Green Economy dan Hijrah Ekologis
Jakarta - Ada dua krisis global yang saat ini sedang menantang para pemimpin dunia. Yang pertama adalah krisis ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19, dan yang kedua, dan sesungguhnya lebih besar, adalah krisis ekologi yang bermuara pada pemanasan global. Kedua krisis sedang terjadi, memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi dengan signifikansi dan urgensi yang kurang lebih sebanding. Oleh karena itu, banyak pemimpin dunia yang mencoba melakukan solusi efisien, menembakkan satu peluru untuk kedua sasaran, yakni memulihkan ekonomi sekaligus bertransformasi menuju ekonomi hijau (green economy).
Dunia sudah mencoba melakukan aksi bersama untuk mengatasi krisis iklim melalui Perjanjian Paris. Intinya, semua negara sepakat bahwa sepanjang abad 21 kenaikan suhu bumi tidak boleh melebihi 1,5C. Dalam perspektif lingkungan, pandemi Covid-19 sesungguhnya memiliki dampak positif. Banyak kota metropolitan melaporkan kualitas udara membaik seiring dengan kebijakan pembatasan pergerakan manusia. Karena itu muncul kecemasan baru, apa yang akan terjadi setelah pandemi berakhir. Dunia usaha pasti akan kembali beroperasi dengan skala penuh, bahkan lebih besar lagi untuk mengompensasi aneka kerugian selama krisis.
Kegiatan ekonomi ini berakibat pada semakin rendahnya kemampuan hutan menyerap karbon, sementara pertanian (dengan pupuk kimia dan pestisidanya) dan peternakan industri menambahi atmosfer dengan gas metana. Belum lagi eksploitasi atas sumberdaya mineral yang tak terbarukan, termasuk dan terutama untuk kebutuhan energi, dan ini menjadi penyumbang terbesar (65%) terhadap pemanasan global.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023