;
Kategori

Ekonomi

( 40512 )

RENYAH KREASI OLAHAN EDAMAME JEMBER

02 Nov 2022

Edamame menjadi komoditas pertanian Kabupaten Jember, Jatim, yang mampu merambah pasar ekspor. Di pasar regional, produk olahan edamame berupa aneka kudapan renyah juga memperkaya khazanah oleh-oleh khas daerah dan menggerakkan perekonomian lokal. Sejumlah ibu rumah tangga di Desa Curah Kates, Kecamatan Ajung, berkumpul di dapur rumah Nuryanik (36), Sabtu (15/10). Ada yang membuat minuman rempah, ada yang menggoreng rempeyek mukimame, yakni polong edamame yang sudah dimasak dan dikupas bersih, kesibukan ini berlangsung di sela rutinitas mereka mengurus keluarga, terutama mengasuh anak-anak yang masih kecil. Nuryanik juga mengembangkan produk diversifikasi olahan. Contohnya minuman sehat berbahan sari edamame yang diolah dengan rempah

Kampung ini setidaknya memberdayakan 13 ibu rumah tangga untuk membuat aneka makanan olahan dengan bahan baku edamame, komoditas pertanian yang dikembangkan petani di Jember selama dua dekade belakangan. Produk yang dihasilkan antara lain edamame krispi merek Enak’e, pia edamame, dan peyek edamame. Ketiga jenis produk ini telah diterima pasar dengan baik yang ditandai mengalirnya pesanan secara terus-menerus. Edamame krispi, misalnya, telah didistribusikan di sejumlah kota besar, seperti Jakarta, Bali, Surabaya, dan Bangka Belitung. Ketiga produk ini juga mulai dipasarkan di luar negeri meski volumenya masih terbatas, yakni berdasarkan pesanan pembeli. Pengembangan pasar dilakukan melalui pasar tradisional atau penjualan secara luring dan penjualan daring menggunakan beragam platform media sosial.

Pemberdayaan perempuan Pendamping pelaku UMKM di Kampung Edamame, Hafid Raharjo, mengatakan, pemberdayaan ibu-ibu di Desa Curah Kates tak lepas dari peran PT GMIT, anak perusahaan Austindo Nusantara Jaya (ANJ), melalui program tanggung jawab pengembangan (responsible development), untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar perusahaan agar mereka mampu menjadi wirausaha mandiri. Dari segi penjualan produk, Kampung Edamame berhasil mencatatkan transaksi Rp 108 juta sampai dengan September 2022. Transaksi itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 61 juta. Hafid optimistis penjualan produk olahan edamame terus naik pada tahun depan. Hingga kini banyak terobosan yang dilakukan untuk menggenjot penjualan dengan menggencarkan promosi produk olahan edamame melalui pameran berskala lokal dan internasional di sejumlah kota, seperti di Jember dan Jakarta. (Yoga)


Mewaspadai Datangnya Inflasi Impor

02 Nov 2022

Tingkat inflasi diprediksi masih akan melaju hingga akhir tahun. Meski pada Oktober inflasi tahunan turun ke 5,71 % dari 5,95 % di bulan sebelumnya, tingkat inflasi masih di luar ambang batas target inflasi BI di 4 %. Perwakilan senior IMF di Indonesia, James P. Walsh, mengatakan kondisi ini tak dapat dihindari. Sebab, banyak dipicu oleh faktor eksternal, yakni perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Belum lagi, penguatan indeks dolar AS membuat kurs rupiah terus melemah, sehingga berpotensi menimbulkan risiko baru dari sisi inflasi impor atau imported inflation. “Kondisi ini patut kita waspadai dan cermati, karena akan terjadi kenaikan harga barang dan jasa karena naiknya biaya produk-produk bahan baku impor,” ujarnya saat berkunjung ke kantor Tempo, kemarin.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan meski  inflasi melandai pada Oktober 2022, bukan berarti tren penurunan inflasi akan terus berlanjut. Terlebih, efek kenaikan harga BBM masih dirasakan pada sebagian besar komponen dan komoditas penyumbang inflasi utama, terutama bahan makanan, karena ongkos angkutan yang mengalami kenaikan. Tingkat inflasi di atas 5 % ini diprediksi akan terus bertahan hingga awal tahun depan, sehingga pemerintah harus terus mempersiapkan langkah antisipatif. Ihwal ancaman inflasi impor, menurut Bhima pemerintah perlu berkoordinasi dengan pelaku usaha, khususnya makanan dan minuman, tentang risiko lanjutan pelemahan kurs dan risiko gangguan rantai pasok terhadap stabilitas harga pangan di dalam negeri. “Mungkin bisa dicari substitusi lokalnya, atau mencari negara asal impor lainnya.” Ujar Bhima, (Yoga)


Optimisme Pertumbuhan Triwulan Ketiga

02 Nov 2022

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2022 diprediksi tetap positif meski dibayangi tren inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Ekonom dari Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Askar Muhammad, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kisaran 5,2-5,4 %, tak jauh dari capaian triwulan II 2022 di 5,44 %. “Penopangnya masih sektor komoditas yang ekspornya cukup tinggi dan sektor industri logam yang menerima penanaman modal atau investasi tinggi,” ujar Askar kepada Tempo, kemarin. Lonjakan harga komoditas menjadi berkah bagi kinerja ekspor Indonesia, khususnya batu bara dan minyak sawit, yang melejit hingga menembus harga tertinggi dengan kenaikan penjualan rata-rata dua kali lipat. Emiten tambang batu bara Adaro Energy Indonesia Tbk, misalnya, mencatatkan laba bersih US$ 1,90 miliar pada periode Juli-September 2022, tumbuh 352,21 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan pun melonjak 130 %, dari US$ 2,56 miliar menjadi US$ 5,91 miliar.

Askar melanjutkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III belum akan banyak dipengaruhi oleh kenaikan inflasi dan suku bunga. Sebab, dampak tren tersebut baru akan muncul dan terefleksi pada akhir triwulan III. “Ini yang patut diwaspadai dan kita akan lebih jauh melihat dampaknya pada pertumbuhan ekonomi triwulan IV,” ujarnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar pertumbuhan ekonomi pada triwulan III mungkin akan mengalami perlambatan, tapi tidak signifikan. Sebab, tingkat konsumsi masyarakat secara umum masih meningkat dan bakal menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. “Walau pergerakan ekonomi kita lebih banyak didorong oleh kalangan menengah dan atas, serta 83 % konsumsi domestik digerakkan oleh mereka,” ucapnya. (Yoga)


Bertahan Saat Permintaan Tertekan

02 Nov 2022

Para pelaku industri persepatuan mulai kewalahan meredam dampak anjloknya permintaan ekspor yang diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama tahun depan. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, mengatakan permintaan produk garmen berorientasi ekspor ini turun hingga 50 % sejak Juli 2022. Konflik dagang dan politik di sejumlah negara pengimpor sepatu utama menjadi pemicunya. “Kami bertahan lewat efisiensi jumlah pekerja atau setidaknya lewat pengurangan arus produksi,” tuturnya kepada Tempo, kemarin.

Di tengah masa pemulihan ekonomi, permintaan produk tekstil, kulit, dan alas kaki menjadi salah satu yang paling moncer hingga pertengahan tahun ini. Nilai ekspor produk sepatu sempat melonjak dari US$ 659,4 juta pada Januari 2022 menjadi US$ 722,3 juta pada Mei lalu. Menurut Firman, permintaan ekspor pada Agustus 2022 masih tercatat tumbuh 36 % secara tahunan. Berdasarkan catatan Kemenperin, volume produksi produk alas kaki naik 33,42 % dari 793,8 juta pasang pada 2020 menjadi 1,05 miliar pasang pada 2021. Tanpa kejutan konflik global, volume produksi diprediksi akan naik hingga 1,2 miliar pasang per tahun.

Optimisme itu sontak suram akibat gejolak inflasi dan memanasnya konflik dagang di AS dan Cina, yang merupakan dua negara tujuan utama ekspor sepatu Indonesia. Pada periode Januari-Agustus 2022, nilai ekspor sepatu ke AS, tertinggi dibanding tujuan lain, mencapai US$ 1,892 miliar. Dalam jangka waktu serupa, nilai ekspor ke Cina berada di tempat ketiga senilai US$ 568 juta. “Permintaannya turun drastis. Yang permintaannya masih normal juga hanya bisa menghabiskan stok hingga akhir tahun,” ucap Firman. (Yoga)


Pendanaan Biru untuk Ekonomi Biru

02 Nov 2022

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menjelaskan, saat ini pemerintah berinisiatif mendorong perkembangan ekonomi biru di Indonesia. Salah satunya dengan meluncurkan Panduan Penyusunan Instrumen Pendanaan Biru (Blue Finance Instruments Development Guideline) untuk mendukung penguatan ekonomi dan mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs). "Pemerintah berinisiatif mendorong perkembangan perekonomian biru di Indonesia demi terciptanya perekonomian Indonesia yang tangguh serta berkelanjutan," ujar Suharso Monoarfa dalam acara Seminar Nasional Pendanaan Biru di Jakarta, kemarin, 1 November.

Menurut definisi Bank Dunia, ekonomi biru merupakan penggunaan sumber daya laut berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian dan lapangan kerja, serta menjaga kesehatan laut. Sementara itu, ekonomi biru berkelanjutan didefinisikan sebagai ekonomi yang memberikan manfaat ekonomi serta sosial bagi generasi sekarang dan mendatang. Suharso menilai konsep ekonomi biru dikembangkan untuk menjawab tantangan sistem ekonomi yang masih cenderung eksploitatif dan merusak lingkungan, di antaranya melebihi kapasitas atau daya dukung ekosistem. Dia menekankan bahwa inti ekonomi biru adalah pembangunan berkelanjutan, yang merupakan bagian sekaligus pengayaan dari ekonomi hijau dengan semboyan "Blue Sky – Blue Ocean". "Di mana ekonomi dapat bertumbuh, rakyat sejahtera, tapi langit dan laut tetap biru," kata Suharso. (Yoga)


Oktober Deflasi, Ekonomi Indonesia Terbukti Resilient

02 Nov 2022

Di tengah tekanan inflasi dan ancaman resesi global, ekonomi Indonesia terbukti cukup tangguh (resilient) seperti terlihat pada laju inflasi Oktober 2022 yang mengalami deflasi 0,11% (mtm) dan yoy 5,71%, di bawah perkiraan berbagai lembaga keuangan. Kenaikan harga BBM bersubsidi awal September tidak berdampak panjang. Harga pangan cukup terkendali berkat kerja sama otoritas fiskal dan moneter, pusat dan daerah, serta efektifnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Inflasi Oktober 2022, yoy, lebih rendah dari bulan sebelumnya, 5,95%. Sedang inflasi Januari-Oktober 2022, ytd, sebesar 4,73%. Tingkat inflasi komponen inti Oktober 2022, yoy, naik tipis ke 3,31%. Bulan sebelumnya, inflasi inti 3,21%. Inflasi kelompok pangan minus 0,25%. Harga pangan yang relatif stabil memberikan kontribusi besar terhadap inflasi Oktober. Ketahanan ekonomi Indonesia juga ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB yang tetap pesat ketika negara-negara maju dilanda stagflasi. Tahun ini, perekonomian nasional diperkirakan tumbuh 5,3%, jauh lebih baik dari tahun lalu 3,69%.

Pada kuartal I dan II-2022, pertumbuhan ekonomi domestik masing-masing mencapai 5,01% dan 5,44%. Pada kuartal III dan IV, ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh konsisten di atas 5%. Dengan fundamental ekonomi yang cukup kokoh, Indonesia menatap tahun depan dengan optimisme sekalipun ekonomi global tengah menghadapi ancaman perfect storm yang merupakan gabungan antara hiper inflasi, resesi, dan krisis geopolitik. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,3%. Agar perfect storm tak berimbas ke Indonesia, pemerintah harus terus menjaga inflasi tetap rendah, terutama inflasi pangan dan energi. Selain itu, pemerintah harus mengaktifkan dan meningkatkan kapasitas mesin-mesin pertumbuhan ekonomi, tidak hanya dari konsumsi semata. Hal itu diungkapkan Wamenkeu Suahasil Nazara, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) Yusuf Wibisono, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, serta Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, saat mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Selasa (1/11). (Yoga)


KUARTAL KRUSIAL EKONOMI RI

01 Nov 2022

Upaya ekstra bakal dibutuhkan untuk memompa pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal terakhir tahun ini. Alasannya, selain arah tak pasti ekonomi global, inflasi di dalam negeri juga diprediksi bakal kembali meninggi. Konsensus ekonom Bloomberg yang dihimpun Senin (31/10), bahkan mengestimasi inflasi di Indonesia pada Oktober 2022 bakal menembus 6% (year-on-year/YoY). Terakhir kali, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi September sebesar 5,95% YoY, lebih tinggi ketimbang inflasi Agustus 4,69% (YoY). BPS akan merilis data inflasi Oktober 2022 pada hari ini, Selasa (1/11). Risiko kenaikan inflasi itu tak lepas dari penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 3 September lalu. Sejumlah kalangan memperkirakan bahwa inflasi amat mungkin naik lagi pada kuartal IV/2022. Ramalan itu mungkin tak keliru. Secara historis BPS mencatat dampak dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi lazim terjadi pada bulan kedua sejak kebijakan tak populis itu diberlakukan. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, mengatakan penggunaan instrumen moneter akan terus digencarkan kendati harus mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun ini. Menurutnya, mengingat adanya darurat inflasi risiko tergerusnya ekonomi pada tahun ini bukanlah prioritas utama. Sebab, perekonomian akan tidak sehat apabila tingkat inflasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi.

KRISIS CIP : Industri IoT Butuh 41 Juta Semikonduktor

01 Nov 2022

Industri internet of things atau IoT dalam negeri membutuhkan setidaknya 41 juta unit cip semikonduktor sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut 11% lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu.Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (Asioti) Teguh Prasetya menjelaskan bahwa 41 juta unit cip semikonduktor yang dibutuhkan industri IoT akan digunakan untuk ponsel pintar sebanyak 30 juta unit, perangkat smart home 10 juta unit, serta smart building dan smart industry 1 juta unit.Peningkatan kebutuhan cip semikonduktor di industri IoT didorong oleh kenaikan permintaan pada tiap subsektor tersebut. Bahkan, permintaan konsumen terhadap perangkat ponsel pintar di Tanah Air diperkirakan tumbuh sekitar 8% pada tahun ini.Sementara itu, permintaan untuk perangkat smart home seperti CCTV masih sesuai dengan tren pertumbuhan, yakni 10 juta per tahun. Mengutip WSTS, penjualan cip semikonduktor diperkirakan naik secara menyeluruh di pasar global. Penjualan di kawasan Asia Pasifik sendiri diperkirakan naik 10,5% secara tahunan. Sementara itu, kawasan Benua Amerika dan Jepang 14,2%, serta Eropa 14%.

Grup Salim Tancap Gas Membesarkan Bisnis Otomotif

01 Nov 2022

Hasrat ekspansi Grup Salim terus menggebu-gebu. Deretan aksi korporasi tak henti dibentangkan. Kali ini lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS). Perusahaan yang merupakan sayap bisnis otomotif Grup Salim ini siap tancap gas. Lihat saja, dalam sebulan terakhir, Indomobil terus menggelar aksi korporasi. Pertama, menggandeng Citroen, pabrikan mobil asal Prancis, untuk memasarkan dan mendistribusikan mobil tersebut di Indonesia. Kedua, IMAS menggaet investor asal Amerika Serikat dan Jepang untuk memperbesar bisnis penyewaan kendaraan. Terakhir, kabar di pasar yang menyebutkan, Indomobil dalam pembicaraan untuk mengakuisisi agen pemegang otomotif (APM) pabrikan asal Jerman, yaitu PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI). Bukan hanya akan memegang distribusi Mercy di Indonesia, Indomobil juga dikabarkan siap mengambil alih fasilitas perakitan di Wanaherang, Bogor.

Devisa Ekspor Belum Bisa Sokong Rupiah

01 Nov 2022

Eksportir ternyata telah memarkir devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan dalam negeri. Namun, masuknya devisa ekspor ini belum mampu membuat nilai rupiah menguat. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, dari total ekspor periode Januari 2022 hingga Juli 2022 yang mencapai US$ 166,70 miliar, sebanyak 93,5% di antaranya atau sekitar US$ 155 miliar telah masuk ke dalam negeri. Namun, ia juga menegaskan, sebagian besar atau sekitar 50% DHE yang masuk tersebut sudah dikonversi ke dalam rupiah. Khusus DHE sumber daya alam (SDA), sudah sekitar 92,6% yang masuk ke dalam negeri, dan sekitar 5,1% masih diparkir para eksportir di bank luar negeri. Meski Indonesia punya pasokan valas dari para eksportir, namun hal itu belum mampu memperkuat otot rupiah. Berdasarkan data BI pula, nilai tukar rupiah telah melemah hingga 8,03% sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, masih ada beberapa momentum yang membutuhkan valas, dan bahkan mengurangi pasokan valas.