Ekonomi
( 40789 )Bankir Mewaspadai Likuiditas Valuta Asing
Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed dikabarkan membuat likuiditas valuta asing (valas) perbankan mengetat. Bahkan, ada kabar perbankan mulai menghentikan penyaluran kredit dalam bentuk valas.
Namun, bank-bank besar menepis isu ini dan menyatakan masih memiliki likuiditas valas memadai. Sebab, penyaluran kredit menggunakan valas bukanlah inti bisnis bank namun sebagai pelengkap layanan saja.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit valas perbankan tumbuh 16,71% yoy menjadi Rp 932,61 triliun per Agustus 2022. Sedangkan secara total, kredit perbankan tumbuh 10,3% yoy menjadi Rp 6,160,0 triliun.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan penyaluran kredit valas masih tumbuh terjaga hingga dobel digit per September 2022. Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto menyatakan, permintaan kredit terbesar di sektor agribisnis, infrastruktur, transportasi, minyak dan gas, serta energi dan pertambangan. "Komposisinya mencapai 66,17% dari total kredit valas BRI,” ujar Aestika kepada KONTAN Jumat (4/11).
Bank Mandiri menyalurankan kredit valas tumbuh 15,55% year to date (ytd). Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha menyatakan, DPK valas tumbuh 12% ytd per September 2022.
PERFORMA PRIMA EKONOMI RI
Soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2022, sejumlah kalangan enggan mengendurkan optimisme. Bahkan, laju ekonomi pada kuartal III/2022 diestimasi terus mendaki melampaui realisasi kuartal II/2022 yang sebesar 5,44% (year-on-year/YoY). Alasannya, kinerja investasi belakangan terus menanjak. Performa ekspor juga tak kalah gemilang. Kekhawatiran mengenai melambatnya konsumsi akibat penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pun perlahan terkikis. Tangguhnya konsumsi terefleksi dalam data inflasi yang menunjukkan penurunan pada bulan kedua tarif BBM baru yang menandai masih kuatnya daya beli masyarakat. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada rentang 5,5%—5,7%. Pun dengan estimasi ekonom yang masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah itu. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan soliditas ekonomi pada kuartal III/2022 menjadi amunisi bagi pemerintah untuk menghadapi kuartal IV/2022. Sri Mulyani menuturkan, mayoritas indikator ekonomi pada kuartal III/2022 berada pada teritorial positif. Pertama, menurunnya scarring effect pandemi Covid-19 seiring dengan pelonggaran mobilitas masyarakat. Kedua, konsumsi dan dunia bisnis yang makin menggeliat, tecermin dari kinerja perpajakan yang telah melampaui realisasi sepanjang 2021. Ketiga, aktivitas investasi dan ekspor sebagai sektor utama penopang produk domestik bruto (PDB) juga mencatatkan performa yang cukup ciamik.
VISI TOP 10 GLOBAL ISLAMIC BANK Wapres : Saatnya BSI Mengarungi Samudra
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) didorong agar dapat mengembangkan layanannya lebih dalam di luar negeri dan tumbuh lebih cepat hingga menjadi Top 10 Global Islamic Bank. Hal itu disampaikan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin saat meninjau Kantor Perwakilan BSI di Gate District 3, DIFC, Sheikh Zayed Road, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) akhir pekan lalu. Ma’ruf juga berharap agar BSI dapat menjadikan Indonesia sebagai kiblat industri syariah dan ekosistem halal dunia.
Menurutnya, hubungan baik yang terjalin antara Indonesia dan UEA dapat menjadi batu loncatan bagi BSI untuk terus mengembangkan bisnis, khususnya di area Timur Tengah dan Afrika Utara. Apalagi Indonesia dan UEA sudah memiliki perjanjian kerjasama United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE–CEPA).Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan BSI sangat berterimakasih atas dukungan penuh pemerintah kepada perseroan dalam mewujudkan visi menjadi Top 10 Islamic Bank 2025.
Prospek Landai Emiten Rokok
Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau rata-rata 10% pada 2023 dan 2024 bakal kian menekan kinerja laba emiten rokok. Tahun ini saja, laba sejumlah produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah anjlok lebih dari 30% secara agregat. Seperti diketahui, usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan keputusan presiden untuk menaikkan tarif rata-rata tertimbang cukai hasil tembakau. Penaikan tarif cukai pun ditetapkan berbeda untuk setiap golongan rokok. Tarif cukai untuk sigaret kretek mesin I dan II naik rata-rata antara 11,5%—11,75%. Adapun, tarif cukai untuk sigaret putih mesin I dan II naik sekitar 11%, serta sigaret kretek tangan rata-rata naik hingga 5%. Terlebih, kinerja emiten rokok tahun ini pun tengah melesu. Hingga kuartal III/2022, dua raksasa emiten rokok yakni PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. mencatatkan penurunan laba yang relatif tajam. Dalam laporan keuangan perusahaan, laba bersih HMSP tercatat senilai Rp4,9 triliun per 30 September 2022 atau anjlok 11,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,5 triliun. Sementara itu, nasib yang lebih buruk melanda GGRM. Produsen rokok yang berbasis di Kediri Jawa Timur itu membukukan penurunan laba bersih sampai dengan 63,77% hingga kuartal ketiga tahun ini. Laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp1,49 triliun, padahal tahun lalu di periode yang sama mampu menghimpun Rp4,13 triliun.
ULASAN SEKTORAL : EMITEN KESEHATAN JAGA ‘KEBUGARAN’
Sejumlah emiten sektor kesehatan mampu mengamankan laba bersih lebih tinggi pada 9 bulan 2022 dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi Covid-19. Inovasi produk, perluasan jaringan distribusi, pengendalian biaya, dan ruang penyesuaian harga menjadi siasat untuk menjaga tingkat margin keuntungan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan dari 12 emiten kesehatan yang telah menyampaikan laporan keuangan per September 2022 mengalami penurunan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Bahkan, dua emiten tercatat berbalik rugi. Meski begitu, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) menjadi dua perusahaan sektor kesehatan yang masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba dalam 9 bulan 2022. Bahkan, laba bersih KLBF konsisten bertumbuh sejak periode yang sama 2019. Chief Financial Officer Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata memaparkan pertumbuhan pendapatan dan laba tak terlepas dari langkah perseroan terus memperhatikan pentingnya pengelolaan atas peningkatan biaya bahan baku melalui kebijakan kenaikan harga, pengelolaan portofolio, dan pengelolaan efisiensi biaya operasional. Pada 2022, KLBF mempertahankan target penjualan dan laba bersih tumbuh sekitar 11% hingga 15%.
Kendati mayoritas emiten mengalami koreksi secara tahunan, sebagian besar masih mampu mencetak keuntungan yang lebih tinggi dari 9 bulan 2019 atau prapandemi. Beberapa di antaranya, ialah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) Rp245,52 miliar pada 9 bulan 2022 dari Rp210,05 miliar pada 9 bulan 2019. Selain HEAL, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga mengelola rumah sakit membukukan laba bersih Rp744,18 miliar pada 9 bulan 2022 atau lebih tinggi dari realisasi laba bersih Rp531,79 miliar pada 9 bulan 2019. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan saat ini pergerakan saham sektor rumah sakit memang terkoreksi. Hal ini berbanding terbalik dari tahun lalu saat lonjakan pandemi dengan kapasitas rumah sakit yang masih lebih terbatas dibanding sekarang.
PHK Massal Dipertanyakan
Kabar mengenai PHK massal di industry padat karya akhir-akhir ini kencang berembus. Kendati tetap mewaspadai potensi tekanan yang muncul di sektor riil, pemerintah mempertanyakan keputusan perusahaan melakukan PHK di tengah kondisi industri yang sebenarnya sedang tumbuh pesat. Pantauan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu (BKF Kemenkeu) terhadap kinerja ekspor dan keuangan sejumlah perusahaan yang melantai di bursa saham menunjukkan, kondisi industri baik-baik saja, bahkan masih bisa tumbuh pesat di tengah gejolak ekonomi global. Selama Januari-Agustus 2022, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) secara tahunan masih tumbuh 20,21 persen. Laju ekspor memang menurun untuk dua produk TPT, yaitu kain (-2,5 %) dan berbagai produk tekstil (-5,76 %). Namun, produk TPT lainnya meningkat, bahkan tumbuh hingga dua digit. Dari kinerja keuangan, pendapatan penjualan industri tekstil terpantau tumbuh di atas 10 %, lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur yang pertumbuhan penjualannya 5 %.
”Jadi, ini sebenarnya agak membingungkan kalau sampai terjadi PHK,” kata Plt Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF Kemenkeu Abdurohman akhir pekan lalu di Bogor, Jabar. Ia mengatakan, selain industri tekstil, kondisi sektor manufaktur secara umum juga masih baik-baik saja. Ada dua indikator yang dipakai untuk menakar kondisi perusahaan. Pertama, pendapatan perusahaan. Kedua, interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan perusahaan membayar suku bunga pinjaman dengan menggunakan laba yang dihasilkan. Pemerintah tetap akan mengantisipasi dan mencermati potensi rambatan risiko global yang mulai berdampak pada PHK di sejumlah sector padat karya, seperti disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV, Kamis (3/11). (Yoga)
Selamat Datang Generasi Alfa
Belum selesai membahas generasi Y dan Z, kita sudah harus mengamati kehadiran generasi Alfa. Mereka tentu belum masuk ke dunia kerja karena lahir antara 2011 dan 2025. Namun, sudah mulai masuk ke pasar sebagai konsumen. Mark McCrindle, pendiri perusahaan konsultasi tentang generasi di Australia bernama McCrindle, mendefinisikan generasi Alfa sebagai generasi yang paling berlimpah materi, paling paham teknologi yang pernah ada, dan menikmati usia hidup yang lebih lama daripada generasi sebelumnya. Tambahan lain, mereka akan mengenyam pendidikan lebih lama, mulai mendapatkan penghasilan bertahun-tahun kemudian, dan tinggal di rumah bersama orangtua lebih lama daripada generasi Y dan Z. Kemungkinan besar generasi ini akan tinggal di rumah hingga akhir usia 20-an.
Meski ada perdebatan soal kriteria itu, kita melihat kenyataan bahwa generasi ini sejak lahir sudah mengenal perangkat teknologi digital, terbiasa mengakses internet serta terpapar berbagai kultur, nilai, dan budaya. Mereka merupakan pasar masa depan dunia bisnis. Menurut Direktur Pemasaran MarketerHire Tracey Wallace dalam salah satu tulisannya, jutaan anggota generasi Alfa akan lahir, sementara generasi mereka sudah berjumlah 2,2 miliar pada 2024. Saat ini mereka adalah kelompok di bawah usia 12 tahun yang pada 2030 akan menjadi 11 % angkatan kerja. Untuk itu, pemilik merek perlu paham siapa generasi Alfa. Semua ciri yang melekat jadi bahan prediksi tentang bagaimana kelompok ini akan berbelanja, bekerja, dan lain- lain. Pengeluaran orangtua tak sedikit didorong oleh keinginan anak. Dalam konteks ini, generasi Alfa akan menjadi salah satu faktor penentu pengeluaran rumah tangga. Merek perlu kreatif membuat dan memasarkan produk dengan mengingat karakter mereka. (Yoga)
Ironi Swasembada Gula
Berharap dapat meniru cara Brasil mengolah tebu menjadi gula dan bioetanol, pemerintah menyiapkan regulasi tentang percepatan swasembada gula dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati. Namun, urgensinya menuai diskusi publik. Sebab, selama ini Indonesia kepayahan mengejar target swasembada dan menjadi pengimpor gula dalam jumlah yang tidak sedikit. Regulasi itu akan dituangkan dalam Perpres tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Selain menjamin ketahanan pangan, target swasembada gula itu untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan bahan penolong industri, mendorong perbaikan kesejahteraan petani tebu, dan meningkatkan ketahanan energi. Kendati telah berulang menjadi ambisi pemerintah, bahkan sejak tahun 1970-an, target swasembada gula belum benar-benar terwujud. Pada 2002, misalnya, pemerintah mencanangkan swasembada gula pada tahun 2007, lalu diundur jadi 2008, kemudian direvisi jadi 2009 dan hanya untuk gula konsumsi masyarakat, tak termasuk gula untuk industri. Selama kurun 2010-2020, target mengejar swasembada gula belum reda. Namun, upaya mewujudkannya tidak semudah mengalkulasi produksi di atas kertas. Kini, mimpi itu muncul lagi.
Menurut pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, Brasil dapat menerapkan kebijakan itu karena penentuan porsi untuk bioetanol dan gula bergantung pada harga kedua komoditas tersebut di pasar internasional. ”Dampaknya, nilai ekonominya dapat optimal,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (4/11). Artikel Layanan Riset Ekonomi Departemen Pertanian AS (USDA) mencatat, pada periode 2017/2018, harga gula di pasar dunia anjlok. Guna menyiasati pendapatan yang turun dari produksi dan ekspor gula, Brasil meningkatkan produksi etanol dari tebu. Pada periode berikutnya, Brasil hanya mengolah sepertiga tebu di wilayah tengah-selatan untuk gula, sedangkan sisanya untuk etanol. Di Indonesia, Khudori mempertanyakan minat masyarakat dalam menggunakan bioetanol. Agar kontinuitas penggunaannya terjaga, pemerintah mesti menjaga harganya agar kompetitif atau lebih murah jika dibandingkan bahan bakar konvensional yang fluktuaktif di pasar global. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mencurigai rancangan perpres tersebut memberikan keleluasaan untuk mengimpor gula. ”Prosesnya (penyusunan rancangan perpres) yang terburu-buru menimbulkan dugaan adanya kepentingan yang tidak ditampakkan,” katanya. (Yoga)
Semarak Malam yang Mengungkit Perekonomian Borobudur
Di Jalan Medang Kamulan, tak jauh dari Candi Borobudur, belasan orang duduk berdekatan di atas tikar-tikar dekat gerobak angkringan. Sambil bercengkerama dengan teman atau keluarga, mereka meneguk minuman hangat serta menyantap camilan. ”Sedang gerimis dan dingin begini, enak makan sate usus dan minum jahe hangat,” kata Tika (34), warga Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Jateng. Malam itu, Tika datang bersama suami dan anaknya. Kawasan Borobudur menjadi tempat yang belakangan kerap dipilih keluarga Tika untuk menghabiskan malam. Sekitar pukul 20.00, gerimis mulai berhenti. Lalu lalang orang dan kendaraan makin ramai. Pembeli angkringan yang tadinya hanya belasan bertambah menjadi puluhan orang sehingga tikar-tikar penuh. Suasana semarak di kawasan Borobudur malam itu berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu. Pada bulan yang sama tahun 2019, misalnya, hampir tidak ada warung makan yang buka di atas pukul 20.00 karena jarang ada warga yang beraktivitas di luar rumah saat malam hari.
Helmi (23), warga Kabupaten Temanggung, Jateng, yang kerap berkunjung ke kawasan Borobudur, mengakui ada perubahan itu. ”Dulu, kalau malam itu sepi. Saya dan teman-teman kalua mau kumpul-kumpul sambal makan dan minum paling di angkringan. Sekarang jauh lebih enak, sudah ramai, banyak kafe baru. Kumpul-kumpul lebih nyaman,” tutur Helmi yang beberapa kali berkunjung ke Borobudur bersama komunitas motor trail. Perubahan yang terjadi di kawasan Borobudur disyukuri masyarakat setempat, termasuk pelaku usaha kecil, seperti Mimin (52). Warga Desa Borobudur yang juga pemilik usaha angkringan itu kecipratan untung dari keramaian malam hari di kawasan Borobudur. Mimin baru satu setengah tahun terakhir membuka usaha angkringan yang beroperasi mulai pukul 17.00 hingga pukul 04.00. Pada hari biasa, ia mendapat keuntungan Rp 100.000 per malam. Pada akhir pekan, keuntungan mencapai Rp 500.000 per malam. (Yoga)
G20 Fokus pada Aksi Konkret Bersama
Ketegangan geopolitik dunia membayangi kemungkinan dicapainya konsensus bersama dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nusa Dua, Bali. Meski demikian, sejumlah pihak tetap optimistis pertemuan itu menghasilkan langkah positif. Indonesia sebagai pemangku Presidensi G20 akan mengupayakan titik temu guna mencapai program-program konkret. Sejauh ini, setelah hampir satu tahun berdialog, para pemangku kepentingan di G20 berhasil mencatatkan sejumlah pencapaian. Jubi r Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (6/11) mengatakan, ada berbagai program konkret bidang kesehatan yang diusulkan untuk diresmikan dalam KTT G20, 15-16 November, antara lain, pembentukan penanaan pandemi dengan komitmen 1,4 miliar dollar AS dari 20 donor dan 3 filantrop. Usulan berikutnya, formalisasi mekanisme penggunaan dana pandemi. Pada pandemic Covid-19, distribusi dana-dana yang tersedia di tingkat global belum merata. Hal itu tampak dari kesenjangan akses vaksin Covid-19. Mekanisme yang digunakan akan merujuk pada mekanisme akselerator akses peralatan untuk Covid-19 (ACT-A).
Pendanaan dibentuk untuk menghilangkan kesenjangan antar negara sehingga bisa diakses setiap negara yang membutuhkan. Selama ini kesenjangan dalam kesiapsiagaan pandemi terhitung sebesar 10 miliar dollar AS. ”Kami berharap pendanaan ini dibentuk pada akhir masa presidensi G20 Indonesia dan dapat dioperasikan dibawah struktur tata kelola dengan pengawasan ketat. Pendanaan bermanfaat guna meningkatkan kapasitas global dalam pencegahan, persiapan, dan respons terhadap pandemi di masa mendatang,” ujar Nadia. Usulan lain ialah pembentukan jejaring penelitian dan manufaktur untuk vaksin, obat-obatan, dan alat diagnostik. Setidaknya tujuh negara sepakat membentuk jejaring itu. Usulan-usulan itu, menurut Nadia, terdokumentasi dalam chair summary. Selanjutnya, materi itu akan diperdalam melalui pertemuan G20 Joint Finance-Health Ministers Meeting sebelum KTT G20 berlangsung.
Dalam bidang ekonomi, Presidensi G20 Indonesia mencatat langkah positif. Jumat pekan lalu, dalam pertemuan di Bogor, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, berbagai kesepakatan dapat dicapai di level teknis kerja sama. Terkait isu krisis pangan, misalnya, anggota G20 mengumpulkan total dana komitmen 60,5 miliar dollar AS atau Rp 944,6 triliun. Dana ditujukan bagi program tanggap ketahanan pangan yang akan disalurkan melalui inisiatif kolaborasi global dan regional lewat bank pembangunan multilateral. Inisiatif itu, antara lain, program Food Security Response lewat Bank Dunia (30 miliar dollar AS), program Addressing Food Security lewat Bank Pembangunan Asia atau ADB (14 miliar dollar AS), dan Food Security Response lewat Bank Pembangunan Islam atau IsDB (10,5 miliar dollar AS). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









