Ekonomi
( 40789 )Gandeng Hyundai Engineering, ADCP Pacu Hunian Terintegrasi
Emiten properti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) terus menggeber ekspansi bisnis di sisa tahun ini. Yang terbaru, ADCP menjalin kerjasama pengembangan lahan dengan perusahaan asal Korea Selatan, yakni Hyundai Engineering Co Ltd.
Dalam keterbukaan informasinya ke Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/9), manajemen ADCP menjelaskan, pihaknya telah menerima kunjungan Hyundai untuk melihat beberapa lokasi pengembangan lahan proyek yang dimiliki.
"Kunjungan ini dapat memberikan gambaran lebih nyata dan mendorong percepatan rencana kerjasama ADCP dan Hyundai Engineering," ungkap R Adi Sampurno,
Corporate Secretary
Adhi Commuter Properti.
Tarif Cukai Bikin Pudar Emiten Rokok
Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih akan tertekan di sepanjang tahun ini. Analis melihat kenaikan cukai rokok menjadi katalis pelemah kinerja HMSP.
Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora memperkirakan, prospek kinerja HMSP di tahun ini masih berat. Sebab, pemerintah memang berkomitmen untuk mengontrol produksi rokok. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, produksi rokok nasional selama delapan bulan turun 3,3%.
Sejatinya HMSP juga memiliki produk tembakau elektrik IQOS yang bermerek HEETS. Jumlah pengguna IQOS hingga akhir 2021 meningkat menjadi 65.000 anggota dari tahun 2020 sebanyak 30.000.
Gerai IQOS pun meningkat menjadi 78 gerai di akhir 2021 dari 14 gerai di tahun 2020. Sayangnya, kontribusi pendapatan tidak nampak dalam laporan keuangan HMSP.
KETAR-KETIR BANK DIGITAL
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan iming-iming bunga simpanan tinggi untuk menarik dana dari masyarakat. Belakangan tren tersebut perlahan berubah. Sejumlah pemain bank digital kini tak lagi melulu menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Jika ditelusuri, saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito di bank digital secara rerata berada di kisaran 3,5% sampai dengan 4%. Padahal sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini lebih memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi. Salah satunya adalah entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Lain halnya dengan PT Bank Jago Tbk. yang berupaya menurunkan rasio biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) dengan memacu fee based income. Direktur Kepatuhan Bank Jago Tjit Siat Fun menyatakan perseroan masih memerlukan waktu untuk mencapai skala ekonomis yang maksimal. Apalagi, sejak kuartal III/2022, bank dengan kode ARTO itu tidak mencatatkan kerugian.
Ketar Ketir Bank Digital
Kenaikan suku bunga acuan BI dan tingkat bunga penjaminan LPS bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan bunga simpanan tinggi untuk menarik dana masyarakat. Belakangan tren tersebut berubah. Sejumlah bank digital tak lagi menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito bank digital berada di kisaran 3,5% sampai 4%, sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi.
Salah satunya entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Bank Raya, lanjutnya, mengoptimalkan pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) yang ditunjang dengan program menarik serta suku bunga yang bersaing. “Strategi Bank Raya untuk meningkatkan CASA adalah dengan mengoptimalkan program marketing secara digital dan direct dengan pendekatan O2O [online to offl ine] melalui community branch,” kata Akhmad kepada Bisnis, Rabu (28/9). (Yoga)
Dorong pelaku usaha Bangkit, Dirut BRI Sunarso Dinobatkan Sebagai Tokoh Pembiayaan Dan Pemberdayaan UMKM
Dirut BRI Sunarso dinobatkan sebagai “Tokoh Pembiayaan dan Pemberdayaan
UMKM” dalam gelaran “Rakyat
Merdeka Award untuk Indonesia
Pulih dan Bangkit 2022”. Penghargaan tersebut tak terlepas dari peran
Sunarso sebagai ‘master mind’’ dari
konsistensi dan kesuksesan PT Bank
Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam
memberdayakan dan mengedukasi
pelaku usaha di segmen UMKM.
Atas pencapaian tersebut, Sunarso
mendedikasikan penghargaan tersebut untuk seluruh insan BRILiaN
(pekerja BRI). “Saya dedikasikan
penghargaan ini kepada Insan BRILiaN yang telah memberikan kontribusi
terbaiknya kepada BRI dan untuk Indonesia”, ungkapnya.
“Penghargaan ini juga saya persembahkan untuk seluruh nasabah
UMKM BRI yang menjadi tulang
punggung perekonomian Indonesia,”
tambah Sunarso.
Sunarso menegaskan bahwa
UMKM di Indonesia sangat membutuhkan edukasi secara konsisten
dan berkelanjutan dari pada advokasi.
“Oleh karenanya, BRI saat ini dan ke
depan akan semakin fokus untuk memberdayakan dan mengedukasi pelaku
usaha di segmen UMKM”, tegasnya. (Yoga)
OPTIMISME EKONOMI MENINGGI
Risiko konsumsi lesu akibat kenaikan inflasi yang dipicu penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), rupanya tak membuat optimisme terhadap ekonomi Indonesia mengendur. Sejumlah lembaga internasional malah menilai prospek ekonomi Indonesia pada tahun ini masih moncer. Asian Development Bank (ADB) misalnya, mengerek proyeksi ekonomi Indonesia dari 5% menjadi 5,4%, sedangkan World Bank mempertahankan ekspektasi pertumbuhan di dalam negeri pada posisi 5%. Pun dengan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dengan mantap menempatkan Indonesia pada posisi pertumbuhan 5%, sedangkan International Monetary Fund (IMF) 5,3%. Secara umum, lembaga-lembaga tersebut memandang Indonesia mampu mengelola krisis energi dengan baik melalui kebijakan penebalan subsidi dan perlindungan sosial, sehingga relatif mampu menjaga gerak inflasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan ada dua komponen yang mampu menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah risiko lonjakan inflasi, yakni investasi dan ekspor. “Kalau kita lihat sumber pertumbuhan dari ekspor, dari investasi, kita masih melihat adanya momentum kuartal III/2022,” katanya, Selasa (27/6). Menkeu meyakini, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 mencapai 5,6%—6% seiring dengan kinerja ekspor serta performa penanaman modal yang kian menanjak.
DAMPAK KEBIJAKAN BI : REI KHAWATIR PROPERTI TERTEKAN
Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia mengkhawatirkan laju kebangkitan industri properti tertahan pada tahun depan setelah Bank Indonesia menaikkan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,25%.
Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Hari Gani mengatakan industri properti kembali menghadapi ancaman penurunan kinerja akibat kondisi makroekonomi, padahal industri properti komersial pada tahun ini baru saja bangkit dari tekanan pandemi Covid-19.Untuk suku bunga deposit facility naik menjadi 3,5% dan suku bunga lending facility naik menjadi 5%. Pada Agustus, suku bunga BI naik untuk pertama kalinya sejak November 2018.“Kenaikan suku bunga ini tidak langsung menyebabkan kenaikan bunga KPR, perlu waktu sekitar 6 bulan. Kelihatannya dampaknya terasa mungkin di awal tahun depan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (27/9).
Berdasarkan paparan APBN Kita oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, ancaman resesi ekonomi makin kuat akibat pergolakan ekonomi global yang terjadi.
KAWASAN INDUSTRI : ASIA LIRIK KARIANGAU
Investor asal Malaysia dan Korea Selatan menyatakan ketertarikannya untuk menanamkan investasinya di Kawasan Industri Kariangau, Kota Balikpapan. Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Balikpapan Elok Selvia mengungkapkan untuk investor asal Malaysia bakal membangun pabrik roti di kawasan tersebut. “Perusahaan Malaysia akan bangun pabrik roti namanya Gardenia. Selain itu, ada dari Korea Selatan yang banyak difasilitasi DPMPTSP Provinsi serta Uni Eropa yang difasilitasi dari BKPM,” katanya, Selasa (27/9). Dia juga telah mempersilahkan para investor asing lainnya untuk berinvestasi di kawasan industri yang dikelola lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Balikpapan, yaitu Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Manuntung Sukses. Elok menjelaskan saat ini Kota Balikpapan memiliki Kawasan Peruntukan Industri Kariangau (KPIK) seluas 2.500 hektare, dimana di dalamnya ada Kawasan Industri Kariangau (KIK) seluas 124 hektare.
Simpanan Kalah Seksi, Nasabah Bank ke Lain Hati
Tren suku bunga rendah dalam dua tahun terakhir menyebabkan pamor produk perbankan memudar. Nasabah perbankan mengalihkan duit mereka dari produk perbankan yang berbunga rendah ke instrumen investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Gejala itu tampak dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melambat. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan, pertumbuhan DPK mencapai 7,77% secara tahunan atau year on year (yoy) per Agustus 2022. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2022 sebesar 8,59% yoy.
Belanja Pemerintah Ngadat, Roda Ekonomi Tersendat
Seperti yang sudah-sudah, belanja pemerintah tahun ini masih saja seret. Alhasil, laju roda ekonomi dalam negeri di kuartal III-2022 cenderung tersendat lantaran minimnya dorongan dari realisasi anggaran belanja pemerintah.
Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi belanja hingga Agustus 2022 hanya di kisaran Rp 1.657 triliun atau setara sekitar 53,3% dari total pagu yang dipatok dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98/2022. Beleid anggaran ini menetapkan belanja pemerintah tahun ini senilai Rp 3.106,4 triliun.
Angka itu juga hanya tumbuh 6,2% secara tahunan atau year on year (yoy). Secara terperinci, realisasi belanja pemerintah pusat hanya sekitar Rp 1.178,2 triliun atau setara 51,19% dari target. Nilai itu naik 8,3% secara tahunan.
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemkeu) Isa Rachmatarwata menyatakan, belanja pemerintah masih tersendat lantaran banyak kegiatan pemerintah pusat yang belum dibayarkan. "Banyak kegiatan yang sudah jalan tapi pembayarannya baru kuartal IV," kata Isa kepada KONTAN, Selasa (27/9).
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap melihat, belanja pemerintah belum bisa menopang pertumbuhan ekonomi. Sebab, selama dua kuartal berturut-turut, konsumsi pemerintah juga mencatat kontraksi. "Penopang pertumbuhan hanya konsumsi rumah tangga dan investasi," kata Abdul.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









