Ekonomi
( 40430 )Di Mata Investor Global, Ladang Migas Indonesia, Menjanjikan
Potensi ladang minyak dan gas bumi Indonesia masih menjanjikan di mata investor global, meski ada tren penurunan produksi. Proyek migas, baik yang sedang berjalan maupun ditawarkan, dianggap relevan untuk kebutuhan energi masa depan. Tantangannya, bagaimana proyek itu berjalan sesuai target. Salah satunya, bp, yang mengoperasikan Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat, dengan produksi 2,1 miliar kaki kubik gas per hari (BCFD) atau sepertiga total produksi gas Indonesia. Regional President Asia Pacific G & LCE of bp Indonesia, Kathy Wu mengatakan, Indonesia adalah negara dengan sumber migas potensial sekaligus bagian penting dari portofolio bp di tingkat global. Tangguh LNG menjadi aset unggulan (flagship) bp yang berkorelasi dengan kebutuhan transisi energi dunia.
Pada November 2023, unit pengolahan LNG atau Train 3 Tangguh, yang juga proyek strategis nasional, diresmikan. Bp juga mengembangkan proyek penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCUS) dan kompresi Ubadari, di Tangguh, dengan nilai investasi 7 miliar USD. ”Terkait jangka panjang, Indonesia sangat cocok dengan strategi (bisnis) kami,” ujar Wu dalam diskusi terkait peningkatan daya saing Indonesia pada hari pertama Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition 2025, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (20/5). Indonesia dan Asia, dengan pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi yang kuat, jadi tempat yang tepat untuk pengembangan bisnis migas.
”Kesucian kontrak, rezim fiskal yang stabil, serta kecepatan sangat penting di mata investor. Terkadang suatu proyek tak memiliki skala memadai sehingga insentif pemerintah, untuk membantu memulai proyek, penting,” tuturnya. President Director & Coun-try Chairman Petronas Indonesia, Yuzaini Md Yusof menuturkan, Indonesia menjadi pasar penting bagi bisnis internasional Petronas. Salah satunya ialah pengembangan lapangan Hidayahdi Wilayah Kerja North MaduraII yang ditargetkan berproduksi pada 2027. (Yoga)
Deindustrialisasi Dini dan Ancaman Jabatan Kelas Menengah
Akhir-akhir ini perhatian kita begitu terpecah pada bebagai isu yang memang menarik untuk diperbincangkan, yakni kebijakan tarif Donald Trump, premanisme, tindak pidana korupsi yang terus bertambah, pembentukan berbagai dewan dan task force untuk menangani isu-isu itu, pengelolaan makan bergizi gratis (MBG), ijazah, dan gelar akademik, harapan di pundak Danantara, pemaknaan pertemuan tokoh-tokoh politik negeri, dan lain-lain. Ketika Indonesia memasuki era baru kepemimpinan nasional pasca-Pemilu 2024, maka satu isu krusial yang kerap luput dari sorotan publik adalah fenomena deindustrialisasi dini, yakni merosotnya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi.
Fenomena ini bukan sekedar gejala ekonomi biasa, melainkan sinyal kuat dan nyata bahwa Indonesia terancam terjebak dalam middle income trap, yakni suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi stagnan di tingkat menengah karena gagal mengembangkan basis industri dan inovasi. Menurut data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB Indonesia terus menurun dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2001,sektor manufaktur menyumbang sekitar 29% dari PDB. Namun, pada tahun 2023, angka tersebut merosot menjadi sekitar 18,3%. (Yetede)
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2026 yang Ditargetkan 5,2%-5,8%
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang ditargetkan 5,2%-5,8% dinilai sebagai langkah yang terlalu kecil dan tidak mencerminkan ambisi yang cukup kuat untuk mendorong lopmatan pembangunan, termasuk untuk mengapai pertumbuhan ekonomi 8%. Padahal, Indonesia memerlukan lebih dari sekedar pertumbuhan yang moderat bila ingin lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) sebagai syarat untuk menjadi negara maju. Target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang kurang "berani" itu ditengarai karena masih mengandalkan formula lama yakni konsumsi rumah tangga sebagai motor utama. Sementara ketergantungan berlebih terhadap konsumsi domestik menyimpan risiko sendiri.
Saat kenaikan harga menekan dan pendapatan melemah, daya beli masyarakat akan cepat tergerus. Selain itu, ekonomi berbasis konsumsi tanpa disertai transformasi produksi, hanya menciptakan pertumbuhan semu. Melalui reformasi struktural yang berani dan konsisten, pertumbuhan ekonomi tinggi bukanlah hal yang dibuktikan oleh sejumlah negara. Melalui reformasi struktural, pemerintah perlu membalik strategi dengan memperkuat sektor tradable (sektor yang output-nya adalah barang dan jasa yang diperdagangkan secara internasional) dan memperluas industrialisasi bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan pekerjaan formal secara masif dan berkelanjutan. (Yetede)
OJK Mendorong Adanya Persaingan Sehat Perbankan Syariah
Pengaturan Bunga P2P Lending Untuk Lindungi Konsumen
UMKM Wajib Mampu untuk Berdaya Saing Tinggi
Kalangan Petani Dukung RI Jadi Eksportir Beras
Konflik India-Pakistan Dapat Mempengaruhi Ekspor Sawit Indonesia
Meningkatnya Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan
Dagang-el Didorong Tertib Lewat Aturan Baru
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









