Ekonomi
( 40554 )Bank dan Properti Menjadi Sektor Andalan
Seiring gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), posisi indeks saham sektoral pun mengalami pergeseran sepanjang Agustus. Dalam sebulan terakhir, indeks saham energi masih unjuk gigi dengan akumulasi kenaikan tertinggi secara year to date. Sektor energi memimpin dengan performa positif 26,75% hingga akhir perdagangan Agustus. Performa sektor energi melonjak dibandingkan posisi per akhir Juli yang saat itu naik 16,69%. Artinya, sektor energi mendaki 10,06% dalam sebulan. Memasuki bulan September, Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menilai, pergerakan sektoral masih dibayangi oleh sejumlah faktor. Sentimen terbesar datang dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang diprediksi mulai terjadi bulan ini. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menaksir, tidak semua sektor sensitif suku bunga akan terdongkrak naik akibat pelonggaran kebijakan moneter ini. Saham sektor teknologi misalnya, diprediksi masih sulit mendaki. Alasannya, kinerja dan valuasi emiten sektor teknologi masih belum menarik.
Di sisi lain, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, bagi sektor keuangan, penurunan suku bunga berpotensi mengurangi risiko kenaikan non-performing loan (NPL). Bagi sektor properti, pemangkasan suku bunga yang dibarengi perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berpeluang mendongkrak marketing sales pada kuartal IV-2024. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project William Hartanto memperkirakan, sektor yang telah naik di bulan Agustus yakni energi, konsumsi non-primer, properti, keuangan dan infrastruktur masih bisa lanjut menanjak meski terbatas. William menjagokan saham PTBA, ADRO, SRTG, MPMX, ITMG, WIKA, TOTL, CTRA, dan BSDE. Daniel menjagokan sektor keuangan dan properti, dengan rekomendasi saham BBRI, BBTN, BTPS, BSDE, dan SMRA. Sedangkan Ike menyarankan saham berfundamental sehat dan secara teknikal menarik di sektor keuangan, seperti BBRI, BBCA, BBNI, BFIN, dan ARTO. Sedangkan Emil menjagokan saham sektor keuangan, properti, konsumsi non-primer dan sektor energi.
Saham BUMN Karya Makin Bersinar
Mengawali perdagangan bulan September, saham-saham emiten BUMN Karya bertengger di zona hijau. Pada perdagangan Senin (2/9), hampir semua saham emiten BUMN Karya dan anak usahanya melesat. Contohnya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Kemarin, saham WIKA ditutup Rp 458, naik 17,44% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, saham WIKA sudah meroket 124,61%. Harganya mengalami lonjakan tertinggi dibanding saham emiten BUMN Karya lainnya, semisal PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), yang masing-masing naik 12,62% dan 1,92% sejak awal 2024.
Jika ditengok, laju saham emiten BUMN Karya ditopang moncernya kinerja keuangan di semester pertama tahun ini. Ambil contoh PTPP, yang mengantongi pendapatan Rp 8,79 triliun, tumbuh 9,28% secara tahunan. Dus, laba bersih PTPP ikut terkerek jadi Rp 147 miliar di semester I-2024, naik 52,46% secara tahunan.
Sedangkan WIKA mengalap laba bersih Rp 401,95 miliar di semester I-2024, membalikkan kerugian Rp 1,88 triliun di semester I-2023. WIKA juga menorehkan kontrak baru Rp 11,58 triliun hingga Juli 2024.
Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan, dari capaian tersebut, komposisi perolehan dari segmen industri 35,21%. Lalu, segmen
infrastructure & building
29,97%, properti 18,30%, dan EPCC 16,52%. "Proyek yang jadi penopang kontrak baru, antara lain, Tol Sumbu Timur IKN, Jetty Manggis, dan RFF Plant Rorotan," ujar Mahendra, Senin (2/9).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, prospek kinerja BUMN Karya ke depan bergantung pada proyek dan penugasan dari pemerintah. Raihan nilai kontrak BUMN Karya rata-rata lebih 50% dari proyek pemerintah.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menganalisa, kinerja WIKA dan WSKT masih berat di semester II-2024. Ini akibat beban operasional dan bunga yang masih tinggi.
BEI dan Infovesta Luncurkan Indeks Baru
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Infovesta Utama meluncurkan indeks baru bernama IDX-Infovesta Multi-Factor 28 pada Senin (2/9).
P.H. Sekretaris Perusahaan BEI Eko Susanto bilang, indeks ini mengukur kinerja harga dari 28 saham yang punya profitabilitas tinggi, valuasi harga dan volatilitas rendah, dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan baik. "Indeks ini diluncurkan karena meningkatnya penggunaan indeks BEI sebagai
underlying
produk," ujar Eko dalam keterangannya, Senin (2/9).
Untuk konstituen indeks IDX-Infovesta Multi-Factor 28, BEI memilih saham yang telah tercatat di BEI minimal 5 tahun dan memiliki nilai transaksi harian lebih dari Rp 500 juta selama 6 bulan terakhir.
Selain itu, memiliki nilai
market
capitalization free float
minimal Rp 1 triliun dan harga saham tidak pernah menyentuh Rp 50 selama 5 tahun terakhir. Terakhir, saham tak masuk notasi khusus atau efek dalam pemantauan khusus selama 6 bulan terakhir.
Jangan Berharap Banyak dari Nikel
JAKARTA. Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih dihadapkan dengan tantangan di sisi harga komoditas. Alhasil, analis memproyeksi pada semester II-2024 kinerja ANTM akan terhambat akibat penurunan harga nikel. Pada semester I-2024, emiten yang memproduksi logam mulia ini mencetak laba bersih sebesar Rp 1,55 triliun, turun 18% secara tahunan. Riset JP Morgan pada 29 Juli 2024 menyebut hasil ini telah mencapai 61%-62% dari target laba bersih tahunan yang diperkirakan oleh JP Morgan dan konsensus pasar. Realisasi tersebut juga sesuai dengan ekspektasi pasar karena adanya keuntungan valuta asing (valas) lebih dari Rp 500 miliar pada separuh pertama tahun 2024. Plus ada faktor penjualan feronikel (Feni) dan bijih nikel pada kuartal II-2024 kembali normal setelah kuartal pertama yang kurang baik. Analis Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan mengungkapkan, selama separuh pertama 2024, harga nikel terdorong oleh serangkaian peristiwa geopolitik. Tetapi harga pada kuartal dua lebih fluktuatif didorong oleh ketegangan geopolitik yang kian memanas. Meningkatnya perang dagang AS-Tiongkok ikut menjadi faktor yang memengaruhi harga nikel. Maklum, AS menerapkan tarif yang lebih tinggi untuk komoditas dari Tiongkok dan pungutan yang lebih tinggi untuk tambang mineral penting sehingga dapat mengganggu pasar nikel. Dus, Rizkia memperkirakan harga nikel akan bergerak di sekitar US$ 16.500- US$ 16.750 per ton pada semester kedua 2024.
Secara keseluruhan, ia memproyeksikan harga rata-rata pada semester dua 2024 akan 15%-22% lebih rendah dari tahun lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta menambahkan, Antam diharapkan tidak hanya mengejar volume lebih tinggi ketika harga nikel rendah. Pasalnya, strategi tersebut dinilai kurang
profitable.
Sebaliknya, ANTM bisa memanfaatkan momentum permintaan nikel global ketika ekonomi Tiongkok sudah pulih.
Di sisi lain JP Morgan memproyeksi bisnis bijih nikel ANTM memiliki profitabilitas yang lebih baik daripada bisnis peleburan nikelnya. JP Morgan berharap bisnis bijih nikel ANTM beroperasi penuh pada tahun 2025 pada proyek joint venture dengan CNGR Hong Kong dan Contemporary Emperex Technology Co. (CATL). Adapun bisnis emas ANTM diproyeksi akan tetap stabil.
Sementara Rizkia mempertahankan rekomendasi netral untuk ANTM dengan target harga Rp 1.480 per saham. Rizkia menetapkan target harga ini berdasarkan EV/EBITDA 8,3 kali.
Spin-Off Tak Banyak Mengubah Perbankan Syariah
Kinerja industri perbankan syariah Tanah Air tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan nasional selama semester I tahun ini. Kenaikan ini terlihat dari aset, pembiayaan hingga penghimpunan dana pihak ketiga. Sayangnya, ceruk pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut tak tersebar merata. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih belum memiliki pesaing yang sebanding. Sebagai gambaran, total aset perbankan syariah pada enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp 897 triliun, naik 9,07% secara tahunan. Sementara aset BSI naik 15,1% secara tahunan jadi Rp 360 triliun. Saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mengupayakan bank syariah lain sebesar BSI. Ini dilakukan lewat kewajiban spin off unit usaha syariah (UUS) dan diikuti konsolidasi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menjadi salah satu yang sedang menyiapkan spin off dan akuisisi bank syariah yang sudah ada. Namun, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengisyaratkan bank yang diincar bukan bank syariah yang besar. Rumor yang beredar menyebut, Bank Victoria Syariah adalah bank yang hendak diakusisi BTN.
Menilik laporan keuangan per Juni 2024, Bank Victoria Syariah memiliki aset Rp 3,19 triliun. Aset UUS BTN memiliki senilai Rp 55,54 triliun.
Pengamat Ekonomi Syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama BSI Adiwarman Karim melihat, konsolidasi perbankan syariah bukan untuk menciptakan bank syariah pesaing BSI. Konsolidasi ini lebih untuk menciptakan perbankan yang kuat dan sehat.
PT Bank CIMB Niaga Tbk yang juga sudah wajib melakukan
spin off
UUS belum memiliki rencana akuisisi. Aset UUS CIMB Niaga saat ini senilai Rp 64,83 triliun. "Tahap awal kami akan fokus
spin off
dulu," ujar Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan.
Direktur BCA Syariah Pranata berujar, modal, aset dan jumlah kantor cabang yang dimiliki sangat menentukan kemampuan bank. BCA Syariah saat ini tak sebesar BSI dan memiliki kemampuan yang berbeda dalam ekspansi.
Menagih Janji Menjadi Sejahtera
Keberhasilan Indonesia menegakkan kembali harkat berdemokrasi belakangan ini jelas menjadi prestasi tersendiri. Terlebih bagi pers yang memang kehadirannya ditempatkan sebagai salah satu pilar penyangga demokrasi di negeri ini. Akan tetapi, dalam konteks yang lebih relevan lagi bagi kehidupan masyarakat, eksistensi pers dalam mengawal praktik demokrasi saja dirasakan belum cukup. Kehadiran pers dalam menjaga sejauh mana praktik demokrasi yang sejatinya membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat itu, dibutuhkan.
Bagi Ombudsman Kompas, signifikansi pilkada bagi peningkatan kesejahteraan daerah tidak dapat dipisahkan. Semenjak pemilihan kepala daerah langsung diterapkan pada tahun 2005 hingga kini, misalnya, seberapa signifikan perubahan-perubahan kesejahteraan yang sudah terwujud? Lebih konkret, apakah janji-janji kesejahteraan yang kerap kali disampaikan kandidat kepala daerah sudah benar-benar terlaksana dan dirasakan adanya perubahan semasa kepemimpinannya? Dengan menjadikan dampak kebermanfaatan pilkada langsung sebagai bagian dari kerangka analisis setiap daerah di negeri ini.
Setidaknya dapat terpetakan perubahan kesejahteraan dalam kurun waktu hampir dua puluh tahun penerapan pilkada langsung bagi setiap daerah. Melihat derap kemajuan sejumlah provinsi di Jawa, misalnya, apakah dalam kurun waktu tersebut kesenjangan antarwilayah yang kerap memilah antara kawasan utara yang terbilang dinamis perubahannya dan kawasan selatan yang cenderung lambat sudah semakin tereduksi? Bagaimana pula keberhasilan daerah dalam mengatasi kesenjangan, kemiskinan. (Yoga)
Afrika Mencari Tambahan Investasi dari China
Para pemimpin Afrika mulai berdatangan ke Beijing, China. Mereka akan mengikuti forum dengan focus meningkatkan peran ekonomi China di Afrika. Forum Kerja Sama China-Africa (FOCAC) akan digelar di Beijing pada 4-6 September 2024. Hingga Minggu (1/9), enam presiden negara-negara Afrika telah tiba di Beijing. Mereka adalah Faure Gnassingbe dari Togo, Assimi Goita dari Mali, Isaias Afwerki dari Eritrea, Bola Ahmed Tinubu dari Nigeria, Azali Assoumani dari Komoro, dan Salva Kiir dari Sudan Selatan. ”Negara-negara Afrika berusaha memanfaatkan peluang di China untuk pertumbuhan,” kata analis kebijakan Nigeria, Ovigwe Eguegu. China merupakan mitra dagang terbesarAfrika.
Pada 2023, menurut Beijing, volume perdagangan Afrika-China mencapai 282,1 miliar USD. Sementara pada semester I-2024, nilainya tercatat 167,8 miliar USD. FOCAC digelar sehari selepas Indonesia-Africa Forum (IAF) di Bali. IAF juga menawarkan peluang kerja sama ekonomi Indonesia-Afrika. FOCAC 2024 digelar bersamaan dengan 11 tahun pelaksanaan Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) di Afrika. Program pengembangan infrastruktur yang ditopang China itu menghasilkan aneka proyek di Afrika. Televisi China, CCTV, menyebut hasil BRI, antara lain, 12.000 km jalan dan rel kereta, 20 pelabuhan, serta 80 pembangkit listrik. Wujudnya, antara lain, berupa jembatan berbiaya 786 juta USD di Maputo, Mozambik, investasi 533 juta USD untuk PLTA di Zimbabwe.
China telah menanamkan setidaknya 7,8 miliar USD ke industri pertambangan Afrika. Investasinya termasuk 1,9 miliar USD untuk tambang tembaga di Botswana. Afrika membutuhkan banyak investasi untuk pemanfaatan sumber dayanya. Namun, Afrika mengharapkan model pinjaman yang lebih meringankan beban mereka. Penasihat ekonomi Pemerintah Kenya, Mwangi Wachira, mengatakan, relasi China dan Barat dengan Afrika amat berbeda. Mantan ekonom Bank Dunia itu menyebut, lembaga-lembaga Barat menerapkan banyak sekali syarat. Sering kali, hibah dan utang tidak sesuai dengan kebutuhan Afrika. ”China bisa memandang masalah dari sudut pandang kami,” ujarnya kepada media China,Global Times. (Yoga)
Mendorong Siswa Pendidikan Vokasi Berwirausaha Produk Lokal
Peserta didik pendidikan vokasi didorong mendalami ilmu wirausaha untuk menjadi pengusaha baru yang memajukan produk lokal Nusantara. Berbagai pelatihan kriya hingga pemodalan dan pemasaran ditanamkan agar mereka sukses dan mandiri menjalani usaha. Plt Dirjen Vokasi Kemendikburistek, Tatang Muttaqin mengutarakan, para peserta didik di pendidikan vokasi memiliki potensi besar berkembang menghadapi pasar nasional ataupun global. Produk lokal Nusantara yang dihasilkan mereka sudah diakui tak kalah bersaing dengan produk pabrikan besar. Kemendikbudristek melalui Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) sejak 2020 sudah meluluskan 4.699 wirausaha baru dan perajin produk Nusantara yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka adalah anak usia 15-25 tahun yang tidak sekolah dan tidak bekerja.
”Mereka yang mau berwirausaha dengan pendidikan kecakapan wirausaha dilatih di Lembaga Kursus dan Pelatihan selama satu bulan. Lalu mereka dibantu peralatan dan pemodalan agar bisa mulai berwirausaha,” kata Tatang, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/8). Para wirausaha ini didorong berkarya memajukan kebudayaan lokal, seperti membuat tenun dan kriya Nusantara. PKW Tekun Tenun dan Kriya telah melatih sekitar 3.000 peserta didik sejak 2020 bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Tatang menyebut, hasilnya tidak hanya melatih keterampilan peserta didik, tetapi juga kewirausahaan sehingga mereka dapat merintis usaha dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungannya. Program tersebut pun tidak memaksa mereka dan dinilai tidak mengganggu pendidikan akademisnya. Beberapa peserta didik justru bisa melanjutkan studi dengan hasil wirausahanya. (Yoga)
Menyorot Keselamatan Kerja pada Industri Kreatif
Kerja berlebih atau overwork masih menjadi fenomena yang berulang terjadi di industri film, periklanan, dan pertelevisian. Penyebab utamanya ialah kurangnya kesadaran terhadap prinsip kesehatan dan keselamatan kerja, baik dari sisi pekerja maupun pengusaha di sektor industri tersebut. Hal itu bisa membahayakan pekerja, seperti memicu kecelakaan. Pekan lalu, di media sosial ramai diberitakan Rifqi Novara, seorang pekerja industri film, periklanan, dan pertelevisian, mengalami kecelakaan tunggal di Mampang, Jaksel, Rabu (28/8) tengah malam, dalam perjalanan pulang kerja, yang menyebabkan Rifqi meninggal. Pihak keluarga menduga kuat kecelakaan yang dialami Rifqi karena kelelahan akibat overwork.
Ketua Umum Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Ikhsan Raharjo, Minggu (1/9), di Jakarta, mengatakan, jika dugaan itu benar, kejadian yang dialami Rifqi menambah daftar pekerja di industri film, periklanan, dan pertelevisian yang kelelahan akibat overwork. Berdasar data dari paper berjudul ”#Sepakatdi14: Advokasi Pembatasan Waktu Kerja dan Perlindungan Hak Pekerja Film Indonesia”, lebih dari 50 % pekerja industri film dan periklanan di Indonesia diyakini bekerja sepanjang 16-20 jam sehari. Angka di atas menempatkan pekerja film Indonesia dalam bahaya. Sebab, organisasi internasional, seperti WHO, memperingatkan mereka yang bekerja di atas 55 jam per pekan rentan mengalami risiko kematian akibat gangguan iskemik jantung dan stroke.
Menurut dia, dalam konteks produksi konten, semua pihak termasuk klien dan agensi semestinya menghargai proses kreatif yang telah disepakati saat praproduksi sehingga tidak sepihak mengubah proses produksi yang sering berakibat pada molornya waktu bekerja. Sutradara Ray Farandy Pakpahan menceritakan, pola kerja dan perlindungan sosial di industri kreatif seperti film, iklan, dan konten seri sangat bervariasi dan sering kali tidak terstruktur dengan baik. Di industri film dan konten, ada kontrak yang mengikat yang biasanya disusun oleh pemberi kerja. Namun, saat ini, para pekerja film terutama kru produksi dan pascaproduksi film sering kali tak memiliki tempat atau wadah bertanya jika ada masalah.
”Tidak ada keseimbangan dalam kontrak. Jika terjadi pelanggaran kontrak, seperti keterlambatan pembayaran, pekerja biasanya diminta untuk mengalah dan mengerti situasi perusahaan,” ucapnya. Di sisi lain, situasi di industri periklanan, jauh lebih parah dan mendesak. Pekerja lepas di industri periklanan sering kali bekerja tanpa kontrak karena sifat pekerjaan yang cepat dan singkat demi mengejar deadline. Baik Ikhsan maupun Ray sepakat betapa pentingnya serikat pekerja di industri film, periklanan, dan pertelevisian. Dengan demikian, serikat lebih mudah maju untuk merundingkan pembatasan waktu bekerja melalui perjanjian kerja bersama dengan pemberi kerja. (Yoga)
Pengeluaran Kelas Menengah Terbebani Pajak dan Iuran
Dalam lima tahun terakhir, pola konsumsi masyarakat kelas menengah mengalami pergeseran. Di tengah penurunan daya beli, kelompok ini mesti mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar pajak dan iuran. Berdasarkan data BPS, porsi pengeluaran masyarakat untuk membayar pajak dan iuran pada 2019 adalah 3,48 % dari total pengeluaran. Pada 2024, porsi tersebut meningkat menjadi 4,53 % dari total pengeluaran. Dibanding kelompok lain, beban pajak dan iuran yang ditanggung kelas menengah berbeda tipis dengan kelas atas. Pada 2024, pengeluaran kelas atas untuk membayar pajak/iuran adalah 4,84 %. Menurut Deputi Statistik Sosial BPS Ateng Hartono, pajak yang dimaksud adalah PBB, pajak kendaraan bermotor (STNK), serta PPh 21.
Sementara iuran yang dimaksud dalam bentuk retribusi seperti iuran RT/RW, sampah, keamanan, dan asuransi. ”Untuk PPh 21, masuk ke rincian (pajak) lainnya. Fokusnya lebih ke PBB, pajak kendaraanbermotor, serta retribusi dan asuransi,” kata Ateng, Minggu (1/9). Kelas menengah memegang peran yang sangat penting bagi penerimaan negara. Kelas menengah menyumbang 50,7 % dari penerimaan pajak. Sementara calon kelas menengah menyumbang 34,5 %. Dengan total kontribusi 85,2 %, kedua kelompok ini adalah penopang utama penerimaan pajak negara. Namun, kedua kelompok ini kurang diperhatikan. Mereka bukan kelompok miskin dan rentan yang mendapat bansos dari pemerintah.
Mereka juga tidak ikut menikmati kucuran insentif yang ditujukan pemerintah untuk kelas atas. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB UI), Teuku Riefky, mengatakan, mengingat kontribusi kelas menengah yang sangat besar bagi penerimaan pajak, solusi yang tepat bukanlah mengurangi kewajiban pajak kelas menengah. Namun, meningkatkan kemampuan kelas menengah untuk membayar pajak agar kewajiban pajak itu tidak malah menjadi beban di antara pengeluaran lainnya yang sudah tinggi. Caranya dengan menjaga daya beli dan meningkatkan penerimaan kelas menengah. Misalnya, melalui penciptaan lapangan kerja yang layak bagi kelas menengah serta meningkatkan akses kelas menengah untuk masuk ke sektor bernilai tambah tinggi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









