Ekonomi
( 40460 )Grand Wisata Bekasi Sasar Segmen Premium Lewat The Kaia
Permintaan rumah tapak segmen premiun di kawasan Bekasi, Jawa Barat dinilai masih bermunculan pada 2024. Karena itu, Sinar mas Land (SML) menghadirkan The Kaia di proyek Grand Wisata Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Tahap awal, The Kaia menyodorkan klaster pertama bertajuk Yara dengan kapasitas sebanyak 111 unit yang dibanderol mulai Rp 3,8 miliar per unit. "Klaster Yara at The Kaia di Grand Wisata Bekasi mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat akan hunian premium dengan exclusive and private neighbourhood," papar CEO Residential Nasional SInar Mas Land, Prasetijo Tanumihardja. Dia menerangkan, setiap rumah di klaster Yara sudah dilengkapi smart home system dimana setiap penghuni dapat memantau setiap sudut rumah dari smartphone. Hunian yang mengusung konsep eco green ini juga dilengkapi dengan smartdoor, IP camera, light switch, dan door monitor. Selain itu, Yara juga menggunakan sistem panel surya yang dapat ,menghemat tagihan listrik dan mengurangi jejak karbon. (Yetede)
Perekonomian Dalam Siklus Ekspansi
Perekonomian Indonesia diyakini masih berada dalam siklus ekspansi ditengah situasi ketidakpastian global saat ini. Pemerintah pun memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 mencapai 5,17% yang ditopang oleh geliat konsumsi rumah tangga. Hal ini tercermin dalam pertumbuhan pinjaman yang kuat 11,3% secara tahunan (year on year/yoy) di Februari 2024, meningkat dibandingkan Desember 2023 yang sebesar 10,4% (yoy), serta membaiknya pinjaman luar negeri swasta nonbank. "Belanja pemerintah juga meningkat pesat sebesar 30,1% secara year on year pada bulan Februari, didorong oleh belanja pemilu," ujar Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra di Jakarta. Kendati demikian, Standard Chartered menurunkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024 menjadi 5,2% dari sebelumnya 5,2%. "Kami masih memperkirakan pertumbuhan di semester pertama yang kuat, namun hasil pemilu bulan Februari cukup meyakinkan sehingga tidak diperlukan adanya pemilu putaran kedua. Hal ini akan menurunkan dorongan konsumsi," ujar dia. (Yetede)
Mengapa Budi Daya Lobster di Dalam Negeri Sulit
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan makin terbuka perihal rencana ekspor benih bening lobster alias benur. Ekspor benur diizinkan asal negara importir memenuhi beberapa ketentuan, salah satunya melakukan pembiakan atau budi daya lobster di Indonesia. Kerja sama sudah mulai dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ada lima perusahaan asal Vietnam yang siap mengembangkan benur di Indonesia sebagai syarat mendapatkan kuota ekspor. Vietnam, sebagai negara pembudi daya lobster, selama ini mengandalkan benur asal Indonesia. Ada sekitar 150 ribu keramba jaring apung atau KJA yang dimiliki negara tersebut. Sementara itu, Indonesia, sebagai penghasil benur, belum mampu bersaing dalam pengembangan lobster.
Menurut Menteri Kelautan Sakti Wahyu Trenggono kegagalan budi daya lobster dalam negeri karena ekosistem yang belum terbentuk. Berbagai tantangan yang dihadapi di antaranya kesulitan pakan, ekspor ilegal yang marak sehingga mengurangi kuota benih bagi pembudi daya, hingga produsen KJA yang terbatas. “Industri kita belum siap,” katanya, di Jakarta, Senin, 29 April lalu. Sebelum keran ekspor lobster dibuka, pemerintah coba memberantas ekspor benur ilegal. Namun, berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Kelautan selama dua tahun terakhir, penyelundupan masih marak. Di sisi lain, banyak pelaku budi daya lobster yang gagal. Karena itu, Trenggono mengaku berinisiatif melahirkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan yang mulai berlaku pada Maret lalu. Peraturan tersebut melegalkan ekspor benih lobster dengan sejumlah syarat. Dengan begitu, pemerintah berharap Indonesia akan mendapatkan berbagai keuntungan, seperti manfaat ekonomi dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP), transfer pengetahuan mengenai pembiakan, dan etos kerja budi daya lobster. (Yetede)
Kocok Ulang Portofolio Saat Bunga Tinggi
Pelemahan rupiah serta ketidakpastian global yang masih tinggi mengakibatkan bunga acuan semakin mekar. Bank Indonesia, pekan lalu, mengerek naik BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%. Investor tentu perlu memiliki strategi mengoptimalkan return, sekaligus meminimalkan risiko di saat bunga mekar. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menyebut diversifikasi portofolio perlu dilakukan di era suku bunga tinggi. Dengan memiliki berbagai jenis aset dan risiko, kerugian karena perubahan bunga dapat ditekan. Di instrumen surat utang, investor bisa mempertimbangkan obligasi yang memiliki jangka pendek atau obligasi dengan tingkat bunga yang mengambang. Efek jenis itu dinilai lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga. Menurut CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, investor perlu menimbang instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko yang sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Bagi investor dengan profil risiko moderat bisa menaruh asetnya di saham sebesar 30%, obligasi 40%, dan kas atau pasar uang 30%. Adapun investor dengan profil risiko konservatif bisa menaruh aset di saham sebanyak 15%, obligasi 45%, dan kas atau pasar uang sebanyak 40%.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan, secara umum kenaikan bunga akan menurunkan daya tarik berinvestasi di aset aset berisiko. Maka obligasi bisa menjadi pilihan. Lalu juga ke deposito atau emas sambil memperhatikan kondisi dan situasi ekonomi global.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, saham konsumer noncyclical akan tetap menarik. Selain itu saham utilitas, seperti infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktir gas juga masih akan lebih stabil.
Pasar Ekspor Tak Tergarap, Pasar Lokal Melahap
Kelezatan buah durian tak hanya populer di lidah orang Indonesia. Buah berduri yang memiliki aroma menyengat ini juga sangat di gemari di pasar ekspor, terutama di negara-negara Asia. Tak heran, pemerintah berambisi menggenjot ekspor buah dengan kombinasi rasa manis dan pahit tersebut. Terlebih porsi ekspor durian Indonesia masih relatif kecil. Hanya saja, ada sederet pekerjaan rumah yang harus dituntaskan agar durian lokal bisa bersaing di kancah global. Salah satunya pamor durian Indonesia yang belum setenar durian asal negeri tetangga. Sebut saja Malaysia dan Thailand yang memiliki varietas unggul, seperti Musang King dan Motong. "Indonesia unggul secara kuantitas, karena buah ini bisa tumbuh dari Aceh sampai Papua. Tapi, kualitas kita kalah dari negara tetangga," ujar Ketua Sigit Purwanto, Ketua Komunitas Durian Traveler ke KONTAN, Senin (29/4).
Namun, pemerintah berniat memacu ekspor komoditas buah ini. Hal ini bermula dari pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, baru-baru ini. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas soal potensi ekspor durian ke Tiongkok. "Durian jangan anggap enteng. Mereka (China) impor durian itu sampai US$ 8 miliar (setara Rp 129,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.200 per dollar AS)," ujar Luhut baru-baru ini. Pernyataan Luhut benar adanya. Berdasarkan data perdagangan China yang dikutip oleh Asosiasi Eksportir Importir Buah-Buahan dan Sayuran Segara Indonesia (Aseibssindo), setiap kenaikan 1% penduduk China yang mengonsumsi durian, akan mengerek nilai penjualan durian sebesar US$ 1,7 miliar atau setara Rp 27,63 triliun. Owner Vigano Farm, Nelsens Yansah mengaku, tidak begitu tertarik mengekspor durian kendati potensinya besar. "Soalnya kita ini untuk memenuhi suplai di pasar domestik saja belum cukup. Sehingga, ekspor rasanya belum masuk akal walau menjanjikan," ujarnya, Senin (29/4).
Pemodal Asing Melirik Indonesia Selepas Pilpres
Prospek investasi asing di dalam negeri kembali cerah. Pasca pemilihan umum (Pemilu) 2024 yang kondusif, para investor asing semakin optimistis terhadap penanaman modal di Indonesia. Investor Inggris misalnya. Berdasarkan hasil survei British Chamber of Commerce Indonesia (Britcham), indeks kepercayaan bisnis alias International Business Confidence Index 2024 tercatat sebesar 66%, jauh meningkat dari posisi akhir survei pada tahun 2020 yang sebesar 31%. Angka tersebut bahkan rekor tertinggi kedua dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pada 2014, indeks kepercayaan bisnis menyentuh 71%.
Sekretaris Britcham Indonesia, Ian Betts mengungkapkan, ada beberapa alasan yang mendorong para pengusaha Inggris yakin untuk melanjutkan bisnis di Indonesia. Pertama, keyakinan terhadap prospek ekonomi makro RI. Kedua, para penanam modal menilai adanya penurunan dari birokrasi yang tidak efisien. Terutama, terkait berkurangnya jumlah sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni serta penanggulangan korupsi. Ketiga, pandangan positif terhadap ketersediaan SDM dan keterlibatan aktif dengan serikat pekerja.
Setali tiga uang, Ketua Korea Chamber of Commerce and Industry (Kocham) Indonesia Lee Kang Hyun menerangkan bahwa pengusaha Korea semakin tertarik membuka peluang investasi di Indonesia pasca Pemilu 2024. "Perusahaan Korea berpikir investasi skala penuh akan dilakukan mulai tahun depan setelah presiden baru memulai masa jabatannya," kata Lee kepada KONTAN, kemarin. Investasi asing memang masih menyokong investasi RI. Kementerian Investasi mencatat, realisasi penanaman modal asing (PMA) di kuartal I-2024 senilai Rp 204,4 triliun, tumbuh 15,5% year on year (yoy). PMA menyumbang 50,9% total realisasi investasi periode ini Rp 401,5 triliun.
"Ini wujud kepercayaan global kepada Indonesia. Dunia dalam ketidakpastian tetapi
foreign direct investment
(FDI) kita tetap terjaga," klaim Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi/Kepala BKPM kemarin.
Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy mengingatkan tantangan investasi tahun ini masih ada. Misalnya kondisi ekonomi global terutama negara tujuan ekspor seperti China yang diproyeksikan melambat imbas krisis properti tahun lalu, juga era suku bunga global dan domestik yang tinggi dan akan mempengaruhi biaya investasi.
ASEAN Menggandeng Erat Negara Arab Teluk
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sepakat mendorong kerja sama ASEAN dengan Gulf Cooperation Countries (GCC) untuk memperkuat pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Hal tersebut dibahas dalam dialog di World Economic Forum (WEF) di Riyadh, Arab Saudi. Adapun GCC atau Kerja Sama Dewan untuk Negara Arab di Teluk merupakan sebuah blok dagang yang terdiri dari enam negara Arab di Teluk Persia. Keenam negara itu adalah Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Menko Airlangga mengusulkan untuk memperluas mitra kerja sama
Regional Comprehensive Economic Partnership
(RCEP), yang sebelumnya telah dijalin ASEAN bersama beberapa negara mitra, dengan negara-negara di GCC.
Meski demikian, kerja sama yang telah ada juga perlu diperkuat. Diharapkan, berbagai kerja sama tersebut menjadi peluang investasi dan perdagangan baru yang akan memperkuat ekonomi kedua kawasan.
Menangkap Peluang Dengan Bisnis Baru
Emiten ramai-ramai menggelar ekspansi dengan merambah bisnis anyar. Sederet emiten berskala besar hingga kelas menengah sudah mengumumkan rencana penambahan usaha. Barisan emiten tersebut ada yang sudah dan akan mengajukan tambahan Klasifikasi Baku Lapangan usaha Indonesia (KBLI) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Contohnya PT Astra International Tbk (ASII) yang akan ekspansi ke bisnis ekosistem kendaraan listrik alias electric vehicle (EV), mencakup industri baterai dan penjualan tenaga listrik. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dari Grup Saratoga mengambil langkah serupa untuk merambah bisnis kendaraan listrik. MPMX ingin menambah usaha berupa charging station, reparasi baterai dan aktivitas penunjang lainnya.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) tak ketinggalan untuk memperkuat bisnisnya. TBIG melalui anak usahanya akan mengembangkan bisnis penyewaan
power supply.
Sedangkan ASLC akan ekspansi merambah perdagangan eceran motor bekas.
Tak hanya itu, sederet emiten lain juga mengumumkan rencana penambahan kegiatan usaha pada bulan ini.
Di antaranya PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Chitose Internasional Tbk (CINT), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) dan PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA).
Pendiri Stocknow.id, Hendra Wardana memandang rencana ekspansi emiten menambah usaha baru memberikan sinyal positif di tengah kondisi ekonomi yang dibayangi ketidakpastian. Sejumlah emiten juga menunjukkan langkah antisipatif mengincar peluang bisnis masa depan, seperti ekosistem kendaraan listri yang mulai masif.
CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menambahkan, ekspansi bisnis ini menjadi salah satu manuver emiten di tengah era suku bunga yang masih tinggi.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengingatkan kontribusi dari penambahan usaha ini tidak bisa instan dan akan berbeda-beda pada setiap emiten. Tergantung dari keterkaitan dengan bisnis inti, prospek industri, kesiapan investasi, kondisi pasar dan strategi bisnis beserta eksekusinya.
Arah IHSG, Antara Rupiah dan Bunga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal mendapatkan angin segar dari rilis kinerja emiten periode kuartal I-2024. IHSG juga bakal terbantu oleh pembagian dividen. Adapun IHSG menutup perdagangan Senin (29/4) dengan menguat 1,7% atau naik 119,70 poin ke level 7.155,78. Kendati begitu, investor asing masih mencatatkan net sell senilai Rp 400,88 miliar. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, mencermati, rilis kinerja emiten dengan bobot signifikan terhadap IHSG bisa membawa sentimen yang cukup positif kepada pasar saham.
Beberapa emiten big caps sudah merilis kinerja. Seperti, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan lainnya. Sentimen lain yang menjadi penekan bursa yakni kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) serta tensi politik di Timur Tengah. Investment Consultant
Reliance Sekuritas, Reza Priyambada menimpali, sekilas pertumbuhan kinerja emiten
big caps
masih cukup baik dan seharusnya dapat berimbas positif pada harga sahamnya.
Nafan Aji Gusta,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas mencermati IHSG masih dalam fase
bearish consolidation
dengan target support berada pada area 7.014 hingga 6.936.
Analis Phillip Sekuritas, Helen memproyeksi, secara teknikal IHSG akan bergerak di rentang 6.980–7.230.
GOTO Menargetkan Kinerja Positif di 2024
Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan pertumbuhan. Pertumbuhan itu setelah GOTO melepas unit bisnis e-commerce, yakni PT Tokopedia kepada TikTok Pte. Ltd. Berdasarkan laporan keuangan, GOTO membukukan rugi diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 861,91 miliar di kuartal I-2024. Menyusut 77,68% dari Rp 3,86 triliun pada kuartal I-2023. Hasil tersebut tidak terlepas dari pencapaian pendapatan emiten ini. Di periode tersebut, pendapatan GOTO Rp 4,08 triliun. Tumbuh 22,41% dari periode serupa 2023 yang sebesar Rp 3,33 triliun.
Direktur Utama Grup GoTo, Patrick Walujo menjelaskan ,pada kuartal I-2024, pihaknya telah mempercepat pelaksanaan strategi efisiensi serta kembali melakukan investasi pada produk-produk andalan.
Adapun GOTO mengincar EBITDA positif untuk kinerja tahun buku 2024. Dengan target tersebut, manajemen GOTO optimistis tengah berada di jalur yang tepat.
Head of Indonesia Research & Strategy
JP Morgan, Henry Wibowo di riset 24 April 2024, menilai segmen bisnis
on demand services
(ODS) akan menjadi pendorong pendapatan utama GOTO. Hitungannya, GOTO punya kas bersih US$ 1,3 miliar untuk pengembangan ODS dan tekfin.
Equity Research Analyst
Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda menyarankan, GOTO memperluas pasar dan melakukan inovasi produk untuk memperkuat pasar. Kemarin harga GOTO di level Rp 63.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









