Ekonomi
( 40733 )Masyarakat Gandrungi Obligasi Negara pada 2023
Masyarakat pada 2023 semakin berminat berinvestasi di
obligasi pemerintah. Peminat obligasi ini mengalami kenaikan paling tinggi
dibandingkan investasi aset keuangan lainnya. Kebanyakan investor adalah
kelompok tabungan menengah. Pertumbuhan dana simpanan nasabah bank yang terbaca
dalam data dana pihak ketiga (DPK) dalam dua bulan terakhir terus menurun. BI
mencatat, total dana masyarakat di bank hanya naik 3,04 % secara tahunan pada
November, turun dari 3,9 % pada Oktober 2023. Pertumbuhan itu hampir hanya sepertiga
dibandingkan dengan 8,08 % pada November 2022 dan 9,01 % pada Desember 2022. Ketua
Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, pada acara Outlook Perekonomian
Indonesia 2024 oleh Kemenko Perekonomian di Jakarta, Jumat (22/12) mengatakan,
lonjakan kenaikan DPK pada tahun lalu adalah anomali karena kebangkitan ekonomi
pascapandemi. Angka DPK tahun ini justru disebut mendekati tren sebelum pandemi.
Meski demikian, ia melihat, saat ini masyarakat cenderung lebih
berminat menyimpan uangnya di instrumen keuangan lain yang lebih bervariasi. ”Termasuk
dengan kemungkinan investasi di SBN atau juga di pasar modal, atau berkaitan dengan
deposito,” ujarnya dalam acara yang disiarkan secara daring. Gubernur BI Perry
Warjiyo pada konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (21/12),
juga menyebut rendahnya pertumbuhan penyimpanan uang nasabah di perbankan
dipengaruhi pergeseran ke investasi berupa pembelian obligasi pemerintah.
Pergeseran initerjadi terutama pada kelompok tabungan menengah. ”Ada alternatif
investasi lain, yang dulunya DPK di tabungan perbankan, sekarang bisa beli SBN,
ritel, ataupun investasi-investasi yang lain. Jadi, komponennya di dalam neraca
bank bukan lagi DPK, melainkan ke net claim to government, itu ada perpindahan-perpindahan,”
kata Perry. (Yoga)
”Kerja Rodi” Lahan Pangan
Sektor pertanian pangan Indonesia sedang tidak baik-baik
saja. Permasalahan dan tantangan yang muncul tak hanya mencakup aktor utama, kebijakan,
dan produksi pangan. Tanah sebagai wadah hidup tanaman pangan juga terus dipaksa
”kerja rodi” demi mengejar peningkatan produksi. Sepanjang 2023, La Nina dan El
Nino menampakkan kerapuhan sektor pertanian pangan nasional, terutama pada
sumber pangan utama masyarakat, yakni beras. Berdasarkan hasil penghitungan kerangka
sampel area, BPS memperkirakan produksi beras nasional pada 2023 turun 650.000
ton, berbeda dengan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) yang
memproyeksikan produksi beras anjlok 1,5 juta ton. Situasi itu memicu kenaikan harga
gabah dan beras. Panel harga Bapanas mencatat, harga rata-rata nasional beras medium
tertinggi terjadi pada Oktober 2023, yakni Rp 13.210 per kg, naik 16,24 %
secara tahunan dan 17,49 % di atas HET beras medium di tingkat konsumen di zona
I.
Untuk menstabilkan stok dan harga beras, pemerintah semula
mengalokasikan kuota impor beras sebanyak 2 juta ton, yang kemudian ditambah
1,5 juta ton menjadi 3,5 juta ton. Pada 2024, pemerintah sudah berancang-ancang
akan mengimpor lagi beras sebanyak 2 juta ton. Wajah rapuh sektor pertanian tak
berhenti di situ. Petani yang merupakan aktor utama penyedia pangan masyarakat
juga semakin menua dan mengalami guremisasi.”Hal ini perlu menjadi perhatian
bersama. Pekerja di sektor pertanian yang semakin menua membutuhkan regenerasi
petani yang berkelanjutan. Bertambahnya petani gurem juga dapat menurunkan
kesejahteraan petani,” kata PLT Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin
(4/12). Kini, pola tanam padi (musim tanam/MTI)-padi(MT II)-palawija (MT III)
mulai banyak ditinggalkan daerah-daerah sentra penghasil beras.
Padahal, pola tanam itu bertujuan untuk mengendalikan hama dan
penyakit serta menjaga kesuburan tanah. Kini, pola tanam itu berubah menjadi
padi-padi-padi. Bahkan, pola tanam itu didukung dengan penyediaan sumur-sUmur
bor berbasis listrik di areal persawahan, seperti di Sragen, Jateng (Kompas,
19/9). Sawah yang dipaksa ”kerja rodi” menghasilkan gabah sepanjang tahun itu
dapat menyebabkan kesuburan tanah berkurang. Apalagi jika tidak diikuti dengan
pola pemupukan yang seimbang, hal itu akan mempercepat berkurangnya ”kesehatan”
tanah. Sebagian besar sawah di Jawa bahan organiknya di bawah 1 persen. ”Lahan
dengan bahan organik di bawah 1 persen merupakan lahan sakit. Kalaupun
ditingkatkan produktivitasnya, hasilnya tetap tidak akan maksimal. Untuk itu,
upaya-upaya mengembalikan kesuburan lahan pertanian juga sangat penting
dilakukan,” katanya. (Yoga)
Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)
”Financial Check Up” di Akhir Tahun
Sebelum tahun 2023 berakhir, perlu dilakukan financial check
up atau pengecekan kondisi keuangan pribadi untuk melihat efektivitas strategi
pengelolaan keuangan yang telah dilakukan dan posisi aset serta utang yang
dimiliki untuk menyusun strategi perencanaan keuangan di tahun 2024, termasuk
mengubah portofolio investasi jika dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu
perhatikan : 1. Menetapkan tujuan keuangan untuk menentukan strategi pengelolaan
keuangan yang akan digunakan, jangka waktu, dan sebagai tolok ukur efektivitas
langkah yang dilakukan.
2. Cek arus kas, pemasukan dan pengeluaran di tahun berjalan
untuk menilai kembali apakah penggunaan dana di tahun berjalan sudah sesuai tujuan
investasi atau terjadi pengeluaran yang tidak tepat sasaran. 3. Evaluasi utang,
termasuk evaluasi jenis utang, dana yang dibutuhkan, dan jangka waktu
pelunasan. Pembayaran utang, khususnya utang berbunga tinggi akan mengurangi
beban keuangan di masa mendatang. 4. Pastikan memiliki dana darurat dan
asuransi. 5. Evaluasi aset dan instrumen investasi untuk mengetahui total
kekayaan yang dimiliki. (Yoga)
MEWAKILI KASIH NATAL LEWAT ”GIFT BOX”
Di Manado, Natal tak hanya dirayakan pada 25 Desember,
tetapi juga sepanjang bulan itu. Jalanan yang semarak oleh kelap-kelip lampu
hias mendadak macet setiap hari, orang dari segala penjuru tumpah ruah untuk belanja,
dari baju, kue, hingga kado natal. Bersama ingar-bingar itu tumbuh tren memberi
semacam hamper atau kotak berisi aneka hadiah untuk saudara, teman, atau
kekasih. Peluang pasar ini segera ditangkap para pengusaha mikro yang merintis
bisnis kreatifnya dari rumah atau bahkan indekos. Ketiadaan toko fisik tak
menjadi masalah selama ada media sosial. Christy Natalia (29) salah satunya. Empat
tahun lalu, ia mulai merintis usaha cendera mata bernama Unboxingme.id. Produk
utamanya adalah plakat akrilik yang kian diminati sebagai bentuk ucapan selamat
atas ulang tahun, kelulusan, hingga kelanggengan hubungan asmara orang-orang
terkasih. Menariknya, bisnis tersebut dijalankan dari kamar kosnya di bilangan
Sario Kotabaru. Etalase Unboxingme.id sepenuhnya digital dalam bentuk akun
Instagram, Facebook, Tiktok, dan Whatsapp Business.
Siapa pun dapat melihat produknya langsung dari genggaman
tangan. ”Memang, selama ini banyak yang tanya, ’Ada tokonya enggak?’ Soalnya,
mereka mau lihat langsung. Tapi, memang enggak ada. Biasanya, saya langsung arahkan
ke Instagram karena semua (produk) ada fotonya,” kata lulusan Ilmu Manajemen Universitas
Klabat, Minahasa Utara, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember ini
Christy membuka pesanan kotak hadiah (gift box) bertema Natal. Dengan harga
promosi Rp 95.000, setiap kotak umumnya berisi empat barang, misalnya boneka
beruang bertopi sinterklas, mug bertuliskan ”Merry Christmas”, serta dua
stoples kue kering. Ada pula paket yang berisi plakat akrilik bertuliskan ”Merry
Christmas” dan nama penerima, satu stoples kukis, sebuah termos, dan sekotak
alat makan. ”Tapi, bisa juga sesuai request (permintaan) customer (pelanggan).
Kalau mau tambah satu barang, harga mengikuti,” kata Christy. Dua pekan menjelang
25 Desember, pesanan datang bertubi-tubi. ”Dimasa biasa, (omzet) Rp 5 juta-Rp
10 juta per bulan. Kalau sekarang (Natal), sih, pasti lumayan, kisaran Rp 25
juta per bulan,” ujarnya. (Yoga)
ADU STRATEGI BENAHI EKONOMI
Seluruh calon wakil presiden sepakat untuk membenahi dan mengakselerasi laju ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang makin menantang. Masing-masing cawapres dari nomor urut 1 Muhaimin Iskandar, cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka, dan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD memaparkan strateginya dalam debat yang digelar di Jakarta, Jumat (22/12) malam. Sejumlah strategi a.l. pengelolaan anggaran, peningkatan investasi, peningkatan sumber daya manusia (SDM) hingga literasi keuangan dan digital menjadi perhatian para kandidat wakil presiden. Kalangan pebisnis menilai visi misi yang disampaikan para cawapres dalam debat menjadi titik tolak dalam melakukan kalkulasi bisnis. Kendati beberapa jawaban cawapres tidak sesuai dengan tema, pebisnis mengharapkan strategi yang disampaikan dapat diperdalam sehingga mengungkit kinerja sektoral yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, para pelaku usaha berharap strategi tersebut dapat diimplementasikan secara nyata.
MOMENTUM PEMILU 2024 : Uang Beredar Kian Tebal
Jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 kian tebal tiga bulan jelang penyelenggaraan Pemilu 2024. Bank Indonesia (BI) menyampaikan likuiditas perekonomian melanjutkan tren positif. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono melaporkan, posisi M2 mencapai Rp8.573,6 triliun atau tumbuh 3,3% secara tahunan (year-on-year/YoY). Erwin menilai, pertumbuhan tersebut relatif stabil dari bulan sebelumnya yang tumbuh 3,4% YoY ke Rp8.505,4 triliun. Artinya, dalam kurun waktu sebulan, peredaran M2 naik senilai Rp68,2 triliun.
Kinerja uang beredar ditopang oleh penyaluran kredit moncer. Penyaluran kredit pada November 2023 tumbuh sebesar 9,7% YoY yang lebih pesat dibandingkan dengan realisasi pada Oktober 2023 dengan pertumbuhan 8,7% YoY. Berbeda dengan pertumbuhan kredit, tagihan bersih kepada pemerintah pusat terkontraksi sebesar 15% YoY. Tagihan bersih pemerintah pusat ini melanjutkan kontraksi sebulan sebelumnya yakni 11,7% YoY. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 0,3% YoY atau melambat dari 6,1% YoY pada Oktober 2023.
Uang kuasi yang terdiri dari simpanan berjangka dan tabungan lainnya, baik rupiah maupun valuta asing atau valas, serta simpanan giro valas tumbuh 4,9% YoY yakni menyentuh Rp3.820 triliun. Realisasi tersebut naik dari posisi bulan sebelumnya di angka Rp3.788,5 triliun. Kondisi uang beredar sejalan dengan proyeksi ekonom yang menggambarkan efek penyelenggaraan Pemilu. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro meramal selama empat bulan sebelum pemilu dan satu bulan setelah pemilu, tren M2 sejak Pemilu 2004 selalu meningkat.
PRODUKSI FARMASI : Dexa Group Produksi Pembalut Luka
Pelaku industri farmasi dan alat kesehatan Dexa Group mulai memproduksi pembalut luka, menyusul rampungnya pabrik alat kesehatan atau alkes pertamanya. Dengan dibangunnya fasilitas industri ini, Indonesia diharapkan mampu menyediakan produk alat kesehatan pembalut luka atau wound dressing yang kebutuhannya berada di urutan ke-5 alat kesehatan paling banyak ditransaksikan dalam e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah (LKPP).Fasilitas industri alat kesehatan PT Deca Metric Medica, anak perusahaan Dexa Group, diresmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, yang didampingi oleh Pimpinan Dexa Group Ferry A. Soetikno, dan Direktur Utama PT Medela Potentia Krestijanto Pandji.Menkes Budi mengapresiasi peresmian fasilitas produksi alat kesehatan PT Deca Metric Medica yang dapat mendukung ketahanan kesehatan Nasional. Menurutnya, terdapat 10 alat kesehatan yang paling banyak digunakan di Indonesia berdasarkan data e-Katalog di 900 rumah sakit pemerintah.
“Saya yakin yang namanya wound dressing [pembalut luka] itu dipakai di seluruh dunia, kami bukakan ke UNICEF,” sebut Menkes, dikutip dari siaran pers, Jumat (22/12).Menkes tidak saja mendukung produksi alat kesehatan dalam negeri selain untuk memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga bisa diekspor ke mancanegara. Pemerintah akan memfasilitasi produksi dalam negeri untuk terserap di pasar global.
Menurut laporan kinerja semester I/2023 Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, transaksi alat kesehatan Nasional melalui e-katalog pada 2019 — 2020 masih didominasi produk impor yang mencapai 88%.Merujuk data Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) pasar alat kesehatan Indonesia tahun 2020 sebesar Rp49,7 triliun setara dengan 0,7% pasar alat kesehatan global.
STOK PANGAN : RI Impor 3 Juta Ton Beras
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan Indonesia akan mengimpor 1 juta ton beras dari India dan 2 juta ton dari Thailand, untuk memperkuat stok di tengah krisis iklim dan ketidakpastian global.Hal tersebut Jokowi sampaikan saat pidato dalam acara Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia di Jakarta, Jumat (22/12). “Untuk 2024, Alhamdulillah kemarin Kepala Bulog dari India sudah sampaikan ke saya, Pak sudah tanda tangan 1 juta ton,” ungkap Jokowi.Jokowi juga menyampaikan Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin mengungkapkan kesediaan untuk mengekspor 2 juta ton beras dari negaranya saat bertemu di KTT Asean-Jepang akhir pekan lalu.
Jokowi menerangkan upaya impor beras dari India dan Thailand ini ditempuh untuk mengamankan cadangan strategis pangan. “Paling enggak rasa aman kita dapat urusan pangan.”Sebelumnya, pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk melakukan impor beras sebanyak 2 juta ton pada 2024 untuk memenuhi cadangan beras pemerintah (CBP).Selain untuk memenuhi CBP, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menyampaikan impor beras 2 juta ton pada 2024 juga dilakukan untuk program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
Sejauh ini, pemerintah membuka opsi untuk mendatangkan impor beras dari Thailand, Pakistan, Vietnam, termasuk India dan China. Presiden mengatakan persoalan pangan menjadi kekhawatiran tersendiri di saat optimisme terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global.
OUTLOOK PEREKONOMIAN INDONESIA 2024 : OPTIMALISASI TIGA MESIN EKONOMI
Indonesia menyongsong tahun 2024 dengan optimisme yang cukup tinggi di tengah masih kuatnya tekanan dari ketidakpastian global.Sejumlah indikator ekonomi makro pun menguatkan fondasi ekonomi nasional untuk tetap melaju di jalur ekspansi. Realisasi produk domestik bruto (PDB) yang masih solid yakni 4,94% (year-on-year/YoY) pada kuartal III/2023 dan proyeksi pertumbuhan sepanjang tahun di atas 5% pun menjadi modal kuat untuk menangkis efek eksternal.Tak hanya itu, beberapa aktivitas penunjang PDB pun terpantau masih akseleratif. Di antaranya optimisme konsumen, tingkat inflasi, hingga geliat manufaktur nasional. Presiden Joko Widodo, dalam Seminar Nasional Outlook Perekonomian Indonesia 2024 di Jakarta kemarin, Jumat (22/12), menyatakan optimistis terhadap outlook perekonomian Indonesia 2024.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal kuat baik dari sisi ekonomi maupun politik. Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang masih di kisaran 5% atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya 2,9%. Kemudian, inflasi indeks harga konsumen (IHK) di angka 2,86% atau masih di bawah tingkat inflasi global sebesar 7,2%. Di samping itu, Kepala Negara mengatakan beberapa indikator lain menjadi alasan di balik optimisme pemerintah, seperti naiknya tingkat penyerapan tenaga kerja nasional, yakni 4,5 juta orang dari Agustus 2022 ke Agustus 2023. Dari sisi makro fiskal, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga terpantau sehat dan tetap menjadi alat negara untuk memaksimalkan ekspansi pada tahun depan.Apalagi, Indonesia tercatat sebagai satu dari sedikit negara yang mampu menjaga penyehatan fiskal lebih cepat dibandingkan dengan yurisdiksi lain.Hal itu ditandai dengan outlook defisit APBN yang berada di bawah 3% terhadap PDB, baik dalam prognosis tahun ini maupun APBN 2024. Tak pelak, International Monetary Fund (IMF) pun mencatat sebanyak 96 negara mengalami kondisi perekonomian yang buruk sehingga menjadi pasien dari lembaga pendanaan global tersebut. Kepala Negara masih khawatir mengenai harga komoditas, yang dilatarbelakangi oleh ketidakpastian global dan konflik di Timur Tengah. Salah satu dampaknya adalah lonjakan harga minyak dunia. Kekhawatiran Presiden juga terletak pada komoditas pangan, terlebih akibat dampak Super El Nino.
Dalam forum yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa sepanjang 2023 dinamika global menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan ekonomi domestik. Risiko lain yang tengah diwaspadai adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi China yang dapat mengganggu rantai pasok global, mengingat negara tersebut merupakan mitra dagang utama banyak negara. Merespons hal itu, pemerintah pun menyiapkan tiga siasat untuk memacu mesin ekonomi lebih tinggi agar mampu tumbuh sebesar 5,2% pada tahun depan.Pertama, mesin ekonomi konvensional yang perlu direvitalisasi dan diperbesar kapasitas nya sehingga terjadi peningkatan produktivitas yang tinggi. Kedua, memantik mesin ekonomi baru yang nantinya berfungsi sebagai akselerator pertumbuhan di masa depan. Ketiga, menyempurnakan mesin ekonomi Pancasila, yaitu mesin ekonomi yang berkeadilan.
Dari sisi fiskal, pemangku kebijakan juga telah memasang kuda-kuda yang kuat, yakni melalui kesiapsiagaan APBN dalam rangka merespons seluruh dinamika dan rambatan efek dari ketidakpastian global.Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang juga hadir dalam forum tersebut, mengatakan kebijakan fiskal pada tahun depan akan berfokus menjaga permintaan di dalam negeri.
Secara konkret, pemerintah akan menjaga daya beli dari seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas bawah dan menengah yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap dampak kenaikan harga minyak dan pangan.
Dari sisi fiskal, beban negara bakal berkurang dengan terpangkasnya biaya penarikan pinjaman. Apalagi, saat ini porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh investor domestik jauh lebih tinggi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









