Ekonomi
( 40460 )Indonesia Siap Menjadi Mitra Afrika
Emiten Grup Djarum Jajaki Penambahan Modal
Kontraksi Manufaktur Berdampak Pengurangan Tenaga Kerja
Manufaktur Makin Lemah Dihantam Banyak Masalah
Kinerja industri manufaktur makin terseok. Mereka kelimpungan mempertahankan bisnis di tengahnya beratnya masalah yang harus dihadapi. Selain dihadapkan pada pelemahan daya beli masyarakat, pelaku industri manufaktur harus berjibaku melawan dominasi produk impor di pasar lokal. Sementara industri berorientasi ekspor juga harus gigit jari lantaran permintaan di pasar global juga sedang lesu darah. Kombinasi masalah itu menyeret aktivitas produksi manufaktur terjerembab ke titik terendah sejak Agustus 2021. Indikasi kemunduran manufaktur ini terekam di survei S&P Global tentang Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Agustus 2024. S&P Global melaporkan, PMI Indonesia Agustus 2024 di level 48,9, turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya di 49,3. Artinya, dua bulan beruntun industri manufaktur nasional di zona kontraksi. PMI sebenarnya telah mengalami tren penurunan selepas Maret 2024 hingga kini. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menilai, penurunan PMI manufaktur disebabkan melemahnya permintaan pasar domestik. Sudah lemah, pasar domestik pun terus digempur produk-produk impor ilegal. Wakil Ketua Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Bobby Gafur Umar memperkirakan, penurunan PMI akan berlanjut. Banyak fasilitas produksi beroperasi dengan utilisasi kurang dari 40%. "Ini berbahaya dan dapat menyebabkan gelombang PHK lebih lanjut," jelasnya, Senin (2/9). Kementerian Ketenagakerjaan menyebut, pekerja Indonesia yang terkena PHK mencapai 46.240 orang pada Januari-Agustus 2024, naik 23,71% secara tahunan.
Industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) jadi subsektor manufaktur yang paling banyak melakukan PHK.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menambahkan, sampai saat ini pasar domestik terus dibanjiri produk impor TPT ilegal.Para produsen lokal sulit bersaing karena produk impor dijual dengan harga miring tanpa dikenakan pajak.
Industri otomotif juga terdampak pelemahan daya beli. Ini tercermin pada tren penjualan
wholesales
(pabrik ke diler) dan retail mobil nasional yang masing-masing turun 17,5% dan 12,2% secara tahunan hingga Juli 2024.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengusulkan kebijakan relaksasi atau penghapusan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil produksi lokal dengan kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi.
Apindo minta stimulasi produksi. Wujudnya bisa kemudahan mendapat bahan baku, kemudahan pembiayaan, akses pembiayaan ekspor, pencegahan tumpang tindih kebijakan, hingga fasilitas izin investasi.
Deflasi Empat Bulan: Pertanda Ekonomi Melambat
Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi selama empat bulan beruntun. Data teranyar, pada Agustus 2024 terjadi deflasi sebesar 0,03% secara bulanan atau month to month (mtm). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan, fenomena deflasi selama empat bulan berturut-turut tahun ini memang bukan kali pertama. Pada 1999, Indonesia pernah mengalami deflasi selama tujuh bulan berturut-turut yaitu selama Maret hingga September akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan penurunan harga berbagai jenis barang. Kemudian pada 2020 juga terjadi deflasi selama tiga bulan berturut-turut yaitu Juli hingga September 2020 karena kelompok makanan, minuman dan tembakau, alas kaki, kelompok transportasi serta kelompok informasi komunikasi dan jasa keuangan. Hal itu diindikasikan adanya penurunan daya beli awal periode pandemi Covid-19. Sementara deflasi pada tahun ini, menurut Pudji, lebih disebabkan penurunan harga pangan seperti produk tanaman pangan, hortikultura dan peternakan. Catatan BPS, kelompok pengeluaran penyumbang deflasi terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau. Ia mencatat kelompok ini deflasi 0,52% dan memberikan andil deflasi 0,15%.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menampik deflasi selama empat bulan beruntun lantaran daya beli masyarakat menurun. Pasalnya, inflasi inti pada Agustus justru naik. Catatan BPS, inflasi komponen inti pada bulan lalu 2,02% yoy. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,95% yoy.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara meramal, deflasi masih bisa berlanjut hingga September 2924. Hal tersebut lantaran rendahnya dorongan inflasi dari sisi permintaan dan ditambah melandainya harga pangan. "Kelas menengah yang jumlahnya menyusut membuat
demand pull inflation
-nya kecil," ungkap dia, Senin (2/9).
Menurut Bhima, ke depan pemerintah perlu memperhatikan risiko pembalikan arah inflasi jika pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dilakukan ketat pada Oktober 2024. Artinya, mitigasi inflasi yang lebih tinggi dari sisi harga yang diatur pemerintah perlu dikompensasi melalui perluasan dana bantuan sosial ke kelas menengah rentan.
Bank dan Properti Menjadi Sektor Andalan
Seiring gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), posisi indeks saham sektoral pun mengalami pergeseran sepanjang Agustus. Dalam sebulan terakhir, indeks saham energi masih unjuk gigi dengan akumulasi kenaikan tertinggi secara year to date. Sektor energi memimpin dengan performa positif 26,75% hingga akhir perdagangan Agustus. Performa sektor energi melonjak dibandingkan posisi per akhir Juli yang saat itu naik 16,69%. Artinya, sektor energi mendaki 10,06% dalam sebulan. Memasuki bulan September, Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki menilai, pergerakan sektoral masih dibayangi oleh sejumlah faktor. Sentimen terbesar datang dari potensi pemangkasan suku bunga Federal Reserve yang diprediksi mulai terjadi bulan ini. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menaksir, tidak semua sektor sensitif suku bunga akan terdongkrak naik akibat pelonggaran kebijakan moneter ini. Saham sektor teknologi misalnya, diprediksi masih sulit mendaki. Alasannya, kinerja dan valuasi emiten sektor teknologi masih belum menarik.
Di sisi lain, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai, bagi sektor keuangan, penurunan suku bunga berpotensi mengurangi risiko kenaikan non-performing loan (NPL). Bagi sektor properti, pemangkasan suku bunga yang dibarengi perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berpeluang mendongkrak marketing sales pada kuartal IV-2024. Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project William Hartanto memperkirakan, sektor yang telah naik di bulan Agustus yakni energi, konsumsi non-primer, properti, keuangan dan infrastruktur masih bisa lanjut menanjak meski terbatas. William menjagokan saham PTBA, ADRO, SRTG, MPMX, ITMG, WIKA, TOTL, CTRA, dan BSDE. Daniel menjagokan sektor keuangan dan properti, dengan rekomendasi saham BBRI, BBTN, BTPS, BSDE, dan SMRA. Sedangkan Ike menyarankan saham berfundamental sehat dan secara teknikal menarik di sektor keuangan, seperti BBRI, BBCA, BBNI, BFIN, dan ARTO. Sedangkan Emil menjagokan saham sektor keuangan, properti, konsumsi non-primer dan sektor energi.
Saham BUMN Karya Makin Bersinar
Mengawali perdagangan bulan September, saham-saham emiten BUMN Karya bertengger di zona hijau. Pada perdagangan Senin (2/9), hampir semua saham emiten BUMN Karya dan anak usahanya melesat. Contohnya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Kemarin, saham WIKA ditutup Rp 458, naik 17,44% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, saham WIKA sudah meroket 124,61%. Harganya mengalami lonjakan tertinggi dibanding saham emiten BUMN Karya lainnya, semisal PT PP Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI), yang masing-masing naik 12,62% dan 1,92% sejak awal 2024.
Jika ditengok, laju saham emiten BUMN Karya ditopang moncernya kinerja keuangan di semester pertama tahun ini. Ambil contoh PTPP, yang mengantongi pendapatan Rp 8,79 triliun, tumbuh 9,28% secara tahunan. Dus, laba bersih PTPP ikut terkerek jadi Rp 147 miliar di semester I-2024, naik 52,46% secara tahunan.
Sedangkan WIKA mengalap laba bersih Rp 401,95 miliar di semester I-2024, membalikkan kerugian Rp 1,88 triliun di semester I-2023. WIKA juga menorehkan kontrak baru Rp 11,58 triliun hingga Juli 2024.
Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan, dari capaian tersebut, komposisi perolehan dari segmen industri 35,21%. Lalu, segmen
infrastructure & building
29,97%, properti 18,30%, dan EPCC 16,52%. "Proyek yang jadi penopang kontrak baru, antara lain, Tol Sumbu Timur IKN, Jetty Manggis, dan RFF Plant Rorotan," ujar Mahendra, Senin (2/9).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, prospek kinerja BUMN Karya ke depan bergantung pada proyek dan penugasan dari pemerintah. Raihan nilai kontrak BUMN Karya rata-rata lebih 50% dari proyek pemerintah.
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menganalisa, kinerja WIKA dan WSKT masih berat di semester II-2024. Ini akibat beban operasional dan bunga yang masih tinggi.
BEI dan Infovesta Luncurkan Indeks Baru
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Infovesta Utama meluncurkan indeks baru bernama IDX-Infovesta Multi-Factor 28 pada Senin (2/9).
P.H. Sekretaris Perusahaan BEI Eko Susanto bilang, indeks ini mengukur kinerja harga dari 28 saham yang punya profitabilitas tinggi, valuasi harga dan volatilitas rendah, dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan baik. "Indeks ini diluncurkan karena meningkatnya penggunaan indeks BEI sebagai
underlying
produk," ujar Eko dalam keterangannya, Senin (2/9).
Untuk konstituen indeks IDX-Infovesta Multi-Factor 28, BEI memilih saham yang telah tercatat di BEI minimal 5 tahun dan memiliki nilai transaksi harian lebih dari Rp 500 juta selama 6 bulan terakhir.
Selain itu, memiliki nilai
market
capitalization free float
minimal Rp 1 triliun dan harga saham tidak pernah menyentuh Rp 50 selama 5 tahun terakhir. Terakhir, saham tak masuk notasi khusus atau efek dalam pemantauan khusus selama 6 bulan terakhir.
Jangan Berharap Banyak dari Nikel
JAKARTA. Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih dihadapkan dengan tantangan di sisi harga komoditas. Alhasil, analis memproyeksi pada semester II-2024 kinerja ANTM akan terhambat akibat penurunan harga nikel. Pada semester I-2024, emiten yang memproduksi logam mulia ini mencetak laba bersih sebesar Rp 1,55 triliun, turun 18% secara tahunan. Riset JP Morgan pada 29 Juli 2024 menyebut hasil ini telah mencapai 61%-62% dari target laba bersih tahunan yang diperkirakan oleh JP Morgan dan konsensus pasar. Realisasi tersebut juga sesuai dengan ekspektasi pasar karena adanya keuntungan valuta asing (valas) lebih dari Rp 500 miliar pada separuh pertama tahun 2024. Plus ada faktor penjualan feronikel (Feni) dan bijih nikel pada kuartal II-2024 kembali normal setelah kuartal pertama yang kurang baik. Analis Mirae Asset Sekuritas Rizkia Darmawan mengungkapkan, selama separuh pertama 2024, harga nikel terdorong oleh serangkaian peristiwa geopolitik. Tetapi harga pada kuartal dua lebih fluktuatif didorong oleh ketegangan geopolitik yang kian memanas. Meningkatnya perang dagang AS-Tiongkok ikut menjadi faktor yang memengaruhi harga nikel. Maklum, AS menerapkan tarif yang lebih tinggi untuk komoditas dari Tiongkok dan pungutan yang lebih tinggi untuk tambang mineral penting sehingga dapat mengganggu pasar nikel. Dus, Rizkia memperkirakan harga nikel akan bergerak di sekitar US$ 16.500- US$ 16.750 per ton pada semester kedua 2024.
Secara keseluruhan, ia memproyeksikan harga rata-rata pada semester dua 2024 akan 15%-22% lebih rendah dari tahun lalu.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta menambahkan, Antam diharapkan tidak hanya mengejar volume lebih tinggi ketika harga nikel rendah. Pasalnya, strategi tersebut dinilai kurang
profitable.
Sebaliknya, ANTM bisa memanfaatkan momentum permintaan nikel global ketika ekonomi Tiongkok sudah pulih.
Di sisi lain JP Morgan memproyeksi bisnis bijih nikel ANTM memiliki profitabilitas yang lebih baik daripada bisnis peleburan nikelnya. JP Morgan berharap bisnis bijih nikel ANTM beroperasi penuh pada tahun 2025 pada proyek joint venture dengan CNGR Hong Kong dan Contemporary Emperex Technology Co. (CATL). Adapun bisnis emas ANTM diproyeksi akan tetap stabil.
Sementara Rizkia mempertahankan rekomendasi netral untuk ANTM dengan target harga Rp 1.480 per saham. Rizkia menetapkan target harga ini berdasarkan EV/EBITDA 8,3 kali.
Spin-Off Tak Banyak Mengubah Perbankan Syariah
Kinerja industri perbankan syariah Tanah Air tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan nasional selama semester I tahun ini. Kenaikan ini terlihat dari aset, pembiayaan hingga penghimpunan dana pihak ketiga. Sayangnya, ceruk pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut tak tersebar merata. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih belum memiliki pesaing yang sebanding. Sebagai gambaran, total aset perbankan syariah pada enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp 897 triliun, naik 9,07% secara tahunan. Sementara aset BSI naik 15,1% secara tahunan jadi Rp 360 triliun. Saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mengupayakan bank syariah lain sebesar BSI. Ini dilakukan lewat kewajiban spin off unit usaha syariah (UUS) dan diikuti konsolidasi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menjadi salah satu yang sedang menyiapkan spin off dan akuisisi bank syariah yang sudah ada. Namun, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengisyaratkan bank yang diincar bukan bank syariah yang besar. Rumor yang beredar menyebut, Bank Victoria Syariah adalah bank yang hendak diakusisi BTN.
Menilik laporan keuangan per Juni 2024, Bank Victoria Syariah memiliki aset Rp 3,19 triliun. Aset UUS BTN memiliki senilai Rp 55,54 triliun.
Pengamat Ekonomi Syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama BSI Adiwarman Karim melihat, konsolidasi perbankan syariah bukan untuk menciptakan bank syariah pesaing BSI. Konsolidasi ini lebih untuk menciptakan perbankan yang kuat dan sehat.
PT Bank CIMB Niaga Tbk yang juga sudah wajib melakukan
spin off
UUS belum memiliki rencana akuisisi. Aset UUS CIMB Niaga saat ini senilai Rp 64,83 triliun. "Tahap awal kami akan fokus
spin off
dulu," ujar Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan.
Direktur BCA Syariah Pranata berujar, modal, aset dan jumlah kantor cabang yang dimiliki sangat menentukan kemampuan bank. BCA Syariah saat ini tak sebesar BSI dan memiliki kemampuan yang berbeda dalam ekspansi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









