Berkelit Dari Restriksi Dagang
Pemerintah perlu menyiapkan strategi khusus guna menjaga neraca perdagangan domestik tetap positif, di tengah ancaman krisis pangan dan energi, yang memicu lonjakan inflasi global. Strategi menjaga neraca dagang perlu disiapkan sejak dini setelah ada perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama Indonesia seperti India, China, Amerika Serikat, Thailand dan Korea Selatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelima mitra dagang utama itu mengalami tekanan atau penurunan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2022 sebagai dampak krisis pangan dan energi. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan beratnya kondisi ekonomi mitra dagang itu masih ditambah kebijakan pembatasan ekspor di berbagai negara yang berlaku sepanjang Mei 2022. Setidaknya, ada lima negara yang melakukan kebijakan restriksi ekspor yang berdampak terganggunya pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia.
Beruntungnya, neraca dagang Indonesia pada Mei 2022 masih surplus US$2,9 miliar kendati jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar US$7,56 miliar. Sebaliknya, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2022 yang mencapai US$21,51 miliar tetap naik 27% dibandingkan dengan ekspor bulan yang sama 2021. Presiden Joko Widodo sebelumnya, (10/6), meminta kemandirian pangan harus menjadi prioritas di tengah krisis dan pembatasan ekspor pangan sejumlah negara. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menilai perlu ada konsistensi terhadap kemandirian pangan untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap positif di tengah situasi saat ini.Tags :
#Neraca PerdaganganPostingan Terkait
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023