Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Kepastian Hukum demi Stabilitas Bisnis
Kepastian hukum masih
menjadi momok bagi dunia usaha dalam melakukan ekspansi ataupun menggenjot
investasi. Padahal, stabilitas dunia usaha di dalam negeri merupakan ”suplemen”
untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional dari tren pelemahan ekonomi
global. Vice CEO PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto mengungkapkan, pada
dasarnya pengusaha bersemangat mengembangkan usaha di Indonesia. Namun, masih
ada kendala, terutama di sisi kepastian hukum yang harus terus dibenahi untuk
mendorong investasi.
”Untuk menuju Indonesia emas,
selain pengembangan infrastruktur dan SDM, dunia usaha juga perlu kepastian
hukum,” ujar Anne dalam dialog bersama Presiden yang menjadi acara puncak
Kompas100 CEO Forum Powered by PLN di kawasan glamping IKN, Penajam Paser
Utara, Kaltim, Kamis (2/11). ”Karena semua yang dunia usaha butuh kepastian
hukum. Jangan sampai pengusaha yang niatnya berusaha terseret masalah hukum,”
lanjutnya. (Yoga)
Tiktok Melarang Penggalangan Dana Kampanye lewat Aplikasi
Platform media sosial
Tiktok menekankan, iklan politik, termasuk iklan berbayar ataupun kreator, yang
dibayar untuk membuat konten dengan elemen merek politik dilarang di platform
tersebut. Penggalangan dana kampanye dalam platform juga dianggap sama seperti
iklan politik sehingga dilarang. Semua kebijakan tersebut dilakukan karena
Tiktok ingin menegakkan tujuan awal platform didirikan. Perusahaan menyatakan,
tujuan menciptakan platform Tiktok sebagai tempat menyatukan semua orang. Selain
kebijakan iklan politik, Tiktok juga akan menonaktifkan akses ke fitur iklan
politik yang teridentifikasi sebagai akun milik pemerintah, politikus, atau
partai politik
Public Policy and
Government Relations TikTok Indonesia, Faris Mufid, dalam acara temu media di
kantor TikTok di Singapura, Kamis (2/11) menyebutkan, setidaknya ada 13
kategori yang dianggap sebagai akun pemerintah, politikus, dan partai politik
(GPPPA) itu. Misalnya, kategori juru bicara resmi, anggota staf senior, atau
pimpinan eksekutif di sebuah partai politik. Lalu, kategori calon pejabat dan
pejabat terpilih di tingkat negara bagian/provinsi dan lokal sebagaimana
ditentukan kebijakan publik regional. Selanjutnya, kategori mantan pemimpin
negara bagian/ketua pemerintahan. Ada pula kategori entitas yang dikelola
pemerintah nasional/federal, seperti badan/kementerian/kantor.
”Kami juga melarang
mereka melakukan promosi mandiri. Akun GPPPA juga tertutup untuk fitur gift,”
ujar Faris. Terkait iklan kementerian, Faris menjelaskan bahwa Tiktok masih
membolehkan ada di platform sepanjang itu bersifat layanan publik. Pada waktu pandemi
Covid-19, Tiktok mendedikasikan informasi berhubungan dengan layanan public terkait
penanganan pandemi. Apabila pemengaruh dan pendengung tertentu ingin pasang
iklan politik, Tiktok juga akan melarangnya. Akan tetapi, jika pemengaruh dan
pendengung tertentu membuat konten dengan tema politik, itu masih diperbolehkan
sepanjang tidak melanggar Panduan Komunitas Tiktok. (Yoga)
Ketua Apindo Pimpin Aliansi Investor Global
Penggerak Roda Ekonomi di Tahun Politik
Angin sakal ekonomi, belum juga mereda. Potensi pertumbuhan ekonomi yang seharusnya terjadi di tahun politik karena dorongan konsumsi, berbenturan dengan eskalasi politik dan ketidakpastian ekonomi yang tengah terjadi saat ini. Akankah setiap musim Pemilu, kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) nasional selalu dirundung tulah? Itulah sekelumit kegelisahan yang terpantik, saat membaca judul artikel harian Bisnis Indonesia edisi 26 Oktober 2023 “Membalik Tulah Tahun Politik” Dus, sejak Pemilu 2004—2019, pertumbuhan ekonomi selalu memperlihatkan kinerja melambat dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, idealnya, sepanjang Pemilu, sejatinya konsumsi pemerintah dan konsumsi Rumah Tangga (RT) menderukan mesin ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi melaju di tahun-tahun politik tersebut. Namun, pada kenyataannya, bak jauh panggang dari api. Dari data kinerja ekonomi yang dipaparkan Bisnis Indonesia, grafik pertumbuhan ekonomi selalu melambat sejak Pemilu 2004—2019. Jika kita menengok ke belakang, kontribusi konsumsi Rumah Tangga (RT) dan konsumsi pemerintah terhadap PDB, pun selalu mengalami koreksi di tahun politik. Hal ini menunjukkan ada faktor-faktor politik yang memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, seperti ketidakpastian, eskalasi politik, atau kekhawatiran terkait dengan hasil Pemilu dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Konsumsi RT merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi RT menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia, yaitu sekitar 56%. Namun, porsi konsumsi RT terhadap PDB terus menurun dari tahun ke tahun, dari 61,6% pada 2004 menjadi 51,5% pada 2019. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah adanya siklus politik lima tahunan yang berdampak pada dinamika konsumsi masyarakat. Dari dalam negeri, fluktuasi pasar juga terlihat dari arus modal keluar (capital outflow) dan tekanan terhadap saham yang masih terombang ambing dengan IHSG di bawah 7.000. Kurs Rupiah yang bergerak tembus level psikologis baru Rp16.000/US$ adalah impak dari ketidakpastian ekonomi saat ini. Dari krisis geopolitik Rusia-Ukraina dan Israel Palestina yang meluas ke kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga minyak mentah dunia (crude price), fluktuasi harga pangan dan kebijakan suku bunga global (policy rate) adalah gambaran kondisi yang mencemaskan. Jalur transmisi dari momok ketidakpastian tersebut, berdampak pada ekspektasi inflasi dan terkereknya suku bunga kebijakan dalam negeri yang berkonsekuensi pada mahalnya beban pembiayaan usaha ke depan. Sementara dari sisi kebijakan moneter, diarahkan untuk menjaga stabilitas. Inflasi terkendali dalam sasaran 3%±1%, adalah bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan makroprudensial, yang longgar melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi intermediasi sektor perbankan untuk mendukung realisasi kredit ke sektor produktif untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi.
Deru Akselerasi Fasilitas di Ibu Kota Baru
Wajah ibu kota baru
Indonesia dalam waktu dekat ditargetkan lebih terlihat nyata. Pembangunan berbagai
fasilitas di Ibu Kota Nusantara terus diakselerasi. Mulai dari rumah sakit,
sekolah, apartemen dan hotel, hingga pusat perbelanjaan dibangun. Begitu pula
kantor-kantor pemerintahan, seperti Istana negara, kantor kementerian/lembaga,
serta infrastruktur dasar berupa jalan, bandara, dan bendungan. Sepanjang Rabu
(1/11/2023), Presiden Jokowi meresmikan dimulainya pembangunan Bandara Internasional
IKN, Mayapada Hospital Nusantara, RS Hermina Nusantara, kawasan campuran superblok
Pakuwon Nusantara, Nusantara Intercultural School, dan Sekolah Dasar Negeri 020
Sepaku. Presiden juga meresmikan dimulainya pembangunan jalan tol untuk
mempercepat waktu tempuh dari Balikpapan ke IKN.
”Fasilitas-fasilitas yang
diinginkan masyarakat, warga Nusantara nantinya, seperti rumah sakit, sudah ada
tiga. Kemudian, sekolah sudah ada, tadi kita letakkan batu pertama. Hotel saya
enggak tahu sudah berapa, empat atau lima... (ternyata) empat. Mal sudah dua,”
tutur Presiden Jokowi, di kawasan IKN. Sejumlah fasilitas, seperti bandara dan
tol bahkan ditargetkan tuntas pada Juni 2024. Kerja-kerja akselerasi pun dilakukan.
Bandara Internasional IKN dibangun di atas lahan seluas 347 hektar dengan
landas pacu 3.000 meter dan lebar 45 meter. Dengan kapasitas ini, bandara bisa
didarati pesawat berbadan besar, seperti Boeing 777-300 ER dan Airbus A380. ”Dilengkapi
terminal seluas 7.350 meter persegi sehingga penumpang bisa dilayani dengan
nyaman dan akan membuat kawasan IKN terbuka dan memiliki konektivitas baik dan
mudah dijangkau dari mana pun,” tutur Presiden. (Yoga)
Membalikkan Deindustrialisasi
Indonesia menargetkan
jadi negara maju pada 2045. Namun, hingga kini kita belum mampu membalikkan tren
deindustrialisasi yang terjadi 20 tahun terakhir di manufaktur. Secara umum,
seperti dilaporkan BI, kinerja industri pengolahan pada triwulan III-2023 masih
meningkat dan berada pada fase ekspansi. Ini tecermin dari Prompt Manufacturing
Index BI yang di atas 50 %, naik dari triwulan sebelumnya. Demikian pula, tahun
lalu ekspor terus meningkat, pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah,
yakni 27,91 miliar USD pada Agustus 2023. Namun, semua itu tidak mewakili
gambaran utuh industri manufaktur kita. Lonjakan ekspor tersebut lebih dipicu
kenaikan harga komoditas, seperti minyak mentah, CPO, karet, timah, tembaga,
dan batubara, sejalan dengan melonjaknya harga-harga di pasar dunia karena
disrupsi rantai pasok global akibat perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Setelah
itu, ekspor kembali melandai dan relatif stagnan, sejalan dengan mulai
meredanya tekanan harga di tingkat global.
Faktanya, jika dicermati,
apa yang kita sebut sebagai fenomena deindustrialisasi dini masih terus
berlanjut di Indonesia. Hal ini setidaknya tecermin dari kontribusi manufaktur
yang terus menurun dan pertumbuhan manufaktur yang lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan ekonomi kita. Kondisi ini terjadi sejak 2012 dan belum mampu kita
balikkan hingga kini. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi 5,31 %, sementara industri
manufaktur hanya tumbuh 4,89 %. Penyusutan industri manufaktur itu semakin
terlihat terutama delapan tahun terakhir. Ini juga pemicu kian menurunnya
kemampuan penyerapan tenaga kerja kita. Pertumbuhan disebut inklusif dan
berkualitas jika mampu menyerap banyak tenaga kerja, terutama dari kelompok
usia yang kita harapkan akan menjadi penyokong bonus demografi kita untuk bisa
membawa kita ke Indonesia Emas 2045. Untuk bisa membalikkan keadaan yang kurang
menguntungkan ini, kuncinya, benahi problem struktural yang membuat manufaktur
kita susah naik kelas. Kebijakan strategis untuk membuat terobosan dan lompatan
menjadi penting. (Yoga)
Menjadi Tua Sebelum Kaya
Tulisan di The Economist bertajuk
”Poor Asian Countries Face An Ageing Crisis”, 12 Oktober 2023, menyebutkan,
penduduk Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia menjadi
tua sebelum menjadi kaya. Untuk memahami potensi buruknya masalah ini, The
Economist memberikan ilustrasi perbandingan transformasi yang terjadi di
Thailand dengan negara-negara lain yang terkenal dengan populasinya yang mulai
menua. Antara tahun 2002 dan 2021, jumlah penduduk Thailand berusia 65 tahun ke
atas meningkat dari 7 % jadi 14 %. Transisi yang sama memakan waktu 24 tahun
bagi Jepang, AS 72 tahun, dan Perancis 115 tahun. Tidak seperti negara-negara tersebut,
Thailand menjadi tua sebelum menjadi kaya. PDB per kapita Thailand pada 2021
adalah 7.000 USD.
Ketika populasi Jepang
memiliki usia yang sama, pada tahun 1994, PDB per kapita mereka hampir lima
kali lipat lebih tinggi. Permasalahan yang terjadi di Thailand itu menggaris bawahi
bahwa tren regional memiliki signifikansi ekonomi dan sosial yang sangat besar.
Kekayaan orang Vietnam sekitar setengah kekayaan orang Thailand. Penduduk Vietnam
dan Thailand mungkin hanya butuh waktu sekitar 17 tahun untuk berubah dari
”menua” menjadi ”tua”. Di negara-negara yang penuaannya memakan waktu lebih
lama, seperti Indonesia (26 tahun) dan Filipina (37 tahun), tingkat
pendapatannya bakal jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Asia
Tenggara sebagai suatu kawasan akan ”menua” pada 2042. Kecepatan transisi demografi
Asia merupakan konsekuensi dari perkembangan masyarakatnya. (Yoga)
PELUANG BISNIS, Sektor Tertentu Berpeluang Melonjak karena Pemilu 2024
Bisnis sektor percetakan,
periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen
berpeluang melonjak karena penyelenggaraan pemilu. Masifnya belanja iklan dan kampanye
dari ribuan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan pasangan
calon presiden dan calon wakil presiden bisa melambungkan omzet usaha mereka.
Pada ujungnya, belanja ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dihubungi
pada Rabu (1/11) Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual
mengatakan, penyelenggaraan pemilu akan mendorong belanja jumbo berbagai
aktivitas politik para calon yang berkompetisi. Selain pemilihan presiden, mengutip
data Litbang Kompas, tercatat ada 541 daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota,
yang akan menggelar pilkada pada November 2024. Tahun depan juga akan ada
ribuan calon yang berkompetisi di pemilu legislatif. Artinya, akan ada ribuan
calon yang melakukan aktivitas politik
sehingga mendorong gelontoran belanja iklan dan kampanye.
Untuk penyelenggaraan pemilu,
Komisi II DPR juga sudah menetapkan anggaran penyelenggaraan pemilu bagi KPU
sebesar Rp 27,39 triliun dan Bawaslu sebesar Rp 11,6 triliun (Kompas, 12/9). Belanja
jumbo ini akan tersalurkan ke sektor-sektor ekonomi, antara lain percetakan, periklanan,
media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen. ”Ini akan
mendorong sektor-sektor ekonomi itu mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan
periode-periode sebe- lumnya,” ujar David. Lonjakan pendapatan di sektor-sektor
tersebut diperkirakan mulai terjadi saat masa kampanye, yakni 28 November 2023-10
Februari 2024. Apabila terjadi putaran kedua pemilu presiden, kampanye
berikutnya dijadwalkan pada 2-22 Juni 2024. Itu belum termasuk kegiatan
pemilihan kepala daerah pada November 2024. Peningkatan jumlah
uang beredar terkait belanja pemilu itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi
dari sisi konsumsi dalam negeri. Gelontoran dana yang besar itu akan merangsang
pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan. (Yoga)
Majelis Kehormatan Temukan Masalah
Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi seusai memeriksa
empat pengaduan dan tiga hakim konstitusi terkait aduan dugaan pelanggaran etik
dalam putusan uji materi perkara No 90/PUU-XXI/2023 tentang batas usia calon
presiden-calon wakil presiden, Selasa (31/10) menemukan banyak masalah.
Persoalan itu mulai dari prosedur hingga cara pengambilan keputusan. ”Banyak
masalah dalam cara pengambilan keputusan dan prosedur persidangan serta administrasi
yang berkenaan dengan cara bekerja dalam mengambil keputusan. Dari tiga hakim
ini saja, muntahan masalahnya banyak sekali,” kata Ketua Majelis Kehormatan MK (MKMK)
Jimly Asshiddiqie, Selasa malam, seusai sidang pemeriksaan etik.
Jimly dan dua anggota MKMK, yakni Bintan R Saragih dan
Wahiduddin Adams, kemarin, memeriksa tiga hakim konstitusi secara terpisah,
yakni Anwar Usman, Arief Hidayat, dan Enny Nurbaningsih. Mereka diperiksa
setelah MKMK memeriksa empat pengaduan etik, yaitu pengaduan Denny Indrayana,
15 guru besar, dan pengajar hukum tata negara yang tergabung dalam Constitutional
and Administrative Law Society (CALS), LBH Yusuf, dan Zico Leonard Simanjuntak.
Hakim Konstitusi Anwar Usman paling banyak diadukan dari 18 laporan yang
diterima MKMK. Pengaduan paling banyak mempersoalkan dugaan konflik kepentingan
dalam menangani uji materi perkara 90 terkait usia capres-cawapres. Jimly
mengatakan, MKMK akan melanjutkan pemeriksaan terhadap dua pelapor dan tiga hakim
konstitusi, Rabu. Hakim konstitusi Saldi Isra, Manahan MP Sitompul, dan
Suhartoyo akan menjalani pemeriksaan berikutnya. Dua hakim lain, Daniel Yusmic
P Foekh dan Guntur Hamzah diperiksa Kamis. Pada Jumat, MKMK memeriksa lagi Anwar
Usman. Putusan etik ditargetkan dibacakan pada Selasa (7/11). (Yoga)
Generasi Z Tunggu Arah Industrialisasi
Bonus demografi atau dominasi penduduk berusia produktif,
yang puncaknya diperkirakan pada 2030, menjadi faktor krusial dalam mewujudkan
Indonesia maju pada 2045. Namun, kesiapan kapasitasnya harus disiapkan sejak
dini. Segala upaya perlu diawali dengan menentukan arah industrialisasi yang diambil
Indonesia. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta, Amirullah
Setya Hardi, Senin (30/10) mengatakan, Indonesia tidak akan kekurangan jumlah
sumber daya manusia (SDM) sampai dengan 2035. Tantangannya adalah pada kualitas
dan kompetensinya. Menyiapkan SDM di bidang industri, menurut Amirullah, harus
spesifik dan tidak bisa seketika. Untuk itu, kesiapan generasi Z mengisi
kebutuhan industri harus dipastikan sejak dini.
”Perguruan tinggi dengan berbagai level pendidikannya akan
bisa (turut menyiapkan). Namun, yang terjadi di Indonesia selama ini,
kurikulumnya lebih banyak trial and error. Dicoba, tidak cocok, kemudian diubah
lagi. Ke depan harus terintegrasi dengan kebutuhannya. Di industri, yang paling
kentara ialah kebutuhan untuk sertifikasinya,” ujar Amirullah. Oleh sebab itu,
perlu desain tepat mengenai pendidikan hingga sertifikasi dalam menyiapkan
kebutuhan SDM industri. Ia mencontohkan, lulusan perguruan tinggi akan kalah bersaing
dengan lulusan sekolah teknik yang memiliki sertifikat juru las. Sejalan dengan
itu, Amirullah menekankan, penting untuk menentukan arah industrialisasi
Indonesia. Ini akan mendasari upaya peningkatan kontribusi industri manufaktur
terhadap PDB yang saat ini masih 18,25 % total perekonomian nasional. Idealnya
28-30 % terhadap PDB. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









