Ekonomi
( 40554 )Kembali Satu, Kadin Diminta Jaga Kekompakan dan Kerukunan
PT Petrindo Jaya Kreasi Serap Dana IPO RP 245 Miliar
PT Pentrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) telah menyerap dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sejumlah Rp245,64 miliar, atau mencerminkan kurang lebih 68% dari jumlah dana hasil bersih IPO sebesar Rp363,93 miliar. Petrindo resmi mencatatkan (listing) saham perdananya pada 8 Maret 2023 dengan berhasil menghimpun dana sejumlah Rp317,8 miliar. Namun, setelah dikurangi biaya penawaran umum sebesar Rp7,86 miliar, hasil bersih yang diraup Petrindo dari IPO menjadi Rp363,93 miliar. Dari hasil bersih ini, Petrindo kemudian merealisasikan penggunaan dana IPO tersebut sesuai dengan pengumuman dalam prospectus yaitu 39,95% untuk alokasi belanja modal (capital ekspenditure/capex) pembangunan stockpile (ISP) dan 60,05% setoran modal ke PT Tamtamma Perkasa (TP) selaku entitas anak perseroan. Sampai kini, emitan tambang milik konglomerat Prajogo Pangestu itu telah merealisasikan dana hasil IPO sebesar Rp27,1 miliar dari 39,95% atau setara Rp 145 miliar yang direncanakan. Sedangkan setoran modal kerja untuk PT Tamtama Perkasa yang sebesar Rp 218 miliar, seluruhnya sudah terserap. (Yetede)
Tony Blair Telah Menyampaikan Tiga Agenda Prioritasnya Jika Terpilih Memimpin Inggris
Kredit Perbankan Menghadapi Tantangan Baru
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 15 Januari 2025. Langkah ini memberikan dampak positif bagi industri perbankan, karena membantu meningkatkan margin keuntungan bank dan membuka peluang ekspansi kredit yang lebih luas. Gubernur BI, Perry Warjiyo, optimistis bahwa kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11%-13% pada 2025.
Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan bagi sektor perbankan dengan mereaktivasi kebijakan sektor perumahan dan memperkenalkan berbagai inisiatif untuk mendukung kredit bagi UMKM. Beberapa tokoh dari industri perbankan, seperti Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, menyambut baik penurunan BI Rate ini, meskipun ada harapan agar penurunan tersebut diikuti oleh penurunan bunga Sekuritas Rupiah BI (SRBI) untuk mengurangi ketatnya likuiditas. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin, juga melihat penurunan suku bunga sebagai kesempatan bagi pengusaha, terutama UMKM, untuk memperoleh modal dengan bunga yang lebih ringan dan melanjutkan ekspansi.
Optimisme dan Realisme Ekonomi Indonesia 2025
Survei yang dilakukan oleh Inigo Insurance, bagian dari Lloyd Group, mengenai prospek perekonomian global pada 2025 menunjukkan bahwa perekonomian global diperkirakan hanya sedikit lebih kuat dibandingkan 2024. Sebanyak 51% responden yakin akan adanya peningkatan, sementara 49% tidak yakin. Meskipun negara-negara besar seperti AS, Zona Euro, Jepang, Kanada, dan Korea memiliki outlook negatif, negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, dan China diperkirakan akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Indonesia menempati posisi teratas dengan outlook positif yang sangat kuat, dengan 82% responden meyakini perekonomian Indonesia akan semakin kuat pada 2025. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan China yang diperkirakan hanya 4,7%. Meskipun demikian, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2027, pemerintah Prabowo perlu fokus pada industrialisasi dengan mengembangkan sektor manufaktur berteknologi tinggi yang berorientasi ekspor, seperti industri otomotif, elektronik, semikonduktor, dan pesawat terbang. Pemerintah juga harus mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi tinggi.
Perang Dagang Memicu Risiko pada Perdagangan Global
Pada Desember 2024, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan barang sebesar US$2,24 miliar, meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$4,42 miliar. Penopang utama surplus ini berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan India, dengan ekspor komoditas utama seperti bahan bakar mineral, besi dan baja, serta kendaraan. Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa AS dan India menjadi mitra dagang terbesar Indonesia sepanjang 2024.
Namun, Indonesia menghadapi tantangan dari potensi perang dagang antara AS dan China yang dapat memengaruhi kinerja ekspor. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa Indonesia siap menghadapi situasi perdagangan ini. Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai bahwa perubahan kebijakan perdagangan AS di era Presiden Donald Trump bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi, meskipun tantangan tetap ada.
Ekonom dari Center for Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memprediksi bahwa kebijakan Trump yang melibatkan perang dagang dengan China dapat menghambat perekonomian Indonesia, terutama dalam sektor ekspor, karena penurunan permintaan dari pasar China dan AS. Dampak dari kebijakan ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya hanya tumbuh sekitar 5% selama periode pertama pemerintahan Trump.
Pemotongan Bunga untuk Mendorong Ekonomi
Ekspor Batubara dan CPO Mengancam Surplus Dagang
Prospek Cerah Dari Emiten Farmasi
Konsumsi Domestik Jadi Kunci Pemulihan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









