;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Kembali Satu, Kadin Diminta Jaga Kekompakan dan Kerukunan

17 Jan 2025
Presiden Prabowo Subianto berpesan kepada seluruh anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk menjaga kerukunan dan kekompakan, serta mengingatkan bahwa perbedaan adalah hal biasa. Kadin yang kompak diyakini dapat berkontribusi untuk mendukung kebijakan pemerintah, khususnya dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8%. "Saya ucapkan selamat kepada Kadin yang telah berhasil melaksanakan Musyawarah Konsolidasi Persatuan ini. Ini yang selalu kita harapkan yaitu bahwa setiap unsur penting dalam bangsa kita, mesti menjaga persatuan, menjaga kerukunan, menjaga kekompakan," ujar Prabowo. Presiden tak menyinggung soal dualisme kepengurusan yang sempat terjadi dalam tubuh Kadin Indonesia yaitu antara kepengurusan Kadin Indonesia hasil musyawarah nasional (munas) 2021 dibawah ketua umum Arsjad Rasjid dan kepengurusan Kadin Indonesia di bawah Ketua Umum Anindya Novyan Bakrie versi hasil munas luar biasa (munaslub) 14 September 2024 (Yetede)

PT Petrindo Jaya Kreasi Serap Dana IPO RP 245 Miliar

17 Jan 2025

PT Pentrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) telah  menyerap dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sejumlah Rp245,64 miliar, atau mencerminkan kurang lebih 68% dari jumlah dana hasil bersih IPO sebesar Rp363,93 miliar. Petrindo resmi mencatatkan (listing) saham perdananya pada 8 Maret 2023 dengan berhasil menghimpun dana sejumlah Rp317,8 miliar. Namun, setelah dikurangi  biaya penawaran umum sebesar Rp7,86 miliar, hasil bersih yang diraup Petrindo dari IPO menjadi Rp363,93 miliar. Dari hasil bersih ini, Petrindo kemudian merealisasikan penggunaan dana IPO tersebut sesuai dengan pengumuman dalam prospectus yaitu 39,95% untuk alokasi belanja modal (capital ekspenditure/capex) pembangunan stockpile (ISP) dan 60,05% setoran modal ke PT Tamtamma Perkasa (TP) selaku entitas anak perseroan. Sampai kini, emitan tambang milik konglomerat Prajogo Pangestu itu telah merealisasikan dana hasil IPO sebesar Rp27,1 miliar dari 39,95% atau setara Rp 145 miliar yang direncanakan. Sedangkan setoran modal  kerja untuk PT Tamtama Perkasa yang sebesar Rp 218 miliar, seluruhnya sudah terserap. (Yetede)

Tony Blair Telah Menyampaikan Tiga Agenda Prioritasnya Jika Terpilih Memimpin Inggris

16 Jan 2025
Perdana Menteri Inggris pada 2 Mei 1997, Tony Blair telah menyampaikan tiga agenda prioritasnya jika terpilih memimpin Inggris, yaitu  ”pendidikan, pendidikan, dan pendidikan”. Salah satu warisan Blair di bidang pendidikan selama memimpinInggris (1997-2007) adalah keberhasilannya mengembangkan sekolah-sekolah unggul yang disebut school academy. Sekolah-sekolah ini meski tetap di- biayai negara, tetap diberi otonomi lebih besar dalam pengelolaannya. Seperti dalam penggunaan anggaran, pengangkatan guru, pengayaan kurikulum, kerja sama dengan pihak swasta, universitas, industri, dan bisnis untuk mendapatkan dukungan finansial atau dukungan lain. Sejak Blair memberlakukan undang-undang Learning and Skills Acts 2000, sekolah-sekolah unggul ini telah berkembang amat pesat di bawah pengawasan Office for Standards of Education (Ofsted) sebagai lembaga independen. Semula, ketika sekolah-sekolah akademi ini mulai dikembangkan di daerah-daerah tertinggal, jumlahnya hanya sekitar 3.500 dari total 32.163 sekolah di Inggris.

Namun, pada 2022, angkanya sudah mencapai 88 persen atau hampir semuanya dinilai unggul (Ofsted, 2022). Standar mutu sekolah-sekolah di Inggris terlihat jauh sekali berbeda dengan keadaan sekolah-sekolah di Indonesia. Pada 21 Maret 2011, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR melaporkan, 88,8 persen sekolah di Indonesia, mulai dari SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Berdasarkan data yang ada, 40,31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia berada di bawah standar pelayanan minimal, 48,89 persen pada posisi standar pelayanan minimal, dan hanya 10,15 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan. Sekolah yang dinilai unggul atau bertaraf internasional hanya 0,65 persen (Kompas, 28/12/2012). Diperkirakan, potret suram itu belum banyak berubah hingga saat ini karena keterbatasan anggaran. Data menunjukkan bahwa anggaran 20 persen APBN dan APBD untuk pendidikan sebagaimana yang diamanatkan oleh Konstitusi ternyata hampir seluruhnya habis dibelanjakan bukan untuk pendidikan. Bank Dunia melaporkan, 86 persen dana APBN dan APBD itu habis dikonsumsi untuk gaji guru dan pejabatnya, bahkan di 32 kabupaten/kota jumlahnya mencapai 90 persen, bukan untuk peningkatan mutu pembelajaran. (Yoga)


Kredit Perbankan Menghadapi Tantangan Baru

16 Jan 2025

Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 15 Januari 2025. Langkah ini memberikan dampak positif bagi industri perbankan, karena membantu meningkatkan margin keuntungan bank dan membuka peluang ekspansi kredit yang lebih luas. Gubernur BI, Perry Warjiyo, optimistis bahwa kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11%-13% pada 2025.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan bagi sektor perbankan dengan mereaktivasi kebijakan sektor perumahan dan memperkenalkan berbagai inisiatif untuk mendukung kredit bagi UMKM. Beberapa tokoh dari industri perbankan, seperti Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, menyambut baik penurunan BI Rate ini, meskipun ada harapan agar penurunan tersebut diikuti oleh penurunan bunga Sekuritas Rupiah BI (SRBI) untuk mengurangi ketatnya likuiditas. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin, juga melihat penurunan suku bunga sebagai kesempatan bagi pengusaha, terutama UMKM, untuk memperoleh modal dengan bunga yang lebih ringan dan melanjutkan ekspansi.


Optimisme dan Realisme Ekonomi Indonesia 2025

16 Jan 2025

Survei yang dilakukan oleh Inigo Insurance, bagian dari Lloyd Group, mengenai prospek perekonomian global pada 2025 menunjukkan bahwa perekonomian global diperkirakan hanya sedikit lebih kuat dibandingkan 2024. Sebanyak 51% responden yakin akan adanya peningkatan, sementara 49% tidak yakin. Meskipun negara-negara besar seperti AS, Zona Euro, Jepang, Kanada, dan Korea memiliki outlook negatif, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, dan China diperkirakan akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Indonesia menempati posisi teratas dengan outlook positif yang sangat kuat, dengan 82% responden meyakini perekonomian Indonesia akan semakin kuat pada 2025. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan China yang diperkirakan hanya 4,7%. Meskipun demikian, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2027, pemerintah Prabowo perlu fokus pada industrialisasi dengan mengembangkan sektor manufaktur berteknologi tinggi yang berorientasi ekspor, seperti industri otomotif, elektronik, semikonduktor, dan pesawat terbang. Pemerintah juga harus mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi tinggi.



Perang Dagang Memicu Risiko pada Perdagangan Global

16 Jan 2025

Pada Desember 2024, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan barang sebesar US$2,24 miliar, meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$4,42 miliar. Penopang utama surplus ini berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan India, dengan ekspor komoditas utama seperti bahan bakar mineral, besi dan baja, serta kendaraan. Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa AS dan India menjadi mitra dagang terbesar Indonesia sepanjang 2024.

Namun, Indonesia menghadapi tantangan dari potensi perang dagang antara AS dan China yang dapat memengaruhi kinerja ekspor. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa Indonesia siap menghadapi situasi perdagangan ini. Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai bahwa perubahan kebijakan perdagangan AS di era Presiden Donald Trump bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi, meskipun tantangan tetap ada.

Ekonom dari Center for Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memprediksi bahwa kebijakan Trump yang melibatkan perang dagang dengan China dapat menghambat perekonomian Indonesia, terutama dalam sektor ekspor, karena penurunan permintaan dari pasar China dan AS. Dampak dari kebijakan ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya hanya tumbuh sekitar 5% selama periode pertama pemerintahan Trump.



Pemotongan Bunga untuk Mendorong Ekonomi

16 Jan 2025
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, meskipun rupiah tengah berada di posisi terlemah dalam enam bulan terakhir di angka Rp 16.311 per dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tertekan dan menciptakan peluang pemulihan meskipun ketidakpastian global masih tinggi.

Dinamika Kebijakan BI Pemangkasan suku bunga acuan oleh BI merupakan langkah kedua dalam lima bulan terakhir, dengan pertimbangan inflasi yang rendah (2,5% ±1%) serta peluang pertumbuhan ekonomi 2025 di rentang 4,7%-5,5%. Perry menekankan bahwa penurunan suku bunga saat ini adalah langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang stagnan di level 5%.

Tekanan pada Rupiah Nilai tukar rupiah yang melemah hingga 5% year-on-year menjadi perhatian, terutama karena sentimen global seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve (FFR) pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Dukungan dari Stimulus Fiskal
Ekonom Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyoroti pentingnya sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Dengan pemangkasan suku bunga, ditambah stimulus pemerintah dan momentum Ramadan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 diproyeksikan mencapai 5,2%.

Tantangan dan Prospek Ekonomi
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi pertumbuhan ekonomi akan tetap tertekan akibat faktor eksternal seperti perang dagang yang menekan ekspor dan pelemahan permintaan domestik. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, menilai masih ada ruang bagi kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan, meski tekanan terhadap rupiah akibat ekspektasi kebijakan tarif AS tetap membayangi.

Langkah BI menurunkan suku bunga menunjukkan upaya agresif untuk menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun harus menghadapi tantangan berupa pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global. Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal diharapkan mampu menjaga ekonomi tetap stabil pada tahun 2025.

Ekspor Batubara dan CPO Mengancam Surplus Dagang

16 Jan 2025
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 2,24 miliar pada Desember 2024, lebih rendah dibandingkan November 2024 yang mencapai US$ 4,37 miliar. Sepanjang tahun 2024, surplus neraca dagang mencapai US$ 31,04 miliar, turun dari US$ 36,88 miliar pada 2023.

Komoditas ekspor utama menurun, Ekspor batubara, besi dan baja, serta minyak sawit mentah (CPO) menunjukkan tren penurunan. Contohnya, ekspor batubara Desember 2024 tercatat US$ 2,69 miliar, turun 10,36% secara tahunan, meski naik sedikit secara bulanan (2,81%). Defisit perdagangan dengan beberapa negara, Defisit terbesar terjadi dengan China (US$ 11,41 miliar), Australia (US$ 4,76 miliar), dan Thailand (US$ 3,84 miliar).

Permintaan global melemah, Menurut David Sumual, Kepala Ekonom BCA, perlambatan surplus dipicu oleh pelemahan harga komoditas dan permintaan ekspor dari negara seperti China.

Surplus perdagangan terbesar pada 2024 adalah dengan Amerika Serikat (US$ 16,84 miliar), diikuti India (US$ 15,39 miliar), dan Filipina (US$ 8,85 miliar). David Sumual memprediksi surplus 2025 akan turun menjadi US$ 26,2 miliar, sementara Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia lebih optimis, memperkirakan surplus perdagangan mencapai US$ 43 miliar jika tidak ada tekanan besar, seperti kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump.

Penurunan surplus neraca perdagangan pada 2024 menunjukkan dampak pelemahan harga komoditas dan permintaan ekspor global. Meski surplus masih diproyeksikan berlanjut pada 2025, tantangan dari kebijakan perdagangan internasional dan fluktuasi harga komoditas perlu diantisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Prospek Cerah Dari Emiten Farmasi

16 Jan 2025
Sejumlah emiten farmasi optimis menghadapi tantangan di tahun 2025 dengan menargetkan pertumbuhan kinerja tinggi. PT Brigita Biofarmaka (OBAT) yang baru terdaftar di Bursa Efek Indonesia memproyeksikan pertumbuhan laba sebesar 20%, setelah mencatatkan pendapatan Rp 100 miliar dan laba bersih Rp 30 miliar pada 2024.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menargetkan pertumbuhan kinerja low double digit dengan fokus memperluas distribusi dan menghadirkan produk herbal untuk generasi muda. Sementara itu, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) juga menargetkan pertumbuhan kinerja 20%, didukung rencana ekspansi yang telah direncanakan.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas, menilai prospek sektor farmasi tetap menjanjikan, terutama karena peningkatan konsumsi obat dan vitamin akibat virus Human Metapneumovirus (HMPV) dan peralihan musim. Namun, ia mengingatkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang bisa meningkatkan biaya bahan baku impor.

Meski demikian, SIDO dinilai lebih tangguh menghadapi fluktuasi nilai tukar karena penggunaan bahan baku herbal lokal. Peningkatan harga jual rata-rata produk SIDO juga menjadi faktor pendukung. Azis merekomendasikan trading buy untuk saham TSPC dengan target harga Rp 2.520–Rp 2.580 per saham.

Meski ada tantangan eksternal seperti nilai tukar, emiten farmasi tetap optimis dengan strategi inovasi produk, ekspansi distribusi, dan peningkatan efisiensi untuk mendorong kinerja positif di tahun 2025.

Konsumsi Domestik Jadi Kunci Pemulihan

16 Jan 2025
PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) diuntungkan oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan dapat meningkatkan permintaan ayam domestik. Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, berpendapat bahwa jika ayam menjadi komponen utama dalam program ini, akan terjadi peningkatan konsumsi domestik, mengurangi surplus pasokan, serta volatilitas harga ayam. Dengan kapasitas produksi dan distribusi yang besar, CPIN memiliki potensi untuk memanfaatkan peluang ini, asalkan perusahaan dapat menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah dan memastikan distribusi yang efisien.

Namun, tantangan yang dihadapi CPIN adalah potensi lonjakan harga pakan akibat ketidakpastian pasokan jagung dan bungkil kedelai, karena kebijakan pemerintah yang berfokus pada pengurangan impor. Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas, optimistis bahwa CPIN akan mengalami kinerja positif di kuartal IV-2024, didorong oleh program MBG dan proyeksi pendapatan yang meningkat menjadi Rp 68,14 triliun di 2024. Namun, dia juga mengingatkan adanya potensi dampak dari ketidakpastian anggaran dan masalah kesehatan seperti virus HMPV dan Flu Burung.

Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan perbaikan harga DOC dan ayam hidup pada 2025, tetapi juga mengantisipasi margin pakan yang lebih rendah karena biaya bahan baku yang tinggi. Meski ada risiko lonjakan harga pakan, CPIN tetap memiliki katalis positif, seperti permintaan yang meningkat dan valuasi saham yang masih murah.

Rekomendasi saham untuk CPIN adalah buy dengan target harga yang bervariasi: Rp 5.550 (Ezaridho), Rp 6.050 (Arinda), dan Rp 6.711 (Victor).