;
Kategori

Ekonomi

( 40465 )

Bisnis Pangkalan Data, Indonesia Berpeluang Jadi Hub

08 Nov 2021

Indonesia berpeluang menjadi pusat aktivitas digital di Asia Tenggara karena letak geografisnya yang sangat strategis. Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (Idpro) Teddy Sukardi mengatakan peluang Indonesia memasarkan pangkalan dan layanan data ke negara lain terbuka luas. Menurutnya, Indonesia memiliki letak geografis yang dekat dengan negara pengguna teknologi tinggi seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Australia. “Hub Asia Tenggara bisa di Indonesia karena posisinya yang strategis. Kita bisa tarik serat optik ke Pasifik. Lebih dekat kita sebenarnya dengan Amerika daripada Singapura,” katanya, Sabtu (6/11). Tidak hanya itu, katanya, Indonesia juga bisa berperan sebagai lokasi alternatif. Untuk menjaga keandalan pangkalan data, imbuhnya, sebaiknya penyedia data center membangun pangkalan di beberapa negara, tidak hanya berfokus pada satu negara. Digital Economy Report 2019 UNCTAD memperkirakan pada 2022 lalu lintas data di dunia mencapai 150.700 Gbps, naik sekitar 227% dibandingkan dengan 2017. Lalu lintas data itu membutuhkan pangkalan untuk mendukung layanan data. Centre for Energy Research & Technology mencatat kapasitas pangkalan data


Amerika Mengincar Pajak Investor Kripto

08 Nov 2021

Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah mengincar pamasukan pajak dari investor kripto. Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) kemudian mengusulkan kenaikan pajak bagi investor kripto yang nantinya tertuang dalam undang - undang (UU). Tak main - main, Komite Gabungan Perpajakan AS memperkirakan bahwa perubahan aturan terkait penjualan konstruktif dan wash hale secara kolektif akan menghasilkan pemasukan pajak sekitar US$ 16,8 miliar selama 10 tahun.


Janji Foxconn, VW dan BSAF Investasi ke Indonesia

05 Nov 2021

Asa Indonesia untuk mendorong industri ramah lingkungan yang salah satunya didorong dengan hilirisasi industri kendaraan listrik makin menemukan titik terang. Kementerian Investasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, sudah ada beberapa perusahaan ternama yang ingin menanamkan modalnya untuk mewujudkan target Indonesia menjadi salah satu negara pemain mobil listrik dunia. Menteri Investasi/ Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkapkan perusahaan tersebut adalah Perusahaan Taiwan Hon Hai Precision Industry (Foxconn), Volkswagen, dan BASF. “Insha Allah Foxconn berminat masuk Indonesia, kemarin dari Jerman bicara dengan Volkswagen dan BASF, mereka confirm masuk ke Indoensia,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Kamis (4/11). Investasi Foxconn di Indonesia tersebut nantinya akan melibatkan pengusaha nasional dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Foxconn tak hanya membangun industri mobil listrik saja, tetapi juga membangun industri komponen dan bahan baku yang akan digunakan. Sementara Volkswagen dan BASF akan masuk ke Indonesia dan menjadi bagian rantai pasok untuk baterai mobil listrik. Mereka masuk pada bagian rantai pasok hilir.


Bisnis Online Ramai, Bisnis Logistik Menanjak

05 Nov 2021

Kontan, Jakarta - Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) berpotensi mendorong bisnis jasa pengiriman. Bisnis jasa pengiriman logistik semakin menjanjikan pada tahun ini, sekalipun Indonesia masih dibayangi pandemi Covid-19. Di sisi lain, sektor jasa ini terdongkrak pesatnya perkembangan bisnis e-commerce di Tanah Air. Sebut saja, PT Lion Express atau dikenal dengan Lion Parcel yang terus menggelar ekspansi bisnis. Chief Executive Officer Lion Parcel mengatakan rata-rata volume pengantaran produk yang dilakukan Lion Parcel mencapai 4 juta paket per bulan. Jika dilihat trennya, maka volume pengantaran produk Lion Parcel mampu tumbuh 55% year-on-year (yoy) di periode Januari-Agustus 2021. 

Sejauh ini kontribusi terbesar volume pengantaran Lion Parcel berasal dari perusahaan ritel dengan porsi sekitar 70%, kemudian korporasi tradisional sekitar 25%, serta sisanya 5% berasal dari perusahaan e-commerce. Lion Parcel juga fokus pada pengiriman di level hulu, baik dari prinsipal ke distributor maupun dari distributor ke penjual. Setali tiga uang. Manajemen JNE juga menganggap bisnis jasa pengantaran logistik memiliki prospek yang cerah di Indonesia, seiring perkembangan e-commerce yang begitu cepat, sehingga kebutuhan pengiriman barang ikut meningkat signifikan. Bertambahnya volume pengiriman JNE yang didorong kebutuhan pengiriman oleh masyarakat, berdampak pula terhadap bisnis para pelaku e-commerce dan UMKM. 

BoE Menahan Suku Bunga Meskipun Inflasi melonjak

05 Nov 2021

Bank Sentral Inggris atau BoE pada Kamis (4/11) mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga utama pada rekor rendah 0,1%. Tetapi pihaknya mengisyaratkan adanya kenaikan dalam beberapa bulan mendatang untuk meredam lonjakan inflasi. BoE juga mempertahankan program stimulus untuk mendukung ekonomi Inggris dan dari dampak pandemi Covid-19. Total stimulus ini mencapai  hampir 0,1 triliun poundstreling atau US$ 1,4 triliun. Namun BoE menyatakan kemungkinan masih perlu  beberapa pengetatan kebijakan moneter sederhana untuk menurunkan laju inflasi.

"Tapi beberapa bulan mendatang kemungkinan perlu menaikkan suku bunga utama untuk membawa inflasi tahunan Inggris kembali ke target bank sentral sebesar 2,0%" kata BoE. Sementara pemerintah Inggris memperkirakan rata-rata inflasi tahunan sebesar 4,0% selama tahun depan. Karena harga energi melonjak dan pembukaan kembali aktivitas ekonomi terdampak krisis pasokan. Sementara Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank sentral Jepang (BoJ) juga menahan kebijakannya untuk saat ini. Baik atas suku bunga maupun stimulus. 

Tetapi bank  sentral di negara-negara seperti Brasil, Singapura, Selandia Baru, dan Korea Selatan telah menaikkan biaya pinjaman baru-baru ini. Bank sentral Kanada (BoC) telah mengakhiri program stimulus pembelian obligasi yang signifikan dan memperkirakan kenaikan suku bunga awal, yakni pada 2022. Di Inggris program ekonomi masih belum jelas. Sebelumnya pemerintah Inggris pada September 2021 mengakhiri skema dukungan cuti yang membuat jutaan pekerja sektor swasta tetap bekerja selama pandemi virus corona. (Yetede)

2025, Transaksi e-Commerce RI Capai US$ 83 Miliar

05 Nov 2021

Indonesia di proyeksikan menjadi pasar terbesar untuk pembayaran perdagangan secara elektronik (e-Commerce) di Asia Tenggara senilai US$ 83 miliar, disusul Vietnam  US$ 29 miliar , dan Thailand US$ 24 miliar, pada tahun 2025. Tahun yang sama, Indonesia akan menyambut lebih dari 100 juta pengguna  dompet seluler (mobile wallets) baru. Hal tersebut merupakan sebagian dari laporan terbaru dari laporan IDC, firma suvei pasar, yang ditugaskan oleh 2C2P, Platform pembayaran asal Singapura, Kawasan Asia Tenggara pun disebut mengalami transformasi  keuangan luar biasa yang digerakkan oleh revolusi pembayaran digital. Laporan IDC dengan tema How Southeast Asia Buys dan Asia Pays: Driving New Business Value for Merchant yang diterbitkan pada November 2021, itu juga mengungkapkan, kompleksitas ekosistem pembayaran di Asia Tenggara yang trefragmentasi, sehingga mendorong bisnis untuk membuat keputusan yang tepat dan mampu menangkap peluang. 

IDC juga melacak adanya trend adanya beberapa alternatif pembayaran yang muncul, seperti dompet seluler (mobile wallets) pembayaran domestik, serta Beli Sekarang Bayar Nanti, disamping masih ada opsi tadisional seperti pembayaran menggunakan kartu dan uang laporan tersebut juga memperkirakan pangsa pasar yang berubah dari  opsi pembayaran antara tahun 2019 dan 2025 di enam pasar untuk membantu  bisnis menyusun strategi penskalaan lintas batas negara. Aung Kyaw Moe, pendiri dan CEO 2C2P, menuturkan, ada peluang untuk memanfaatkan pertumbuhan  pembayaran digital dan penyedia  kebutuhan konsumen yang selalu berubah di kawasan Asia Tenggara. "Pembayaran digital bukan lagi sekedar hal yang menyenangkan untuk dimiliki tetapi harus dimiliki, dan merupakan bagian penting dari setiap strategi bisnis perudahaan." Kata Aung Kyaw Moe, dalam pernyataannya, Kamis (4/11). (Yetede)

Menyikapi Tapering

05 Nov 2021

Keputusan penting Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan yang sudah  lama ditunggu-tunggu itu akhirnya ada kepastian. Pengurangan stimulus ekonomi yang populer dengan istilah tapering tersebut akan dilakukan pada akhir November ini. Perekonomian AS yang membaik menjadi alasan utama kebijakan tapering tersebut. Namun, perhatian investor global bukan berhenti sampai tapering, melainkan kapan The Fed akan menaikkan suku bunga yang saat ini mendekati nol persen. Ekonomi AS sekarang ini mengalami inflasi tinggi, yakni kenaikan barang dan jasa akibat terganggunya rantai pasok.

Dua indikator itu yang menjadi pertimbangan Bank Sentral AS yang menaikkan suku bunga. Namun dari isyarat Gubernur The Fed Jarome Powell, kenaikan suku bunga tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Dunia finansial jauh lebih siap menghadapi kebijakan tapering ketimbang kejadian serupa tahun 2014. Telah memicu goncangan finansial global sehingga mendorong hengkangnya dana-dana asing di negara pasar berkembang. Faktanya, kemungkinan buruk itu yang sempat menghantui investor global tidak terjadi. Sejak awal, tiga otoritas penjaga sektor finansial dan makro ekonomi kita.

Di lain sisi fundamental kita cukup solid. Kondisi sektor fiskal dan moneter relatif terjaga baik. Sektor perbankan cukup kuat, tercermin pada jumlah indikator kesehatan, baik dari sisi permodalan (CAR), kredit bermasalah (NPL), dan kredit mulai tumbuh. Defisit transaksi berjalan (CAD) tercatat rendah,sekitar 1-2% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini dan tahun depan. Inflasi juga terjaga di level 3% cadangan devisa saat ini juga mencapai US$ 146,9 miliar, level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, kepemilikan asing di SBN saat ini tinggal sekitar 22%. (Yetede)


Berkelit Dari Efek Tapering

05 Nov 2021

Struktur ekonomi nasional dalam menahan efek kejut tapering alias kebijakan pengetatan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, dapat diandalkan, karena sejalan dengan kokohnya fondasi makroekonomi. Keandalan ini ditargetkan dapat membuat sektor keuangan nasional mampu berkelit dari efek negatif tapering sekecil apapun. Sejauh ini, struktur ekonomi nasional ditopang oleh sejumlah faktor seperti besarnya dominasi investor domestik di pasar modal dan gemuknya cadangan devisa (cadev). Kedua hal itu telah memberikan ruang gerak bagi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta kuatnya likuiditas di sektor perbankan. Adapun, tapering The Fed diejawantahkan melalui pemangkasan pembelian aset bulanan sebesar US$10 miliar untuk surat berharga dan US$5 miliar untuk jaminan berbasis mortgage atau agency mortgage-backed security (agency MBS). Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menjelaskan efek dari pengetatan The Fed tidak sesignifikan yang dibayangkan. Kondisi ini jauh berbeda dengan tapering pada 2013. The Fed pun cukup terbuka soal wacana tapering ke publik, sehingga investor telah melakukan antisipasi. “Kesiapan Bank Indonesia juga cukup kuat, sehingga efek tapering di Tanah Air kali ini cenderung minimal,” katanya, Kamis (4/11).

Sejauh ini, kepastian tapering oleh The Fed hanya menyengat pergerakan nilai tukar rupiah. Rupiah kembali melemah di tangan dolar AS pada penutupan perdagangan, kemarin. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot turun 0,37% atau 53 poin ke harga Rp14.366. Adapun indeks dolar AS menguat 0,4% atau 0,374 poin ke level 94,227 pada pukul 15.23 WIB dibandingkan dengan level pembukaan pada 93,853. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai rupiah akan terus melemah terhadap dolar AS di periode krusial tapering The Fed. Namun, hentakan tapering terhadap rupiah masih dalam kendali otoritas moneter. “Untuk perdagangan hari ini, rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp14.340—Rp14.390,” ujarnya.


Perdagangan Daerah, Ekspor Jabar Menjanjikan

05 Nov 2021

Perdagangan luar negeri dijadikan modal penting bagi pemulihan ekonomi Provinsi Jawa Barat karena menunjukkan kinerja menjanjikan hingga kuartal III/2021. Pelaku usaha diharapkan membuka pasar baru di luar negara tujuan utama ekspor. Sekretaris Komisi II DPRD Jawa Barat Yunandar Eka Perwira mengatakan pertumbuhan kinerja ekspor nonmigas Jabar menjadi modal penting bagi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Menurutnya pertumbuhan tersebut bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja perdagangan para pelaku usaha di Jabar. “Ini kita jadikan modal untuk kedepannya agar roda perekonomian berputar lebih baik lagi,” katanya, Kamis (4/11). Dia berharap para pelaku usaha Jabar bisa membuka tujuan ekspor baru. Salah satu negara tujuan ekspor yang menjanjikan adalah Tunisia yang selama ini bukan tujuan utama ekspor mulai memperlihatkan kenaikan kerja sama dagang.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan ekspor Jabar semakin membaik karena mitra dagang masih memberikan kepercayaan. Demikian pula dengan naiknya investasi di Jabar meski masih dalam situasi pandemi Covid-19. “Lobi dagang terus dilakukan, membuka pasar luar negeri yang saat ini mulai membaik membuat ekspor nonmigas Jabar yang didominasi produk industri tumbuh tinggi,” ujarnya. Produk yang ekspor yang dilepas antara lain serbuk kelapa, kerajinan rotan, kopi, buah-buahan, hingga tekstil. Pemprov Jabar juga mengikutsertakan produk-produk unggulan dalam kegiatan Trade Expo Indonesia-Digital Edition 2021, dan Dubai Expo 2020. “Selain itu produk ekspor Jabar rutin kami fasilitasi lewat business matching dan business meeting mulai dengan pengusaha Tunisia, Yunani, Senegal, China, Jepang hingga Malaysia,” ujar Kamil. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Moh Arifin Soedjayana mengatakan peningkatan kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang terus membuka banyak peluang ekspor di masa pandemi.


Laporan Dari Uni Emirat Arab, Al Khaleej Serius Investasi Gula

05 Nov 2021

Produsen gula terbesar kelima di dunia asal Dubai, Uni Emirat Arab, Al Khaleej Sugar Co. siap membenamkan investasi sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp28,68 triliun dalam pengembangan etanol di Indonesia. Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengungkapkan Al Khaleej Sugar Co sangat tertarik untuk memasok bahan bakar di dalam negeri. “Mereka siap memasok etanol sebanyak 750.000 ton per tahun. Nilai investasinya sekitar US$2 miliar,” ujarnya di sela-sela World Expo 2020 Dubai, Rabu (3/11). Mengingat nilai investasinya yang besar, Kementerian Perindustrian sigap menginventarisir sejumlah persoalan demi menyiapkan jalan bagi investasi etanol dari UEA. 

“Kami sudah sampaikan ke Pertamina dan mereka menyambut baik. Tinggal bagaimana agar cukai dari etanol ini bisa dikecualikan agar bisa kompetitif,” jelasnya. Menurutnya, Al Khaleej Sugar Co, juga melirik sejumlah peluang dari pengembangan industri gula nasional. Saat ini, Al Khaleej Sugar Co memastikan kebutuhan Indonesia terhadap produk turunan dari gula tersebut. Dia menjelaskan 30% dalam proses produksi gula menghasilkan produk yang bernama biomassa, sedangkan 4% dalam industri gula menghasilkan etanol yang memiliki level industrial grade alcohol, yang dapat diolah menjadi monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa, campuran bahan bakar hingga pakan ternak.