;
Kategori

Ekonomi

( 40789 )

Bertahan Saat Permintaan Tertekan

02 Nov 2022

Para pelaku industri persepatuan mulai kewalahan meredam dampak anjloknya permintaan ekspor yang diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama tahun depan. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, mengatakan permintaan produk garmen berorientasi ekspor ini turun hingga 50 % sejak Juli 2022. Konflik dagang dan politik di sejumlah negara pengimpor sepatu utama menjadi pemicunya. “Kami bertahan lewat efisiensi jumlah pekerja atau setidaknya lewat pengurangan arus produksi,” tuturnya kepada Tempo, kemarin.

Di tengah masa pemulihan ekonomi, permintaan produk tekstil, kulit, dan alas kaki menjadi salah satu yang paling moncer hingga pertengahan tahun ini. Nilai ekspor produk sepatu sempat melonjak dari US$ 659,4 juta pada Januari 2022 menjadi US$ 722,3 juta pada Mei lalu. Menurut Firman, permintaan ekspor pada Agustus 2022 masih tercatat tumbuh 36 % secara tahunan. Berdasarkan catatan Kemenperin, volume produksi produk alas kaki naik 33,42 % dari 793,8 juta pasang pada 2020 menjadi 1,05 miliar pasang pada 2021. Tanpa kejutan konflik global, volume produksi diprediksi akan naik hingga 1,2 miliar pasang per tahun.

Optimisme itu sontak suram akibat gejolak inflasi dan memanasnya konflik dagang di AS dan Cina, yang merupakan dua negara tujuan utama ekspor sepatu Indonesia. Pada periode Januari-Agustus 2022, nilai ekspor sepatu ke AS, tertinggi dibanding tujuan lain, mencapai US$ 1,892 miliar. Dalam jangka waktu serupa, nilai ekspor ke Cina berada di tempat ketiga senilai US$ 568 juta. “Permintaannya turun drastis. Yang permintaannya masih normal juga hanya bisa menghabiskan stok hingga akhir tahun,” ucap Firman. (Yoga)


Pendanaan Biru untuk Ekonomi Biru

02 Nov 2022

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menjelaskan, saat ini pemerintah berinisiatif mendorong perkembangan ekonomi biru di Indonesia. Salah satunya dengan meluncurkan Panduan Penyusunan Instrumen Pendanaan Biru (Blue Finance Instruments Development Guideline) untuk mendukung penguatan ekonomi dan mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs). "Pemerintah berinisiatif mendorong perkembangan perekonomian biru di Indonesia demi terciptanya perekonomian Indonesia yang tangguh serta berkelanjutan," ujar Suharso Monoarfa dalam acara Seminar Nasional Pendanaan Biru di Jakarta, kemarin, 1 November.

Menurut definisi Bank Dunia, ekonomi biru merupakan penggunaan sumber daya laut berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian dan lapangan kerja, serta menjaga kesehatan laut. Sementara itu, ekonomi biru berkelanjutan didefinisikan sebagai ekonomi yang memberikan manfaat ekonomi serta sosial bagi generasi sekarang dan mendatang. Suharso menilai konsep ekonomi biru dikembangkan untuk menjawab tantangan sistem ekonomi yang masih cenderung eksploitatif dan merusak lingkungan, di antaranya melebihi kapasitas atau daya dukung ekosistem. Dia menekankan bahwa inti ekonomi biru adalah pembangunan berkelanjutan, yang merupakan bagian sekaligus pengayaan dari ekonomi hijau dengan semboyan "Blue Sky – Blue Ocean". "Di mana ekonomi dapat bertumbuh, rakyat sejahtera, tapi langit dan laut tetap biru," kata Suharso. (Yoga)


Oktober Deflasi, Ekonomi Indonesia Terbukti Resilient

02 Nov 2022

Di tengah tekanan inflasi dan ancaman resesi global, ekonomi Indonesia terbukti cukup tangguh (resilient) seperti terlihat pada laju inflasi Oktober 2022 yang mengalami deflasi 0,11% (mtm) dan yoy 5,71%, di bawah perkiraan berbagai lembaga keuangan. Kenaikan harga BBM bersubsidi awal September tidak berdampak panjang. Harga pangan cukup terkendali berkat kerja sama otoritas fiskal dan moneter, pusat dan daerah, serta efektifnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Inflasi Oktober 2022, yoy, lebih rendah dari bulan sebelumnya, 5,95%. Sedang inflasi Januari-Oktober 2022, ytd, sebesar 4,73%. Tingkat inflasi komponen inti Oktober 2022, yoy, naik tipis ke 3,31%. Bulan sebelumnya, inflasi inti 3,21%. Inflasi kelompok pangan minus 0,25%. Harga pangan yang relatif stabil memberikan kontribusi besar terhadap inflasi Oktober. Ketahanan ekonomi Indonesia juga ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB yang tetap pesat ketika negara-negara maju dilanda stagflasi. Tahun ini, perekonomian nasional diperkirakan tumbuh 5,3%, jauh lebih baik dari tahun lalu 3,69%.

Pada kuartal I dan II-2022, pertumbuhan ekonomi domestik masing-masing mencapai 5,01% dan 5,44%. Pada kuartal III dan IV, ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh konsisten di atas 5%. Dengan fundamental ekonomi yang cukup kokoh, Indonesia menatap tahun depan dengan optimisme sekalipun ekonomi global tengah menghadapi ancaman perfect storm yang merupakan gabungan antara hiper inflasi, resesi, dan krisis geopolitik. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,3%. Agar perfect storm tak berimbas ke Indonesia, pemerintah harus terus menjaga inflasi tetap rendah, terutama inflasi pangan dan energi. Selain itu, pemerintah harus mengaktifkan dan meningkatkan kapasitas mesin-mesin pertumbuhan ekonomi, tidak hanya dari konsumsi semata. Hal itu diungkapkan Wamenkeu Suahasil Nazara, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) Yusuf Wibisono, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, serta Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, saat mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Selasa (1/11). (Yoga)


KUARTAL KRUSIAL EKONOMI RI

01 Nov 2022

Upaya ekstra bakal dibutuhkan untuk memompa pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal terakhir tahun ini. Alasannya, selain arah tak pasti ekonomi global, inflasi di dalam negeri juga diprediksi bakal kembali meninggi. Konsensus ekonom Bloomberg yang dihimpun Senin (31/10), bahkan mengestimasi inflasi di Indonesia pada Oktober 2022 bakal menembus 6% (year-on-year/YoY). Terakhir kali, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi September sebesar 5,95% YoY, lebih tinggi ketimbang inflasi Agustus 4,69% (YoY). BPS akan merilis data inflasi Oktober 2022 pada hari ini, Selasa (1/11). Risiko kenaikan inflasi itu tak lepas dari penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 3 September lalu. Sejumlah kalangan memperkirakan bahwa inflasi amat mungkin naik lagi pada kuartal IV/2022. Ramalan itu mungkin tak keliru. Secara historis BPS mencatat dampak dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi lazim terjadi pada bulan kedua sejak kebijakan tak populis itu diberlakukan. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, mengatakan penggunaan instrumen moneter akan terus digencarkan kendati harus mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Menurutnya, mengingat adanya darurat inflasi risiko tergerusnya ekonomi pada tahun ini bukanlah prioritas utama. Sebab, perekonomian akan tidak sehat apabila tingkat inflasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi.

KRISIS CIP : Industri IoT Butuh 41 Juta Semikonduktor

01 Nov 2022

Industri internet of things atau IoT dalam negeri membutuhkan setidaknya 41 juta unit cip semikonduktor sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut 11% lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu.Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (Asioti) Teguh Prasetya menjelaskan bahwa 41 juta unit cip semikonduktor yang dibutuhkan industri IoT akan digunakan untuk ponsel pintar sebanyak 30 juta unit, perangkat smart home 10 juta unit, serta smart building dan smart industry 1 juta unit.Peningkatan kebutuhan cip semikonduktor di industri IoT didorong oleh kenaikan permintaan pada tiap subsektor tersebut. Bahkan, permintaan konsumen terhadap perangkat ponsel pintar di Tanah Air diperkirakan tumbuh sekitar 8% pada tahun ini.Sementara itu, permintaan untuk perangkat smart home seperti CCTV masih sesuai dengan tren pertumbuhan, yakni 10 juta per tahun. Mengutip WSTS, penjualan cip semikonduktor diperkirakan naik secara menyeluruh di pasar global. Penjualan di kawasan Asia Pasifik sendiri diperkirakan naik 10,5% secara tahunan. Sementara itu, kawasan Benua Amerika dan Jepang 14,2%, serta Eropa 14%.

Grup Salim Tancap Gas Membesarkan Bisnis Otomotif

01 Nov 2022

Hasrat ekspansi Grup Salim terus menggebu-gebu. Deretan aksi korporasi tak henti dibentangkan. Kali ini lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS). Perusahaan yang merupakan sayap bisnis otomotif Grup Salim ini siap tancap gas. Lihat saja, dalam sebulan terakhir, Indomobil terus menggelar aksi korporasi. Pertama, menggandeng Citroen, pabrikan mobil asal Prancis, untuk memasarkan dan mendistribusikan mobil tersebut di Indonesia. Kedua, IMAS menggaet investor asal Amerika Serikat dan Jepang untuk memperbesar bisnis penyewaan kendaraan. Terakhir, kabar di pasar yang menyebutkan, Indomobil dalam pembicaraan untuk mengakuisisi agen pemegang otomotif (APM) pabrikan asal Jerman, yaitu PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI). Bukan hanya akan memegang distribusi Mercy di Indonesia, Indomobil juga dikabarkan siap mengambil alih fasilitas perakitan di Wanaherang, Bogor.

Devisa Ekspor Belum Bisa Sokong Rupiah

01 Nov 2022

Eksportir ternyata telah memarkir devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan dalam negeri. Namun, masuknya devisa ekspor ini belum mampu membuat nilai rupiah menguat. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, dari total ekspor periode Januari 2022 hingga Juli 2022 yang mencapai US$ 166,70 miliar, sebanyak 93,5% di antaranya atau sekitar US$ 155 miliar telah masuk ke dalam negeri. Namun, ia juga menegaskan, sebagian besar atau sekitar 50% DHE yang masuk tersebut sudah dikonversi ke dalam rupiah. Khusus DHE sumber daya alam (SDA), sudah sekitar 92,6% yang masuk ke dalam negeri, dan sekitar 5,1% masih diparkir para eksportir di bank luar negeri. Meski Indonesia punya pasokan valas dari para eksportir, namun hal itu belum mampu memperkuat otot rupiah. Berdasarkan data BI pula, nilai tukar rupiah telah melemah hingga 8,03% sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, masih ada beberapa momentum yang membutuhkan valas, dan bahkan mengurangi pasokan valas.

BI Ramal Harga Migas ke Depan Makin Mahal

01 Nov 2022

Bank Indonesia (BI) melihat harga energi dalam beberapa bulan ke depan makin mahal, terutama harga minyak dan gas (migas). Selain pangan, lonjakan harga migas ini akan mendorong inflasi di banyak negara. Kondisi ini bakal menambah ketidakpastian ekonomi global. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan, beberapa negera seperti Eropa akan menghadapi musim dingin. Padahal, saat ini, pasokan gas masih dibatasi oleh Rusia. "Kita akan melihat potensi harga energi, minyak dan gas akan naik dalam bulan-bulan ke depan," kata Dody, Senin (31/10).

BUKA Mencetak Laba Bersih Rp 3,62 Triliun

01 Nov 2022

PT Bukalapak.com Tbk mencatatkan perbaikan kinerja pada September 2022. Emiten berkode saham BUKA ini mengantongi pendapatan bersih segede Rp 2,58 triliun dengan laba bersih Rp 3,62 triliun. Merujuk laporan keuangan, penjualan bersih BUKA naik 92,14% secara tahunan dari Rp 1,34 triliun. Perinciannya, pendapatan mitra naik 191,07% secara tahunan menjadi Rp 1,44 triliun. Lalu, segmen marketplace naik 191,07% menjadi Rp 1,03 triliun dan segmen Buka Pengadaan naik 52,93% jadi Rp 107,92 miliar. Kenaikan pendapatan bersih ini diiringi oleh kenaikan beban pokok pendapatan yang melejit 770,11% secara tahunan menjadi Rp 1,81 triliun.

Saham Jagoan Pelawan Inflasi & Bunga Tinggi

31 Oct 2022

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali diuji kekuatannya. Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati dua momen penting terkait indikator makro ekonomi, yang akan menentukan arah IHSG ke depan. Pertama, pengumuman data inflasi Indonesia periode Oktober 2022. Kedua, pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau rapat dewan gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Hasil konsensus pasar, inflasi Indonesia masih akan berada di kisaran 6% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi tahunan di periode September 2022 yang tercatat masih di level 5,95%. Sejumlah indeks sektoral pun masih ada yang bertengger di zona merah. Dari 11 indeks sektoral yang ada di BEI, lima di antaranya masih mencatat kinerja negatif sejak awal tahun. Penurunan terbesar diduduki indeks sektor teknologi dan properti yang masing-masing anjlok 27,78% dan 10,61%.  Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya ssepakat, kinerja saham konsumer masih prospektif karena pada 2023 seiring ada pemilihan umum. Untuk itu, Cheril menjagokan saham MYOR dan UNVR untuk dikoleksi. Sedangkan Lukman merekomendasikan buy on weakness saham ICBP dengan target harga Rp 10.400, buy INDF dengan target harga Rp 6.800, buy on breakout MYOR dengan target Rp 2.460, dan buy on weakness UNVR dengan target harga Rp 6.000. Sementara Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memilih saham perbankan sebagai jagoannya. Dia merekomendasikan buy saham emiten bank BUKU IV, yakni BBCA, BMRI, BBNI dan BBRI.