Ekonomi
( 40478 )Menuju Bank Syariah Besar Kedua
Tumbuh Berlipat Perbankan Syariah nasional
Kurang Agresif Merangkul Pekerja Informal
Bunga Acuan Tetap 6% Antisipasi Risiko Inflasi
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI (BI rate) sebesar 6,00%. Adapun kalangan ekonom menilai hal ini untuk mengantisipasi adanya risiko dari inflasi dalam negeri dan berkurangnya surplus perdagangan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Desember 2023 tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility 6,75% dalam. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang prostabilitas yaitu untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 pada 2024. "Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Perry Warjiyo. (Yetede)
Toyota dan Daihatsu Tegaskan Produk di Indonesia Aman
Menhub Minta Beri Perhatian Khusus untuk Perjalanan Wisata
BP Tapera Kelola Dana Rp7,73 Triliun
JALAN LAPANG ALIRAN DANA ASING
Momentum tahun depan memberikan jalan lapang bagi aliran dana asing ke pasar keuangan di Tanah Air tersulut luruhnya sentimen suku bunga mahal yang membatasi gerak investor asing mengalirkan modal ke aset berisiko di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Instrumen seperti surat utang dan saham bakal mendulang cuan lebih banyak. Merujuk pada kinerja sepanjang tahun ini, dana investor asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) menembus Rp77,73 triliun. Sementara itu, pasar saham masih mencetak aksi jual bersih sebesar Rp9,38 triliun. Menariknya, secara umum, kinerja pasar surat utang lebih unggul dibandingkan dengan pasar saham bahkan bila dibandingkan dengan beberapa nengara Asia. Premi risiko Indonesia pun berada di level rendah yang tecermin dari credit default swap (CDS) RI 5 tahun yang berada pada kisaran 70. Kepala Divisi Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan terdapat beberapa faktor yang akan membuat dana investor asing masuk ke Indonesia. Pertama, Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan menurunkan suku bunga yang akan diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dan indeks dolar AS (DXY Index). Turunnya indeks dolar AS meredam kemungkinan pelemahan rupiah di hadapan greenback. Kondisi tersebut, katanya, mendorong potensi keuntungan nilai tukar. Kedua, Indonesia berada dalam jalur yang tepat untuk menaikkan rating ke BBB+ (triple B plus) tahun depan. Ketiga, aliran dana asing sepanjang 2023 hampir Rp80 triliun yang masih belum menggantikan porsi sebelum pandemi Covid-19. Dihubungi terpisah, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi menjelaskan investor asing di Surat Utang Negara (SUN) mementingkan faktor stabilitas makroekonomi dan akan membandingkan imbal hasil Indonesia dengan safe haven seperti AS. Sementara itu, investor saham asing lebih menitikberatkan pada prospek pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada laba perusahaan. Sementara itu, Schroders Indonesia, manajer investasi asal Inggris dalam laporan terbarunya menggarisbawahi sejumlah poin penting pada 2024. Sentimen positif berasal dari kelanjutan sikap The Fed yang melunak dengan peluang pelonggaran moneter, pertumbuhan ekonomi China yang lebih kencang, prospek harga komoditas termasuk logam, dan kinerja moncer emiten pada 2024. Sentimen yang perlu diwaspadai yakni likuiditas domestik ketat yang bisa menghambat pertumbuhan. Menariknya, penyelenggaraan Pemilu menjadi faktor yang perlu diperhatikan meskipun memicu konsumsi lebih tinggi. Dari sisi pasar saham, perusahaan menilai valuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) menarik dengan perkiraan pertumbuhan laba per saham (earning per share/EPS) pada 2024 mencapai 11%-12%. Dari situ, perusahaan menuturkan bahwa sektor seperti perbankan yang dipimpin oleh bank jumbo mampu memberikan laba tebal. Head of Research & Advisory Bank Commonwealth Thadly Chandra menyebutkan Pemilu akan memberi dampak positif pada aktivitas ekonomi dan likuiditas di pasar keuangan. Dengan demikian, baik pasar surat utang dan saham bakal menikmati manfaat hajatan 5 tahun sekali ini.
Tersengat Prospek Suku Bunga
Nuansa positif terus menyertai kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG dalam beberapa waktu terakhir. Tren bullish ini diharapkan terus bergulir konsisten sampai dengan akhir perdagangan di pengujung tahun ini. Dalam perdagangan kemarin, Rabu (20/12), IHSG kembali ditutup menguat 0,44% ke level 7.219,67. Jika diakumulasi sepanjang periode bulan berjalan, indeks komposit sudah naik sebanyak 1,97%. Bahkan, secara year-to-date/YtD, pertumbuhannya telah mencapai 5,39%. Penguatan pasar saham di Indonesia sejalan dengan kinerja bursa di Asia yang kompak menghijau kemarin. Nikkei 225 Jepang mencatatkan kenaikan terbesar setelah melonjak 1,8%, diikuti oleh Indeks Hang Seng Hong Kong yang juga melesat 1,1% ditopang penguatan saham-saham energi dan teknologi. Di Amerika Serikat, bursa saham di Wall Street New York turut menghijau. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,68% atau 251,90 poin ke level 37.557,92, begitu pula dengan indeks S&P 500 yang menguat 0,59% atau 27,81 poin ke 4.768,37, dan Nasdaq menanjak 0,66% atau 98,03 poin ke level 15.003,22. Jika penurunan suku bunga The Fed ke depan betul terjadi, ini akan menjadi angin segar yang berhembus ke pasar modal di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Penurunan suku bunga akan diikuti dengan penurunan US Treasury Yield dan indeks dolar Amerika Serikat. Kuncinya tentu saja bergantung dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait dengan kebijakan suku bunga yang diumumkan hari ini (21/12). Adapun, konsensus ekonom yang dihimpun oleh Bloomberg memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 6%. Setelah The Fed mempertahankan suku bunganya pada pertemuan pekan lalu, potensi Bank Indonesia untuk ikut mempertahankan suku bunga acuan tentu sangatlah besar. Terlebih, pergerakan nilai tukar rupiah belakangan masih cukup rentan dipengaruhi volatilitas pasar keuangan global. Kami meyakini bahwa Bank Indonesia baru akan melakukan pelonggaran suku bunga acuan pada paruh kedua tahun depan, mengikuti proyeksi penurunan suku bunga The Fed. Ini akan menjadi kesempatan bagi investor untuk mulai menyerbu instrumen pasar modal yang berisiko tinggi seperti saham. Bagi pemodal domestik, momentum tahun depan seharusnya sudah mulai direspons dari sekarang. Valuasi IHSG hari ini cenderung masih sangat murah. Rasio harga saham dengan laba bersih per saham (price earning ratio/PER) di pasar saat ini rata-rata tercatat hanya 12,8 kali.
Tiktok Shop-Tokopedia: Siapa Untung, Siapa Buntung?
“Investor didorong untuk bekerja sama, berpartner dengan pengusaha-pengusaha nasional, pengusaha daerah, seberapa besarpun sahamnya yang penting pengusaha nasional ada” Arahan Presiden Joko Widodo yang disampaikan pada Peresmian Pembukaan Rakornas Investasi 2023 tersebut dirasa sangat relevan dengan apa yang terjadi pada lanskap ekonomi digital baru-baru ini. Di mana raksasa digital Tiktok berinvestasi ke raksasa e-commerce lokal, Tokopedia. Tak berlebihan memang, ketika pemerintahan di sebuah negara berusaha keras untuk mengembangkan dan membesarkan “local champion” sebagai motor pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja dan tentu saja kebanggaan bangsa. Komitmen kuat pemerintah dalam melindungi industri dalam negeri sangat bisa dirasakan dengan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk penghiliran di berbagai sektor. Termasuk di antaranya melindungi UMKM dalam negeri. Adapun di sektor UMKM, visi besar pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Koperasi dan UMKM diwujudkan dalam tiga komitmen besar, yakni melindungi UMKM dalam negeri, melindungi konsumen dalam negeri, dan melindungi e-commerce dalam negeri. Kehadiran Tiktok Shop yang menjadi perhatian publik beberapa bulan lalu direspons dengan sangat cepat dan tepat oleh pemerintah. Permendag Nomor 31 berhasil menata Tiktok Shop & para pemain e-commerce lainnya untuk mempromosikan produk lokal, membuka kesempatan pada pelaku usaha kecil dan menghentikan praktik predatory pricing. Mengutip data dari berbagai sumber, saat ini Shopee memegang sekitar 40% market share, dan secara agresif terus meningkatkan pengeluaran untuk mengembangkan pangsa pasarnya. Shopee merupakan e-commerce asing yang 100% sahamnya dimiliki Sea Ltd. Sedangkan Sea adalah perusahaan publik yang tercatat di NYSE di mana salah satu pemegang saham terbesarnya adalah Tencent, China.
Lalu bagaimana dengan Tokopedia? Sebagai local champion kebanggaan bangsa, Tokopedia harus fokus pada growth yang menguntungkan di saat persaingan pasar yang sangat menantang dengan keterbatasan modal jika dibandingkan dengan para pesaingnya. Di sisi lain, Tiktok shop merupakan pendatang baru dengan pertumbuhan yang sangat pesat. Sang induk perusahaan menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 85 miliar serta EBITDA pada FY22 senilai US$25 miliar. Ditambah cadangan cash pada kuartal II/ 2023 senilai US$51 miliar, menjadi pesaing yang sangat berat bagi Shopee, perusahaan yang sepenuhnya dimiliki asing yang telah bertahun-tahun meraup cuan dari pasar Indonesia. Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, memahami betul proses bersatunya Tiktok Shop-Tokopedia memerlukan integrasi sistem teknologi yang tidaklah mudah. Belum lagi, upaya keduanya untuk tetap patuh pada aturan yang berlaku di Indonesia memerlukan waktu penyesuaian. Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah akan memberikan masa percobaan selama 3—4 bulan untuk penggabungan TikTok Shop dengan Tokopedia. Siapa (B)Untung?. Berpartner dengan perusahaan lokal, menjadi pilihan Tiktok shop untuk kembali mengembangkan bisnis UMKM dalam negeri dan memberikan kemudahan kepada para konsumen di Indonesia. Pemilihan Tokopedia sebagai local partner juga tepat setelah sebelumnya tiktok menjalin komunikasi dengan sejumlah pemain e-commerce dalam negeri. Selain itu, untuk masuk ke industri e-commerce yang sudah perang promo atau diskon seperti sekarang, hampir mustahil bisa meningkatkan pangsa pasar atau market share. Maka, Tiktok Shop bergabung ke Tokopedia merupakan solusi lebih murah dan realistis. TikTok punya keunggulan dalam live sales-nya. Sementara Tokopedia memiliki market share yang besar, bisa digabungkan expertise masing-masing platform. Ini win win solution.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









