Adi Reza dan Annisa Wibi Ismarlant, Kulit dari Serat Jamur yang Mendunia
Perusahaan rintisan yang dibangun Adi Reza Nugroho, Annisa
Wibi, dan kawan-kawan fokus menciptakan dampak sosial positif. Dengan sentuhan teknologi
inovatif, mereka mengolah jamur dan limbah pertanian menjadi bahan furniture ramah
lingkungan. Mereka adalah dua di antara lima co-founder perusahaan rintisan
atau start up Mycotech Lab (MYCL). MYCL mendapat dana hibah sebesar 250.000 dollar
Singapura (Rp 2,9 miliar) pada Konferensi Filantropi Asia (Philanthropy Asia
Summit/PAS) 2024 di Singapura, 15-17 April lalu. MYCL diumumkan sebagai salah
satu peserta dalam kelompok pertama program mentoring amplifier (penguat).
Program ini digelar the Centre for Impact Investing and Practices (CIIP) dan
Philanthropy Asia Alliance (PAA), yang merupakan entitas ekosistem Temasek Trust,
Singapura.
Adi, selaku Chief Executive Officer (CEO) MYCL menuturkan,
perusahaan mereka mengikuti program mentoring amplifier setelah mendapat
masukan dari investor. Mereka kemudian membuat pengajuan dan mengikuti proses
seleksi ketat. Untuk mendapatkan dana hibah dan program mentoring dari para
ahli, MYCL bersaing dengan 140 perusahaan rintisan dari 35 negara. Akhirnya,
hanya lima start-up yang terpilih. Dua di antaranya dari Indonesia. MYCL mencoba
menyelamatkan bumi dengan menawarkan alternatif berkelanjutan melalui
penggunaan serat jamur, yang disebut miselium sebagai pengganti kulit hewani. Mereka
memanfaatkan limbah jamur tiram.
Dengan sistem pengolahan yang mirip dengan tempe, MYCL
mengikat miselium dengan limbah pertanian seperti bonggol jagung dan serbuk
kayu, lalu menumbuhkannya menjadi bahan yang disebut mylea atau mycelium
leather (kulit miselium). Bahan kulit ini tahan api, tahan air, dan fleksibel,
bahkan dapat diubah menjadi berbagai produk mode. Pengembangan produk teknologi
miselium dimulai tahun 2015 ketika MYCL berdiri. Ia bersama Annisa dan tiga
rekan lainnya, yaitu Robby Zidna Ilman, Ronaldiaz Hartantyo, dan M Arkha
Bentangan mengawali MYCL dari usaha Growbox pada 2013. Growbox adalah bisnis media
tanam yang mengedukasi konsumen untuk menumbuhkan jamur sendiri. Sejak 2020 konsumen
aktif produk MYCL sudah lebih dari 500 orang, 30 % di antaranya adalah pelanggan
tetap. ”Konsumen kami berasal dari 48 negara. Tiga terbesar dari Jepang,
Singapura, dan AS,” ujar Adi.
Di pasar domestik, MYCL bekerja sama dengan beberapa jenama
mode di Bandung yang memproduksi sepatu, sandal, dompet, tali jam tangan, hingga
tas. Sejak 2021, produk MYCL juga tampil di Paris Fashion Week. ”Sepanjang 2023,
kami mengirim 2.000 square feet (kaki persegi) mylea kepada pelanggan. Kalau semua
bahan kulit itu dijadikan sepatu kira-kira setara 600 pasang,” kata Adi. Omzet
MYCL mereka pada 2023 sekitar 150.000-180.000 USD, kecil karena kapasitas
produksinya baru 10.000 square feet per tahun. ”Ini masih kecil, karena
industri sepatu sekali order bisa 1 juta square feet.” MYCL sudah berbentuk
perseroan terbatas dengan nama PT Miko Bahtera Nusantara. Produk perusahaan bioteknologi
bersertifikat B Corp ini juga sudah dipatenkan. Produknya kini juga diproduksi di
Jepang oleh MYCL Jepang yang mendapat lisensi teknologi dari MYCL Indonesia. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023