Ekonomi
( 40554 )Beban Nelayan Semakin Berat
Pandemi Covid-19 telah menambah beban usaha nelayan kecil. Nelayan menghadapi ketidakpastian mengakses perbekalan melaut, sementara penjualan hasil tangkapan tidak menentu. Skema bantuan dari pemerintah untuk pemulihan ekonomi dinilai belum tepat sasaran. Akses perbekalan, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan permodalan melaut, juga sulit didapat.
Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik, Rabu (17/3/2021), mengemukakan, Kebutuhan BBM bersubsidi yang memiliki peran signifikan untuk kegiatan produksi, yakni 60-70 persen dari ongkos melaut, masih sulit didapat dan penyalurannya belum sepenuhnya tepat sasaran.
Berdasarkan data BLU-LPMUKP, kredit usaha yang disalurkan sepanjang 2020 sebesar Rp 705,28 miliar. Realisasinya sebesar 97,28 persen dari target Rp 725 miliar. Survei KNTI pada 15 Mei-9 Juni 2020 ini juga terkait penyaluran dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi nelayan yang terdampak pandemi Covid-19 di lima wilayah, yakni Kota Semarang, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lombok Timur, Kota Medan, dan Aceh. Survei tersebut menunjukkan, bantuan hanya menjangkau sebagian kecil nelayan. Penyaluran bantuan tidak merata, terutama karena problem pendataan.
Bisnis Plastik Kian Marak
Maraknya bisnis plastik dunia itu membawa dampak signifikan penambahan limbah serta pencemaran lingkungan, termasuk di Indonesia sebagai salah satu importir sampah plastik terbesar dunia. Indonesia termasuk dalam 10 besar negara pengimpor plastik terbanyak, yaitu impor barang manufaktur plastik setengah jadi (peringkat ke-4), tekstil sintetis (peringkat ke-6), limbah plastik (peringkat ke-10), dan plastik aditif (peringkat ke-10).
Badan Pusat Statistik mencatat, volume impor sampah plastik Indonesia mencapai titik tertinggi pada 2018, yakni 320.452 ton atau senilai 102,4 juta dollar AS. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat angka impor limbah plastik tahun 2017, yaitu 128.951 ton. Sementara total impor limbah plastik Indonesia pada Januari-Desember 2020 senilai 63 juta dollar AS dengan volume impor sebesar 181.718 ton.Sementara Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi menuturkan, pemerintah sudah mulai menerapkan kebijakan pembatasan impor limbah plastik. Salah satunya, membuat daftar eksportir tertentu yang memungkinkan re-ekspor barang yang tidak diinginkan atau dibutuhkan.
Pebisnis Transportasi dan Wisata Intip Peluang Mudik
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan tidak melarang masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik Lebaran pada tahun ini. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyatakan pihaknya menyambut baik rencana pemerintah yang tidak melarang perjalanan mudik Lebaran. Menurut data Organisasi Angkutan Darat (Organda), pengusaha bus mengalami kerugian mendalam setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik pada tahun lalu. Kerugian yang ditanggung pengusaha angkutan penumpang di bawah Organda mencapai Rp 10,5 triliun-Rp 11 triliun.
Direktur Pemasaran PT Eastparc Hotel Tbk (EAST) Wahyudi Eko Sutoro meyakini efek relaksasi perjalanan mudik Lebaran akan berdampak positif terhadap bisnis perhotelan. Untuk itu, EAST menargetkan tingkat hunian kamar tahun ini tumbuh menjadi 65% hingga 75% dengan target pendapatan mencapai Rp 36 miliar sampai Rp 40 miliar.
Aneka Ancaman Risiko Mengadang Ekonomi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memang optimistis, tahun 2021 menjadi tahun pemulihan ekonomi Indonesia. Namun demikian, dia tak menampik sejumlah ancaman risiko yang berpotensi menghanbat laju pemulihan ekonomi. Sri Mulyani mencatat, setidaknya ada empat potensi risiko yang harus diwaspadai. Empat faktor itu meliputi, potensi terjadinya gelembung aset (asset bubble), fluktuasi harga komoditas, krisis utang, hingga risiko geopolitik.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebutkan, risiko peningkatan utang terjadi di negara maju dan berkembang. Namun dia menilai, rasio utang pemerintah Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2020 masih aman, yakni di level 38,5%. Di tengah ketidakpastian ini, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Harian (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ajib Hamdani berharap pemerintah bisa mendesain regulasi dari hulu sampai hilir. Desain regulasi yang komprehensif tersebut bertujuan agar bisa mengoptimalkan nilai tambah, sehingga ekonomi Indonesia akan bangkit lebih cepat.
Cengkraman Investor Asing Semakin Kuat
Perpindahan kepemilikan bank nasional ke tangan investor asing kian bertambah. Teranyar, Sovereign Wealth Fund asal Singapura, GIC Private Limited, masuk menjadi pemegang saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melalui skema rights issue. Sebelumnya, ada enam bank nasional yang dikuasai asing, yaitu Bank Bank Danamon, BTPN, Bank Permata, Bank Bukopin, Bank IBK Indonesia, dan Bank Oke. Meski begitu, perbankan Indonesia hingga saat ini masih didominasi investor lokal.
Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank BUMN masih merajai aset perbankan. Total aset per Desember 2020 Rp 3.818,58 triliun atau 41,6% dari total aset perbankan. Aset bank pembangunan daerah (BPD) Rp 763,87 triliun. Aset bank swasta nasional mencapai Rp 4.159,8 triliun dan kantor cabang bank asing Rp 435,62 triliun. Peluang bertambahnya kepemilikan asing jmasih terbuka lebar. Sebab, ada lebih dari 25 bank kecil masih harus berjuang memenuhi ketentuan modal inti minimum Rp 3 triliun.
Perbankan Syariah Siap Biayai Industri Halal Rp 714 Triliun
JAKARTA -- Perbankan syariah berpeluang menggelontorkan pembiayaan untuk industri halal sebesar Rp 420-714 triliun atau 10-17% dari total potensi Rp 4.200 triliun. Industri halal yang dibiayai tersebut dari berbagai segmen, antara lain makanan dan minuman, modest fashion, pariwisata, farmasi dan kosmetik, media dan rekreasi, serta bisnis syariah. Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi mengatakan, potensi industri halal pada tahun 2020 sekitar Rp 4.200 triliun, di mana perbankan syariah dan keuangan syariah memiliki peluang cukup besar. Secara demografi, penduduk muslim Indonesia mencapai 209,1 juta penduduk, berada di peringkat pertama dan disusul oleh Pakistan sebanyak 176,2 juta penduduk muslim, lalu India 167,4 juta penduduk muslim.
Industri halal merupakan bagian dari ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang merupakan suplai dari kebutuhan pasar domestik maupun global. “Dari sisi komunitas kita mengenal ormas, pesantren, masjid, dan ini potensinya besar untuk digarap optimal. Segmentasinya dari korporasi, UMKM, dan mustahik juga besar memberikan peluang untuk menggarap industri ini, di sisi lain komersial dan social finance juga mendukung,” lanjut Hery. Dalam hal pembiayaan industri halal, BSI sendiri telah menyasar segmen modest fashion dengan menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Lalu, tahun ini untuk segmen mikro, perseroan juga akan fokus ke beberapa sektor seperti pariwisata, kerajinan, serta makanan dan minuman yang menjadi kontribusi utama industri halal.
Sementara itu, Hery mengungkapkan, industri keuangan syariah di Indonesia cukup tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk Malaysia sebagai negara tetangga. Hery menjelaskan, lambatnya memulai masuk keuangan syariah membuat penetrasi keuangan syariah di Indonesia juga sangat rendah. Pada akhir tahun 2020 perbankan syariah hanya memiliki pangsa pasar 6,51%, tertinggal jauh di bawah Malaysia yang sudah 29%, Kuwait 49%, dan Arab Saudi 63%. Dari sisi pasar modal, Hery juga mengaku potensinya sangat besar untuk syariah, namun belum tergarap optimal jika dibandingkan dengan konvensional yang memiliki underlying lebih banyak dari pada syariah. Melihat ceruk pasar yang besar tersebut, BSI berminat untuk menjadi issuer sukuk ritel ke depannya. Menanggapi hal tersebut, pada kesempatan yang sama, Ketua ISEI Inarno Djajadi yang juga selaku Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa pihaknya bersama dengan OJK sedang menginisiasi denominasi obligasi agar bisa dibeli oleh investor ritel.
Pada saat yang sama, Menteri
Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Erick Thohir
mengatakan bahwa Indonesia terlambat menerapkan sistem keuangan
syariah.
Industri jasa keuangan syariah di
Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan, bahkan di tengah pandemi
Covid-19. Seperti pertumbuhan aset
sebesar 10,9%, lebih tinggi dari konvensional yang hanya naik 7,7%. Lalu,
dana pihak ketiga (DPK) perbankan
syariah tumbuh 11,56%, unggul tipis
dari DPK bank konvensional yang
naik 11,49%.
Dari sisi pembiayaan, bank syariah
mencatat pertumbuhan 9,42%, jauh
mengungguli bank konvensional
yang hanya tumbuh 0,55%. Selain
itu, market share pasar modal syariah
sebesar 17,39%, dan jumlah koperasi
simpan pinjam dan pembiayaan syariah sebanyak 4.115 unit
(Oleh - HR1)
Pemerintah Teken Kontrak Jargas Rp 604,92 Milyar
JAKARTA – Pemerintah telah menandatangani
kontrak pembangunan jaringan gas (jargas)
untuk 76.315 sambungan rumah tangga senilai
Rp 604,92 miliar. Pada tahun ini, pemerintah
akan membangun jargas sebanyak 120.776
sambungan yang tersebar di 21 kabupaten/kota.
Kontrak pembangunan untuk
15.440 sambungan senilai Rp 137,13
miliar diteken pada Selasa (15/3).
Kontrak ini mencakup pembangunan jargas di Kabupaten Karawang
dan Kabupaten Subang sebanyak
8.541 sambungan, serta di Kabupaten Banyuasin 6.899 sambungan.
Sebelum itu, pemerintah juga
telah menandatangani kontrak
jargas untuk 60.875 sambungan
senilai Rp 467,79 miliar pada pekan
lalu. Kontrak ini untuk pembangunan jargas di Kabupaten Aceh
Utara, Kota Lhokseumawe, dan
Kabupaten Aceh Timur sebanyak
11.526 sambungan, Kota Cirebon
dan Kabupaten Cirebon 8.273 sambungan, Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo 17.506 sambungan,
Kabupaten Pasuruan dan Kota
Pasuruan 12.753 sambungan, serta
Kabupaten Probolinggo dan Kota
Probolinggo 10.817 sambungan.
Kementerian ESDM telah memulai pembangunan jargas sejak 2009. Hingga kini, sebanyak
535.555 sambungan jargas telah
beroperasi. Kementerian ESDM
menargetkan pembangunan jargas
bisa mencapai 4 juta sambungan
pada 2024. Jargas yang dibangun
pada tahun ini seharusnya dilaksanakan pada tahun 2020, namun
anggarannya direalokasi untuk
penanganan Covid-19.
(Oleh - HR1)
Bappenas: 2021, Ekonomi RI Dapat Tumbuh 4,8%
JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksikan
pertumbuhan ekonomi pada 2021 di kisaran 4,2%
hingga 4,8%.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan pertumbuhan ekonomi 4,2%
akan terealisasi jika kasus pandemi Covid-19 terus
menurun hingga September 2021, sedangkan 4,8%
tercapai jika penurunan terjadi pada Juli 2021.
Ia menyebutkan untuk mencapai herd immunity
terhadap 181,5 juta jiwa tersebut dibutuhkan sekitar
426,8 juta dosis vaksin dengan target selesai program vaksinasi dalam 15 bulan. Suharso merinci
untuk mencapai pertumbuhan 4,8%, vaksinasi harus
mampu mencapai lebih dari satu juta orang per hari
dan target sasaran vaksin mencapai 70 juta atau 39%
dari asumsi 181,5 juta orang selesai pada Juli 2021.
Di sisi lain, ia menuturkan jika vaksinasi hanya
mampu mencapai angka di bawah satu juta per
hari dan target sasaran vaksin 70 juta orang baru
terealisasi pada September 2021, maka ekonomi
hanya tumbuh 4,2%.
IKN Baru
Suharso mengatakan pembangunan IKN baru di
Kalimantan Timur merupakan proyek besar untuk
menarik pertumbuhan ekonomi nasional bahkan
mampu lebih tinggi hingga rata-rata pada 2045. Oleh sebab itu, ia menyebutkan pembangunan
dan pemindahan ibu kota negara akan mampu
berdampak positif pada berbagai faktor dan sektorsektor pendorong ekonomi dengan kontribusi
antara 1,8% sampai 2,2% terhadap perekonomian.
“Ya itu antara 1,8% sampai 2,2% kontribusinya. Game
changer,” ujarnya
Harus Tumbuh 70%
Di sisi lain, ia menegaskan perekonomian Indonesia harus tumbuh antara 6-7% agar mampu keluar
dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
"Pertumbuhan ekonomi dari 2022 paling tidak
rata-rata 7%, sehingga kita bisa melepaskan diri atau
lulus dari middle income trap," katanya
(Oleh - HR1)
Pendanaan Start-up di Daerah Masih Minim
JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura dan Start-up
Indonesia (Amvesindo)
menyoroti masih minimnya perhatian para investor
terhadap usaha rintisan
berbasis teknologi (startup) yang berkembang di
daerah. Pendanaannya pun
masih minim dibandingkan
dengan kebutuhan dan potensi yang ada.
Selama ini, para investor
lebih fokus memberikan
pendanaan terhadap start-up di wilayah perkotaan
dan kota besar, terutama
di wilayah Jabodetabek.
Padahal, start-up di daerah sebenarnya tak kalah
bersaing dan kualitasnya
dibandingkan dengan yang
ada di wilayah perkotaan.
Wakil Ketua I Amvesindi
William Gozali mengatakan,
ekosistem start-up di daerah
sebenarnya sudah mulai
terbentuk dengan adanya
dukungan dari perusahaan modal ventura daerah
(PMVD).
“Minimnya network ke
investor memang masih jadi
masalah utama yang dihadapi start-up daerah. Kami
berharap, semakin banyak
start-up daerah yang berani
pitching (presentasi) seperti
start-up di kota-kota besar,”
ungkap Willliam, dalam
pernyataannya, Rabu (17/3).
Berdasarkan catatan dari
Start-up Ranking, pertumbuhan start-up di Indonesia
terus menunjukkan tren
yang positif. Bahkan, jumlah start-up di Tanah Air
telah mencapai 2.219 tahun
2021 ini. Meski demikian,
mayoritas start-up masih
lebih banyak berdomisili
di pulau Jawa, khususnya
wilayah Jabodetabek.
Walaupun tak bisa dipungkiri, saat ini, semakin
banyak inovator lokal dengan ide dan inovasi menarik yang muncul beberapa
tahun terakhir di daerah.
Beberapa di antaranya start-up teknologi akuakultur
E-Fishery di Jawa Barat,
layanan kesehatan mental
on-demand Riliv di Surabaya, dan aplikasi pengelolaan
sampah Gringgo di Bali
(Oleh - HR1)
Tokocrypto Catakan Transaksi US$ 25 Juta Per Hari
JAKARTA – Perkembangan aset
kripto di Indonesia cukup masif
setidaknya sejak tahun 2017 hingga
sekarang. Hal itu tampak dari volume
transaksi perdagangan harian yang
dicatatkan oleh Tokocrypto senilai
US$ 25 juta pada kuartal I-2021.
“Transaksinya sudah sampai US$
25 juta, tapi somedays kita itu bisa
sampai US$ 65 juta dan itu buat
kami luar biasa sekali,” kata COO
Tokocrypto Teguh Kurniawan Harmanda atau yang akrab disapa Manda
ketika media visit secara virtual
dengan BeritaSatu Media Holdings,
Rabu (17/3).
Di sisi lain, ada faktor lain yang
mendukung Indonesia untuk memiliki kesempatan untuk tumbuh pesat
dibanding negara lainnya. Yakni,
masih tingginya persentase orang
dewasa di Indonesia yang belum
tersentuh fasilitas keuangan dan
konsekuensi pandemi Covid-19.
Adapun jumlah pemodal kripto di
Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 11% dari total jumlah penduduk
atau sebanyak 2,7 juta. Dari jumlah
tersebut, 200 ribu di antaranya berada
di Tokocrypto. “Aset kripto agresif
mulai tahun 2017 sampai sekarang.
Angkanya eksponensial dan sempat
sentuh 4 juta orang. Bahkan, pada
2019, sebenarnya angka kita overlapping dari investor yang ada di capital
market. Tapi, karena tahun 2020 pasar
modal booming, jadi dia menyalip
lagi,” tutur Manda.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









