;

Subsidi Energi Bisa Membengkak

Subsidi Energi
Bisa Membengkak

Berdasarkan kalkulasi Kemenkeu, kenaikan harga minyak mentah dunia masih berada dalam koridor skenario APBN. Namun, pemerintah tetap mengantisipasi agar kombinasi antara tren kenaikan harga minyak dunia dan depresiasi nilai tukar rupiah tidak membebani keuangan negara. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak global mulai pertengahan tahun ini kembali merangkak naik. Pada awal September, harga minyak mentah jenis Brent meningkat hingga lebih dari 90 USD per barel. Per 25 Oktober 2023, harganya 89 dollar AS per barel.

Dirjen Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia, dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, masih berada dalam estimasi skenario harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). ”Sampai saat ini pergerakan harga minyak masih berada dalam koridor asumsi ekonomi makro. Mudah-mudahan nilai minyak dunia tidak melonjak terlalu tinggi,” ujar Isa di Jakarta, Kamis (26/10). Harga minyak mentah Indonesia hingga September 2023 yang digunakan pemerintah secara rata-rata masih 77,7 USD per barel, jauh lebih rendah dari asumsi APBN 2023 yang mencapai 90 USD per barel. Karena itu, dari sisi ini, Kemenkeu, menurut dia, belum melihat akan terjadi lonjakan subsidi dan kompensasi BBM. ”Tapi, kalau kita tidak kendalikan, lebih kemungkinan akan ada di atas (alokasi). Jadi, kemungkinan kenaikan subsidi dan kompensasi terutama karena depresiasi rupiah. Itu yang perlu kita waspadai,” ucap Isa. (Yoga)

Tags :
#subsidi #Energi
Download Aplikasi Labirin :