Ekonomi
( 40753 )Komoditas Udang, Mengelola Daya Saing
Komoditas udang yang merupakan salah satu produk andalan perikanan budidaya di Tanah Air tengah menghadapi problem soal daya saing. Harga udang ekspor terus merosot, sementara biaya produksinya membengkak seiring merebaknya serangan penyakit. Tekanan di pasar internasional ditandai dengan melemahnya harga udang sejak awal Mei 2022. Komoditas udang Indonesia, yang sebagian besar diekspor, terkena imbasnya. Salah satu pemicu tekanan harga adalah membanjirnya produksi udang dari negara-negara produsen lain, seperti Ekuador dan India. Sesuai hukum pasar, jika produksi berlimpah, sedangkan permintaan stagnan, harga pun tertekan. Hambatan pasar yang terjadi juga tidak lepas dari belum pulihnya perekonomian global dan efek perang Ukraina-Rusia yang berkepanjangan. Saat ini, negara utama tujuan ekspor udang Indonesia antara lain adalah AS yang menyerap 70% total ekspor udang, Jepang (16 %), dan China 3-4 %.
Per 10 Juni 2022, harga rata-rata udang ukuran 40 ekor per kg (size 40) tercatat Rp 62.000 per kg atau turun 25 % dibandingkan awal Mei 2022 yang Rp 83.000 per kg. Sementara biaya produksi udang ukuran 40 mencapai Rp 56.000 per kg. Di tingkat dunia, Indonesia menempati peringkat ke-5 eksportir udang terbesar pada 2019, setelah India, Ekuador, Vietnam, dan China. Namun, kontribusi udang Indonesia di pasar internasional baru 7,1 %, karena itu, peluang pasar masih terbuka luas. KKP menargetkan nilai ekspor udang naik 250 % selama kurun 2019-2024, yakni 4,2 miliar USD. Guna mencapai ambisi itu, produksi udang ditargetkan meningkat hingga 2 juta ton. Volume ekspor udang diharapkan naik 15,8 % per tahun, sedangkan nilai ekspornya diharapkan tumbuh 20 % per tahun. Tetapi, perkembangan ekspor udang belum menggembirakan. Sepanjang tahun 2021, volume ekspor udang tercatat 250.700 ton atau hanya tumbuh 4,9 % dibandingkan 2020, adapun nilai ekspor tercatat 2,23 miliar USD atau hanya tumbuh 8,5 % secara tahunan. (Yoga)
BI Diyakini Masih Punya Ruang Pertahankan Suku Bunga
Bank sentral AS menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 1,5-1,75 % pada Rabu (15/6). Meski demikian, para ekonom menilai BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Dalam situs resmi, Gubernur Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, Jerome H Powell menjelaskan, kebijakan menaikkan suku bunga acuan bertujuan untuk meredam inflasi AS yang pada Mei 2022 mencapai 8,6 %. Harapannya, inflasi negeri Paman Sam itu bisa kembali ke posisi 2 %. Besaran kenaikan tingkat suku bunga itu, dalam satu keputusan, adalah yang tertinggi sejak 1994. Tidak hanya itu,TheFed juga mengisyaratkan akan kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 50-75 basis poin pada Juli mendatang.
Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed itu sudah sesuai ekspektasi sehingga tidak terlalu mengejutkan pasar. Menurut dia, pasar sudah siap menghadapi kenaikan suku bunga The Fed sebab rencana itu sudah lama dikomunikasikan secara luas ke publik. Meski demikian, menurut Josua, BI tidak perlu serta-merta ikut mengerek naik suku bunga acuannya. Menurut dia, BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 3,5 %. Josua meyakini, cadangan devisa Indonesia dalam posisi cukup kuat untuk menjaga kestabilan kurs rupiah dari berbagai tekanan global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik Rusia dengan Ukraina, kenaikan suku bunga The Fed, dan normalisasi kebijakan moneter bank sentral berbagai negara. (Yoga)
Bank Berburu Pembiayaan Ramah Lingkungan
Beberapa tahun terakhir, pembiayaan hijau perbankan semakin deras. Perbankan semakin berani menyalurkan pembiayaan pada sektor ekonomi berkelanjutan. Agresifnya perbankan seiring dorongan dari regulator yang semakin kuat.
Awal tahun ini Presiden Joko Widodo meluncurkan program Taksonomi Hijau Indonesia. Program ini akan menjadi pedoman bagi penyusunan kebijakan dalam memberikan insentif maupun disinsentif dari berbagai kementerian dan lembaga ke depan. Perumusan pedoman ini dikoordinir oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Grup Djarum Agresif Cari Dana dari Penjualan Saham via IPO
Grup Djarum tengah gencar mencari dana segar. Kali ini, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dikabarkan akan menjual sekitar 15%-20% saham anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo.
Mengutip Bloomberg, Kamis (16/6), emiten milik Grup Djarum ini tengah bekerjasama dengan penasihat keuangan dalam penjualan saham dengan target dana sekitar US$ 1 miliar. Sumber Bloomberg mengatakan, penjualan ini menyasar pembeli dari dana pensiun dan infrastruktur. Negosiasi ini masih berlangsung dan TOWR juga masih memiliki opsi untuk tidak melanjutkan kesepakatan. Selain Protelindo, perusahaan Grup Djarum lainnya yang juga membidik dana segar dari ekuitas adalah PT Global Digital Niaga, pengelola situs e-commerce Blibli.com, Namun, Blibli akan menjaring dana melalui initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabarnya, Blibli membidik US$ 500 juta dari IPO.
Dibayangi Risiko Pelemahan Rupiah
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) harus bersiap menghadapi kenaikan harga bahan baku. Maklum, emiten farmasi ini banyak mengandalkan bahan baku impor.
Alhasil, KLBF akan dihadapkan pada posisi sulit ketika kurs rupiah cenderung melemah seperti saat ini. Pelemahan rupiah membuat KLBF harus membayar lebih mahal untuk bahan baku impor.
Menurut analis Kanaka Hita Solvera Andika Cipta Labora, ini memicu kenaikan harga pokok penjualan (HPP) yang berpotensi menurunkan margin laba. "Kinerja KLBF pada sisa tahun ini bakal stagnan karena kenaikan harga bahan baku," kata dia, Kamis (16/6).
Analis Ciptadana Sekuritas Robert Sebastian dalam risetnya menulis, tahun ini KLBF bisa membukukan pendapatan hingga Rp 29,43 triliun, naik 12,07% dari realisasi 2021. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 3,55 triliun, naik 11,64% dari tahun lalu.
Dalam jangka pendek, Andika menilai, rencana buyback yang dilakukan KLBF bisa menjadi katalis positif dan menaikkan harga saham. Sementara secara jangka panjang, KLBF diuntungkan kerjasama anak usahanya, Kalbe International Pte. Ltd., dengan perusahaan Filipina Ecossential Food Corp.
Keduanya sepakat membentuk perusahaan JV Kalbe Ecossential International Inc yang nantinya fokus pada pemasaran produk Kalbe non-obat resep untuk pasar Filipina. "Ini dapat meningkatkan pendapatan KLBF jangka panjang," imbuh Andika.
IFG Meminta PMN Rp 6 Triliun untuk Askrindo dan Jamkrindo
Kementerian BUMN telah mengusulkan agar PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) alias Indonesia Financial Group (IFG) bisa mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp 6 triliun di tahun depan.
Rencananya, IFG bakal menggunakan dana tersebut untuk disalurkan pada anak usahanya, yakni PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan PT Jamkrindo. Dana tersebut bakal digunakan untuk meningkatkan permodalan kedua perusahaan tersebut.
Pasar Redam Efek The FED
Di pasar komoditas, emas dan aset kripto yang selama ini berlawanan dengan pergerakan dolar AS justru menguat setelah pengumuman bank sentral paling berpengaruh di dunia itu. Emas, minyak mentah, hingga aset kripto sebelumnya terjerembap di zona bearish. Pergerakan pasar saham, obligasi, dan komoditas berkebalikan dengan rupiah yang melemah tipis 0,15%, Rp14.767 per dolar AS pada penutupan kemarin meskipun sempat terapresiasi pada pembukaan perdagangan. Mata uang di Asia bergerak variatif terhadap dolar AS yang indeks spotnya menguat ke 105 setelah keputusan The Fed. Secara umum, pasar tampaknya sudah memperhitungkan kenaikan Fed fund rate (FFR) 75 bps yang ditandai dengan rontoknya harga saham, obligasi, dan banyak kelas aset lainnya, termasuk komoditas, menjelang pengumuman.
Industri Semikonduktor : Jerman Tambah Investasi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa produsen semikonduktor asal Jerman, yakni Infineon Technologies berencana untuk menambah investasinya di Tanah Air. Agus menjelaskan bahwa perusahaan yang sebagian besar pendapatannya berasal dari bisnis di segmen otomotif tersebut bakal meningkatkan investasinya empat hingga lima kali lipat dari total kapasitas produksinya di Tanah Air saat ini. “Per hari ini sudah memproduksi sekitar 1,4 miliar per tahun. Nanti rencananya akan menambah investasi di Indonesia menjadi empat hingga lima kali lipat dari kapasitas produksi,” kata Agus, Kamis (16/6). Meski begitu, Menteri Agus belum bisa memberikan informasi rinci terkait dengan nilai investasi dari perusahaan yang memiliki pabrik di Batam tersebut. Menurutnya, rencana peningkatan investasi Infineon Technologies merupakan kelanjutan dari upaya Indonesia untuk menjalin kerja sama jangka panjang dengan Jerman.
Agus menyebut, peluang investasi semikonduktor di Indonesia tercipta karena Tanah Air merupakan pasar yang cukup besar untuk barang elektronika dan produk jadi elektronika.
Energi Terbarukan: Setrum Cangkang Sawit Diuji
PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) berhasil melakukan uji coba penggunaan 100% biomassa cangkang kelapa sawit untuk bahan baku pengganti batu bara (firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x7 megawatt (MW) Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Direktur Operasi 1 PJB, Yossy Noval mengatakan pengujian 100% biomassa firing di PLTU Tembilahan ini telah dilaksanakan secara bertahap sesuai prosedur yang direncanakan. “Tahap awal dimulai dari 25% penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pengganti batu bara pada 12 Juni dan akhirnya selesai 100% firing biomassa pada 15 Juni 2022,” ujarnya, di Surabaya, Kamis (16/6).
“Sebaliknya, data menunjukkan potensi perbaikan fuel flow dan indikator kehandalan dan efisiensi atau Net Plant Heat Rate (NPHR) cukup signifikan persentasenya karena cangkang sawit memiliki nilai kalori yang tinggi,” ujarnya. Dari aspek lingkungan, lanjutnya, cangkang kelapa sawit memiliki kadar sulfur yang lebih rendah dari batu bara sehingga emisi yang dihasilkan juga menunjukkan penurunan.
Sampah Elektronik Bernilai Tinggi
Pengelolaan sampah elektronik masih menjadi permasalahan sampah di Indonesia. Apabila sampah elektronik dikelola baik, selain mengatasi permasalahan lingkungan, juga mendatangkan manfaat ekonomi. Nilai dari optimalisasi daur ulang sampah elektronik di Indonesia diperkirakan mencapai 1,8 miliar USD. Potensi ini diperoleh dari hasil studi Aulia Qisthi, kandidat doktor University of Technology Melbourne bidang pengelolaan limbah elektronik. Studi ini juga telah terbit di Journal of Cleaner Production, Agustus 2020. Aulia memperkirakan nilai potensi ekonomi dari daur ulang sampah elektronik diIndonesia lebih besar dari hasil studi tersebut. Sebab, studi itu hanya menghitung sampah elektronik berupa ponsel, tablet, komputer, dan laptop.
”Pada 2020 setidaknya terdapat potensi daur ulang 12,5 ton tembaga, 119 ton perak, 21 ton emas, 54 ton paladium, dan 10 ton platinum. Potensi ekonomi ini mencapai 1,8 miliar USD,” ujar Aulia dalam seminar bertajuk ”Sampah Elektronik: Peluang, Tantangan, dan Nilai Ekonomi”, Rabu (15/6). Selain potensi ekonomi, pengelolaan sampah elektronik juga dapat mengurangi emisi karbon. Aulia mencatat, daur ulang sampah elektronik sebanyak 1 ton dapat mengurangi penambangan logam di alam sehingga berkontribusi juga pada penurunan sebanyak 1.400 ton emisi karbon. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









