Ekonomi
( 41386 )Pilih Menahan Dulu, Tunggu Kepastian Pemilu
Lampu kuning menyala! Optimisme pebisnis mulai melandai di awal 2024. Kondisi politik dalam negeri yang memanas jelang Pemilu Presiden 2024 menjadi faktor yang paling membuat pebisnis dag-dig-dug.
Persepsi dunia usaha ini tertangkap dalam survei terbaru KONTAN yang tertuang dalam Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal I-tahun 2024.
Masih di level yang optimis atas prospek ekonomi Indonesia, puluhan pengambil keputusan penting dalam perusahaan alias para chief executive officer (CEO) mengkhawatirkan sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap rencana investasi.
Namun, indeks tersebut menurun ke level 3,54 dibanding survei ICCI kuartal IV-2023 yang di level 3,62. Responden survei yang merupakan para CEO di lintas sektor usaha ini, dari enam indikator penilaian, yakni kondisi ekonomi makro, belanja pemerintah, daya beli, politik nasional, hingga ekspansi bisnis ada di zona optimistis.
Namun dari survei ICCI kuartal I-2024 berlangsung sejak awal Desember 2023, indeks dalam tren menurun. Pebisnis memilih berhati-hati melakukan ekspansi usaha.
Ada dua hal yang mereka cermati terkait kondisi politik menjelang pemilihan umum (pemilu). Yakni, stabilitas politik dan sirkulasi pemimpin yang dihasilkan dari pelaksanaan pemilu tersebut.
Jung Fan, Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk menyebut, kondisi makro Indonesia tahun ini ditentukan hasil pemilu. Mereka menunggu kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu.
Namun ia optimistis, daya beli masyarakat menguat paska pandemi. Lalu, pemilu menjadi stimulan karena tingginya uang beredar. Jadi, "Kami optimistis melihat pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk menyoroti kondisi global yang belum berpihak ke usaha. Kata dia, pemilu yang berjalan lancar bukan satu-satunya faktor yang menentukan ekonomi Indonesia tahun ini.
Sementara pasar domestik belum bisa bisa diandalkan lantaran daya beli belum terlalu kuat. "Kami akan tetap ekspansi terbatas," cetusnya.
Santosa, Direktur Utama PT Astra Agro Lestari Tbk memilih netral di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan politik nasional di tahun pemilu.
Pendapatan Gendut, Defisit APBN Menciut
Ruang fiskal pemerintah kembali terbuka lebar sejalan dengan menciutnya defisit Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) 2023. Hal ini seharusnya menjadi modal yang cukup bagi pemerintah untuk menjalani perekonomian tahun depan yang kemungkinan masih diliputi ketidakpastian pasar global maupun domestik.
Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, defisit APBN 2023 sebesar Rp 337,6 triliun setara 1,65% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah target awal APBN 2023 yang sebesar Rp 598,2 triliun atau 2,84% PDB dan di bawah target dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2023 sebesar Rp 479,9 triliun atau 2,27% PDB.
Artinya, "2023 konsolidasinya lebih cepat," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, kemarin.
Dari sisi belanja, realisasinya mencapai Rp 3.121,9 triliun, setara 100,2% dari target dalam Perpres. Terutama, karena pencapaian belanja kementerian dan lembaga (K/L) sebesar Rp 1.153,5 triliun, setara 115,2% dari target.
Adapun kesimbangan primer ditutup dengan mencatatkan surplus Rp 92,2 triliun. Padahal, di APBN 2023, keseimbangan primer didesain defisit Rp 256,8 triliun dan dalam Perpres 75/2023 ditaksir defisit Rp 38,5 triliun.
Sementara Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kemkeu Isa Rachmatawarta bilang, defisit APBN 2023 merupakan terendah sejak 12 tahun terakhir. "(Defisit anggaran) sebelumnya lebih rendah itu di 2011 yakni 1,14% dari PDB," tutur Isa, kemarin.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita bilang, surplus pada keseimbangan primer mengindikasikan pemerintah tidak lagi membayar utang maupun bunga utang dengan menambah utang baru.
Menurut dia, keseimbangan primer bisa surplus karena terjadinya penurunan defisit APBN 2023, dari yang semula direncanakan 2,84% dari PDB dalam APBN 2024 dan 2,27% dalam Perpres 75/2023.
Dia juga mengapresiasi kinerja keseimbangan primer yang mengalami surplus. Juga defisit anggaran terendah sejak 10 tahun terakhir. Hal tersebut berarti kinerja fiskal yang semakin sehat dan berkelanjutan.
Ekspansi Manufaktur Berlanjut di 2024
Laju ekspansi manufaktur diperkirakan berlanjut pada tahun 2024. Bukan hanya dipicu faktor musiman di awal tahun, insentif pemerintah juga akan mendorong kinerja manufaktur tahun ini.
Pada Desember 2023, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2023 berada di level 52,5. Angka ini meningkat 0,5 poin dibandingkan November 2023 di level 51,7.
PMI Manufaktur ini juga naik mencapai posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Artinya, kondisi sektor manufaktur terus membaik sejak September 2023 dan berada pada fase ekspansi selama 28 bulan berturut-turut.
Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan mengatakan, positifnya kinerja manufaktur pada kuartal terakhir 2023 karena permintaan baru yang akan datang dan output mengalami ekspansi.
Di sisi lain, permintaan asing juga sedikit membaik untuk pertama kali dalam tiga bulan. "Hal ini memperkuat aktivitas pembelian dan mendorong kenaikan berkelanjutan pada ketenagakerjaan di seluruh sektor produksi barang," kata Jingyi dalam keterangan resminya, Selasa (2/1).
Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat, ada sederet tantangan yang akan menghantui sektor manufaktur pada tahun ini. Mulai dari kenaikan permintaan barang yang belum stabil hingga ancaman barang hasil sektor manufaktur impor masih akan sangat tinggi.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman memperkirakan kinerja manufaktur kuartal I-2024 masih akan ekspansif, didorong faktor musiman Lebaran.
Pilihan Saham di Sektor Unggulan 2024
Memasuki pergantian tahun, bakal ada rotasi sektor unggulan penggerak bursa. Sepanjang tahun lalu sektor indeks sektor infrastruktur memimpin pasar saham dengan lonjakan sebesar 80,75%, jauh meninggalkan indeks sektoral lainnya.
Menempati posisi kedua, sektor barang baku (
basic materials
) hanya tumbuh 7,51%. Diikuti oleh sektor keuangan yang naik 3,07%. Sementara itu, sektor teknologi dan kesehatan turun paling dalam dengan mencetak kinerja minus 14,07% dan 12,07%.
Sedangkan sektor energi yang berjaya pada tahun 2022, berbalik mencatat minus 7,84% sepanjang 2023. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengatakan, kinerja sektoral dan penguatan IHSG tahun 2023 lalu cenderung ditopang oleh saham-saham yang baru melantai di BEI.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menyoroti, pada tahun ini ada dua katalis penting yang bakal memengaruhi pergerakan sektoral saham di BEI.
Pertama
, potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, yang akan diikuti Bank Indonesia.
Kedua
, momentum politik pemilihan umum.
Secara historis, Ratih mengungkapkan pemilu menjadi katalis positif bagi sektor konsumsi primer. Selain faktor kenaikan konsumsi, sektor ini juga terpapar angin segar dari melandainya harga
soft commodity
seperti gandum.
Sektor lain yang berpotensi naik daun tahun ini adalah properti. Menurut Ratih, menarik mencermati sektor properti seiring potensi pemangkasan suku bunga acuan.
Sektor unggulan lainnya adalah keuangan, terutama saham perbankan yang menunjukkan stabilitas kinerja di tengah volatilitas pasar dan situasi ekonomi.
Dengan sejumlah pertimbangan tersebut, Ratih pun menyematkan rekomendasi beli untuk sejumlah saham. Misalnya, MYOR dengan target harga Rp 2.650, MDKA Rp 3.050, dan SMRA Rp 630. Kemudian,
buy on weakness
BBRI di area Rp 5.550 dengan target harga di Rp 5.900.
Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyematkan
rating overweight
untuk sejumlah sektor saham, seperti saham-saham telekomunikasi di sektor infrastruktur, perbankan di sektor keuangan, properti, transportasi dan logistik, serta ritel pada sektor barang konsumsi.
Covid-19 Naik, Saham Farmasi Menarik
JAKARTA. Kasus Covid-19 kembali menanjak, terutama usai libur Natal dan Tahun Baru 2024. Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia salah satunya akibat munculnya varian baru JN.1.
Kementerian Kesehatan mencatat, kasus positif JN.1 meningkat dari 1% pada awal November 2023 menjadi 43% pada awal Desember 2023. Analis Ciptadana Sekuritas, Nicko Yosafat dalam riset 29 Desember 2023 mengatakan, peningkatan kasus harian korona bisa mencapai 1.000-2.000 setelah libur akhir tahun, melampaui angka di saat Idul Fitri tahun 2023.
Di tengah kondisi ini, Nicko memprediksi, penjualan produk-produk farmasi dan peralatan medis akan meningkat. Situasi ini dapat memacu kinerja emiten farmasi pada kuartal IV-2023.
Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei mengatakan, meski ada kenaikan kasus korona, tapi dampak positifnya akan lebih banyak tercermin ke saham-saham yang kinerja keuangannya membaik pada kuartal ketiga. Misalnya, saham PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). "Jadi ada kemungkinan harga sahamnya akan naik menjelang rilis laporan keuangan kuartal IV-2023," kata Jono.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi juga menilai, kenaikan kasus Covid-19 varian baru akan memberikan permintaan lebih tinggi ke emiten kesehatan. Dia menyarankan
hold
saham KLBF dengan target harga Rp 1.530 per saham dan
hold
saham SIDO dengan target harga Rp 555 per saham.
Menadah Cuan Kontrak Baru PTPP
PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) diproyeksi tetap mencetak kinerja solid di 2024. Dorongan dari pemerintah untuk segera menyelesaikan Proyek Strategis Nasional (PSN) bakal menjadi pendukung bagi emiten konstruksi pelat merah tersebut.
Analis Mandiri Sekuritas, Farah Rahmi Oktaviani dan Adrian Joezer memaparkan, proyek Kalibaru akan menjadi penggerak pendapatan PTPP di 2024. Seperti diketahui, PTPP telah berpartisipasi dalam pengembangan terminal peti kemas baru Tanjung Priok atau disebut Pelabuhan Kalibaru sejak tahun 2012.
Sejauh ini, tahap 1A telah selesai dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2016. PTPP saat ini sedang mengembangkan tahap 1B dengan lingkup pekerjaan termasuk desain dan pembangunan, dan nilai kontrak sebesar Rp 3,8 triliun.
Per November 2023, PTPP membukukan pencapaian kontrak baru sebesar Rp 30,2 triliun, atau tumbuh 8%
year on year
(yoy) dan telah mencapai sekitar 89% dari target tahun 2023. Sumber pendapatan kontrak baru PTPP terutama didorong oleh proyek-proyek dari pemerintah dengan porsi sekitar 41% dan BUMN sekitar 34%.
Farah bilang, PTPP memperkirakan pertumbuhan kontrak baru akan cenderung datar sekitar 1%-2% yoy di 2024. Hal tersebut karena tender proyek yang diperkirakan lebih lambat dari BUMN dan swasta selama Pemilu.
PTPP menargetkan sekitar Rp 10 triliun kontrak baru didapatkan dari proyek IKN. Optimisme tersebut mengingat anggaran IKN dari pemerintah lebih tinggi yaitu Rp 40,6 triliun dan dengan asumsi tingkat kemenangan sebesar 25%.
PTPP juga berencana divestasi sebagian aset seperti pembangkit listrik (PT Inpola Meka Energi dengan kepemilikan 38,7% dan PT Odira Energi Karang Agung dengan kepemilikan 70%) di 2024. PTPP juga masih berupaya divestasi sebagian lahan dan aset segmen properti, semisal pada PT PP Properti Tbk (PPRO).
Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, langkah divestasi aset dan potensi peningkatan proyek diharapkan dapat menjaga kinerja positif PTPP berlanjut di 2024. "Tantangan bagi emiten konstruksi terutama anggota BUMN Karya adalah arus kas negatif," kata Nafan, Selasa (2/1).
Analis Binaartha Sekuritas, Revita Dhiah Anggrainy dalam riset 4 Desember 2023 menyebutkan, PTPP masih mampu mengantongi laba bersih dikala ada penurunan pendapatan usaha pada kinerja sembilan bulan pertama di 2023.
Peningkatan laba bersih PTPP didukung oleh biaya keuangan yang lebih rendah dan peningkatan laba dari usaha patungan. Binaartha Sekuritas menargetkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) PTPP sebesar 1,3 kali di tahun 2023-2024.
KLBF Siapkan Capex Rp 1 Triliun
Emiten farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyiapkan anggaran belanja modal atau
capital expenditure
(capex) untuk tahun 2024 di kisaran Rp 700 miliar hingga Rp 1 triliun.
Corporate External Communication
Kalbe Farma, Hari Nugroho mengatakan, anggaran capex tersebut dialokasikan untuk menunjang operasional perseroan.
"Belanja modal akan dialokasikan untuk penambahan kapasitas, pemeliharaan rutin dan kebutuhan informasi teknologi (IT)," kata dia kepada KONTAN, Selasa (2/1).
Sebagai tambahan informasi, angka belanja modal tahun 2024 ini tidak berbeda jauh dengan belanja modal KLBF di tahun 2023 yang mencapai Rp 1 triliun.
Di sisi lain, jika menilik pada laporan keuangan KLBF selama sembilan bulan pertama tahun 2023 lalu, KLBF berhasil membukukan laba bersih Rp 2,06 triliun. Laba bersih ini turun 16,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2022.
KLBF berharap, akan terjadi normalisasi kinerja yang lebih baik di tahun ini. Meski belum menentukan pasti target bisnis yang ingin dicapainya di tahun ini, KLBF berharap laba bersih akan lebih tinggi lagi jika dibandingkan dengan capain tahun 2023.
Sebelumnya,
Chief Financial Officer
Kalbe Farma Kartika Setiabudy menyebut, tantangan bisnis farmasi pasca pandemi Covid-19 adalah perubahan pola konsumsi obat dan produk kesehatan di tengah masyarakat yang cukup berdampak bagi produk-produk Kalbe Farma.
Asal tahu saja, manajemen KLBF sendiri merevisi target pertumbuhan penjualan bersih pada 2023 menjadi di kisaran 5% sampai 7%. Angka pertumbuhan tersebut tetap positif dan sesuai dengan pola konsumen terkini. Sebelumnya, pertumbuhan penjualan bersih KLBF diproyeksikan mencapai dua digit pada tahun 2023.
Di samping itu, KLBF terus memperhatikan pengelolaan rantai pasok dan persediaan, mengelola portofolio produk, dan menjaga efisiensi biaya operasional.
Emiten ini juga mempertahankan likuiditas keuangan yang baik untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan ekspansi. Saat ini, KLBF tengah fokus melakukan inovasi produk dan layanan.
MENOPANG PILAR DAYA BELI
Setelah sempat bergerak liar, inflasi akhirnya berhasil dikendalikan oleh pemangku kebijakan dan berakhir pada posisi 2,61% (year-on-year/YoY) pada bulan lalu.Angka tersebut berada di kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 3% plus minus 1%, sehingga tak berlebihan apabila dalam konteks ini inflasi telah ternormalisasi.Apalagi, S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2023 berada di level 52,2, meningkat 0,5 poin dibandingkan dengan November 2023 yang berada pada level 51,7 sekaligus menandai ekspansi selama 28 bulan berturut-turut.Tetap eksisnya manufaktur pada zona ekspansi dan inflasi yang terkendali menggambarkan terjadi keseimbangan antara sisi penawaran dan permintaan.Hal ini tak lepas dari sinergi antara otoritas moneter dan fiskal dalam melakukan manuver baik melalui penyesuaian suku bunga acuan maupun pemberian stimulus fiskal. Artinya, ada faktor pelemahan daya beli dalam normalisasi inflasi tersebut. Dengan demikian, otoritas fiskal dan moneter pun wajib menyiapkan manuver dalam rangka menjaga stabilitas inflasi. World Bank dalam Commodity Markets Outlook 2023, bahkan menuliskan tiga skenario dari dampak perang di Timur Tengah terhadap harga komoditas energi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun kembali disiagakan dalam rangka merespons seluruh dinamika yang bisa membahayakan stabilitas.
Presiden Joko Widodo, saat mengunjungi Gudang Bulog Gumilir, Kabupaten Cilacap, kemarin, Selasa (2/1), menegaskan fiskal negara tetap menjadi bantalan yang akan melindungi daya beli masyarakat sekaligus inflasi.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, mengatakan risiko geopolitik dan geoekonomi masih membayangi dan diprediksi berlangsung cukup lama. Dalam konteks penanganan inflasi, otoritas fiskal bakal memperkuat koordinasi dengan BI dan pemerintah daerah (pemda) untuk mencegah adanya kelangkaan komoditas penggerak inflasi.Sejatinya, melandainya gerak inflasi menjadi kabar gembira setelah sejak 2022 pemerintah berjibaku mengamankan indeks harga konsumen (IHK).
Kalangan pelaku usaha pun menaruh asa yang besar bagi pemerintah, dari sisi fiskal perlu menambah stimulus baik insentif maupun bantuan sosial, sementara dari sisi moneter perlu upaya ekstra untuk menjaga rupiah dan memulai pelonggaran suku bunga acuan.Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Khamdani, mengatakan ada beberapa faktor yang dapat memicu kenaikan inflasi pada tahun ini.
Sementara itu, Ekonom Bank Danamon Irman Faiz, memandang pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga energi karena adanya dinamika di luar perang.Faktor yang dimaksud adalah gangguan di Laut Merah serta ketidakpastian yang bersumber dari arah kebijakan negara-negara eksportir minyak atau OPEC+.
Inflasi Ibarat Pedal Gas
Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa tingkat inflasi di Indonesia sepanjang 2023 sebesar 2,61% atau yang terendah selama 20 tahun terakhir. Hal ini menandai keberhasilan duet Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin jelang berakhirnya Kabinet Indonesia Maju jilid kedua. Jokowi sendiri memang sejak awal fokus dalam upaya mengendalikan inflasi dengan menitikberatkan arah pembangunan pada pemerataan pendapatan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat saat mulai bekerja secara efektif pada 2015, Jokowi dibayang-bayangi laju inflasi masa-masa akhir Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setinggi 8,38% pada 2013 dan 8,36% pada 2014. Hasilnya, laju inflasi sepanjang 2015 melambat menjadi hanya 3,35% dan bahkan pada 2016 hanya 3,02%. Ibarat mesin mobil, ketika pedal gas diinjak terus, maka kecepatan meningkat dan lebih cepat sampai ke tujuan, tetapi mesin akan kepanasan dan bukan tak mungkin harus turun mesin. Sebaliknya, jika pedal gas diinjak secukupnya, seperti halnya pepatah Jawa alon-alon asal kelakon, maka butuh waktu agak lama mencapai tujuan, tetapi panas mesin masih cukup terjaga demi menambah umur mesin itu sendiri. Bonusnya, pengendara dan penumpangnya masih bisa menikmati pemandangan saat berkendara. Artinya, tingkat inflasi, baik tinggi, sedang maupun rendah selalu bisa dimaknai dari dua sisi. Dalam hal ini, dengan rata-rata tingkat inflasi relatif rendah, Pemerintahan Jokowi lebih menekankan pada pembangunan ekonomi melalui pemerataan pendapatan dan kesejahteraan. Melalui laju inflasi yang terkendali dan relatif rendah, Pemerintahan Jokowi berharap dapat menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian harga yang ketat di bawah kendali dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan Pusat. Pertanyaan sederhananya, apakah efek positif dari kestabilan harga, yang tecermin pada rendahnya inflasi, lebih besar atau lebih kecil dari laju pertumbuhan ekonomi yang moderat?. Hal ini hanya bisa dijawab dari delapan ukuran dalam Indikator Kesejahteraan Rakyat yang dikeluarkan BPS, yaitu kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, taraf dan pola konsumsi, perumahan dan lingkungan, kemiskinan, serta sosial lainnya.
Melirik Potensi Bahan Baku Halal Alat Kesehatan
Sejak berlakunya UU Jaminan Produk Halal No. 33/2014, maka seluruh produk yang masuk ke Indonesia dan beredar wajib bersertifikasi halal atau melampirkan keterangan non-halal bagi produk atau bahan baku yang diharamkan. Implementasi jaminan halal untuk industri kesehatan produk kesehatan diatur melalui Perpres No.6/2023 tentang sertifikasi halal obat, produk biologi dan alat kesehatan (alkes). Proses sertifikasi halal dilakukan melalui tiga tahap dimulai dari 17 Oktober 2021 sampai 17 Oktober 2034 yang dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu obat-obatan berdasarkan jenisnya dan alkes berdasarkan tingkat risikonya. Industri kesehatan perlu mempersiapkan ekosistem halal dari hulu ke hilir yang terintegrasi untuk melaksanakan jaminan halal dan perlindungan konsumen terutama umat muslim dari penggunaan produk dan bahan baku non-halal. Perkembangan industri farmasi dan alkes nasional mulai membaik seiring dengan transformasi sistem ketahanan kesehatan nasional yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Jumlah produsen alkes lokal meningkat dari 193 (2015) menjadi 891 perusahaan (2021). Neraca perdagangan alkes Indonesia masih mengalami defisit dalam 5 tahun terakhir, tetapi pertumbuhan ekspor alkes positif setiap tahunnya tercatat sebesar 0,76% dengan nilai ekspor US$207,7 juta di tahun 2022 (PPIE Kemendag, 2023). Sedangkan potensi pasar alkes di kawasan Asia Pasifik tahun 2023 mencapai US$112 miliar dengan tingkat pertumbuhan 6,8% dan diprediksi mencapai US$157 miliar di tahun 2028 (Market Data Forecast, 2023). Produk alkes yang masih bergantung pada impor adalah produk untuk cangkok tulang (bone graft), yang digunakan untuk operasi kelainan tulang seperti patah tulang, operasi tulang belakang dan operasi implan gigi. Produk bone graft dapat membantu penyembuhan lebih cepat pasca-operasi.
Produk bone graft yang telah dikembangkan di dalam negeri adalah berbahan baku dari dengkul/bonggol sapi yang diklaim memiliki kandungan kalsium lebih tinggi dari sisik ikan dan cangkang telur ayam, sehingga menjadi produk yang memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 50%. Pasar bone graft global di tahun 2022 senilai US$696,6 juta dimana 75% produknya diserap oleh klinik dibanding rumah sakit (www.grandviewresearch.com). Hal ini tentunya dapat dijadikan peluang bisnis bagi pelaku usaha alkes. Terkait bahan baku, Kementerian Pertanian RI mencatat rata-rata kebutuhan daging sapi untuk industri dan konsumsi rumah tangga tiap tahunnya sekitar 700.000 ton. Produksi daging dari sapi lokal mampu memasok sekitar 60% atau setara dengan 2,5 juta sapi dari kebutuhan nasional. Namun, tantangan saat ini adalah sedikitnya jumlah Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPHR) yang telah bersertifikasi halal dan memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk jaminan higienis dan sanitasi, sehingga pasokan bahan baku seperti bonggol sapi untuk bone graft menjadi terbatas. Maka percepatan sertifikasi halal RPHR sangat penting untuk menghasilkan bahan baku bonggol sapi yang halal. Tantangan lainnya adalah industri kesehatan masih diasosiasikan dengan kebutuhan darurat oleh pengguna, sehingga ketersediaan produk dan harga masih menjadi kekhawatiran dibandingkan dengan status halal produk. Tingkat literasi pengelola layanan kesehatan, pelaku usaha farmasi/alkes dan tenaga medis juga perlu ditingkatkan terkait jaminan produk halal seiring dengan pentahapan kewajiban sertifikasi halal sektor farmasi dan alkes.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









