Ekonomi
( 40478 )Karena Seniman dan Korporasi Harus Berkolaborasi
"......Apa agamamu? Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu..." Sepenggal puisi karya penyair Philipus Joko Pinurbo (Jokpin) itu dibacakan budayawan dan aktor kawakan, Butet Kertarejasa, dengan dada bergetar. Suaranya yang parau seakan hendak meremukan tongkat stainless yang menopang tubuhnya diatas panggung. "Ini pertanyaan kotor yang harus kita perangi," tegas Butet, usai membacakan potongan sajak berjudul Buku Latihan Tidur tersebut. Ia membacakannya disela-sela makan malam sederhana di sebuah restoran nun jauh di kalimantan sana. Restoran bernama Bontang Kuring itu terletak di tepi Danau Permai yang senyap dan rimbun.
Acara yang berlangsung pada Selasa malam itu dihadiri sekumpulan seniman, wartawan, karyawan PKT. Selain Butet Kertarejasa, sekitar 30 pentolan seniman lain dari berbagai daerah hadir pada acara itu, diantaranya Nasirun (pelukis), Agus Noor (penyair/cerpenis), Jokpin (penyair), Putu Wijaya (pelukis) Jumaldi Alfi (sastrawan), Bambang Heras (pelukis, dan Inggit Putria Marga (penyair). Kehadiran para seniman dari berbagai daerah di PKT tentu saja bukan tanpa alasan "Kami ingin menjadikan industri lebih berbudaya, lebih beradab, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal kepada seluruh stockholders," kata Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi kepada Investor Daily. (Yetede)
Ragu Perbudakan akan Pupus
Ahmad Aditya, pemuda keturunan suku Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, masih mengingat ketika ia bekerja sebagai kapal penangkapan ikan berbendera Taiwan dan Cina, empat tahun lalu. Pria lajang berusia 25 tahun ini memang tak mendapat perlakuan kekerasan seperti ABK lainnya di kapal tempatnya bekerja. Tapi ia tak menerima bayaran periode 2018 dan 2019. "Gaji saya selama dua tahun senilai Rp71,4 juta tidak dibayar oleh perusahaan agensi di Indonesia," kata Aditya, Jumat, 10 Juni 2022. Saat itu, Aditya bekerja di kapal berbendera asing tersebut bersama 19 ABK lainnya.
Diantara koleganya tersebut, ada yang sempat mendapat perlakuan kasar. Tapi perlakuan itu dianggap tak seberapa dibanding pelaut Indonesia lainnya yang bekerja di kapal berbendera asing. Yang harus kehilangan nyawa. Bedanya, Aditya dan ABK yang berlayar bersamanya tak mendapat gaji. Mereka harus berkali-kali mengadu ke Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, yang sekarang berganti nama menjadi Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. "Sampai sekarang belum ditindak lanjuti," kata Aditya. (Yetede)
Tak Sempurna Perlindungan Pelaut Indonesia
Pegiat buruh migran menilai masih ada sejumlah celah dalam Peraturan Pemerintah (PP) tentang Penempatan dan Perlindungan Awak Kapal Niaga Migran dan Awak Kapal Perikanan Migran. Misalnya, PP itu belum tegas mengatur perjanjian antar pemerintah (G to G) serta antar perusahaan (B to B) untuk melindungi anak buah kapal (ABK) Indonesia di luar negeri, "Mungkin perlu dipertegas lagi, seberapa dalam G to G dan B to B tersebut," kata Dewan Direksi Migrant Care, Anis Hidayah, Jumat 10 2022. Ia mengatakan harusnya pemerintah mendorong agar perjanjian antar pemerintah bukan sekedar pelengkap. Perjanjian antar-pemerintah tersebut semestinya menjadi pijakan utama dalam penempatan pelaut Indonesia di kapal asing. Anis juga menyoroti mekanisme pemantauan terhadap pelaut Indonesia ketika belum ataupun tengah kerja di kapal berbendera asing. Pemantauan sebelum bekerja tersebut sangat penting karena pemerintah bisa mengukur sejak dini potensi perbudakan ketika para ABK itu bekerja di kapal asing nantinya. (Yetede)
Saham Grup Panin Melesat, Valuasinya Mulai Murah
Investor saham-saham emiten Grup Panin, bersorak. Dalam beberapa hari terakhir, terjadi kenaikan signifikan terhadap hampir semua saham yang masuk dalam tentakel bisnis taipan Mu'min Ali Gunawan ini. Hal serupa juga terjadi pada saham-saham Grup Panin lainnya. Misal, saham PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) melonjak 28,36% ke posisi Rp 86 per saham dari hari sebelumnya. Geliat saham PNBS sudah terlihat sejak Juni lalu saat di tutup di level Rp 67 per saham. Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai saham Grup Panin terkerek sentimen penjualan saham PNBN milik ANZ. Ini sejatinya niat yang sudah lama direncanakan. "Tema penjualan saham akan menjadi isu paling sensitif untuk saham-saham yang memiliki valuasi yang murah dan fundamental yang bagus. Karena transaksi penjualan saham akan mengacu pada kondisi atau nilai fundamental," terang alfred. Analis RHB Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, dari segi teknikal, saham-saham Grup Panin sudah jenuh beli. Alhasil, saham-saham ini rawan turun akibat profit taking. "Tapi secara valuasi, saham-saham Grup Panin masih murah. Rata-rata PBV masih di bawah 1," kata Wafi.
BISNIS BAJU BEKAS, Berburu Mode Bermerek lewat ”Thrifting”
Leoni Aliyah (22) mahasiswi ISI Surakarta berkeliling ke puluhan los penjual pakaian bekas di Pasar Klithikan Notoharjo, Surakarta, Jateng, Rabu (8/6). Setelah dua jam pilihannya jatuh pada sebuah celana jogger. Setelah mengecek lewat internet, ia memastikan barang itu asli keluaran sebuah merek terkenal asal Amerika Serikat. Awalnya, dijual Rp 125.000. setelah ditawar, akhirnya dapat Rp 85.000. Senang rasanya ujar Leoni seraya tersenyum. Bagi gadis asal Sidoarjo, Jatim, itu, tawar-menawar harga penting dalam berburu pakaian bekas. Keberhasilan membeli pakaian dengan harga murah menjadi kepuasan tambahan, selain mendapat barang bermerek atau berkualitas. Kegiatan berbelanja demi mendapatkan harga barang lebih murah dan barang tidak biasa, seperti selera pasar saat ini atau belakangan ngetren dengan istilah thrift shopping atau thrifting, baru diikuti Leoni dua tahun ini. Semula ia diajak kakak-kakak tingkatnya ke Pasar Notoharjo. Lama-lama, ia ketagihan. Pasar menjadi pilihan utamanya meski festival lapak pakaian bekas juga marak di Surakarta.
Menurut Agustinus Cyto Kurniawan (25), warga Surakarta, sensasi berburu pakaian bekas bermerek lebih menyenangkan dilakukan di pasar. Terkadang, hasilnya berbuah kejutan. Harganya biasanya lebih murah. ”Saya pernah dapat jaket zipper bergaya Jepang. Sampai pernah ditawar orang harga Rp 200.000. Itu dapatnya dari ngawul atau yang sekarang dikenal dengan istilah thrifting,” katanya. Ia ikut menjadi pemburu pakaian bekas setelah duduk di bangku kuliah pada 2015. Barang buruannya adalah jaket dengan model sweater, crewneck, hoodie, dan varsity. Bagi Cyto, pakaian bekas yang dibeli tak harus bermerek. Yang terpenting cocok dengan gaya personalnya, yaitu retro, vintage, atau lawas. ”Soalnya pakaian bekas ini, memang barang-barang lama di luar negeri. Jadi, gayanya pasti lawas. Model klasik begini aku suka. Di samping harganya miring,” ujarnya. Sejak 2020, Cyto rajin membuat konten media sosial Tiktok. Pada 2021, ia terinspirasi membuat konten berpakaian lawas. Ternyata banyak yang menyukai. Citra lawas pun menjadi identitasnya kini. (Yoga)
Korporasi Sawit Bisa Dijerat Dugaan Monopoli
Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia Boyamin Saiman, Kamis (9/6) menegaskan, selain tindak pidana korupsi, Kejaksaan Agung juga dapat memperluas penyidikan ekspor minyak sawit mentah beserta turunannya ke dalam dugaan pencucian uang dan monopoli pasar oleh korporasi. Namun, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi keterlibatan korporasi dalam hal itu. (Yoga)
Target Mengakhiri Kemiskinan Terganggu
Harapan PBB untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem terganggu. Perang Rusia dan Ukraina, pandemi, serta kerusakan lingkungan meningkatkan penderitaan jutaan orang di dunia. Laporan Platform Respons Krisis Global (GCRP) PBB, Rabu (8/6) di New York menyebutkan, saat ini sekitar 60 % pekerja memiliki pendapatan riil lebih rendah daripada sebelum pandemi Covid-19. (Yoga)
Pelemahan Kurs Rupiah Tingkatkan Risiko Pengembang
Dalam siaran pers, Kamis (9/6), Moody’s menyampaikan, kurs rupiah relatif stabil selama 12-18 bulan terakhir. Namun, belakangan ada tren kenaikan arus keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Fenomena ini meningkatkan risiko. Sebagian besar lindung nilai (hedging) keuangan pengembang properti Indonesia telah berkurang, dan membuat pengembang rentan terhadap pelemahan rupiah. ”Jumlah utang pokok dan beban bunga utang dalam denominasi USD yang dimiliki sejumlah pengembang properti akan meningkat jika dihitung dalam rupiah sehingga melemahkan kemampuan mereka. Lebih dari dua pertiga dari keseluruhan utang mereka ada dalam denominasi USD, sementara pendapatan diperoleh dalam denominasi rupiah,” kata Rachel Chua, Wakil Presiden dan Analis Senior Moody’s.
Di antara enam pengembang properti dengan peringkat Moody’s, dua di antaranya telah membatalkan semua atau hampir semua lindung nilai mereka. ”Selain itu, fasilitas lindung nilai tak sepenuhnya melindungi pinjaman. Jika rupiah menembus Rp 17.000 terhadap USD, lindung nilai hanya akan melindungi 38 % total utang dalam USD, turun dari 47 % dua tahun lalu,” kata Rachel. Ia menambahkan, sebagian besar pengembang di Indonesia masih memiliki likuiditas yang cukup untuk menutupi beban bunga yang naik karena depresiasi rupiah. Sebagian besar pengembang telah meningkatkan kepemilikan kas, memperkuat arus kas operasi, atau mengurangi biaya bunga setelah mengubah denominasi utang.” Akan tetapi, jika kurs rupiah terhadap USD tetap melemah, akan ada pengembang properti Indonesia yang membutuhkan pinjaman luar negeri guna menambah likuiditas internalnya,” kata Rachel. Berdasarkan data Refinitiv, kurs rupiah dalam pembukaan perdagangan, Kamis (9/6), melemah 0,07 persen menjadi Rp 14.500 per USD. (Yoga)
Pembiayaan Rumah Bersubsidi 220.000 Unit
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengemukakan, pemerintah tahun depan siap memfasilitasi pembiayaan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) 220.000 unit untuk masyarakat berpenghasilan rendah. ”FLPP dilakukan bekerja sama dengan bank-bank pelaksana,” ujarnya, dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR, di Jakarta, Kamis (9/6). (Yoga)
Nelayan Indramayu Keluhkan Solar dan Pajak
Nelayan Kabupaten Indramayu, Jabar, mendesak pemerintah merevisi kebijakan harga solar hingga besaran tarif pajak pasca produksi. Nelayan terancam tak bisa melaut lagi. Harga solar industri Rp 16.500 per liter, melonjak dari akhir tahun, Rp 9.500 per liter. ”Harga itu tak sebanding harga ikan, yaitu sekitar Rp 15.000 per kilogram,” ujar Koordinator Umum Front Nelayan Bersatu Kajidin saat berunjuk rasa di Kantor DPRD Indramayu, Kamis (9/6). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









