;
Kategori

Ekonomi

( 40478 )

KINO Meminta Restu Penambahan 25 Kegiatan Usaha

15 Jun 2022

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) berencana menambah kegiatan usaha yang belum terdapat di Anggaran Dasar. Total, ada 25 kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan oleh KINO, mulai dari menjalankan usaha industri pengasinan/pemanisan buah-buahan dan sayuran hingga industri alat kesehatan. "Kami tentunya mengharapkan bahwa kegiatan usaha baru tersebut akan membantu meningkatkan kinerja penjualan dan laba perseroan," jelas manajemen KINO seperti dikutip dalam keterbukaan informasi, Senin (13/6). Pihak KINO juga melihat peluang-peluang usaha dan potensi yang menarik dari kegiatan usaha baru yang akan ditambahkan tersebut. Dengan dijalankannya penambahan kegiatan usaha tersebut, KINO memprediksi bisa meningkatkan laba perusahaan antara 0,25% hingga 2,11%. Untuk memperlancar rencananya, KINO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang akan digelar Rabu ini (15/6).

Ada 57 Perusahaan Akan IPO

15 Jun 2022

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga 11 Juni 2022 lalu, setidaknya ada 57 perusahaan yang masuk dalam daftar rencana alias pipeline penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Total nilai indikasinya mencapai Rp 18,14 triliun. Dalam pipelin OJK terdapat delapan perusahaan teknologi dengan total nilai indikasi mencapai Rp 7,36 triliun, sektor lainnya adalah ialah basic materials sejumlah lima perusahaan dengan nilai indikasi Rp 372,67 miliar, tujuh perusahaan dari cunsumer cyclicals (Rp 342,10 miliar), 13 perusahaan dari sektor  cunsumer non-cyclicals (Rp 2,59 triliun), empat perusahaan dari sektor energi (Rp 5,67 triliun), tiga dari finansial (Rp 89,81 miliar), dua dari sektor kesehatan (Rp 102,81 miliar). Lalu, tiga perusahaan dari sektor industrial dengan nilai indikasi Rp 129,70 miliar, enam dari sektor infrastruktur (Rp 404,45 miliar), tiga dari sektor properti dan real estate (Rp 249,33 miliar), serta tiga perusahaan dari transportasi dan logistik dengan nilai indikasi Rp 729,70 miliar.

Peserta Lelang Sukuk Meminta Yield Tinggi

15 Jun 2022

Lelang sukuk negara yang digelar Selasa (14/6) kembali sepi peminat. Penawaran yang masuk dalam lelang kemarin hanya Rp 15,13 triliun, jauh lebih rendah dibanding penawaran masuk di lelang sukuk negara 31 Mei, sebesar Rp 20,21 triliun. Pemerintah hanya menyerap Rp 5,1 triliun dari total penawaran yang masuk. Seri sukuk yang dimenangkan pun cuma empat dari enam seri yang ditawarkan, yakni PBS031, PBS032, PBS033 dan SPNS13122022. Di seri PBS029, investor meminta yield tertinggi 7,85%. Padahal di lelang sebelumnya yield hanya 7,56%. Pemerintah memilih tidak mengambil dana dari seri ini. Padahal permintaan yang masuk mencapai Rp 4,79 triliun. Pemerintah juga tidak mengambil dana dari PBS034. Peminatnya juga paling kecil, yakni Rp 440 miliar. Seri yang banyak dimenangkan oleh pemerintah yakni SPNS13122022. Yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan di seri ini mencapai 2,2%. Angka ini sedikit lebih tinggi dari yield di lelang sebelumnya, sebesar 2,1%.

Nasabah Bank Mulai Tinggalkan Transaksi Lewat ATM

15 Jun 2022

Transaksi nasabah perbankan lewat ATM maupun mesin setor tarik atau cash recycling machine (CRM) mulai berkurang. Transaksi bergeser ke digital. Nasabah lebih menyukai transaksi lewat ponsel. Bank Rakyat Indonesia (BRI) misalnya, mencatatkan tren penurunan transaksi ATM/CRM, baik secara frekuensi maupun dari nilainya. Kepala Divisi Distribusi dan Jaringan BRI, Aris Hartanto, mengatakan, transaksi lewat ATM/CRM hingga Mei 2022 menurun 15% dari periode sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).

BUNGA THE FED BAYANGI PASAR

15 Jun 2022

Pergerakan pasar keuangan di Tanah Air berada dalam tekanan Federal Reserve yang diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan pada pekan ini. Kalangan pelaku pasar memprediksikan bank sentral Amerika Serikat bakal menaikkan suku bunga acuan secara agresif (hawkish) yakni sebesar 75 basis poin. Bobot kenaikan suku bunga acuan itu lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi sepanjang tahun ini yakni 25 basis poin dari dua kali kesempatan. Seperti diketahui, inflasi AS tahunan pada Mei mencapai 8,6% atau yang tertinggi sejak 1981 sehingga bank sentral memilih kebijakan moneter lebih ketat. Pasar keuangan Indonesia mulai merasakan imbas kebijakan hawkish the Fed yang tercermin pada kenaikan imbal hasil surat utang negara (SUN) acuan tenor 10 tahun. Pada pukul 18:15 WIB, imbal hasil SUN mencapai 7,52%. Kenaikan imbal hasil itu juga berarti pasar kembali diselimuti risiko. World Government Bonds mencatat persepsi risiko yang tampak dalam credit default swap (CDS) 5 tahun menyentuh 134,59 atau memiliki kemungkinan gagal bayar 2,24%. Dari sisi kepemilikan surat berharga negara (SBN), Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu hingga 10 Juni 2022 mencatat Rp84,42 triliun aliran dana asing meninggalkan Indonesia sepanjang tahun ini.

Mewaspadai Gelembung Inflasi

15 Jun 2022

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat pekan lalu melaporkan lonjakan angka inflasi pada periode Mei 2022. Indeks harga konsumen tercatat meroket sebesar 8,6%, tertinggi sejak 40 tahun terakhir. Penyebab inflasi AS naik karena lonjakan tarif listrik dan beberapa sektor yang bersumber dari energi sebesar 3,9%. Sementara itu, harga bensin melompat 4,1% dan biaya makanan naik 1,2%. Dampak lainnya, kenaikan harga beli rumah, biaya sewa rumah/apartemen, dan ongkos perawatan medis. Lonjakan harga tersebut, secara tidak langsung dipicu oleh perang Rusia vs Ukraina yang terjadi sejak akhir Februari 2022. Perang di kawasan Eropa Timur itu, sejatinya terjadi karena campur tangan AS dengan berada di kubu Ukraina bersama NATO. Akibatnya, semua negara terimbas perang—termasuk AS dan sekutunya, karena dua negara itu sebagai produsen migas serta bahan baku industri terbesar dunia.

Dampak lanjutan yang tengah ditunggu pelaku pasar adalah respons The Federal Reverse (The Fed). Inflasi menjadi penentu utama arah kebijakan moneter bank sentral seluruh dunia. Penaikan suku bunga acuan bertujuan untuk menurunkan kenaikan harga secara cepat. Secara teori, dengan kenaikan suku bunga akan memicu orang atau lembaga keuangan menyimpan dananya di perbankan. Padahal, The Fed baru saja mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada awal Mei lalu. Kenaikan suku bunga tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Startup, Fintech & Sustainabilitas

15 Jun 2022

Startup digital yang booming selama pandemi Covid-19, kini mulai mengalami perlambatan, ditandai dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), baik startup domestik maupun global. Perlambatan ini tentu dikhawatirkan berdampak pada sustainabilitas keuangan pelaku startup. Kondisi ini jangan sampai merambat pada startup sektor keuangan (fintech). Sustainabilitas keuangan fintech jadi hal yang krusial, karena dapat berdampak langsung bagi masyarakat dan kepercayaan atas sistem keuangan. Belum lama kita dikagetkan dengan banyaknya kabar PHK beberapa startup lokal terkemuka seperti Zenius, JD.ID, hingga TaniHub. Fenomena PHK tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Pengurangan pegawai di Netflix, Booking.com, dan Airbnb jadi beberapa contoh relevan. Angka PHK startup yang mencapai sekitar 16.000 pegawai, bahkan menjadi yang terburuk sejak Juni 2020. Ini menjadi kabar yang sangat mengejutkan, karena saat berbagai sektor ekonomi mengalami kemunduran pada masa pandemi Covid-19, startup khususnya di sektor teknologi justru terus tumbuh dan menerima rangkaian seri pendanaan yang cukup masif. Saham teknologi mencapai all time high, beberapa startup teknologi memulai IPO di pasar saham, dan modal ventura menyalurkan rangkaian pendanaan yang sangat tinggi, dengan anggapan bahwa pandemi telah mengakselerasi adopsi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Krisis Energi, Dollar AS, dan Resesi

14 Jun 2022

Bank Dunia dalam Global Economic Prospects yang diluncurkan 7 Juni 2022 memperingatkan prospek resesi dunia  dibarengi dengan inflasi yang tinggi (stagflasi) sebagai akibat konflik Rusia-Ukraina. Bank Dunia memangkas ramalan pertumbuhan global dari 4,1 % ke 2,9 %. Angka ini diprediksi akan tetap bertahan pada dua tahun mendatang karena perang di Ukraina mengakibatkan disrupsi arus investasi serta perdagangan internasional, khususnya pangan dan energi. Prospek resesi dunia terjadi karena AS yang merupakan lokomotif dunia mencatat pertumbuhan negatif 1,5 % pada triwulan I-2022, sementara inflasi mencapai 8,6 % pada Mei. Adapun pertumbuhan zona Euro mencapai 0,2 % pada triwulan I-2022, turun dari 0,3 % pada triwulan sebelumnya.

Satu hal yang membesarkan hati, dengan bauran kebijakan memadai, negara-negara dengan populasi besar dan mempunyai perekonomian yang terdiversifikasi ke sektor pertanian, manufaktur, jasa-jasa, serta memiliki produk ekspor tampaknya mempunyai peluang lebih baik dalam menghadapi resesi. Misalnya, China yang baru saja melakukan relaksasi lockdown untuk kota Shanghai. Pertumbuhannya pada triwulan I-2022 melebihi ekspektasi, yakni 4,8 %, melebihi perkiraan semula sebesar 4,4 % secara tahunan.

Minggu lalu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai 122 USD per barel walau kemudian turun kembali ke kisaran 120 USD. Sedikit penghibur, harga gandum, yang melonjak mendekati 12,7 USD per gantang setelah India melarang ekspor gandum, turun signifikan meski tetap tinggi pada 10,5 USD per gantang. Penurunan harga terjadi  karena berita panen berlimpah di Australia. Bagi Indonesia, rancangan kebijakan yang diperlukan mungkin tidak akan sama seperti tahun 2020-2021 saat Covid-19 merajalela dengan alokasi masif untuk sektor kesehatan dan menjaga daya beli kelompok rentan. Salah satu strategi baru ialah memanfaatkan daya beli kelas menengah yang ingin mencari suasana baru setelah terkungkung selama dua tahun akibat pandemi. (Yoga)


Unjuk Rasa Sopir Truk Mendisrupsi Industri Korsel

14 Jun 2022

Sudah seminggu ribuan sopir truk di Korsel mogok kerja dan berunjuk rasa menuntut adanya jaminan upah minimum di tengah terus naiknya harga bahan bakar minyak. Unjuk rasa itu mengakibatkan disrupsi besar-besaran pada angkutan kargo dan produksi di sejumlah sektor industri. Pejabat setempat, Senin (13/6) menyebut unjuk rasa telah menyebabkan kerugian hingga 1,6 triliun won atau Rp 18,2 triliun. Jika terus berlangsung dalam waktu lebih lama, unjuk rasa para sopir truk di Korsel tersebut bisa memperburuk rantai pasok global yang saat ini sudah terganggu oleh perang Ukraina-Rusia dan penanganan pandemi di China. Dampak unjuk rasa sejauh ini secara umum masih terbatas pada industri domestik Korsel. Kementerian Transportasi Korsel memperkirakan 7.050 pengemudi truk atau 32 % anggota asosiasi ambil bagian dalam aksi mogok dan unjuk rasa tersebut. Unjuk rasa Senin kemarin berlangsung di 14 lokasi di seluruh wilayah Korsel.

Hingga Minggu (12/6), sudah empat kali perundingan digelar antara sopir truk dan pejabat Pemerintah Korsel. Namun, belum ada kesepakatan. Senin (13/6), Serikat Solidaritas Sopir Truk Kargo mempertimbangkan untuk memblokade pengiriman batubara ke pembangkit listrik jika pemerintah masih menolak tuntutan mereka. Selain itu, mereka juga mengancam akan menutup kompleks petrokimia dengan memblokade pengiriman barang ke dalam dan ke luar dari kompleks tersebut. ”Kami memikirkan untuk memblokade total,” ujar Kim Jae-gwang, ketua asosiasi sopir truk kargo itu, kepada kantor berita Reuters. (Yoga)


RI Percepat Ekspor, Harga Sawit Turun

14 Jun 2022

Program Percepatan Ekspor CPO dan Sejumlah Produk Turunannya sudah mencapai 3,41 juta ton. Jorjoran ekspor ini dinilai memengaruhi harga CPO global dan justru menahan kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani. Harga CPO global di Bursa Derivatif Malaysia per Senin (13/6/2022) mencapai 5.785 ringgit Malaysia per ton, turun 2,35 % secara harian dan 5,4 % secara bulanan serta naik 71,44 % secara tahunan. Trading Economics menyebutkan, harga CPO itu anjlok di bawah 6.000 ringgit Malaysia per ton sejak Indonesia mengumumkan skema percepatan ekspor CPO dan sejumlah produk turunannya. Total tarif (bea keluar dan pungutan) ekspor Indonesia juga turun dari 575 USD per ton menjadi 488 USD per ton.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, Senin, mengatakan, ada 41 perusahaan CPO dan 22 perusahaan used cooking oil (UCO) yang mengikuti program percepatan ekspor. Total CPO dan produk turunannya yang akan diekspor mencapai 2,25 juta ton. Perusahaan-perusahaan itu tidak mengikuti program Subsidi Minyak Goreng Curah. Sementara perusahaan peserta program mendapatkan tambahan kuota ekspor lima kali lipat dari pemenuhan kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO). Mereka akan mengekspor 1,73 juta ton. ”Jadi, akan ada percepatan ekspor CPO dan produk turunannya dengan volume total 3,41 juta ton,” ujar Oke. Program percepatan itu bertujuan mengosongkan (flush out) tangki-tangki CPO yang penuh selama larangan ekspor berlangsung agar serapan dan harga tandan buah segar (TBS) sawit di petani naik.

Sejak program percepatan ekspor digulirkan, harga TBS sawit petani swadaya di hampir seluruh daerah di Indonesia kembali turun sekitar Rp 100 per kg-Rp 710 per kg, di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah provinsi. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mencatat, harga TBS di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, per 13 Juni 2022 sebesar Rp 1.500 per kg, turun Rp 710 per kg dibandingkan dengan harga per 1 Juni 2022 atau sepekan setelah larangan ekspor  dicabut yang mencapai Rp 2.100 per kg. Harga itu di bawah harga acuan provinsi, yakni Rp 2.472 per kg. Menurut Sekjen SPKS Mansuetus Darto, penurunan harga TBS sawit petani juga dipengaruhi program percepatan ekspor CPO dan produk turunannya. Ketika pasar global digerojok dengan hampir 3 juta ton komoditas tersebut, harga CPO global pasti turun. (Yoga)