;
Kategori

Ekonomi

( 40600 )

Belum Cukup Mendongkrak Ekonomi

30 Apr 2024

Kebijakan di sektor investasi dalam kurun waktu 10 tahun  terakhir dinilai  telah mencatatkan kinerja yang baik. Ini terlihat dari realisasi investasi di Tanah Air yang hampir selalu melampaui target. Demikian pula dengan kebijakan di sektor pariwisata yang melampaui sejumlah target performansi indikator kinerja utama (IKU), meski jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) belum pulih seperti masa prapandemi Covid-19. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berhasil merealisasikan  kinerja  pertumbuhan investasi yang positif sejak 2014 hingga 2023. bahkan pada periode tersebut, realisasi selalu melampaui target, kecuali pada tahun 2018, akibat kondisi global. Pada 2014 realisasi investasi tercatat sebesar 101,4% dari target dan berlanjut sebesar 102,06% (2017), dan 94,29% (2018). Pencapaian ini berlanjut pada periode ke-2 pemerintahan Presiden Jokowi yakni saat Menteri Investasi dan Kepala BKPM dijabat oleh Bahlil Lahadahlia yang berlatar belakang pengusaha. (Yetede)

Proses Impor Barang Kiriman Dievaluasi

30 Apr 2024

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan  menyatakan bakal mengevaluasi dan memperbaiki proses impor  barang kiriman. Mengingat proses tersebut tidak melibatkan satu pihak melainkan juga pihak lainnya seperti perusahaan jasa titipan (PJT) serta pelaku usaha, karenanya DJBC akan mengedukasi pihak-pihak yang terlibat. "Kita terus perkuat perbaikan kedepan," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Askolani di DHL Express Distribution Center, Tangerang, Banten.  DJBC juga telah secara aktif memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait prosedur importasi barang kiriman. Meskipun demikian DJBC juga menyadari bahwa upaya yang telah dilakukan masih belum menjangkau masyarakat secara masif sehingga menyebabkan masih adanya permasalahan yang dialami para importir. Oleh sebab itu, DJBC akan meningkatkan upaya dalam melaksanakan edukasi kepada masyarakat terkait prosedur kepabeanan. (Yetede)

Barito Renewables Puncaki Kapitalisasi Pasar Saham di Bursa Saham

30 Apr 2024

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 1.207 triliun pada penutupan  perdagangan Senin (9/4/2024), yang membuatnya memuncaki posisi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Parjogo Pangestu  ini berhasil menggeser posisi emiten Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ke pringkat kedua dengan market cap Rp 1.196 triliun. Sepanjang perdagangan Senin (29/4/2024), saham BREN berhasil menguat +4,64% ke posisi Rp 9.025. Saham emiten Renewables energi ini terus mencatatkan penguatan selama sepekan terakhir, dan telah melesat 1.057% dari harga saat pencatatan (listing) perdana di BEI sebesar Rp 780 per saham pada Oktober 2023. Market cap BREN juga bertambah Rp 1.103 trliun atau lebih dari 10 kali lipat dari posisi saat listing sebesar Rp 104,3 triliun. (Yetede)

BNI Tingkatkan Profitabilitas Jangka Panjang

30 Apr 2024

PT bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berkomitmen terus meningkatkan profitabilitas yang positif dalam jangka panjang di tengah perkembangan global saat ini. Pada kuartal I-2024, BNI dan entitas anak berhasil  mencatatkan laba bersih konsolidasi mencapai Rp 5,33 triliun, tumbuh 2% secara tahunan (year on year). Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, peningkatan kualitas aset tetap menjadi fokus, yang diharapkan mendorong kinerja fungsi intermediasi yang berkelanjutan ditengah tantangan geopolitik global, tekanan inflasi, dan suku bunga. BNI meningkatkan pendapatan non bunga berupa fee-based income dan loan recovery pada kuartal I-2024 mencapai Rp5,1 triliun atau tumbuh 15,9% (yoy). Dengan peningkatan ini, komposisi pendapatan non bunga telah berkontribusi sebesar 35% dari total pendapatan BNI pada kuartal I-2024, terutama berasal dari fee income surat berharga dan fee dari bisnis sindikasi. (Yetede)

Pendanaan Startup Asia Tenggara Belum Pulih

30 Apr 2024

Pendanaan yang masuk ke bisnis rintisan berbasis teknologi (startup) di kawasan Asia Tenggara, termasuk indonesia, tahun 2024 hingga kuartal I belum menunjukkan pemulihan. Kondisi tersebut pun mengonfirmasi masih beratnya perusahaan startup untuk ekspansi bisnis karena langkah investasi yang masuk. Sementara itu, dua negara tetap menjadi tujuan utama pendanaan startup, yakni Indonesia dan Singapura yang banyak menyasar bisnis teknologi keuangan (fintech). Data yang dirangkum oleh DealStreetAsia, platform digital yang banyak fokus pada riset dan publikasi perusahaan teknologi, menyebutkan, pada kuartal  I-2024, pendanaan yang masuk ke startup di kawasan Asia Tenggara turun US$ 1,44 miliar (100,56%) menjadi US$ 1,14 miliar dari kuartal yang sama tahun 2023 masih bisa mencapai US$ 2,58 miliar. "Khusus pada bulan maret 2024, startup di kawasan Asia Tenggara masih mampu mengumpulkan pendanaan US$ 498 juta, meningkat 28% dari bulan sebelumnya. Nilai pendanaan ini merupakan jumlah tertinggi yang berhasil dikumpulkan sepanjang tahun 2024," ungkap DealSteetAsia, dalam paparan risetnya. (Yetede)

Butuh Armada Baru, Tarif KRL Dinilai Layak untuk Naik

30 Apr 2024

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter dinilai perlu mempertimbangkan kenaikan tarif kereta commuter line Jabodetabek mengingat kondisi usia Armada yang dioperasikan  sudah tidak muda lagi. Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretapian Masyarakat Transportasi (MTI), Aditya Dewi laksana mengatakan terdapat periode kritikal yang mengharuskan KAI Commuter memaksimalkan pengoperasian armadanya. "Ada periode kritikal dimana ini harus ada penggantian rangkaian kereta baru, namun masih terganjal. Sementara volume perjalanan naik terus secara bertahap. Ini artinya ada isu kritikal dimana akan ada kekurangan sarana," kata Aditya kepada Investor Daily di Jakarta. Sebagai informasi KAI Commuter harusnya mendatangkan kereta impor bekas dari Jepang mengingat kebutuhan penumpang kereta rel listrik yang semakin meningkat  dari waktu ke waktu. Pada akhirnya KAI Commuter harus memilih tiga opsi diantaranya, menunggu produksi KRL dalam negeri melalui PT Inka, mendatangkan kereta baru dari China serta meremajakan spare parts  melalui rangkaian KRL yang eksisting saat ini. (Yetede)

Grand Wisata Bekasi Sasar Segmen Premium Lewat The Kaia

30 Apr 2024

Permintaan rumah tapak segmen premiun di kawasan  Bekasi, Jawa Barat dinilai masih bermunculan pada 2024. Karena itu, Sinar mas Land (SML) menghadirkan The Kaia di proyek Grand Wisata Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Tahap awal, The Kaia menyodorkan klaster pertama bertajuk Yara dengan kapasitas sebanyak 111 unit yang dibanderol mulai Rp 3,8 miliar per unit. "Klaster Yara at The Kaia di Grand Wisata Bekasi mengakomodasi tingginya permintaan masyarakat akan hunian premium dengan exclusive and private neighbourhood," papar CEO Residential Nasional SInar Mas Land, Prasetijo Tanumihardja. Dia menerangkan, setiap rumah di klaster Yara sudah dilengkapi smart home system dimana setiap penghuni dapat memantau setiap sudut rumah dari smartphone. Hunian yang mengusung konsep eco green ini juga dilengkapi dengan smartdoor, IP camera, light switch, dan door monitor. Selain itu, Yara juga menggunakan sistem panel surya yang dapat ,menghemat tagihan listrik dan mengurangi jejak karbon. (Yetede)

Perekonomian Dalam Siklus Ekspansi

30 Apr 2024

Perekonomian Indonesia diyakini masih berada dalam siklus ekspansi  ditengah situasi ketidakpastian global saat ini. Pemerintah pun memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 mencapai 5,17% yang ditopang oleh geliat konsumsi rumah tangga. Hal ini tercermin dalam pertumbuhan pinjaman yang kuat 11,3% secara tahunan (year on year/yoy) di Februari 2024, meningkat dibandingkan Desember 2023 yang sebesar 10,4% (yoy), serta membaiknya pinjaman luar negeri swasta nonbank. "Belanja pemerintah juga meningkat pesat sebesar 30,1% secara year on year pada bulan Februari, didorong oleh belanja pemilu," ujar Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra di Jakarta. Kendati demikian, Standard Chartered menurunkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024 menjadi 5,2% dari sebelumnya 5,2%. "Kami masih memperkirakan  pertumbuhan di semester pertama yang kuat, namun hasil pemilu bulan Februari cukup meyakinkan sehingga tidak diperlukan adanya pemilu putaran kedua. Hal ini akan menurunkan dorongan konsumsi," ujar dia. (Yetede)

Mengapa Budi Daya Lobster di Dalam Negeri Sulit

30 Apr 2024

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan makin terbuka perihal rencana ekspor benih bening lobster alias benur. Ekspor benur diizinkan asal negara importir memenuhi beberapa ketentuan, salah satunya melakukan pembiakan atau budi daya lobster di Indonesia. Kerja sama sudah mulai dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ada lima perusahaan asal Vietnam yang siap mengembangkan benur di Indonesia sebagai syarat mendapatkan kuota ekspor. Vietnam, sebagai negara pembudi daya lobster, selama ini mengandalkan benur asal Indonesia. Ada sekitar 150 ribu keramba jaring apung atau KJA yang dimiliki negara tersebut. Sementara itu, Indonesia, sebagai penghasil benur, belum mampu bersaing dalam pengembangan lobster.

Menurut Menteri Kelautan Sakti Wahyu Trenggono kegagalan budi daya lobster dalam negeri karena ekosistem yang belum terbentuk. Berbagai tantangan yang dihadapi di antaranya kesulitan pakan, ekspor ilegal yang marak sehingga mengurangi kuota benih bagi pembudi daya, hingga produsen KJA yang terbatas. “Industri kita belum siap,” katanya, di Jakarta, Senin, 29 April lalu. Sebelum keran ekspor lobster dibuka, pemerintah coba memberantas ekspor benur ilegal. Namun, berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Kelautan selama dua tahun terakhir, penyelundupan masih marak. Di sisi lain, banyak pelaku budi daya lobster yang gagal. Karena itu, Trenggono mengaku berinisiatif melahirkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan yang mulai berlaku pada Maret lalu. Peraturan tersebut melegalkan ekspor benih lobster dengan sejumlah syarat. Dengan begitu, pemerintah berharap Indonesia akan mendapatkan berbagai keuntungan, seperti manfaat ekonomi dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP), transfer pengetahuan mengenai pembiakan, dan etos kerja budi daya lobster. (Yetede)

Kocok Ulang Portofolio Saat Bunga Tinggi

30 Apr 2024

Pelemahan rupiah serta ketidakpastian global yang masih tinggi mengakibatkan bunga acuan semakin mekar. Bank Indonesia, pekan lalu, mengerek naik BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%. Investor tentu perlu memiliki strategi mengoptimalkan return, sekaligus meminimalkan risiko di saat bunga mekar. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menyebut diversifikasi portofolio perlu dilakukan di era suku bunga tinggi. Dengan memiliki berbagai jenis aset dan risiko, kerugian karena perubahan bunga dapat ditekan. Di instrumen surat utang, investor bisa mempertimbangkan obligasi yang memiliki jangka pendek atau obligasi dengan tingkat bunga yang mengambang. Efek jenis itu dinilai lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga. Menurut CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, investor perlu menimbang instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko yang sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. 

Bagi investor dengan profil risiko moderat bisa menaruh asetnya di saham sebesar 30%, obligasi 40%, dan kas atau pasar uang 30%. Adapun investor dengan profil risiko konservatif bisa menaruh aset di saham sebanyak 15%, obligasi 45%, dan kas atau pasar uang sebanyak 40%. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan, secara umum kenaikan bunga akan menurunkan daya tarik berinvestasi di aset aset berisiko. Maka obligasi bisa menjadi pilihan. Lalu juga ke deposito atau emas sambil memperhatikan kondisi dan situasi ekonomi global. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menjelaskan, saham konsumer noncyclical akan tetap menarik. Selain itu saham utilitas, seperti infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktir gas juga masih akan lebih stabil.