;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Berpotensi Koreksi Terbatas

05 Jun 2024
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan kenaikan sebesar 0,90% ke angka 7.099,31 pada penutupan perdagangan Selasa (4/6). IHSG diprediksi kembali mengalami koreksi terbatas dengan support 7.036 dan resistance di level 7.171 pada Rabu (5/6). Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyebut, penguatan IHSG di tengah terkoreksinya mayoritas bursa Asia. Menurut dia, penguatan IHSG akibat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Secara teknikal, Equity Research Analyst Pintraco Sekuritas, Nurwachidah melihat, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan penyempitan negative slope. Sedangkan, Stochastic Relative Strength Index (RSI) berada di area oversold. "Mengindikasikan potensi IHSG menguji kembali level 7.150," kata Nur kepada Kontan, Selasa (4/6). Pasar keuangan global juga menantikan rilis data US Institute for Supply Management (ISM) Services PMI bulan Mei yang diproyeksikan akan menembus zona ekspansif ke level 50,50. Saham-saham pilihan teratas menurut Nur untuk perdagangan Rabu pada (5/6) meliputi JSMR, ASSA, SMRA, INTP, SMGR, dan PNLF

Perlu Strategi Jitu di Papan Akselerasi

05 Jun 2024

Barisan saham di papan akselerasi tetap mendaki saat pasar sedang berfluktuasi. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat di awal bulan Juni 2024, saham di papan akselerasi masih mampu mengikuti. Pada perdagangan Selasa (4/6), indeks saham yang dihuni oleh emiten skala aset kecil-menengah ini menguat 1,14%. Pekan lalu, saat IHSG terjun 3,48% dan hampir seluruh indeks melorot, papan akselerasi masih melaju 0,33%. Pendiri WH-Project, William Hartanto mengamati pergerakan saham-saham di papan akselerasi tidak otomatis berlawanan ataupun searah dengan IHSG.  Menurut William, papan akselerasi menarik sebagai pilihan para trader. Dus, kecenderungan saham di papan akselerasi yang anggotanya identik dengan kategori saham lapis ketiga ini memiliki fluktuasi yang sangat  tinggi.

Emiten di papan ini mudah naik dan turun dalam waktu cepat. Saham-saham di papan akselerasi bisa menjadi alternatif saat IHSG sedang melandai atau bergerak dalam volatilitas yang kencang. Tapi, tetap hati-hati. Saran William, barengi dengan diversifikasi, setidaknya dengan saham-saham di lapis kedua. Analis Stocknow.id, Emil Fajrizki menambahkan, ketika pasar sedang sepi, saham-saham lapis ketiga seperti saham di papan akselerasi lebih ramai diperdagangkan. "Saham-saham akselarasi ini lebih cocok untuk day trade saja, karena tingkat volatilitas serta rawan aksi goreng saham yang tinggi," ungkap Emil. Maka, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyarankan pelaku pasar lebih memperhatikan faktor teknikal termasuk volume dan fluktuasi harganya. Pilihannya trading buy PT Arsy Buana Travelindo Tbk (HAJJ) dan PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO).

Masih Ada Emiten yang Menebar Bonus

05 Jun 2024

Sederet emiten bersiap menebar dividen tunai dalam waktu dekat. Salah satunya  PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Produsen air minuman berlabel Cleo ini akan membagikan dividen tunai dari tahun buku 2023 sebesar Rp 60,39 miliar. Jumlah ini setara Rp 5,05 per saham. Jadwal cum date pada 7 Juni 2024. "Dividen tunai akan dibagikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat di recording date 11 Juni 2024," jelas Lukas Setio, Sekretaris Perusahaan CLEO di keterbukaan informasi, Senin (3/6). CLEO membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 305,77 miliar sepanjang 2023.

Pencapaian ini melesat 65,75% secara tahunan dari Rp 195,46 miliar di 2022. Berikutnya ada PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA)  bakal membagikan dividen sejumlah Rp 294,39 miliar. Ini setara dengan 43,17% dari laba bersih yang dibukukan STAA untuk tahun buku 2023. Sekretaris Perusahaan Sumber Tani Agung Resources, Juliani Chandra menjelaskan pembagian dividen ini sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 30 Mei 2024. Jadwal cum date  sama seperti CLEO, pada 7 Juni 2024.  Sedangkan recording date tanggal 11 Juni 2024. Emiten sawit lain, PT Palma Serasih Tbk (PSGO) tak mau ketinggalan menebar bonus dividen sebesar Rp 150,80 miliar. Nantinya setiap pemegang saham PSGO akan memperoleh Rp 8 per saham. 

Siap Memperluas Pasar Luar Jawa

05 Jun 2024

Kinerja emiten menara, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) diprediksi masih akan tumbuh positif pada 2024. Optimisme itu terbersit di saat hadir pemain baru di di bisnis telekomunikasi yakni Starlink. Pendapatan yang kuat dari bisnis menara dan non menara akan jadi amunisi TOWR ke depan. Laba bersih TOWR di kuartal I-2024 naik 6% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi Rp 797 miliar, didukung oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 6% yoy. Analis Sucor Sekuritas, Christofer Kojongian mengatakan, bisnis non-menara juga terus menjadi mesin pertumbuhan utama, yang tumbuh 19% yoy menjadi Rp 965 miliar. Pendorongnya adalah lonjakan yang signifikan dalam bisnis jaringan internet kabel optik (FTTH) menjadi Rp 118 miliar pada kuartal I-2024 dari Rp 11 miliar pada periode sama 2023.

Ditambah pertumbuhan bisnis jaringan fiber ke menara (FTTT) yang naik 13% yoy. Saat ini kontribusi pendapatan non-menara mencapai 31,7% dari total pendapatan. Potensi pertumbuhan bisnis menara juga terbuka dengan 500 pesanan menara baru di sisa tahun ini. Hal ini akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan bisnis menara 5% yoy pada 2024 menjadi Rp 8,8 triliun. Sehingga dia memproyeksi laba bersih TOWR akan naik 12% yoy dan 6% yoy di 2024 dan 2025 menjadi masing-masing Rp 3,6 triliun dan Rp 3,9 triliun. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sentimen negatif di industri menara ke depan terkait persaingan yang ketat, fluktuasi nilai tukar rupiah dan kondisi suku bunga yang tinggi. Karena rasio utang cukup tinggi," kata Sukarno, kepada KONTAN, Selasa (4/6).

Sementara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan membuka kesempatan Starlink bisa bekerja sama dengan pemain lokal. Skemanya akan bergantung perizinan masing-masing pihak. Jadi sesuai perizinan masing-masing. Sementara soal kemampuan Starlink tersambung langsung ke ponsel warga Indonesia secara aturan diperbolehkan. Sebab, Starlink bisa langsung berjualan ke konsumen. Jadi akan ada persaingan di suatu wilayah dengan internet service provider (ISP), yang mungkin juga bekerja sama dengan Starlink. Analis Mirae Aset Sekuritas Indonesia Won Junghoon menilai kehadiran Starlink sejatinya untuk segmen business to business (B2B) bukan untuk ritel. Seperti di Malaysia dan Filipina, meskipun sudah ada Starlink tetapi operator di kedua negara tersebut tetap bisa menjaga pangsa pasar. "Justru, para emiten bisa menangkap peluang dengan bekerja sama dengan Starlink untuk menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) atau Ibu Kota Nusantara (IKN)," kata Junghoon.

Tren Nilai Tukar Melemah

05 Jun 2024
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/6). Di pasar spot rupiah naik 0,06% ke Rp 16.220 per dolar AS. Sedangkan di Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah naik 0,03% ke posisi Rp 16.220 per dolar AS. Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan tipis rupiah akibat tumbuhnya harapan penurunan suku bunga, seiring dengan data AS yang lemah dan dolar merosot. Oleh sebab itu, BI menunda waktu pemangkasan suku bunga pertama untuk BI rate. BI diprediksikan baru menurunkan suku bunga pada kuartal IV-2024. Analis Pasar Mata Uang, Lukman Leong memprediksi, mata uang rupiah akan berkonsolidasi, dengan kecenderungan melemah terhadap dolar AS.

ASF Memiliki Obligasi Jatuh Tempo Rp 527 Miliar

05 Jun 2024
PT Astra Sedaya Finance (ASF) menyatakan telah menyiapkan dana untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo pada 16 Juli 2024. Manajemen emiten obligasi berkode ASDF dalam keterbukaan informasi, Selasa (4/6) menyampaikan telah menyediakan dana pelunasan pokok dan kupon bunga untuk obligasi berkelanjutan VI tahap I tahun 2023 seri A sebesar Rp 527,02 miliar. "Maka dengan ini kami sampaikan bahwa perusahaan telah menyediakan dana pelunasan pokok dan kupon bunga," ungkap Direktur Astra Sedaya Finance, Dharmawan Phie dalam keterbukaan informasi, Selasa (4/6). Obligasi Astra Sedaya Finance yang dirilis pada 7 Juli 2023 tersebut membayar bunga sebesar 5,5% per tahun. Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2023, Astra Sedaya Finance memiliki kas setara kas sebesar Rp 890 miliar. Angka tersebut naik dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 715 miliar. Sementara laba bersih ASF meningkat 24,67% secara tahunan menjadi Rp 1,87 triliun. Kenaikan laba tersebut ditopang dari pendapatan yang naik 10,12% secara tahunan jadi Rp 6,64 triliun.

MOMENTUM BERBURU BLUE CHIPS

05 Jun 2024

Awan mendung yang menaungi pasar saham Indonesia perlahan memudar pada awal bulan ini. Dus, sinyal awal rebound IHSG pun dapat dimanfaatkan oleh investor untuk berburu saham blue chips di sektor defensif yang memiliki tingkat valuasi atraktif. Dalam dua hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) menghijau dengan penguatan harian 0,94% pada Senin (3/6) dan 0,9% pada Selasa (4/6) ke level 7.099,31. Meski demikian, IHSG masih terperosok turun 2,39% secara year-to-date (YtD). Pada saat yang sama, indeks jagoan yang menaungi mayoritas saham blue chips justru mencetak kinerja yang underperform terhadap IHSG. Merujuk data Bursa Efek Indonesia, indeks LQ45 turun 7,7% dan IDX30 melorot 10,52% sepanjang tahun berjalan 2024. Performa dua indeks utama itu terbebani oleh koreksi harga saham big banks,TLKM, ASII, hingga SMGR. Fase bearishLQ45 dan IDX30 juga sejalan dengan arus keluar modal asing yang mengakumulasi net sell Rp6,53 triliun sejak awal tahun. 

Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya menuturkan sentimen global dari ketidakpastian dari pemangkasan suku bunga The Fed yang memantik outfl ow investor asing menekan laju indeks LQ45 dan IDX30. Secara sektoral, Head of Investor Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyebut konstituen LQ45 dan IDX30 dari sektor teknologi, telekomunikasi, dan perbankan menjadi pemberat dua indeks acuan tersebut. Meski begitu, para analis melihat sejumlah katalis positif yang berpotensi mendorong rebound indeks LQ45 dan IDX30. Cheril menyebut kedua indeks utama itu bisa berbalik ke zona hijau apabila ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat saat perlambatan inflasi AS terjadi secara konsisten dalam beberapa bulan menuju target bank sentral. 

Sependapat, Audi menuturkan potensi pemangkasan suku bunga pada kuartal IV/2024 akan berdampak positif terhadap emiten berkategori cyclical di dua indeks utama tersebut. Selain itu, faktor rebalancing indeks yang dilakukan setiap 3 bulan sekali juga menjadi angin segar karena penyesuaian konstituen terhadap kriteria indeks dilakukan lebih cepat dan up-to-date. Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan terjaganya daya beli dan konsumsi masyarakat, geliat aktivitas perekonomian, dan turunnya harga minyak sehingga inflasi makin terkendali turut membuka ruang apresiasi pasar saham, termasuk indeks LQ45 dan IDX30. Sementara itu, Mega Capital Sekuritas menilai saham di sektor consumer staples dan energi dapat menjadi fokus pelaku pasar dalam waktu dekat a.l. ICBP, UNVR, ADRO, dan ITMG. InvestasiKu menilai valuasi ICBP dan UNVR relatif murah, sedangkan saham-saham berbasis batu bara masih menarik meski volatilitasnya tinggi. Dari kacamata manajer investasi, Senior Portofolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma menilai terjadinya koreksi IDX30 dan LQ45 dapat dimanfaatkan investor untuk mendapatkan saham likuid dengan harga diskon.

Waspada Boleh, Panik Jangan

05 Jun 2024

Indeks harga saham gabungan (IHSG) memerah 2,39%. Sepanjang 2024 atau year-to-date, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih sebesar Rp6,53 triliun per Selasa (4/6). Dari sekitar 44 indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia, hampir sebagian besar kinerjanya secara year-to-date merah merona. Hanya ada sembilan indeks yang menghijau, yaitu Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) yang tumbuh 2,09%, Jakarta Islamix Index 70 (0,35%), IDX Value30 (2,20%), IDX ESG Leaders (0,94%), Development Board (1,56%), Acceleration Board (33,03%), IDX Sector Energy (9,50%), IDX Sector Basic Materials (8,85%), dan IDX Sector Healthcare (1,15%). Sementara itu, IDX Sector Technology, IDX Sector Transportation & Logistic, dan IDX Sector Properties & Real Estate terpuruk dengan penurunan masing-masing minus 24,48%, minus 20,76%, dan minus 13,48%. Adapun, kinerja IHSG dibandingkan dengan bursa-bursa lainnya di dunia masuk dalam sebagian kecil bursa dunia yang kinerjanya tengah tertekan, seperti bursa saham Qatar yang turun 12,53%, Meksiko (-9,72%), Brasil (-9,06%), Thailand (-5,61%), Arab Saudi (-2,08%), Uni Emirat Arab (-1,89%), Filipina (-0,99%), dan India (-0,57%). Sebaliknya, hampir sebagian besar bursa-bursa di dunia, kinerjanya sepanjang 2024 menghijau. Inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2024 terpantau tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi IHK Mei 2024 tercatat deflasi sebesar 0,03% (MtM), sehingga secara tahunan menurun menjadi 2,84% (YoY) dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,00% (YoY). Secara tahunan, inflasi inti Mei 2024 tercatat sebesar 1,93% (YoY), meningkat dari inflasi inti bulan sebelumnya sebesar 1,82% (YoY). Ke depan, Bank Indonesia bahkan meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025. Guna memastikan sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia pun mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,50%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 7%. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih terus dibayangi oleh tekanan geopolitik, pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% tentu cukup menjanjikan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi global sendiri hanya diproyeksikan sebesar 3,2% oleh IMF. Bahkan, OECD dan Bank Dunia memproyeksi di angka yang lebih rendah yaitu 2,9% dan 2,4%. Untuk itu, investor dapat memanfaatkan kondisi saat ini untuk mengalkulasi kembali strategi investasi dan portofolio yang dimilikinya, termasuk prospek sejumlah emiten dan industrinya ketika kelak kondisi perekonomian berangsur pulih. Waspada boleh, tetapi tak perlu panik.

Mengelola Tantangan Perbankan

05 Jun 2024

Dalam lingkungan ekonomi, sosial dan politik yang dinamis akhir-akhir ini, mengelola bisnis perbankan tentu tidak mudah. Saat ini nasabah mengharapkan hasil lebih baik, cepat dan besar. Nasabah usia muda—sebagian disebut nasabah digital telah tumbuh berkembang dengan teknologi yang makin cepat dan lebih komprehensif dari waktu ke waktu.Banyak bank tahu mereka perlu merespons dengan memodernisasi layanan melalui perangkat teknologi papan atas seiring perubahan perilaku nasabah. Dengan ekspektasi bahwa nasabah akan menentukan masa depan perbankan, bank-bank perlu secara konsisten dan berkesinambungan mengadopsi strategi termutakhir untuk memberikan layanan terbaiknya. 

Setidaknya terdapat delapan kiat yang harus diterapkan oleh pengelola bank untuk dapat merespons tantangan-tantangan yang ada—baik yang teknis maupun nonteknis—sesuai dengan pakem “nasabah adalah raja”. Pertama, memahami ekspektasi, aspirasi dan preferensi nasabah. Kedua, mengoptimalkan pengalaman seluler. Ketiga, memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan lalu lintas komunikasi dengan nasabah, mitra bisnis dan pemangku kepentingan lainnya. Keempat, menjaga keamanan dan otentifikasi. Setiap kali solusi teknologi baru memulai debutnya, seseorang mencoba meretasnya. Kelima, menjaga ritme kompetisi dengan financial technology (fintech). Keenam, melakukan perubahan atau reformasi internal. Ketujuh, mengadopsi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kedelapan, mematuhi semua peraturan. Delapan langkah di atas pada gilirannya akan mampu menangkal setiap tekanan dan menyerap setiap risiko akibat dari persaingan yang keras. Peningkatan kapabilitas sumber daya manusia harus diimbangi dengan pengembangan kapasitas teknologi digitalisasi menjadi keunggulan daya saing.

KINERJA INTERMEDIASI : KREDIT SINDIKASI BERGULIR

05 Jun 2024

Di tengah geliat kebutuhan dana jumbo korporasi, kalangan perbankan menggulirkan kredit sindikasi yang menyasar segmen keberlanjutan atau sustainability. Terbaru, PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) memberikan kredit sindikasi kepada anak usaha di Indomobil Group, PT IMG Sejahtera Langgeng (IMGSL) senilai US$450 juta atau Rp7,3 triliun (asumsi kurs Rp16.231 per dolar AS). Kredit sindikasi ini memiliki beberapa tranche dalam penggunaan dananya, salah satunya yaitu tranche pembiayaan hijau senilai US$225,8 juta atau Rp3,66 triliun yang akan digunakan untuk mendukung upaya transisi menuju ekonomi hijau melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Dalam sindikasi yang melibatkan 32 kreditur ini, Bank BTPN dan SMBC berperan sebagai coordinating mandated lead arranger and bookrunner dan juga lead green loan coordinator, agen fasilitas, agen jaminan, serta account bank. Head of Wholesale, Commercial, and Transaction Banking Bank BTPN Nathan Christianto mengatakan Bank BTPN dan SMBC berkomitmen memfasilitasi pembiayaan yang mendukung upaya keberlanjutan bisnis di Indonesia. Sebagai anak usaha PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS), IMGSL akan memanfaatkan fasilitas kredit sindikasi untuk memperkuat pengembangan ekosistem dan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia. 

“Kredit sindikasi ini juga akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan korporasi lainnya,” ujar Business Development Director Indomobil Group Andrew Nasuri. Senada, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyalurkan kredit sindikasi sebesar US$845 juta pada kuartal I/2024. Adapun, kredit sindikasi tersebut terutama menyasar sektor terkait baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Mengacu laporan Bloomberg Table League, dari sisi mandated lead aranger (MLA), total nilai kredit sindikasi yang disalurkan oleh lembaga keuangan di Indonesia pada kuartal I/2024 telah mencapai US$3,42 miliar. Sementara itu, Bank Mandiri mencatatkan pangsa pasar paling dominan yakni 24,7% dari total volume kredit sindikasi di Indonesia tersebut. Langkah serupa ditempuh Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) yang menyalurkan kredit sindikasi sebesar US$200 juta dan Rp7,5 triliun untuk PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyoroti bahwa prospek kredit sindikasi akan jauh lebih baik pada kuartal II/2024 dengan sektor seperti infrastruktur, konstruksi, properti, dan pertambangan yang menjadi pendorong. “Sindikasi ataupun korporasi ini kan sekali disbursement cukup besar, dan ini akan berpengaruh signifikan dalam menurunkan NPL,” ucapnya.