Ekonomi
( 40460 )Manufaktur Masih di Level Ekspansif
S&P Global mencatat, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 berada di level 52,9, atau turun 1,3 poin bila dibandingkan Maret yang mencapai 54,2. Walau begitu, industri manufaktur masih melanjutkan fase ekspansi selama 32 bulan bertutur-turut. Menteri Perindustrian (Memperin) Agus Guniwang Kartasasmita menerangkan, nilai PMI yang ekspansif dan berkelanjutan selama 32 bulan beruntun itu merupakan sebuah capaian yang tak semua negara di dunia bisa mewujudkannya. Selain Indonesia, negara yang bisa mencapai ekspansi 32 bulan berturut-turut adalah India. Dia menjelaskan, PMI manufaktur Indonesia solid dan sehat ditengah-tengah dinamika geopolitik yang menjadi tantangan bagi semua pihak. PMI Manufaktur Indonesia pada April 2024 mampu melampaui PMI manufaktur Asean (51,0). Tingkat optimisme yang tinggi ini dikarenakan kepercayaan pelaku usaha terhadap kebijakan pemerintah pusat, dan perbaikan kondisi ekonomi global ke depan. (Yetede)
Pengembang Merasakan Manfaat PPN DTP
Para pengembang properti merasakan manfaat insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang digulirkan sejak 2021 hingga saat ini. Pada 2023, insentif itu juga diakui ikut membantu pertumbuhan pendapatan para pengembang yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan keuangan 76 emiten properti tahun 2023 memperlihatkan bahwa pendapatan mereka tumbuh sekitar 7% dibandingkan dengan setahun sebelumnya, yakni dari Rp91,25 triliun menjadi Rp97,56 triliun. "Insentif pajak itu ikut membantu penjualan kami. Sebenarnya, kehadiran insentif itu membantu konsumen untuk membeli properti," kata Alexander Stefanus Ridwan Suhendra, Presiden Direktur PT Pakuwon Jati menjawab pertanyaan Investor Daily. Menurut Stefanus, pihaknya berharap insentif PPN DTP masih bisa diteruskan oleh pemerintah. "Kami berharap insentif pajak ini diteruskan karena membantu masyarakat," ujar dia. (Yetede)
PGN Terapkan Kuota Gas Bumi Berkeadilan ke Pelanggan
PT PGN Tbk menerapkaan kuota volume gas terhadap seluruh pelanggan. Hal ini menyikapi kondisi penurunan pasokan gas dari sisi hulu yang telah kontrak dengan PGN. Selain untuk penyaluran gas bumi yang merata, PGN juga memberikan perhatian khusus pada keamanan jaringan gas guna menghindari insiden yang tidak diinginkan. "PGN berupaya untuk melayani kebutuhan pelanggan seoptimal mungkin. Tetapi dengan kondisi pasokan gas yang semakin menurun, maka kami sebagai penyalur gas di sisi hilir mengupayakan agar penyaluran gas bisa berkeadilan ke seluruh pelanggan. Kami menghindari agar upaya yang dilakukan tidak hanya untuk kepentingan satu atau dua sektor pelanggan saja dan mengorbankan seluruh kepentingan pelanggan," kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama. Rachmat menuturkan, penurunan produksi karena berbagai kondisi yang ada di sisi hulu, mulai dari penurunan alamiah produksi sumur migas serta perbaikan dan perawatan sumur, baik yang berkala maupun yang tidak direncanakan. (Yetede)
Kinerja Tak Seragam, Laju IHSG Teredam
Musim pelaporan kinerja untuk kuartal pertama tahun ini hampir usai. Sejauh ini, hasilnya cukup beragam. Emiten yang bersinggungan dengan konsumsi masyarakat, tampak masih ketiban berkah dari dorongan daya beli di momentum pemilu dan bulan Ramadan. Dari 100 emiten dengan likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung di Indeks KOMPAS100, sebanyak 54 emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih. Sedangkan 30 emiten lainnya harus rela keuntungannya terpangkas pada tiga bulan pertama 2024. "Secara historis, pada periode ini tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat. Selain itu level daya beli masyarakat masih optimis," jelas Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, Kamis (2/5).
Di sisi lain, emiten berbasis komoditas rata-rata masih mengalami penurunan kinerja lantaran pelemahan harga komoditas di kuartal pertama tahun ini.
Senior Investment Information
Mirae Asset Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan pertumbuhan ekonomi global masih akan memengaruhi kinerja emiten tahun ini. Apalagi, masih ada sentimen suku bunga acuan tinggi yang lebih lama.
Pengamat Pasar Modal dan Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy juga bilang, kinerja sejumlah emiten di kuartal I-2024 ini masih belum meyakinkan. Terutama, emiten-emiten di sektor perbankan. "Pertumbuhan labanya tidak sebesar kenaikan untuk tahun-tahun sebelumnya," kata dia.
Head of Business Development Division
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menilai, sektor ritel masih akan unggul dan berpotensi tumbuh positif hingga semester I-2024.
Manufaktur Melandai, PHK Bisa Mengancam
Lampu kuning menyala dari sektor manufaktur. Ekspansi pelaku usaha di sektor ini kembali melandai. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kembali terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur. Hal tersebut terindikasi dari data S&P Global yang mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada April 2024 di level 52,9. Angka itu melorot 1,3 poin dibandingkan Maret 2024 di level 54,2, meski mencatat ekspansi dan menunjukkan kondisi di sektor manufaktur membaik selama 32 bulan. Direktur Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Paul Smith mengatakan secara keseluruhan, April merupakan bulan positif untuk perekonomian manufaktur Indonesia, dengan output dan permintaan baru meningkat sejak Maret. Hanya saja, ada beberapa hambatan. Menurut dia, penjualan ekspor kembali menurun. Baik tingkat pertumbuhan produksi, maupun permintaan baru, juga mengalami penurunan.
Dalam laporannya, keseluruhan ketenagakerjaan April 2024 turun untuk pertama kali sejak Oktober lalu. Dengan kapasitas tenaga kerja yang dikurangi dan persyaratan produksi naik, penumpukan pekerjaan naik lagi. Meski dalam keadaan tertentu, Paul bilang, PHK dianggap sebagai fenomena sementara. Namun hal ini dapat menggambarkan penurunan optimisme perusahaan.Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai, penurunan PMI Manufaktur kali ini merupakan kombinasi dari berbagai penyebab.
Berbeda, Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy melihat, PHK bukan menjadi satu-satunya akibat dari tekanan industri manufaktur. Pasalnya, PHK juga terjadi pada tahun lalu dan saat itu PMI Manufaktur berada di level yang tinggi.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan kinerja manufaktur Indonesia masih menunjukkan tren ekspansif meski gejolak geopolitik global belum berkesudahan.
Aksi Korporasi Kunci Grup Barito
Kinerja keuangan mayoritas emiten milik taipan Prajogo Pangestu menciut pada kuartal I-2024. Top line dan bottom line tiga emiten di bawah naungan Grup Barito kompak merosot. Pendapatan sang induk, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 4,93% menjadi US$ 618,59 juta selama tiga bulan pertama 2024. Secara bottom line , laba bersih BRPT anjlok 61,98% menjadi US$ 8,85 juta di periode tersebut. Penurunan kinerja BRPT ini tak lepas dari performa dua anak usahanya, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Pada kuartal I-2024, TPIA berbalik menderita rugi bersih US$ 33,12 juta ketika pendapatan menyusut 6,05% menjadi US$ 471,91 juta.
Direktur Utama BRPT Agus Salim Pangestu mengungkapkan hasil kinerja kuartal I 2024 menunjukkan fluktuasi yang terjadi di sektor petrokimia global. Meningkatnya ketegangan geopolitik, menurutnya ikut melemahkan pasar.
Grup Barito pun akan terus mewaspadai volatilitas tersebut. "Kami memprioritaskan kehati-hatian sambil menjaga ketahanan finansial untuk meraih peluang pertumbuhan baru," kata Agus dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/4).
Research Analyst
Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai tren naik harga saham emiten milik Prajogo Pangestu seperti BREN dan TPIA kemungkinan dipicu sentimen positif dari kabar ekspansi dan akuisisi yang dilakukannya. Terlebih bagi BREN yang terdorong prospek jangka panjang energi terbarukan.
Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengamati secara valuasi saham-saham Prajogo Pangestu sudah terbilang mahal.
Pendapatan Naik, Rugi Menyusut
Kinerja emiten e-commerce di kuartal I 2024 membaik. Tiga emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mencetak pertumbuhan pendapatan. Di sisi lain, emiten sektor ini masih didera rugi. Meski begitu, nilai kerugiannya mulai berkurang. PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan pertumbuhan pendapatan tertinggi di antara emiten sejenis. Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2024, GOTO mengantongi pendapatan sebesar Rp 4,07 triliun. Pendapatan GOTO naik 22,4% secara tahunan atau year on year (yoy). Dari sisi bottom line, rugi bersih GOTO mencapai Rp 861,91 miliar atau menurun 77,68% dari kerugian periode yang sama tahun lalu. Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo mengatakan, saat ini GOTO sudah berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan pedoman EBITDA yang disesuaikan positif untuk tahun buku 2024. Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mampu meraih pendapatan bersih Rp 1,16 triliun di kuartal I-2024. Dibandingkan periode yang sama di 2023, angka ini tumbuh 16,18% yoy. Rugi nilai investasi BUKA yang sudah dan belum terealisasi bersih menyusut 46,36% yoy menjadi Rp 342,02 miliar per kuartal I-2024. Alhasil, rugi bersih BUKA menyusut menjadi Rp 41,96 miliar.
Angka kerugian ini turun 95,83% secara tahunan. Sebagai pembanding pada periode JanuariMaret 2023, rugi bersih BUKA mencapai Rp 1 triliun.
Sedangkan emiten teknologi besutan Grup Djarum, yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) juga berhasil memangkas rugi bersih secara signifikan. Emiten yang mengelola
e-commerce
Blibli.com dan Tiket.com ini mencatatkan kerugian per akhir Maret 2024 sebesar Rp 691,12 miliar. Angka ini menyusut 21,28% secara tahunan. Retail Analyst
Maybank Sekuritas Adi Wicaksono menilai, kinerja emiten teknologi
e-commerce
sudah cukup baik. Namun memang pergerakan harga sahamnya masih jauh tertinggal dibanding saham teknologi global.
Adi mencermati, secara valuasi dengan indikator
enterprise value to revenue
(EV/R) atau nilai perusahaan terhadap pendapatan GOTO berada di level 3,92 kali, masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional di 2,73 kali.
Selain Harga Sawit, Depresiasi Rupiah Bikin Kinerja ANJT Loyo
Emiten sawit tak cuma diganjal penurunan harga komoditas sawit. Fluktuasi rupiah juga bisa menjadi salah satu faktor yang menggerus kinerja emiten sawit seperti PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT). Melansir keterbukaan informasi Kamis (2/5), ANJT mencatatkan pendapatan US$ 48,91 juta atau setara Rp 765,79 miliar di kuartal I 2024. Realisasi ini turun 4,3% secara tahunan alias year on year (yoy) dari US$ 51,12 juta di kuartal I 2023. Selain itu, beban pokok pendapatan emiten ini naik 8,4% secara tahunan menjadi US$ 44,75 juta di periode tersebut. Tak hanya itu, ANJT juga mencatatkan rugi kurs mata uang asing sebesar US$ 792.250. Padahal di periode serupa tahun lalu, ANJT justru bisa meraup laba kurs US$ 778.990.
Alhasil, ANJT mencatatkan rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 3,62 juta per akhir Maret 2024. Kerugian ini turun tipis 3,72% dari rugi di periode sama tahun lalu US$ 3,76 juta.
Segmen kelapa sawit memberikan kontribusi pendapatan sebesar 98,4% terhadap total pendapatan, atau sebesar US$ 47,7 juta. Realisasinya turun 5,2% dibandingkan capaian kuartal I 2023 yang sebesar US$ 50,3 juta. Sisanya dari edamame, sagu dan energi hijau.
Kiswoyo Adi Joe,
Head of Investment
Nawasena Abhipraya Investama menilai penurunan kinerja ANJT juga terpengaruh fluktuasi kurs rupiah. Alhasil, ia memasang target harga ANJT di Rp 800 - Rp 900 per saham. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada pun merekomendasikan beli saham ANJT di harga Rp 720.
INTP Bisa Tumbuh tapi Terbatas
Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) di 2024 diperkirakan masih bisa melanjutkan pertumbuhan, meski kenaikannya akan terbatas. Potensi pertumbuhan yang lebih terbatas lantaran sektor semen dinilai lebih berkaitan dengan sektor properti. Meskipun pada saat yang sama, emiten sektor semen diuntungkan dari maraknya pembangunan, termasuk proyek Ibu kota Negara (IKN). "Selama sektor properti belum kembali booming, maka pertumbuhan semen cenderung sideways," ujar Kiswoyo Adi Joe, Head of Investment Nawasena Abdhipraya Investama, Kamis (2/5). Ini tergambar dari pergerakan saham INTP yang terus tertekan. Berdasarkan RTI, harga INTP terus memerah sejak awal tahun dengan penurunan 23,14%.
Adapun saat ini harga INTP di level Rp 7.225 per saham. Analis Sinarmas Sekuritas Michael Filbery melanjutkan, INTP dapat menjaga level beban berdasarkan kontrak pembelian terbaru yang telah diperoleh perusahaan ini. INTP juga memprediksikan biaya pengemasan akan stabil pada kuartal I 2024 karena adanya penimbunan yang lebih baik selama tahun lalu. Saat ini, INTP telah mencapai penandatanganan kontrak untuk pembelian batubara DMO. INTP menargetkan untuk mengamankan setidaknya 70% cadangan batubara dari batubara DMO.
"Secara keseluruhan, untuk 2024 kami memperkirakan kenaikan harga pokok penjualan per ton sekitar 2,3% YoY," tulis Michael dalam riset 26 Maret 2024.
Di sisi lain, INTP berkomitmen untuk melakukan penyesuaian jika terjadi kenaikan biaya. Namun, kenaikan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) lebih mungkin direalisasikan pada semester II ketika permintaan lebih solid dibandingkan dengan semester I.
"Saat ini, kami memperkirakan kenaikan ASP sekitar 2% YoY untuk INTP, sejalan dengan proyeksi kenaikan biaya per ton secara keseluruhan," sambung Michael.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih memaparkan, pertumbuhan volume penjualan semen akan didorong oleh semen curah karena pembangunan di IKN. Selain itu dari pembangunan smelter di Sulawesi, pengembangan kawasan industri baru di Kalimantan Utara serta di Kendal, Jawa Tengah. Juga proyek-proyek infrastruktur di Jabodetabek dan Jawa Barat, seperti pelabuhan Patimban, jalan tol, MRT dan LRT.
Meski Mini, Kontribusi Kanal Digital Menggeliat
Transformasi digital oleh perbankan, telah mendorong pendapatan biaya dan komisi atau fee based income (FBI) melalui transaksi e-channel, terutama layanan mobile banking. Kendati begitu, kontribusinya terhadap total pendapatan nonbunga masih kecil. Bank Mandiri, misalnya, membukukan pendapatan non bunga Rp 9,58 triliun. Nah, FBI baru menyumbang Rp 4 trilliun atau 41,7%. Selebihnya berasal dari recovery kredit serta transaksi fixed income, forex dan derivatif. FBI dari transaksi e-channel Bank Mandiri, termasuk Kopra, mencapai Rp 1,61 triliun atau tumbuh 17,4% year-on-year (yoy). Walau tumbuh, sumbangsinya ke pendapatan nonbunga baru 16,8%.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi bilang, kontribusi dari superapp Livin dan platform Kopra semakin terasa. Keduanya turut menopang pertumbuhan kinerja perseroan kuartal I.
Tidak jauh berbeda, pendapatan channel digital BRI dari Brimo juga melonjak sebesar 23,8% menjadi Rp 738,3 miliar. Pertumbuhan itu turut mendongkrak FBI dari layanan e-channel sebesar 11,7% secara menjadi Rp 2,04 triliun. Namun, kontribusinya terhadap total pendapatan non bunga BRI baru 16,32%.
Adapun BNI membukukan pendapatan nonbunga Rp 5,44 triliun, meningkat 14,6% yoy. FBI menyumbang Rp 3,9 triliun atau 71,69%. FBI dari ATM dan e-channel tercatat berjumlah Rp 369 triliun, setara 6,78% dari total pendapatan non bunga. Sebagian besar FBI berasal biaya kredit.
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menegaskan, pertumbuhan transaksi digital berkontribusi positif pada kenaikan pendapatan non bunga BCA.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









