;
Kategori

Ekonomi

( 40473 )

Genjot Market Cap, Integritas Diperkuat

03 Jan 2024
Meski tumbuh impresif pada 2023, nilai kapasitas pasar (market cap) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dianggap masih jauh di bawah potensinya. Salah satu indikatornya adalah rasio nilai kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) yang hanya di level 46%, jauh tertinggal dibandingkan rasio sejumlah negara lain di Asean yang telah melampaui 100%. Nilai kapitalisasi pasar saham BEI per 29 Desember 2023 tercatat Rp 11.674 triliun, tumbuh hingga 22,9%. Pencapaian lain yang juga belum optimal  adalah jumlah investor pasar modal yang baru 6,4% dari jumlah penduduk usia produktif di Indonesia, yang per akhir 2023 tercatat baru sebanyak 12,13 juta single investor identification (SID). Langkah itu antara lain dilakukan melalui percepatan penyelesaian pemeriksaan dan pengaturan sanksi terintergrasi untuk lembaga jasa keuangan  (LJK)," ujar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar. 

Inflasi Sentuh Titik Tertinggi di Akhir Tahun

03 Jan 2024
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2023 mencapai 2,61%, lebih rendah dari November sebesar 2,86%. Namun, secara bulanan (mount to mount/mtm), inflasi Desember mencapai 0,41%, tertinggi sepanjang 2023, dipicu kenaikan harga bahan makanan. "Pada Desemebr 2023, terjadi peningkatan indeks harga konsumen dari 116,08 pada November menjadi 116,56," ucap Pelaksana Tugas (plt) Kepala BPS Amalaia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Selasa (2/1/2023). Dia menuturkan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi  bulanan terbesar di akhir tahun adalah maknan, minuman, dan tembakau. Kelompok pengeluaran ini mengalami inflasi 1,07% dan memberikan andil inflasi 0,29% terhadap inflasi Desember 2023. Selanjutnya, dia menenerangkan, inflasi cabai merah mencapai 0,06%, bawang merah 0,04%, tomat 0,03%, cabai rawit 0,02%, beras 0,02%, dan telur ras 0,02%. (Yetede)

Kredit Menganggur Kredit Perbankan Melambat

03 Jan 2024
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed/loan) nasabah per Oktober 2023 sebesar Rp2.092,12 triliun, tumbuh 15,37% secara tahunan (year on year/ yoy). Apabila dibandingkan dengan  bulan sebelumnya dengan underbursed loan yang tumbuh 15,61% (yoy), tren kredit menganggur ini diprediksi tumbuh melambat. Berkurangnya fasilitas kredit yang belum ditarik tersebut sejalan dengan adanya peningkatan pertumbuhan kredit per Oktober 2023. Dimana kredit bank tumbuh 8,99% (yoy) pada Oktober 2023, lebih tinggi dibandingkan posisi September 2023 yang tumbuh 8,96%. Apabila mengacu pada hal tersebut, artinya tren underbursed loan November 2023 juga akan kembali lebih rendah  dibandingkan Oktober 2023 yang tumbuh 8,96% (yoy). (Yetede)

Industri Pertahanan Berperan Strategis Dukung Pertahanan Negara

03 Jan 2024
Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golkar, Dave Akbarshah Fikarno Laksono yang akrab disapa Dave laksono mengatakan, industri pertahanan nasional baik BUMN pertahanan, maupun BUMN swasta (BUMS) berperan sangat strategis dalam ikut mewujudkan pertahanan negara. Industri pertahanan menjadi salah satu ujung tombak dalam mengembangkan sistem pertahanan secara mandiri untuk memenuhi kualitas dan kuantitas alutsista yang yang sesuai dengan karakteristik kewilayahan dan potensi ancaman yang dihadapi negara lain. "Industri pertahanan punya peran strategis untuk mewujudkan pertahanan negara. Luas Indonesia yang kurang lebih seperti 16 negara di Eropa, dengan panjang pantai terpanjang ke dua di dunia setelah Kanada membutuhkan pertahanan yang kuat," kata dave. (Yetede)

Pilih Menahan Dulu, Tunggu Kepastian Pemilu

03 Jan 2024

Lampu kuning menyala! Optimisme pebisnis mulai melandai di awal 2024. Kondisi politik dalam negeri yang memanas jelang Pemilu Presiden 2024 menjadi faktor yang paling membuat pebisnis dag-dig-dug. Persepsi dunia usaha ini tertangkap dalam survei terbaru KONTAN yang tertuang dalam Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal I-tahun 2024. Masih di level yang optimis atas prospek ekonomi Indonesia, puluhan pengambil keputusan penting dalam perusahaan alias para chief executive officer (CEO) mengkhawatirkan sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap rencana investasi. Namun, indeks tersebut menurun ke level 3,54 dibanding survei ICCI kuartal IV-2023 yang di level 3,62. Responden survei yang merupakan para CEO di lintas sektor usaha ini, dari enam indikator penilaian, yakni kondisi ekonomi makro, belanja pemerintah, daya beli, politik nasional, hingga ekspansi bisnis ada di zona optimistis. Namun dari survei ICCI kuartal I-2024 berlangsung sejak awal Desember 2023, indeks dalam tren menurun. Pebisnis memilih berhati-hati melakukan ekspansi usaha. Ada dua hal yang mereka cermati terkait kondisi politik menjelang pemilihan umum (pemilu). Yakni, stabilitas politik dan sirkulasi pemimpin yang dihasilkan dari pelaksanaan pemilu tersebut. Jung Fan, Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia Tbk menyebut, kondisi makro Indonesia tahun ini ditentukan hasil pemilu. Mereka menunggu kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Namun ia optimistis, daya beli masyarakat menguat paska pandemi. Lalu, pemilu menjadi stimulan karena tingginya uang beredar. Jadi, "Kami optimistis melihat pertumbuhan ekonomi," ujarnya. Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk menyoroti kondisi global yang belum berpihak ke usaha. Kata dia, pemilu yang berjalan lancar bukan satu-satunya faktor yang menentukan ekonomi Indonesia tahun ini. Sementara pasar domestik belum bisa bisa diandalkan lantaran daya beli belum terlalu kuat. "Kami akan tetap ekspansi terbatas," cetusnya. Santosa, Direktur Utama PT Astra Agro Lestari Tbk memilih netral di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan politik nasional di tahun pemilu.

Pendapatan Gendut, Defisit APBN Menciut

03 Jan 2024

Ruang fiskal pemerintah kembali terbuka lebar sejalan dengan menciutnya defisit Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) 2023. Hal ini seharusnya menjadi modal yang cukup bagi pemerintah untuk menjalani perekonomian tahun depan yang kemungkinan masih diliputi ketidakpastian pasar global maupun domestik. Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, defisit APBN 2023 sebesar Rp 337,6 triliun setara 1,65% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah target awal APBN 2023 yang sebesar Rp 598,2 triliun atau 2,84% PDB dan di bawah target dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2023 sebesar Rp 479,9 triliun atau 2,27% PDB. Artinya, "2023 konsolidasinya lebih cepat," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, kemarin. Dari sisi belanja, realisasinya mencapai Rp 3.121,9 triliun, setara 100,2% dari target dalam Perpres. Terutama, karena pencapaian belanja kementerian dan lembaga (K/L) sebesar Rp 1.153,5 triliun, setara 115,2% dari target. Adapun kesimbangan primer ditutup dengan mencatatkan surplus Rp 92,2 triliun. Padahal, di APBN 2023, keseimbangan primer didesain defisit Rp 256,8 triliun dan dalam Perpres 75/2023 ditaksir defisit Rp 38,5 triliun. Sementara Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kemkeu Isa Rachmatawarta bilang, defisit APBN 2023 merupakan terendah sejak 12 tahun terakhir. "(Defisit anggaran) sebelumnya lebih rendah itu di 2011 yakni 1,14% dari PDB," tutur Isa, kemarin. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita bilang, surplus pada keseimbangan primer mengindikasikan pemerintah tidak lagi membayar utang maupun bunga utang dengan menambah utang baru. Menurut dia, keseimbangan primer bisa surplus karena terjadinya penurunan defisit APBN 2023, dari yang semula direncanakan 2,84% dari PDB dalam APBN 2024 dan 2,27% dalam Perpres 75/2023. Dia juga mengapresiasi kinerja keseimbangan primer yang mengalami surplus. Juga defisit anggaran terendah sejak 10 tahun terakhir. Hal tersebut berarti kinerja fiskal yang semakin sehat dan berkelanjutan.

Ekspansi Manufaktur Berlanjut di 2024

03 Jan 2024

Laju ekspansi manufaktur diperkirakan berlanjut pada tahun 2024. Bukan hanya dipicu faktor musiman di awal tahun, insentif pemerintah juga akan mendorong kinerja manufaktur tahun ini. Pada Desember 2023, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2023 berada di level 52,5. Angka ini meningkat 0,5 poin dibandingkan November 2023 di level 51,7. PMI Manufaktur ini juga naik mencapai posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Artinya, kondisi sektor manufaktur terus membaik sejak September 2023 dan berada pada fase ekspansi selama 28 bulan berturut-turut. Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan mengatakan, positifnya kinerja manufaktur pada kuartal terakhir 2023 karena permintaan baru yang akan datang dan output mengalami ekspansi. Di sisi lain, permintaan asing juga sedikit membaik untuk pertama kali dalam tiga bulan. "Hal ini memperkuat aktivitas pembelian dan mendorong kenaikan berkelanjutan pada ketenagakerjaan di seluruh sektor produksi barang," kata Jingyi dalam keterangan resminya, Selasa (2/1). Pengamat Ekonomi Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat, ada sederet tantangan yang akan menghantui sektor manufaktur pada tahun ini. Mulai dari kenaikan permintaan barang yang belum stabil hingga ancaman barang hasil sektor manufaktur impor masih akan sangat tinggi. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman memperkirakan kinerja manufaktur kuartal I-2024 masih akan ekspansif, didorong faktor musiman Lebaran.

Pilihan Saham di Sektor Unggulan 2024

03 Jan 2024

Memasuki pergantian tahun, bakal ada rotasi sektor unggulan penggerak bursa. Sepanjang tahun lalu sektor indeks sektor infrastruktur memimpin pasar saham dengan lonjakan sebesar 80,75%, jauh meninggalkan indeks sektoral lainnya. Menempati posisi kedua, sektor barang baku ( basic materials ) hanya tumbuh 7,51%. Diikuti oleh sektor keuangan yang naik 3,07%. Sementara itu, sektor teknologi dan kesehatan turun paling dalam dengan mencetak kinerja minus 14,07% dan 12,07%. Sedangkan sektor energi yang berjaya pada tahun 2022, berbalik mencatat minus 7,84% sepanjang 2023. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo mengatakan, kinerja sektoral dan penguatan IHSG tahun 2023 lalu cenderung ditopang oleh saham-saham yang baru melantai di BEI. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menyoroti, pada tahun ini ada dua katalis penting yang bakal memengaruhi pergerakan sektoral saham di BEI. Pertama , potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, yang akan diikuti Bank Indonesia. Kedua , momentum politik pemilihan umum. Secara historis, Ratih mengungkapkan pemilu menjadi katalis positif bagi sektor konsumsi primer. Selain faktor kenaikan konsumsi, sektor ini juga terpapar angin segar dari melandainya harga soft commodity seperti gandum. Sektor lain yang berpotensi naik daun tahun ini adalah properti. Menurut Ratih, menarik mencermati sektor properti seiring potensi pemangkasan suku bunga acuan. Sektor unggulan lainnya adalah keuangan, terutama saham perbankan yang menunjukkan stabilitas kinerja di tengah volatilitas pasar dan situasi ekonomi. Dengan sejumlah pertimbangan tersebut, Ratih pun menyematkan rekomendasi beli untuk sejumlah saham. Misalnya, MYOR dengan target harga Rp 2.650, MDKA Rp 3.050, dan SMRA Rp 630. Kemudian, buy on weakness BBRI di area Rp 5.550 dengan target harga di Rp 5.900. Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyematkan rating overweight untuk sejumlah sektor saham, seperti saham-saham telekomunikasi di sektor infrastruktur, perbankan di sektor keuangan, properti, transportasi dan logistik, serta ritel pada sektor barang konsumsi.

Covid-19 Naik, Saham Farmasi Menarik

03 Jan 2024

JAKARTA. Kasus Covid-19 kembali menanjak, terutama usai libur Natal dan Tahun Baru 2024. Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia salah satunya akibat munculnya varian baru JN.1. Kementerian Kesehatan mencatat, kasus positif JN.1 meningkat dari 1% pada awal November 2023 menjadi 43% pada awal Desember 2023. Analis Ciptadana Sekuritas, Nicko Yosafat dalam riset 29 Desember 2023 mengatakan, peningkatan kasus harian korona bisa mencapai 1.000-2.000 setelah libur akhir tahun, melampaui angka di saat Idul Fitri tahun 2023. Di tengah kondisi ini, Nicko memprediksi, penjualan produk-produk farmasi dan peralatan medis akan meningkat. Situasi ini dapat memacu kinerja emiten farmasi pada kuartal IV-2023. Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei mengatakan, meski ada kenaikan kasus korona, tapi dampak positifnya akan lebih banyak tercermin ke saham-saham yang kinerja keuangannya membaik pada kuartal ketiga. Misalnya, saham PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). "Jadi ada kemungkinan harga sahamnya akan naik menjelang rilis laporan keuangan kuartal IV-2023," kata Jono. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi juga menilai, kenaikan kasus Covid-19 varian baru akan memberikan permintaan lebih tinggi ke emiten kesehatan. Dia menyarankan hold saham KLBF dengan target harga Rp 1.530 per saham dan hold saham SIDO dengan target harga Rp 555 per saham.

Menadah Cuan Kontrak Baru PTPP

03 Jan 2024

PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) diproyeksi tetap mencetak kinerja solid di 2024. Dorongan dari pemerintah untuk segera menyelesaikan Proyek Strategis Nasional (PSN) bakal menjadi pendukung bagi emiten konstruksi pelat merah tersebut. Analis Mandiri Sekuritas, Farah Rahmi Oktaviani dan Adrian Joezer memaparkan, proyek Kalibaru akan menjadi penggerak pendapatan PTPP di 2024. Seperti diketahui, PTPP telah berpartisipasi dalam pengembangan terminal peti kemas baru Tanjung Priok atau disebut Pelabuhan Kalibaru sejak tahun 2012. Sejauh ini, tahap 1A telah selesai dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2016. PTPP saat ini sedang mengembangkan tahap 1B dengan lingkup pekerjaan termasuk desain dan pembangunan, dan nilai kontrak sebesar Rp 3,8 triliun. Per November 2023, PTPP membukukan pencapaian kontrak baru sebesar Rp 30,2 triliun, atau tumbuh 8% year on year (yoy) dan telah mencapai sekitar 89% dari target tahun 2023. Sumber pendapatan kontrak baru PTPP terutama didorong oleh proyek-proyek dari pemerintah dengan porsi sekitar 41% dan BUMN sekitar 34%. Farah bilang, PTPP memperkirakan pertumbuhan kontrak baru akan cenderung datar sekitar 1%-2% yoy di 2024. Hal tersebut karena tender proyek yang diperkirakan lebih lambat dari BUMN dan swasta selama Pemilu. PTPP menargetkan sekitar Rp 10 triliun kontrak baru didapatkan dari proyek IKN. Optimisme tersebut mengingat anggaran IKN dari pemerintah lebih tinggi yaitu Rp 40,6 triliun dan dengan asumsi tingkat kemenangan sebesar 25%. PTPP juga berencana divestasi sebagian aset seperti pembangkit listrik (PT Inpola Meka Energi dengan kepemilikan 38,7% dan PT Odira Energi Karang Agung dengan kepemilikan 70%) di 2024. PTPP juga masih berupaya divestasi sebagian lahan dan aset segmen properti, semisal pada PT PP Properti Tbk (PPRO). Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, langkah divestasi aset dan potensi peningkatan proyek diharapkan dapat menjaga kinerja positif PTPP berlanjut di 2024. "Tantangan bagi emiten konstruksi terutama anggota BUMN Karya adalah arus kas negatif," kata Nafan, Selasa (2/1). Analis Binaartha Sekuritas, Revita Dhiah Anggrainy dalam riset 4 Desember 2023 menyebutkan, PTPP masih mampu mengantongi laba bersih dikala ada penurunan pendapatan usaha pada kinerja sembilan bulan pertama di 2023. Peningkatan laba bersih PTPP didukung oleh biaya keuangan yang lebih rendah dan peningkatan laba dari usaha patungan. Binaartha Sekuritas menargetkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) PTPP sebesar 1,3 kali di tahun 2023-2024.