Bankir Mewaspadai Likuiditas Valuta Asing
Kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed dikabarkan membuat likuiditas valuta asing (valas) perbankan mengetat. Bahkan, ada kabar perbankan mulai menghentikan penyaluran kredit dalam bentuk valas.
Namun, bank-bank besar menepis isu ini dan menyatakan masih memiliki likuiditas valas memadai. Sebab, penyaluran kredit menggunakan valas bukanlah inti bisnis bank namun sebagai pelengkap layanan saja.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit valas perbankan tumbuh 16,71% yoy menjadi Rp 932,61 triliun per Agustus 2022. Sedangkan secara total, kredit perbankan tumbuh 10,3% yoy menjadi Rp 6,160,0 triliun.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyatakan penyaluran kredit valas masih tumbuh terjaga hingga dobel digit per September 2022. Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto menyatakan, permintaan kredit terbesar di sektor agribisnis, infrastruktur, transportasi, minyak dan gas, serta energi dan pertambangan. "Komposisinya mencapai 66,17% dari total kredit valas BRI,” ujar Aestika kepada KONTAN Jumat (4/11).
Bank Mandiri menyalurankan kredit valas tumbuh 15,55% year to date (ytd). Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha menyatakan, DPK valas tumbuh 12% ytd per September 2022.
Tags :
#Valuta AsingPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023