Ekonomi
( 40554 )China yang Sulit Terkejar dan Mobil Listrik
Pertumbuhan penjualan kendaraan listrik global semakin masif seiring penguasaan teknologi terus meningkat, dengan China sebagai negara kontributor utama. Semakin banyak dan beragamnya produsen mobil listrik atau electric vehicle (EV) serta rantai pasok yang dominan membuat laju China makin tak terbendung. Laporan Rho Motion, lembaga riset pasar EV di Inggris, pada 15 April 2025, menunjukkan jumlah EV yang terjual di pasar global, Maret 2025, sebanyak 1,7 juta unit. Sementara pada triwulan I-2025, total EV yang terjual 4,1 juta unit atau meningkat 29 % dibanding pada 2024, dengan China menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan 2,4 juta unit atau meningkat 36 % dibanding triwulan I-2024. Dominasi China itu melanjutkan tren positif tahun-tahun sebelumnya.
Mengutip data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2023, registrasi kendaraan listrik terbesar di dunia terkonsentrasi di China dengan proporsi 60 %. Adapun new energy vehicle di China meliputi EV berbasis baterai (BEV), plug-in hybrid EV (PHEV), dan fuel cell EV (FCEV). Berbagai jenama EV dengan volume penjualan terbesar di China antara lain BYD, SAIC-GM-Wuling, Tesla, Geely, GAC Aion, Chery, Changan, Li Auto, Nio, dan XPeng. ”Merek-merek China memantapkan diri di pasar EV global. Tak hanya berkembang, mereka juga membentuk ulang persaingan global melalui skala operasional besar dan keunggulan biaya,” ujar Data Manager Rho Motion Charles Lester dikutip dari Benchmark Source.
Pakar otomotif China, Lei Xing, menuturkan, catatan fantastis China dalam mobil listrik berkat kesadaran China, dekade lalu, yang menganggap EV sebagai inovasi transportasi terpenting sejak revolusi industri otomotif pada awal abad ke-20. Pada 2009, Pemerintah China meluncurkan program subsidi percontohan untuk membangun jaringan kendaraan listrik. Program Ten Cities and Thousand Vehicle atau 10 Kota dan 1.000 Kendaraan bertujuan memberikan subsidi bagi kendaraan listrik dan hibrida baru pada sektor transportasi umum, seperti bus dan taksi. Barulah pada 2013 subsidi mulai diberikan kepada konsumen individu melalui sistem tier atau bertingkat berdasarkan jarak tempuh EV. Prograsubsidi dicabut pada 2022. Namun, saat itu, China sudah ada di jalur yang tepat untuk mendominasi pasar EV global. Total, Pemerintah China menggelontorkan dana 231 miliar USD untuk subsidi dari 2009 hingga 2023. (Yoga)
Lebih Serius Menyasar Ekspor ke UE
Ketidakpastian Ekonomi Global Gerus Kunjungan Wisman dan Wisnus
Menunggu Kejutan dari Mitratel
BCA Menjadi Jawara dengan Mencetak Laba Terbesar di Indonesia
Waspada Lonjakan Inflasi Mencapai 1,95%
Pemerintah China Sedang mengevaluasi Tawaran AS untuk Bernegosiasi
Pemerintah China sedang mengevaluasi tawaran Amerika Serikat (AS) untuk mengelar negosiasi terkait tarif sebesar 145% yang ditetapkan oleh Presiden AS Donal Trump. Namun China melalui Kementerian Perdagangan (Kemdag) mengingatkan pihak AS untuk tidak menekan maupun memaksakan kehendak. AS dan China saat ini sedang terjebak perang tarif. Tidak satupun dari kedua pihak yang mau mengalah, dalam perang yang sudah mengguncang pasar global dan mulai mengacaukan rantai pasokan global. Menurut Kemendag China, pihak AS melakukan pendekatan kepada Negeri Tirai bambu untuk membahas negosiasi kenaikan tarif Trump. China pun menyatakan masih terbuka untuk diskusi. Hal ini mengisyaratkan adanya potensi de-eskalasi dari perang dagang antara keduanya lewat saling balas menjatuhkan tarif impor tinggi.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah sebuah akun media sosial yang terhubung dengan media AS telah berusaha untuk memulai pembicaraan. Hal ini terjadi seminggu setelah Trump mengklaim bahwa diskusi sudah berlangsung, yang kemudian dibantah oleh China. "AS baru-baru ini telah mengambil inisiatif di banyak kesempatan untuk menyampaikan informasi kepada China melalui pihak-pihak terkait, dan mengatakan berharap dapat berbicara dengan China. Mencoba menggunakan pembicaraan sebagai dalih untuk melakukan pemaksaan dan pemerasaan tidak akan berhasil," demikian bunyi pernyataan yang dilansir Reuters. (Yetede)
DPR RI Meminta Pengawasan Maskapai Penerbangan Haji Diperketat
DPR RI meminta pemerintah memperketat pengawasan tiga maskapai penerbangan haji 2025 yakni Garuda Indonesia, Saudi Airlines dan Lion Air, mengingat jumlah jemaah haji yang diterbangkan pada tahun ini mencapai angka 221.000 orang. Pada angkutan haji 2025, Indonesia mendapatkan kuota sebanyak 221.000 orang yang terdiri atas 203.320 haji reguler dan 17.680 haji khusus. Kuota haji reguler terbagi atas 190.897 calon haji reguler yang berhak lunas sesuai urutan porsi, 10.166 calon haji reguler prioritas lansia, 685 pembimbing ibadaj pada KBIHU, dan 1.572 petugas haji daerah (PHD). Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) pun telah menerbitkan Rencana Perjalanan Haji (RPH) 1446 Hijriah/2025 Masehi. Jemaah calon haji pada Kamis (1/5).
Sehari berikutnya reguler asal Indonesia secara bertahap akan mulai diberangkatkan ke Tanah Suci dari Rmbarkasi masing-masing. Tahun ini untuk pertama kalinya pemerintah menunjuk Lion Air Group yang akan bersanding dengan Garuda Indonesia dan Suadi Airlines dalam melayani perjalanan haji 1446 Hijriah/2025 Masehi. Garuda Indonesia telah menyiapkan 13 armada pesawat yang akan melayani keberangkatan dan kepulangan dari Embarkasi Aceh, Medan, Solo, Balikpapan, Makassar, Lombok, dan sebagian Embarkasih Jakarta-Pondok Gede. Tahun ini, Garuda Indonesia akan mengangkut 104.172 jemaah haji reguler dan petugas. Jemaah ini tergabung dalam 287 kelompok terbang. (Yetede)
PANI Fokus pada Segmen Konsumen Premium
Potensi Besar dari Sumur Ilegal Belum Tertangani
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









