar,” ujar Cahyo Anggoro (27), warga Petamburan, Jakpus, Rabu
(25/10). Kekesalan serupa dirasakan Ahmad Yudo (37), warga Kebon Jeruk. Ia
menilai, perlu regulasi yang mengatur ketat agar tidak semua tempat ditarik
tarif parkir secara ilegal. Pemerintah seharusnya perlu menyediakan lahan parker
resmi.
Merujuk pada laporan dalam
Portal Data Terpadu Pemprov DKI Jakarta, terdapat 762 ruas jalan lokasi parkir
yang dikelola Unit Pengelola Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta pada
2018. Selain itu, terdapat 201 mesin terminal parkir elektronik (TPE).
Mesin-mesin ini tersebar di 33 titik se-Jakarta. Namun, di lapangan tetap saja
lahan parkir liar beserta juru parkir ilegal ada di mana-mana. Selain semrawut,
uang dari parkir liar tak masuk pendapatan daerah. Sistem integrasi seluruh kanal
aduan warga, Cepat Respons Masyarakat (CRM) Jakarta, mencatat total 11.231
laporan parkir liar dalam kurun Januari-Oktober 2023. Azas Tigor Nainggolan
dari Forum Warga Kota Jakarta menyebutkan, potensi retribusi dari parkir liar
di badan jalan bisa mencapai Rp 92 miliar per tahun. Sayangnya, uang ini
mengendap di orang-orang tertentu. Padahal, potensi sebesar itu bisa untuk membiayai,
memperbaiki, atau menyubsidi infrastruktur publik. (Yoga)
MEMBALIK ‘TULAH’ TAHUN POLITIK
Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 makin dekat. Kemarin, Rabu (25/10), salah satu tahapan penting dalam agenda politik lima tahunan itu, yakni pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) telah selesai.Dus, sejumlah kalangan pun mengingatkan pemerintah untuk makin taktis dalam merumuskan kebijakan fiskal penopang ekonomi. Sebab, berkaca pada penyelenggaraan pemilu-pemilu sebelumnya, pertumbuhan ekonomi cenderung loyo saat pesta demokrasi digelar.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang direkapitulasi Bisnis, terakhir kali pemerintah berhasil menaikkan laju ekonomi pada tahun politik pada 2004.Selama tiga pemilu setelahnya pertumbuhan ekonomi selalu mencatatkan penurunan.
Di antaranya momok inflasi yang kembali menghantui pascaketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berlarut.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, tak memungkiri adanya aral yang bakal mengganjal gerak roda ekonomi pada tahun depan. Terlebih, kendala itu muncul setelah pemerintah menyelesaikan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.
"APBN 2024 sudah ditetapkan, dan akan kita jalankan. Tetapi kita terus lakukan kalibrasi terhadap kondisi ekonomi, karena itu kita beri penguatan melalui bantuan sosial," ujarnya, Rabu (25/10).
Sementara itu, prospek konsumsi rumah tangga sedikit suram karena adanya ancaman infl asi. Mesin lain yang tersendat adalah ekspor, yang sensitif dengan dinamika ekonomi dunia. Pendorong lain adalah investasi. Namun, pemilu acapkali memaksa pengusaha wait and see.Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa minat investor terutama asing terhadap Indonesia masih amat tinggi.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Carmelita Hartoto, menjelaskan stabilitas politik memiliki keterkaitan yang erat dengan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, ketika stabilitas politik terganggu akan menekan laju ekonomi. Selain mengharapkan stabilitas, pebisnis juga tengah mewaspadai resiko jatuhnya nilai tukar rupiah, yang makin tertekan bila terjadi ketidakstabilan politik.
Gerak Maju Ekonomi Syariah
Peran dan keberadaan ekonomi syariah nasional saat ini seperti kurang mendapatkan perhatian publik. Eksistensi ekonomi syariah nyata tetapi seakan tak dilirik. Banyaknya tantangan membuat pencapaian ekonomi syariah harus diakui belum optimal. Tantangan-tantangan tersebut berupa pertumbuhan usaha syariah yang relatif rendah, pangsa pembiayaan syariah yang masih kecil, dan tingkat literasi masyarakat terhadap ekonomi syariah yang masih rendah. Dengan kekuatan penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia hanya menempati posisi keempat pada The Global Islamic Economy Indicator dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2022 yang diluncurkan DinarStandard. Posisi Indonesia tertinggal di bawah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Ekosistem halal dan ekonomi syariah modern yang dikembangkan Malaysia yang menempati urutan pertama, bisa menjadi pelajaran pembanding buat negara kita. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi syariah merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka pembangunan Indonesia. Sebenarnya implementasi ekonomi syariah nasional selama ini telah berjalan meski dengan gerak yang begitu-begitu saja. Cepat tidak, lambat pun tak demikian. Perbankan syariah nasional memang terus mencatatkan perkembangan yang baik. Pangsa pasarnya pun telah meningkat meskipun hanya sekitar 7% dari total industri perbankan. Namun, total aset keuangan syariah yang mencapai Rp2.375,8 triliun relatif membanggakan dan haruslah menjadi pelecut untuk peningkatan sektor usaha lainnya. Industri makanan minuman, fesyen, farmasi, kosmetik, dan pariwisata merupakan segmen usaha ekonomi halal yang dapat ditumbuhkembangkan lebih pesat lagi. Dukungan kemudahan berusaha, termasuk sertifikasi halal dan kemudahan ekspor bagi UMKM industri halal bisa menjadi wujud komitmen pengembangan ekonomi syariah nasional. Prospek ekonomi syariah saat ini tidak saja untuk kebutuhan pasar muslim domestik, tetapi juga untuk memenuhi permintaan pasar halal global. Apresiasi juga layak diberikan kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang aktif mendorong pengembangan ekonom syariah nasional. Wapres Ma’ruf Amin pun termasuk pihak yang getol memacu pembentukan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) sebagai orkestrator di tingkat wilayah. Ini merupakan inisiatif yang sangat baik. Kita pun mendukung tiga program kunci kebijakan pemerintah untuk pengembangan ekonomi syariah agar lebih optimal, yaitu kebijakan pengembangan ekosistem halal yang mengedepankan kualitas, kebijakan penguatan intermediasi pembiayaan, serta kebijakan penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah.
Tantangan Ekosistem Bursa CPO
Bursa Crude Palm Oil (CPO) sudah masuk perdagangan perdana pada 20 Oktober 2023. Di sesi I peluncuran, hanya dua perusahaan yang terlibat dari 18 perusahaan yang mengungkapkan kesiapannya masuk di Bursa. Sebagai peluncuran awal, tentu tidak ada yang perlu dirisaukan karena ini produk baru di Indonesia. Keberhasilan peluncuran bursa ini saja sudah menjadi sesuatu hal yang patut diapresiasi mengingat selama puluhan tahun harga acuan komoditas CPO kita merujuk pada price di Bursa Malaysia dan Forward Rotterdam, Belanda. Harapannya pengusaha sawit dalam negeri mulai yang besar sampai kecil mau ikut sekalipun tidak ada aturan yang mewajibkan mereka (sifatnya sukarela) sebagaimana ketentuan Peraturan Bappebti No. 7/2023 tentang Tata Cara Perdagangan CPO di Bursa Berjangka. Kesukarelaan ini akan diuji sejauh mana pelaku usaha kita bersedia berpartisipasi dalam Bursa CPO dan pemerintah berperan penting meyakinkan mereka dengan berbagai insentif, kemudahan ekspor dan sebagainya. Kalau ini berjalan maka inilah sesungguhnya (salah satu) wujud konkret ajaran Trisakti Soekarno ‘Berdikari dalam Ekonomi’. Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia—lebih dari 50% kebutuhan CPO global dipasok dari Indonesia. Dengan hadirnya Bursa CPO, Indonesia bisa menentukan harga acuan sendiri dan itulah kedaulatan yang sesungguhnya. Tentu butuh waktu agar Bursa CPO menjadi barometer harga acuan internasional. Sebagaimana Belanda dan Malaysia atau negara lain itu butuh 40 tahun bahkan 100-an tahun dalam membangun kepercayaan pasar. Ada berbagai isu yang menjadi tantangan terutama bagi Kemendag, Bappebti, dan pengusaha sawit. Pertama, dari sisi hukum, yaitu law enforcement akan memberikan kepastian hukum menjadi perihal pokok untuk membangun kepercayaan. Kedua, menggaet pengusaha agar mau masuk ke bursa CPO kita bukan perkara mudah, sehingga pemberian insentif fiskal seperti pengurangan pajak, ekspor bea dan beragam kemudahan lain sangat diperlukan. Ketiga, perbaikan tata kelola, misalnya di bagian hulu bagaimana pelaku usaha bisa mendapatkan harga yang adil dan transparan secara real time. Keempat, melakukan sosialisasi dan literasi kepada pengusaha—pemilik pabrik besar maupun UMKM pabrik kelapa sawit perihal aturan-aturan Bursa CPO maupun mekanisme perdagangan di Bursa CPO. Kelima, Bappebti harus memastikan bahwa prinsip perdagangan di bursa CPO antara penjual dan pembeli setara. Keenam, selama ini pola perdagangan sawit Indonesia adalah business to business. CPO yang diperdagangkan lewat lelang relatif masih kecil.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









