Ekonomi
( 40554 )Target Kredit Direvisi, BI Lebih Realistis
Tak Berempati pada Rakyat, Mendapat Teguran
PM Jepang, Shigeru Ishiba menegur Mentan, Kehutanan, dan Perikanan, Taku Eto, Selasa (20/5), karena Eto mengutarakan hal yang dianggap sombong dan tidak layak oleh masyarakat terkait krisis besar di Jepang. ”Ucapan Mentan amat tak layak. Tugas menteri adalah mencari solusi atas krisis beras,” kata Ishiba. Akhir pekan lalu, dalam acara penggalangan dana Partai Liberal Demokratik (LDP) Jepang, Eto bercanda bahwa ia tidak pernah membeli beras. ”Saya punya banyak pendukung.Mereka sering mengirimi berkarung-karung beras,” katanya. Ketika ditanggapi dengan kritis oleh para wartawan, Eto meralat dengan kembali bercanda. ”Eh, tapi beras hadiah juga tidak cukup. Istri saya masih harus belanja beras dan dia marah-marah karena harganya naik,” ujarnya.
Pernyataan disampaikan saat Jepang sedang mengalami krisis beras akibat gagal panen sejak 2023. Harga beras di pasar naik sampai 70 %. Harga beras kini mencapai 4.214 yen per 5 kg. Pemerintah terpaksa menambah impor dan membuka cadangan beras nasional. Perkataan Eto viral di dunia maya. Warganet beramai-ramai mengomelinya. Eto dicap sombong, tidak nyambung dengan realitas, dan tidak pantas menjadi pejabat negara. Eto dalam proses melepas 250.000 ton beras cadangan nasional. Beras akan dilelang dan dikemas ulang sebelum dijual di pasar. Diharapkan langkah ini mengatasi kelangkaan beras dan menurunkan harga. Baru 2 % dari beras tersebut yang mencapai pasar. Di tahap kedua, pemerintah berencana melepas 100.000 ton cadangan beras lagi. Per Juli, diperkirakan akan dilepaskan lagi 300.000 ton. Jepang secara total memiliki 910.000 ton beras cadangan yang dikeluarkan jika gagal panen. (Yoga)
Dengan Mematangkan Langkah, BUMN akan Penuhi Tuntutan AS
Kementerian BUMN tengah mematangkan sejumlah langkah untuk memenuhi enam permintaan AS terkait keseimbangan perdagangan dan investasi. Kementerian itu juga telah menguji ketahanan perusahaan-perusahaan milik negara terhadap dampak kebijakan AS. Kemendag juga sedang merampungkan paket deregulasi impor. Kemendag berkomitmen mengecualikan sejumlah komoditas/barang yang diproduksi sejumlah industri strategis dari relaksasi kebijakan impor tersebut. Hal itu mengemuka dalam Raker Komisi VI DPR dengan Mendag dan Menteri BUMN yang digelar secara hibrida di Jakarta,Selasa (20/5). Menteri BUMN Erick Thohir memetakan enam permintaan AS di yang berkaitan dengan BUMN. Pertama, AS meminta keseimbangan neraca perdagangan dengan Indonesia. Untuk itu, Kementerian BUMN telah meminta PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk membeli pesawat Boeing dari AS.
Ditengah efisiensi yang sedang dilakukan Garuda Indonesia, penambahan pesawat penting untuk meningkatkan layanan penerbangan domestik. Kedua, dalam pengadaan barang, perusahaan-perusahaan AS meminta perlakuan setara seperti perusahaan domestik dan asing lainnya. Saat ini, BUMN tengah memetakan ba-rang-barang yang berasal dan yang dibutuhkan dari AS. Ketiga, AS meminta perlakuan sama terhadap para investornya, terutama di sektor pengembangan hilirisasi mineral penting. Yang keempat dan kelima, AS butuh dukungan pembiayaan investasi dan penciptaan lapangan kerja. KementerianBUMN melihat RI dapat berinvestasi dalam pengolahan minyak mentah di AS. ”Investasinya bisa dalam bentuk brownfield atau dilakukan oleh perusahaan yang sudah jadi. Investasi RI di AS nanti akan dikaji oleh Danantara,” katanya. Keenam, AS meminta keterbukaan informasi terhadap subsidi yang selama ini digulirkan Pemerintah RI. (Yoga)
Di Mata Investor Global, Ladang Migas Indonesia, Menjanjikan
Potensi ladang minyak dan gas bumi Indonesia masih menjanjikan di mata investor global, meski ada tren penurunan produksi. Proyek migas, baik yang sedang berjalan maupun ditawarkan, dianggap relevan untuk kebutuhan energi masa depan. Tantangannya, bagaimana proyek itu berjalan sesuai target. Salah satunya, bp, yang mengoperasikan Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat, dengan produksi 2,1 miliar kaki kubik gas per hari (BCFD) atau sepertiga total produksi gas Indonesia. Regional President Asia Pacific G & LCE of bp Indonesia, Kathy Wu mengatakan, Indonesia adalah negara dengan sumber migas potensial sekaligus bagian penting dari portofolio bp di tingkat global. Tangguh LNG menjadi aset unggulan (flagship) bp yang berkorelasi dengan kebutuhan transisi energi dunia.
Pada November 2023, unit pengolahan LNG atau Train 3 Tangguh, yang juga proyek strategis nasional, diresmikan. Bp juga mengembangkan proyek penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCUS) dan kompresi Ubadari, di Tangguh, dengan nilai investasi 7 miliar USD. ”Terkait jangka panjang, Indonesia sangat cocok dengan strategi (bisnis) kami,” ujar Wu dalam diskusi terkait peningkatan daya saing Indonesia pada hari pertama Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention & Exhibition 2025, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Selasa (20/5). Indonesia dan Asia, dengan pertumbuhan ekonomi serta permintaan energi yang kuat, jadi tempat yang tepat untuk pengembangan bisnis migas.
”Kesucian kontrak, rezim fiskal yang stabil, serta kecepatan sangat penting di mata investor. Terkadang suatu proyek tak memiliki skala memadai sehingga insentif pemerintah, untuk membantu memulai proyek, penting,” tuturnya. President Director & Coun-try Chairman Petronas Indonesia, Yuzaini Md Yusof menuturkan, Indonesia menjadi pasar penting bagi bisnis internasional Petronas. Salah satunya ialah pengembangan lapangan Hidayahdi Wilayah Kerja North MaduraII yang ditargetkan berproduksi pada 2027. (Yoga)
Deindustrialisasi Dini dan Ancaman Jabatan Kelas Menengah
Akhir-akhir ini perhatian kita begitu terpecah pada bebagai isu yang memang menarik untuk diperbincangkan, yakni kebijakan tarif Donald Trump, premanisme, tindak pidana korupsi yang terus bertambah, pembentukan berbagai dewan dan task force untuk menangani isu-isu itu, pengelolaan makan bergizi gratis (MBG), ijazah, dan gelar akademik, harapan di pundak Danantara, pemaknaan pertemuan tokoh-tokoh politik negeri, dan lain-lain. Ketika Indonesia memasuki era baru kepemimpinan nasional pasca-Pemilu 2024, maka satu isu krusial yang kerap luput dari sorotan publik adalah fenomena deindustrialisasi dini, yakni merosotnya kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi.
Fenomena ini bukan sekedar gejala ekonomi biasa, melainkan sinyal kuat dan nyata bahwa Indonesia terancam terjebak dalam middle income trap, yakni suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi stagnan di tingkat menengah karena gagal mengembangkan basis industri dan inovasi. Menurut data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB Indonesia terus menurun dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2001,sektor manufaktur menyumbang sekitar 29% dari PDB. Namun, pada tahun 2023, angka tersebut merosot menjadi sekitar 18,3%. (Yetede)
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2026 yang Ditargetkan 5,2%-5,8%
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 yang ditargetkan 5,2%-5,8% dinilai sebagai langkah yang terlalu kecil dan tidak mencerminkan ambisi yang cukup kuat untuk mendorong lopmatan pembangunan, termasuk untuk mengapai pertumbuhan ekonomi 8%. Padahal, Indonesia memerlukan lebih dari sekedar pertumbuhan yang moderat bila ingin lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) sebagai syarat untuk menjadi negara maju. Target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang kurang "berani" itu ditengarai karena masih mengandalkan formula lama yakni konsumsi rumah tangga sebagai motor utama. Sementara ketergantungan berlebih terhadap konsumsi domestik menyimpan risiko sendiri.
Saat kenaikan harga menekan dan pendapatan melemah, daya beli masyarakat akan cepat tergerus. Selain itu, ekonomi berbasis konsumsi tanpa disertai transformasi produksi, hanya menciptakan pertumbuhan semu. Melalui reformasi struktural yang berani dan konsisten, pertumbuhan ekonomi tinggi bukanlah hal yang dibuktikan oleh sejumlah negara. Melalui reformasi struktural, pemerintah perlu membalik strategi dengan memperkuat sektor tradable (sektor yang output-nya adalah barang dan jasa yang diperdagangkan secara internasional) dan memperluas industrialisasi bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan pekerjaan formal secara masif dan berkelanjutan. (Yetede)
OJK Mendorong Adanya Persaingan Sehat Perbankan Syariah
Pengaturan Bunga P2P Lending Untuk Lindungi Konsumen
UMKM Wajib Mampu untuk Berdaya Saing Tinggi
Kalangan Petani Dukung RI Jadi Eksportir Beras
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









