Ekonomi
( 40554 )BSI Raup Pertumbuhan Transaksi Digital Hingga 97,4 Persen per Juli
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pertumbuhan transaksi layanan digital melalui mobile banking BSI Mobile mencapai 97,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau menembus 46,4 juta transaksi per Juli 2021. “Peningkatan transaksi BSI Mobile ini didorong oleh hadirnya kebiasaan baru masyarakat saat pandemi dan aktivitas transaksi keuangan nasabah dalam berbelanja di e-commerce,” kata Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin. Hery menyebut kontribusi transaksi BSI Mobile mengalami peningkatan setiap tahunnya. Per Juli 2021, kontribusi transaksinya mencapai 46 persen dari jumlah transaksi e-channel BSI.Hingga akhir 2021, Bank syariah yang merupakan penggabungan dari tiga anak usaha syariah perbankan BUMN ini, menargetkan 3 juta pengguna baru BSI Mobile. Jumlah pengguna BSI Mobile, kata Hery, sampai dengan tanggal 17 Agustus 2021 sebanyak lebih dari 2,7 juta pengguna atau meningkat 79,4 persen sejak awal 2021 secara tahunan dengan pertumbuhan pengguna aktif mencapai lebih dari 1,1 juta nasabah atau meningkat sebanyak 92,5 persen secara tahunan.
Aset Kripto Hijau, Bitcoin Tembus Rp722 Juta per Keping
Mayoritas harga aset kripto menguat pada perdagangan Senin (23/8). Sebanyak tujuh dari sepuluh uang kripto utama terpantau perkasa awal pekan, termasuk bitcoin (BTC) yang naik 2,5 persen menembus US$50.129 per koin atau sekitar Rp722,65 juta (asumsi kurs Rp14.416 per dolar AS).
Mengutip coinmarketcap.com, penguatan tertinggi sendiri diraih oleh cardano (ADA) sebesar 11,94 persen dalam 24 jam terakhir menuju ke US$2,83 persen koin. Dalam sepekan, uang kripto ini meroket 30,90 persen.
Selanjutnya, harga ethereum (ETH) berada di level US$3.299 per koin. Harganya naik 2,02 persen dalam 24 jam, namun koreksi 0,49 persen dalam sepekan. Sementara itu, binance coin (BNC) menguat 1,12 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$455,61 per koin. Dalam sepekan, binance coin bertambah 9,43 persen.
Sedangkan, ripple (XRP) diperdagangkan pada level US$1,25 per koin. Harganya naik 1,43 persen dalam 24 jam, namun minus 4,12 persen dalam sepekan. Serupa, polkadot (DOT) juga menguat 1,53 persen menjadi US$28,32 per koin. Dalam sepekan, polkadot menguat tajam 20,87 persen.
IHSG Diramal Loyo Gegara Isu Tapering Off The Fed
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah pada perdagangan Senin (23/8).
Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan menilai isu tapering off alias pengetatan moneter oleh The Fed masih akan membayangi pasar modal hari ini. Sementara, secara teknikal, ia menyebut penguatan bakal tertahan oleh resistance moving average 50.
IHSG diprediksi melemah. Pergerakan masih akan dipengaruhi oleh kekhawatiran akan tapering serta perkembangan terkait kasus covid-19 terutama kasus harian di Amerika Serikat yang kembali naik signifikan. Dia memproyeksikan indeks saham bergerak di rentang support 5.907-5.968 dan resistance 6.060-6.091.
Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan indeks hari ini masih akan terkonsolidasi dengan potensi tertekan. Adapun sentimen yang akan mewarnai perdagangan adalah nilai tukar rupiah dan harga komoditas.
Belajar dari Kenangan Buruk Taper Tantrum 2013 Hadapi Tapering Off Fed
Sinyal penarikan stimulus atau tapering off oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve yang mungkin dimulai tahun ini menimbulkan riak di pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun di bawah level 6.000 pada pekan lalu, rupiah juga melemah mendekati Rp 14.500 per dolar AS. Pasar seakan kembali diingatkan pada kenangan buruk dari kebijakan serupa pada 2013 yang dikenal dengan periode taper tantrum. Taper tantrum sebenarnya adalah istilah yang digunakan media ekonomi untuk menggambarkan lonjakan imbal hasil surat berharga AS pada 2013 karena pengumuman The Federal Reserve. Ben Bernanke yang memimpin The Fed pada Juni 2013, mengumumkan rencananya untuk mulai menarik stimulus dengan mengurangi pembelian obligasi dari US$ 85 miliar menjadi US$ 75 miliar, berlaku mulai 2014.
Efeknya, rupiah yang sempat berada di bawah Rp 10 ribu per dolar AS anjlok hingga ke level 12.000 per dolar AS pada 2013. Nasib pasar saham pun tak jauh lebih baik. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sebelumnya berada di level 5.200 jatuh ke level 4.200 di akhir 2013 dan bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di bawah 4.000 pada Agustus. Pemerintah mencatat, arus modal yang keluar dari Indonesia saat periode taper tantrum mencapai Rp 36 triliun. Efek kebijakan The Fed tak hanya bertahan pada 2013. Penarikan stimulus yang berlangsung hingga Oktober 2014 dan berlanjut dengan kenaikan bunga The Fed pada 2015 berdampak pada tren panjang pelemahan rupiah. Rupiah terus melemah hingga menyentuh 14.690 per dolar AS pada September 2015, seperti dapat dilihat dalam databoks di bawah ini.
Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller pada awal bulan ini mengatakan, The Fed kemungkinan mulai mengurangi pembelian obligasi pada Oktober 2021, tetapi tergantung pada data pengangguran. Adapun data klaim pengangguran yang dirilis Kamis (19/8) semakin memperkuat sinyal ini lantaran berhasil mencetak rekor klaim terendah tahun ini. Ekonomi dianggap telah mencapai tujuannya jika melihat data inflasi dan kemajuan pertumbuhan pekerjaan yang hampir memuaskan.
Tujuh BUMN Akan Disuntik PMN Rp 38 Triliun Tahun Depan, Ini Rinciannya
Pemerintah berencana kembali menginjeksikan dana ke sejumlah BUMN melalui skema penyertaan modal negara (PMN) tahun depan. Besaran PMN yang tertuang dalam RAPBN 2022 mencapai Rp 38,5 triliun, yang akan ditebar kepada tujuh BUMN.
Tujuh korporasi yang akan menerima PMN, yakni: 1. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Suntikan dana ke PLN akan dipakai untuk melanjutkan pembangunan proyek transmisi, gardu induk dan distribusi listrik desa. 2. PT Hutama Karya (HK). Suntikan dana akan dipakai untuk menyelesaikan konstruksi ruas-ruas jalan tol trans sumatera (JTTS) terutama di delapan ruas utama. Kedelapan ruas tersebut, yakni Binjai-Langsa, ruas Indralaya-Muara Enim, ruas Kisaran-Indrapura, ruas Kuala Tanjung-Parapat, ruas Penanjung-Bengkulu, ruas Sigli-Banda Aceh, ruas Pangkalan-Pekanbaru, dan ruas Pekanbaru-Dumai. 3. PT Adhi Karya Tbk. PMN diberikan untuk menyelesaikan sejumlah proyek infrastruktur strategis, 4. PT Waskita Karya Tbk. Tambahan dana akan digunakan untuk penguatan struktur permodalan perusahaan di tujuh proyek tol yang tengah dibangun. 5. PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), yang akan dipakai untuk mendukung program kredit pemilikan rumah (KPR) melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). 6.
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). Perusahaan diberi dana oleh pemeintah tahun depan untuk meningkatkan kapasitas usaha dalam rangka memberikan penjaminan pada proyek-proyek infratsruktur pemeirntah tahun depan. 7. Perum Perumnas. Tambahan dana akan diberikan untuk penyelesaian unit hunian landed di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi.
Bappenas: Kebutuhan Dana untuk Ekonomi Hijau dan Rendah Karbon Rp306 T
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas memperkirakan kebutuhan pendanaan untuk transisi menuju ekonomi hijau dan rendah karbon mencapai Rp 306 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah idealnya harus mengalokasikan 24% atau sebesar Rp 72,2 triliun. Namun, alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk transisi menuju ekonomi hijau hanya sekitar Rp 23,45 triliun hingga Rp 34,52 triliun. Artinya masih terdapat kekurangan pendanaan dari pemerintah sebesar 13%.
"Kebutuhan pendanaan yang cukup besar, masih ada gap yang besar antara kebutuhan dan pendanaan ini," ujar Menteri Bappenas Suharso Monoarfa dalam diskusi secara virtual Katadata SAFE 2021, Senin (23/8).
Suharso berharap keterlibatan dan partisipasi pihak lain, khususnya dari pihak swasta. Mengingat 76% kebutuhan pendanaan ekonomi hijau dan rendah karbon berasal dari nonpemerintah sebesar Rp 232,56 triliun.
Dari sisi bisnis, perlu ahli teknologi untuk mewujudkan industri yang berkelanjutan. Misalnya, tenaga kerja perlu mendapat pelatihan membangun green building yang efisien secara energi. Untuk itu, ia pun mendorong adanya riset dan pengembangan dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau.
Rupiah Menguat ke 14.416/US$ Meski Masih Dibayangi Tapering Off Fed
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.435 per dolar AS pada perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah dipengaruhi membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko meski wacana tapering off masih terus membayang-bayangi.
Mengutip Bloomberg, rupiah terus menguat ke level Rp 14.416 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga kompak menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,22%, diikuti bath Thailand 0,22%, yuan Tiongkok 0,16%, peso Filipina 0,31%, won Korea Selatan 0,56%, dolar Hong Kong 0,03%, dolar Singapura 0,15% dan dolar Taiwan 0,18%. Sementara yen Jepang dan rupee India melemah masing-masing 0,05% dan 0,20%. Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak menguat di kisara Rp 14.380 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.460. Hal ini didorong membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko.
Wacana tapering off alias pengetatan stimulus oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) membayangi pergerakan rupiah yang melemah sepanjang pekan lalu. Pada penutupan hari Jumat (20/8), rupiah melemah 0,45% dari posisi pekan sebelumnya. Notulen rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) yang dirilis Rabu dini hari mendorong wacana Tapering off semakin kencang diperbincangkan.
Juli, Investree Bukukan Fasilitas Pinjaman Rp 11 T
PT Investree Radhika Jaya (Investree) membukukan fasilitas pinjaman hingga Juli 2021 mencapai Rp 11 triliun, tumbuh 32% tahun berjalan (year to date/ytd) dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp 8,3 triliun. Di samping itu, perseroan juga telah menyalurkan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 50,2 miliar. Data Investree memaparkan, dari fasilitas pinjaman mencapai Rp 11 triliun itu, nilai pinjaman tersalurkan sebesar Rp 7,6 triliun dengan rata-rata tingkat pengembalian (return) 16,6% p.a. Adapun rata-rata tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) terjaga di level moderat 98,47%. Sementara itu, Investree turut melangsungkan berbagai upaya dalam hal mendukung percepatan pemulihan negeri. Diantaranya dengan menyalurkan dana PEN sebesar Rp 50,2 miliar kepada UKM melalui platform Investree. Dana itu disalurkan secara cepat dan tepat sasaran kepada UKM atau borrower yang sangat membutuhkan dukungan pendanaan untuk membangkitkan bisnisnya dan mendukung pemulihan tanah air.
IHSG Masih Dihantui Aksi The Fed
Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah dalam sepekan terakhir, dipicu oleh faktor eksternal. Direktur Ekuator Swarna Investama, mengatakan penurunan IHSG disebabkan oleh aksi jual investor setelah risalah pertemuan terakhir bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) membahas penghapusan stimulus moneter. Meski begitu, pejabat The Fed menegaskan bahwa pengurangan stimulus atau tapering off tidak selalu berarti kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. IHSG berada pada level 6.030,77. Dengan demikian, selama sepekan IHSG melemah 1,77 persen dari 6.139,49 penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Bahkan IHSG berada di bawah 6.000.
Investor khawatir The Fed menghapus stimulus tahun ini. Tapering off, bisa dilakukan pada akhir 2021 karena inflasi dikatakan sudah mencapai target dan pemulihan pasar tenaga kerja juga hampir sesuai ekspektasi. Hal yang menjadi perhatian investor adalah respons Bank Indonesia terhadap kemungkinan tapering off tahun ini. BI harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan menjaga suku bunga tetap kompetitif sehingga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia dan dapat menjaga agar kurs rupiah tetap stabil. Untuk sentimen eksternal IHSG mencatat beberapa data indikator ekonomi Amerika Serikat yang mendapat perhatian, yaitu data penjualan rumah, penjualan barang, data pengangguran, dan inflasi.
Seribu Akal Bisnis Tes Usap
Bisnis pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) menjadi primadona di kala pandemi. Sebelum pemerintah menetapkan batas tarif tertinggi, pembentukan harga tes PCR dilakukan melalui mekanisme pasar atau ditentukan oleh pengusaha penyedia layanan tanpa aturan yang jelas.
Relawan LaporCovid-19, Amanda Tan, mengatakan komunitasnya menemukan klinik swasta yang menetapkan harga berlapis bergantung pada kecepatan hasil pemeriksaan, yaitu Rp 495 ribu untuk hasil tes PCR 24 jam, Rp 750 ribu untuk 16 jam, dan Rp 900 ribu untuk 10 jam.
Amanda berujar, LaporCovid-19 juga menemukan upaya penyedia layanan tes usap memangkas komponen biaya esensial demi memaksimalkan keuntungan dan menutup selisih harga yang harus ditanggung untuk pelayanan tes usap.
Peneliti dari Indonesia Corruption Watch, Wana Alamsyah, mengungkapkan, berdasarkan hitungan kasar lembaganya, bisnis tes usap telah menghasilkan perputaran uang yang fantastis. Dia menjelaskan, penghitungan biaya tes PCR dari periode Oktober 2020 hingga Agustus 2021 mencapai Rp 23,2 triliun. Jika dihitung hingga perubahan tarif, penyedia layanan tes PCR ditaksir telah mendapatkan keuntungan hingga Rp 10,46 triliun.
Penghitungan itu didasarkan pada dimulainya pemberlakuan tarif tes PCR tertinggi sebesar Rp 900 ribu pada Oktober 2020, hingga kemudian diberlakukannya tarif baru Rp 495-525 ribu pada Agustus 2021.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









