;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Ekonomi Pulih, Utang Swasta Melonjak

16 Nov 2021

Utang luar negeri (ULN) swasta kembali meningkat setelah mengalami penurunan saat pandemi Covid-19. Lonjakan utang ini menjadi pertanda baik karena korporasi ekspansif lagi seiring pemulihan ekonomi. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi ULN swasta kuartal III-2021 sebesar US$ 208,5 miliar, naik 0,2% year on year (yoy). Pada kuartal II-2021, ULN swasta susut 0,3% yoy. Menurut Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, kenaikan utang luar negeri swasta bukan dari lembaga keuangan, yakni sebesar 1% yoy. Meski pertumbuhannya sedikit melambat dari 1,6% yoy pada kuartal kedua 2021.

Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, dengan pangsa mencapai 76,4% dari total ULN swasta. ULN tersebut masih didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,1% terhadap total ULN swasta. Adapun posisi ULN Indonesia secara total, pada akhir kuartal III-2021 tercatat sebesar US$ 432,1 miliar, atau tumbuh 3,7% yoy. Posisi utang luar negeri ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada akhir kuartal sebelumnya sebesar 2% yoy.


Empat Sektor Usaha Jadi Andalan Pajak

15 Nov 2021

Pajak korporasi dalam beberapa tahun ke belakang menjadi andalan penerimaan pajak penghasilan (PPh). Seiring pemulihan ekonomi, otoritas pajak mulai mencari sektor usaha yang berpotensi memberikan sumbangsih besar di tahun depan. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Neilmaldrin Noor menyampaikan sederet sektor usaha yang akan menjadi kontributor utama penerimaan pajak antara lain sektor industri, perdagangan, informasi dan komunikasi, serta jasa kesehatan. “Diproyeksikan sektor-sektor tersebut masih mempertahankan pertumbuhan positif,” kata Neilmaldrin kepada Kontan.co.id, Jumat (14/11).

Ekspor Indonesia Masih Tersandera Komoditas

15 Nov 2021

Kinerja ekspor Indonesia pada Oktober 2021, diperkirakan masih moncer sejalan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Hal ini yang mendorong kembali surplus neraca perdagangan pada Oktober. Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Meskipun ada sedikit penurunan dibandingkan dengan bulan September 2021. Pertama, kenaikan ekspor didorong oleh meningkatnya aktivitas manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia, terlebih di negara-negara Asia. Kedua, peningkatan harga komoditas, terutama batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang cukup tinggi Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batubara acuan (HBA) sebesar US$ 161,63 per metrik ton, naik US$ 11,60 per metrik ton dibanding HBA September 2021.


Kolaborasi Digital Ungkit Bisnis Bank

15 Nov 2021

Perbankan semakin mesra menggandeng pelaku industri digital dalam menggarap bisnis. Kolaborasi perbankan dengan fintech dan e-commerce ini makin membuahkan hasil. CVP Commercial & SME Business BCA Elvriawati Tumewah menyatakan penyaluran dana itu melalui business personal loan direct, business loan e-commerce dan channeling fintech. Kolaborasi ini akan dilakukan melalui fasilitas channeling pembiayaan dengan plafon maksimal Rp 2 miliar per debitur Tenor pembiayaan ini maksimal 3 bulan. Bank BNI mengoptimalkan kerja sama dengan pelaku e-commerce. BNI berkolaborasi dengan JD.ID meluncurkan kartu kredit co-branding. Demam belanja online juga dimanfaatkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang menjalin kerja sama dengan Traveloka dalam bisnis paylater. Lewat kolaborasi ini, BRi menyalurkan kredit Rp 200 miliar per September 2021.

Pemain Konvensional Masuk ke Bisnis Dompet Digital

15 Nov 2021

Satu persatu pemain industri keuangan konvensional yang melirik bisnis digital yang salah satunya adalah dompet digital. Setelah Grup Astra yang yang membuat dompet digital, kini Adira Finance yang bakalan masuk ke bisnis yang transaksinya memang terus meningkat sepanjang pandemi. Direktur SDM dan Marketing PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Swandajani Gunadi menyebutkan perusahaannya akan masuk ke bisnis digital. Salah satunya melalui aplikasi Adiraku. "Melalui aplikasi Adiraku 2.0, kami akan terus mengembangkan fitur dan untuk ke depannya kita juga akan membuat e-wallet," ujar Swan, akhir pekan kemarin.

Sebelumnya Astra juga membuat Astrapay. Rencananya, Astra akan membuat pembayaran digital yang tumbuh dalam ekosistem Astra. Sebagai langkah awal, Astrapay memiliki fitur direct payment untuk produk pembayaran angsuran dari layanan Grup Astra. Saat ini, Astrapay telah bekerja sama dengan berbagai anak perusahaannya, seperti FIF Group, Toyota Astra Finance (TAF), Astra Credit Companies (ACC), hingga Maucash. Hal ini ini sejalan dengan keunggulan Astrapay yang difokuskan pada mobilitas masyarakat. Tiga pemain terbesar di bisnis ini yakni Gopay milik GoTo, lalu Ovo dan Shopeepay. Ketiganya dijalankan oleh perusahaan fintech.


Potensi Omset E-Dagang Rp 1.700 Triliun

15 Nov 2021

Selama pandemi Covid-19 di Indonesia, transaksi e-dagang meningkat sebesar 54 persen atau lebih dari 3 juta transaksi per hari. Potensi e-dagang Indonesia bisa mencapai Rp 1.700 triliun pada tahun 2025. Selama pandemi Covid-19 transaksi e-dagang di Indonesia meningkat sebesar 54 persen, tercatat hingga lebih dari 3 juta transaksi per hari. Pesatnya perkembangan tersebut membuat ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai lebih kurang Rp 1.700 triliun pada tahun 2025. Sinergi dan kolaborasi diyakini semakin berperan dalam transformasi digital untuk merebut pasar, terutama bagi koperasi serta usaha mikro, kecil dan menengah. 

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers, Minggu (14/11/2021), terkait rapat koordinasi nasional ”Transformasi Digital Koperasi dan UMKM” yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, mengatakan, digitalisasi koperasi dan UMKM makin signifikan sejalan dengan tantangan era Revolusi lndustri 4.0 yang menuntut seluruh kegiatan ekonomi bergeser dari pola konvensional menjadi lebih modern.

"Lampu Kuning" Pengelolaan Rajungan

15 Nov 2021

Penangkapan rajungan mulai mendekati ambang berlebih. Komoditas perikanan skala ekspor ini kerap diburu dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan tidak memperhatikan daya dukung. Komoditas rajungan sebagai salah satu primadona ekspor perikanan Indonesia terus mengalami eksploitasi. Di beberapa sentra produksi, hasil tangkapan rajungan mulai menunjukkan penurunan. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, ekspor komoditas rajungan-kepiting hingga triwulan III (Januari-September) 2021 sebesar 447 juta dollar AS atau berkontribusi 11 persen terhadap total nilai ekspor perikanan. Konstribusi ekspor itu meningkat dibandingkan triwulan II-2021 yang tercatat 9,9 persen. Kenaikan nilai ekspor itu menempatkan kelompok kepiting-rajungan pada peringkat ketiga komoditas unggulan, setelah udang, dan tuna-cakalang. Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) mencatat, hampir 80 persen produk rajungan diekspor ke Amerika Serikat.

Meski tergolong unggulan, produksi rajungan di beberapa sentra produksi mulai menunjukkan tren penurunan akibat penangkapan berlebih dan tidak ramah lingkungan. Upaya mendorong kenaikan ekspor rajungan yang berkualitas, peningkatan kesejahteraan nelayan, dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlanjutan produksi kini menjadi tantangan. ”Yang paling menyedihkan, saya mengalami alat tangkap hilang karena tersapu bersih alat tangkap yang merusak. Penangkapan dengan alat yang tidak ramah lingkungan harus dibatasi. Kalau tidak dibatasi, bukan cuma merusak tempat habitat rajungan, tetapi bisa mengganggu nelayan-nelayan rajungan,” kata Miswan, yang juga Ketua Forum Komunikasi Nelayan Rajungan Provinsi Lampung.

Ekonomi Berkelanjutan, Pariwisata Kaltim Mulai Dipacu

15 Nov 2021

Masa depan ekonomi Kalimantan Timur yang berkelanjutan diperkirakan bakal menggeser sektor pertambangan dan beralih pada pariwisata serta industri bernilai tambah. Sektor pariwisata memberikan efek berganda pada sektor yang lebih banyak daripada sektor tambang. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim Tutuk S. H. Cahyono mengatakan sektor pariwisata memberikan kontribusi devisa daerah terbesar kedua setelah batu bara ketika sebelum pandemi Covid-19. “Batu bara itu nomor satu memang, tapi jangka menengah-panjang batu bara itu makin lama makin sedikit dibutuhkan oleh dunia. Karena apa? Karena dunia itu ingin menggenjot yang namanya EBT ,” ujarnya, Kamis (11/11).

Tutuk menjelaskan pariwisata menjadi salah satu opsi dalam membentuk ekonomi Kaltim yang berkelanjutan karena investasi di industri pariwisata berdampak secara eksponensial apabila dilihat dari tingkat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kesempatan kerja, dan multiplier effect atau efek berganda bagi sektor-sektor lainnya. “Semua bergerak, mulai dari travel-nya, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif, suvenir seperti manik-manik, akomodasi, hotel dan restoran, semuanya bergerak. Kalau batu bara hanya tongkang yang bergerak,” katanya.


Bank Menurunkan Bunga Sesuai Profil Resiko

15 Nov 2021

Seiring tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), perbankan terus berusaha menyesuaikan besaran bunga kredit untuk memacu permintaan kredit dimasyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai dengan Agustus 2021 Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) terus menurun seiring penurunan komponen harga pokok dana dan biaya overhead masing-masing sebesar 16 basis poin (bps) dan 10 bps.Penurunan SBDK telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit. Antara lain suku bunga kredit modal kerja yang telah turun dibawah level 9,00% hingga level 8,92%. Bank Permata telah menyesuaikan bunga di segmen ritel sesuai dengan profil resiko nasabah dan bunga yang berlaku di pasar. Bank Permata telah menurunkan bunga KPR maupun kredit UMKM dikisaran 2% hingga 2,25%. 

Asuransi Jiwa Gencar Jualan Melalui Bank

15 Nov 2021

Mulai meredanya kasus positif Covid-19 membuat penjualan produk asuransi jiwa melalui bank atau biasa dikenal bancassurance semakin meningkat. Dari data, bancassurance menyumbang premi paling besar dibandingkan kanal lain. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan premi dari bancassurance mencapai Rp 48,23 triliun, atau meningkat 27,3% yoy per kuartal II-2021. Kanal ini menyumbang porsi terbesar, mencapai 46% terhadap total premi industri.